Rabu, 10 Mei 2017

20. Propose ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Kebenaran adalah apa yang kau percayai. Bukan hal yang pertama kali kau ketahui.



--Diva's POV--

"...jadi kalau weekend biasanya dia jalan sama pacarnya?" Tanya Doni.

"Iya. Karena dia ngga punya siapa-siapa lagi, bisa dibilang dia bergantung sama aku dan Keenan." Jawabku.

Aku menghentikan obrolan dengan Doni. Apa sih sebenarnya yang dia mau? Kenapa dari tadi selalu bertanya soal Sheerin?

Hari ini aku jalan-jalan dengan Doni yang kini menjadi pacarku. Aku belum lama mengenalnya, mungkin sekitar enam bulan kami menjadi teman pena yang berkenalan secara online. Akhirnya setelah bertemu kami pun sepakat untuk pacaran. Sebenarnya aku agak kecewa dengan sikapnya yang berbeda dengan Doni yang aku temui di online. Di chat, dia lebih banyak bicara dan membuatku sama sekali tidak bosan. Sedangkan Doni yang kutemui tidaklah sebawel itu. Dia hanya berbicara padaku mengenai hal-hal yang penting saja. Tidak ada bercandaan seperti biasanya. Dan yang aku sedikit kesal, dia tampak begitu tertarik membicarakan Sheerin. Memangnya sepenting apa sih pembicaraan tentang Sheerin itu?

"Emm, Doni. Kamu ada kelas jam berapa besok?" Tanyaku mencoba mengalihkan obrolan.

"Jam pertama." Jawab Doni tanpa ekspresi dan perhatiannya terus ditujukan pada handphone-nya.

Aku agak kesal. Makin kesal tepatnya. Kenapa dia seakan tidak nyaman jalan sama aku? Kenapa juga dia ajak aku keluar kalau aku diabaikan seperti ini? Aku ingin pulang dan menangis rasanya.

Akhirnya kami berdua terdiam cukup lama karena aku sudah kehabisan topik pembicaraan satu arah ini.

"Hey, maaf." Ucap Doni tiba-tiba.

Aku menghentikan langkahku. Apa aku salah dengar barusan?

Doni menghentikan langkahnya juga lalu memposisikan diri di depanku.

"Maaf sikap aku yang aneh sejak kita ketemuan. Aku ngga bermaksud buat kamu merasa cemburu atau apa. Aku akan kasih tau alasannya, nanti, oke?" Ucap Doni seraya meraih tanganku dan mengajakku melanjutkan langkah kami.

Dia tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Aku pun akan merasa bersalah kalau aku tiba-tiba marah pada orang yang baru saja meminta maaf. Aku hanya terdiam dan terus berjalan mengikuti arahan dari tangan yang menggenggam tanganku dengan erat.

Kami menuju ke bioskop di salah satu mal. Dia memilihkan sebuah film yang sama sekali bukan kesukaanku. Ada banyak adegan adu senjata dan permainan cuci otak. Aku setuju untuk nonton ini karena dia yang memilihkan. Selama beberapa menit di dalam bioskop, aku berkali-kali menutup mataku. Film ini membuat memori buruk masa laluku seperti muncul lagi di depan mata.

Doni tampak tenang menonton di sampingku. Matanya tertuju pada layar. Sebenarnya aku tidak mau mengganggu, tapi aku tidak tahan lagi. Aku meraih tangannya seraya mendekati telinganya dan berbisik. "Sayang, aku keluar ya." Doni memalingkan pandangannya dari layar ke wajahku. Lalu ia bangkit dari kursinya dan menggandengku keluar dari bioskop.

"Maaf ya aku maksa kamu nonton film kayak gitu." Ucap Doni.

"Iya gapapa." Ucapku.

"Yaudah sekarang kita ke rumahku, ya?" Ucap Doni.

Saat itu aku hanya bisa mengikuti langkah kaki Doni yang kini menuntunku ke parkiran mal. Kami menaiki motor milik Doni dan menuju ke rumahnya. Ini pertama kalinya aku ke rumah seorang teman cowok. Sebenarnya aku merasa agak gugup. Keenan saja yang sudah lama aku kenal belum pernah mengajakku ke rumahnya. Dan ini Doni pacarku loh. Aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk bertemu keluarganya.

"Kamu ngga perlu khawatir, Diva. Orang tuaku lagi ngga ada di rumah kok." Ucap Doni yang lagi-lagi seakan bisa membaca pikiranku.

"Ehh, iya sayang." Ucapku gugup.

Aku harus bagaimana sekarang?

Tak lama kemudian kami tiba di depan sebuah rumah. Aku masuk ke dalam dan menuju ke sebuah ruangan di lantai dua yang sepertinya kamar Doni.

Sebelum melangkah masuk ke kamar, aku menghentikan langkahku tepat di ambang pintu.

"Ayo masuk." Ucap Doni yang sudah berada di dalam kamarnya.

Aku masih terdiam.

"Diva, tenang aja aku ngga akan ngelakuin yang aneh-aneh kok." Ucap Doni kalem.

"Maaf." Ucapku kikuk seraya melangkah masuk.

"Iya aku ngerti kamu ngga biasa deket sama cowok yang bukan keluarga kamu." Ucap Doni sambil menutup pintu di belakangku.

Kenapa pintunya harus ditutup dan dikunci sih? Aku jadi merasa ngga nyaman.

Doni mendudukkanku di tempat tidurnya. Tapi dia masih berdiri dan meraba ruang di sekitar rak bukunya yang tersusun rapi.

Dia kembali menghadapku.

"Eh sebelumnya aku harus ngasih tahu kamu dulu kenapa aku nunggu sampai kita di kamarku untuk bilang hal ini. Aku ngga mau kamu salah paham dan mikir yang negatif dan mesum ke aku." Ucap Doni yang kini pipinya bersemu merah padam. "Jadi, kalo dari dalam kamar ini ngga akan ada orang luar yang bisa denger suara di dalamnya kalo pintunya terkunci. Ada beberapa sensor di dinding yang bakal ngasih tau ke orang yang ada di dalamnya kalo ada hal-hal berupa penyadapan atau gangguan lainnya lewat monitor disini." Doni menunjuk sebuah monitor kecil di sekitar rak bukunya.

Aku menghela nafas lega. Aku tahu Doni punya alasan yang jelas dengan keanehannya.

"Oke, jadi yang mau kamu jelasin ke aku adalah?" Tanyaku yang kini mulai mendapatkan kembali diriku yang biasanya.

"Diva, maaf sebelumnya aku harus bilang yang sejujurnya sama kamu." Ucap Doni memulai kata-katanya. "Aku bukannya mau balas dendam atau apa, tapi aku bener-bener harus ngelakuin ini."

"Apa?" Ucapku bingung.

"Pertama kamu harus tahu fakta kalau aku ini temen sekelasnya sahabat kamu Sheerin." Ucap Doni.

"Tapi kan dia satu angkatan sama aku." Ucapku bingung.

"Aku ngga tau versi seperti apa yang dia ceritain ke kamu. Tapi nyatanya dia tinggal kelas gara-gara aku." Ucap Doni.

"Kamu?" Ucapku tambah bingung. "Dia ngga pernah bilang kalau dia pernah tinggal kelas."

"Dulu aku itu teman TK nya. Singkatnya aku dulu pernah bully dia sampai dia ngga punya satupun teman. Dan itu berlanjut saat masuk SD yang ternyata kami satu kelas lagi. Tapi setelah aku sleepwalking dan menghancurkan tulang kakiku, aku menghabiskan beberapa bulan homeschooling, begitu aku masuk lagi ke sekolah dia ngga ada di kelasku. Ngga ada yang terlalu memperhatikan dia karena memang dia ngga punya teman. Tapi sejak saat itu aku selalu cari tau tentang dia. Aku selalu mengharapkan dia masuk sekolah. Aku selalu ingin bertemu dia. Aku ngga tahu kenapa aku bisa sampai terobsesi sama dia, tapi aku harus bertemu dia."

Jadi Doni suka sama Sheerin? Itu menjelaskan banyak hal.

"Tolong jangan salah paham. Aku bukannya suka sama dia,--('dia selalu tahu apa yang aku pikirkan!')-- aku cuma merasa bersalah karena aku yang bikin dia ngga punya temen di sekolah. Aku selalu cari info tentang dia. Dan begitu aku dapat banyak informasi, aku mulai sadar kalau aku merasa bersalah pada orang yang salah. Karena justru dialah yang membuat aku jatuh dari jendela kamarku dan membuat kakiku patah. Dan itulah alasannya untuk memilih tinggal kelas, supaya tidak bertemu denganku dan menghapus jejaknya."

"Kenapa kamu simpulkan seperti itu?" Tanyaku yang sedikit tidak terima sahabatku difitnah seperti itu.

Doni kembali ke rak bukunya. Kali ini ia mengambil sebuah buku yang sudah agak usang.

"Aku bukan menuduh tanpa bukti." Doni meletakkan buku itu di antara kami.

"Beranjak SMP, aku mulai belajar komputer dan berhasil membobol sistem kamera pengintai milik kepolisisan yang dipasang di sekitar rumahku." Doni membolak-balik halaman pada buku itu dan sampai pada sebuah gambar rumah ini dari luar, dengan penerangan seadanya. Lampu kamar di lantai dua rumah  menyala, saat itu pula ada sesosok gadis kecil dengan kepala berwarna merah menyembul dari antara semak-semak tinggi. Aku melihat ada banyak gambar serupa dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

"Sheerin?" Gumamku.

"Ini gambar waktu aku ternyata sleepwalking dan jatuh dari lantai dua rumahku. Aku juga sempat ngga percaya. Tapi aku terus cari informasi." Doni membalik halaman buku itu lagi dan kali ini aku melihat gambar wajahku di kertas lusuh itu.

"Aku?" Tanyaku.

"Aku tahu kasus penculikan itu ngga boleh diberitakan. Tapi aku butuh informasi yang bersangkutan dengan Sheraphyna Shine. Dan dia ada disana waktu penculikan kamu." Ucap Doni.

Aku bangun dari dudukku. "Doni, apa kamu pikir Sheerin yang berusaha menculikku atau apa?" Ucapku dengan emosi berapi-api.

"Aku  ngga bilang begitu. Tapi tolong dengerin dulu sampai selesai. Aku tahu betapa menakutkannya penculikan itu. Tapi kamu harus bantu aku. Aku ngga bisa biarin orang seperti Sheerin berkeliaran bebas."

Aku kembali duduk dan berusaha menenangkan diriku. Sulit dipercaya orang yang aku kenal sejak SD itu adalah orang jahat. Tapi apakah yang dikatakan Doni benar? Atau sebenarnya yang jahat itu Doni dan dia sedang berusaha membuatku jatuh ke dalam jebakannya?

Kali ini Doni menunjukkan sebuah buku lusuh yang lainnya. Ada sederetan foto orang-orang yang tidak kukenal.

"Mereka detektif." Ucap Doni. "Yang ini kakek buyut Sheerin." Doni menunjuk salah satu pria di gambar dua pria yang sedang saling bersalaman.

"Mereka berdua ada di tim yang sama. Saat itu kasusnya adalah pembunuhan dan mutilasi yang korbannya adalah wanita dan anak-anak. Mereka berdua detektif yang hebat pada masa itu. Semua masalah bisa terselesaikan dengan baik dan cepat. Tapi di kasus mutilasi ini mereka berbeda pendapat. Pada akhirnya kasus ditutup dengan tersangkanya Ravin Shikurone. Orang ini." Doni menunjuk gambat pria yang tadi dia bilang kakek buyut Sheerin.

Aku memperhatikan buku itu baik-baik. Isinya berupa potongan-potongan berita yang digunting dari surat kabar lama yang sudah dilaminating. Judul di artikel itu ditulis besar-besar dengan warna merah 'DETEKTIF PSIKOPAT SHIKURONE TERSANGKA PEMBUNUHAN DAN MUTILASI, DIHUKUM GANTUNG'. Aku membaca isi artikel tersebut.

"Kalau emang Sheerin itu cucu dari orang ini, kenapa nama belakang mereka beda? Lagi pula disini ditulis katanya Ravin Shikurone menerima hukuman gantung di depan umum dengan seluruh keluarganya. Terus dari mana garis keturunan yang menghubungkan dia dan Sheerin?" Ucapku kebingungan.

"Sebelum aku kasih tahu semua hal lebih lanjut, aku butuh komitmen dari kamu." Ucap Doni.

"Komitmen untuk apa?" Tanyaku.

"Ka-Kamu nikah sama aku?" Ucap Doni, wajahnya memerah.

Perasaan macam apa ini? Apa kata-kata tadi itu sebuah lamaran? Atau dia tidak bermaksud seperti yang aku maksud?

"Nikah?" Tanyaku.

"Iya." Jawab Doni sungguh-sungguh.

"Tapi kenapa?" Tanyaku.

"Karena cuma pernikahan-lah ikatan paling erat yang menghubungkan dua orang. Aku mau kamu selalu jadi temanku, selalu jadi pasanganku dalam situasi apapun. Aku mau kamu selalu ada disaat apapun. Aku mau kamu selalu ada di hidup aku."

"Untuk nyari tahu informasi tentang sahabatku?" Ucapku agak tersinggung.

"Aku mau menghapus seluruh keturunan Shikurone. Tapi aku ngga bisa melakukannya sendirian. Aku butuh kamu. Dan kalau kamu ngga selalu ada di samping aku, kamu akan jadi target berikutnya."

"Coba bilang pakai kata-kata yang bisa aku mengerti, sayang."

Doni menarik nafas dalam-dalam. Ia tampak sedang berpikir keras.

"Diva, aku belum pernah pacaran selama hidupku. Aku ngga pernah merasakan perasaan aneh yang berlebihan pada seorang cewek. Tapi saat itu kamu. Aku ngga bisa apa-apa. Aku ngga bisa cuma lihat kamu dari jauh. Aku mau deket sama kamu. Tapi kalau deket sama kamu, kamu bisa ada dalam bahaya. Aku--" Doni menarik nafas dalam lagi. "Aku cinta kamu dan ngga mau kamu kenapa-kenapa. Aku takut kehilangan kamu. Aku cinta kamu makanya aku mau kamu nikah sama aku. Aku cinta kamu.."

Doni mengatakan hal itu dengan sangat jelas. Lalu setelah itu dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dari pandanganku.

"Hey sayang." Ucapku sambil menaikan wajahnya sampai setara dengan wajahku. "Terima kasih."

Doni memperlihatkan wajahnya yang merah padam dan air mata yang mengalir perlahan jatuh ke pipinya.

"Terima kasih sudah jatuh cinta sama aku. Walaupun ini bisa dibilang terlalu cepat, tapi aku akan tetap bilang kalau aku bersedia nikah sama kamu." Ucapku.

Doni memelukku beberapa detik. Lalu melepaskannya. Wajahnya masih memerah dan aku bisa lihat di pipinya masih terpeta bekas air mata. Kemudian kesunyian menyusul.

Secara spontan aku menggelakkan tawa.

"Ada yang lucu, Div?" Tanya Doni.

"Kamu." Ucapku disela tawa. "Kamu terlalu random. Tadi sikap kamu itu misterius banget. Terus bilang kalo kamu musuhan sama Sheerin. Terus cerita soal sejarah keluarga Sheerin yang ternyata kriminal. Dan akhirnya kamu ngelamar aku. Gimana aku ngga ketawa coba?"

Doni hanya memberikan seyuman yang menampilkan gigi depannya yang rapih. Lalu aku tiba-tiba saja mendaratkan sebuah ciuman ke pipinya.

Wajah Doni memerah lagi. Aku tidak percaya ternyata Doni orang yang mudah blushing juga. Mungkin dia benar-benar cinta sama aku? Aku harap begitu. Tapi aku ngga percaya sedikitpun yang dibilang Doni barusan. Aku bersedia menikah dengannya hanya karena aku mau mengumpulkan lebih banyak informasi untuk sahabatku. Tentu saja aku lebih percaya padanya daripada Doni, cowok yang baru aku kenal beberapa bulan. Sheerin belum pernah mengecewakanku sekalipun. Tidak mungkin ada satupun fitnah dari Doni yang benar. Ya, aku percaya Sheerin.

***


আPrevious: Uncovered

আNext: Clink and Scream





Senin, 08 Mei 2017

Aiko - Koi Wo Shita No Wa | Soundtrack Koe No Katachi


Berawal dari manga, akhirnya Koe No Katachi mendapatkan adaptasi film di tahun 2016 kemarin. Di Indonesia sendiri film ini ternyata ditayangkan pada Mei 2017 dengan judul English-nya yaitu A Silent Voice. Buat yang udah nonton filmnya, gimana nih komentar kalian? Berapa ember air mata buaya yang udah kalian keluarin?

Yang mau spoiler monggo mampir disini: A Silent Voice (Koe No Katachi) | 2017

Bukan cuma film dan manga nya yang bikin baper, sampe-sampe soundtrack-nya pun bikin suasana jadi melow. Gue ngga bisa temuin lagu asli dan resmi dari penyanyinya Aiko, tapi kira-kira begini lah lagu yang gue denger setelah film berakhir dan layar menampilkan credit tittle.




Dengerin lagu ini jadi mengingatkan gue sama perasaan kalo lagi dengerin Yume Sekai-nya Haruka Tomatsu yang jadi ending song anime Sword Art Online.

Yuk kita baper bareng-bareng.

Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Minggu, 07 Mei 2017

A Silent Voice (Koe No Katachi) | 2017



Siapa yang suka nge-bully?

Eh jangan lah ya. Inti dari film ini mengajarkan kita untuk ngga melakukan hal buruk tersebut. 

Hampir aja gue ngga kedapetan jam pertama dari penayangannya di Cibinong Platinum karena ternyata kondisi jalan yang padat. Gue menonton film ini 3 hari setelah tanggal tayangnya di Indonesia dan karena di GI tumbenan belum menjadwalkan film ini tayang disana, akhirnya memaksa gue ke Cibinong daripada harus ke Kelapa Gading yang gue belum pernah jelajahi.

Gue sampe di bioskop kira-kira 3 menit sebelum jadwal tayang jam pertama. Masih ngos-ngosan dan ngga sempet beli snack dan minuman, di dalem bioskop udah gelap dan layar udah menampilkan pembukaan film.

A Silent Voice.

Film bermula dengan adegan Ishida Shoya yang merasa sangat depresi dan menarik diri dari lingkungan sosialnya, ia mencoret kalendernya dengan hitungan lamanya dia bekerja paruh waktu. Lalu menjual semua komik dan koleksinya untuk mendapatkan uang yang diberikannya pada mamanya. Lalu berganti adegan di kelas 6 SD dimana Ishida (Seiyuu Mayu Matsuoka) terkenal populer di kalangan teman-temannya. Kemudian adegan berganti pada saat di kelas Ishida akan ada seorang murid baru.

Perkenalan murid baru kali itu berbeda dengan biasanya. Si murid baru mengabaikan guru ketika ia disuruh menyebutkan namanya dan berkenalan. Kelas menjadi sepi senyap sampai sang guru menyentuh bahu si murid baru dan dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam tasnya.

Anak baru bernama Shouko Nishimiya (Seiyuu Saori Hayami) itu membalikkan selembar demi selembar kertas pada buku catatannya yang ternyata isinya adalah kalimat-kalimat perkenalan. Di akhir perkenalannya, ia memberitahu teman-teman sekelasnya kalau dirinya tuli. Disaat yang lain terbengong-bengong karena tahu kenyataan bahwa Nishiyama tuli, Ishida menyeletuk dengan keras dan langsung dinilai tidak sopan.

Mulai saat itu awalnya banyak yang tertarik untuk berteman dengan Nishimiya, namun lama kelamaan banyak yang sulit mengerti perkataan Nishimiya dan menghindar.

Sebenarnya Nishimiya mengajak Ishida berteman. Namun Ishida yang juga tidak mengerti apa yang diucapkannya pun malah membentak Nishimiya dan ikut menjauhinya juga. Sampai akhirnya hal ini berlanjut ke tindakan bully yang dilakukan Ishida. 

Ibu Nishimiya melapor kepada pihak sekolah kalau Nishimiya sudah kehilangan 8 alat bantu dengar dan beranggapan bahwa anaknya telah menjadi korban bully, akhirnya kasus ini berujung pada guru yang langsung tahu bahwa pelakunya adalah Ishida. Ibu Ishida menemui Ibunya Nishimiya untuk meminta maaf sekaligus ganti rugi atas alat bantu dengar Nishimiya yang dihilangkan oleh Ishida. Sejak saat itu, tidak ada lagi seorang pun yang mau berteman dengan Ishida. 

Lalu adegan kembali ke masa Ishida (Seiyuu Miyu Irina) yang telah berhasil mengumpulkan uang lalu memberikannya kepada ibunya. Namun bukannya senang, ibunya malah mengancam akan membakar uang hasil kerja kerasnya karena tahu bahwa Ishida punya kalender aneh yang berakhir hanya sampai bulan April. Dari situ ibu Ishida menyimpulkan bahwa anaknya akan bunuh diri. Ia terus menyudutkan Ishida untuk berjanji tidak akan bunuh diri. Akhirnya Ishida pun berjanji walaupun akhirnya uang yang sudah berhasil dikumpulkannya tetap terbakar karena ibunya terlalu senang mendengar perkataan anaknya.

Ishida yang sudah lebih dewasa kini menjadi anak yang pemurung. Karena di sekolah barunya ada yang menyebarkan berita bahwa dirinya suka melakukan hal-hal mengerikan pada orang lain, akhirnya dia tidak memiliki teman. Ia jadi memiliki kebiasaan takut memandang wajah orang lain dan mendengar perkataan orang lain. Saking merasa bersalahnya atas kejadian di SD itu, dia pun merasa bahwa monster seperti dirinya tidak pantas bahagia dan bahkan tidak pantas untuk hidup.

Ishida SMP kini mengikuti klub bahasa isyarat. Dan saat ia merasa bahwa harapannya untuk hidup telah benar-benar hilang, tiba-tiba saja ia melihat Nishimiya lewat di hadapannya lalu mengejarnya. Saat itu ia melakukan bahasa isyarat mengajak Nishimiya berteman dengannya. Kemudian ia menyadari ternyata itulah yang dikatakan Nishimiya dulu di SD. Ishida makin merasa bersalah dan lari dari hadapan Nishimiya.

Sejak saat itu, Ishida menghindari Nishimiya karena merasa canggung.

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang dipaksa meminjamkan sepedanya kepada anak lain. Karena tidak tega melihatnya, Ishida pun merelakan sepeda miliknya dipinjam orang itu (yang ternyaata tidak dikembalikan). Ishida merasa kesal karena saat itu niatnya dia mau menemui Nishimiya. Tapi sewaktu ia di perjalanan pulang, cowok yang tadi ia tolong dari peminjam sepeda itu ternyata sedang berdiri di persimpangan jalan sambil menuntun sepeda Ishida! Lalu mulai saat itulah Ishida dengan cowok bernama Tomohiro Nagatsuka menjadi teman dekat.

Hari-hari selanjutnya dilalui dengan mudah dengan adanya Nagatsuka yang ceria disisi Ishida. Tapi tidak ketika ia ingin menemui Nishimiya yang langsung dihadang oleh orang bertubuh kecil yang mengaku pacar Nishimiya. Tapi berkat bantuan Nagatsuka, akhirnya Ishida bisa mengobrol dengan Nishimiya. Mereka mulai dekat dan tidak canggung. Ishida jujur pada Nishimiya kalau dirinya sedang mencari arti tentang pertemanan belakangan ini sebelum menemuinya kembali. Ia masih merasa bersalah atas apa yang dilakukannya di masa lalu.

Dari jauh, Nagatsuka dan orang yang mengaku pacar Nishimiya itu memperhatikan obrolan Ishida dan Nishimiya. Yang berakhir pada terceburnya Ishida dan Nishimiya ke dalam sungai karena usaha mereka untuk mengambil buku catatan milik Nishimiya yang terjatuh.

Besoknya Ishida disuruh menjemput adiknya Maria di TK. Disitulah ia bertemu dengan orang yang mengaku pacar Nishimiya. Karena keadaannya yang lemas akhirnya orang yang ternyata bernama Yuzuru (Seiyuu Aoi Yuuki) itu diajak pulang ke rumah Ishida dan menginap bersamanya (Ishida masih belum tahu kalau Yuzuru bukan laki-laki).

Di tengah malam, Yuzuru melarikan diri dari rumah Ishida. Setelah dikejar akhirnya Yuzuru mengaku bahwa dia adalah adik perempuan Nishimiya.


Film ini banyak menampilkan adegan yang menurut gue agak bertele-tele. Tapi selama film berlangsung, banyak adegan yang bikin penonton ketawa terus karena tingkah lucu dari tokoh-tokohnya terutama Nagatsuka yang kocak dan penyataan cinta Nishimiya kepada Ishida yang tidak tersampaikan dengan jelas.

Di seperempat film, emosi penonton mulai dibuat melow.

Ternyata Nishimiya juga merasa depresi dan sering kali berniat bunuh diri. Makanya Yuzuru selalu ada didekatnya dan menjaganya sampai dia tidak masuk sekolah.

Saat festival kembang api, Ishida menontonya bersama dengan ibu dan kakak beradik Nishimiya. Saat itu Nishimiya izin pulang lebih dulu. Tapi karena Yuzuru minta tolong diambilkan kameranya, Ishida pun pergi ke rumah Nishimiya dan malah menemukan Nishimiya yang sedang berdiri di pinggir balkon rumahnya.

Ishida sangat ketakutan dan berlari menuju Nishimiya yang kini melompat jatuh. Beruntung tangannya masih sempat menggapai Nishimiya. Namun sialnya, ketika mengangkat naik tubuh Nishimiya, tubuh Ishida malah berbalik jatuh dan mengakibatkan dirinya dirawat di rumah sakit beberapa hari.

Ibu Nishimiya merasa bersalah atas kejadian tersebut dan berlutut minta maaf pada ibu Ishida.

Setelah kesadarannya pulih, Ishida langsung menemui Nishimiya dan berkata bahwa dia akan membantunya untuk tetap hidup. Gue pikir disini mereka akhirnya akan jadian. Tapi ternyata engga genks. Film ini lebih ke arah persahabatan dan arti pertemanan yang sesungguhnya.

Ishida kembali ke sekolah pada saat di sekolah sedang berlangsung festival kebudayaan. Kedatangannya ke kelas langsung disambut oleh tangis haru Nagatsuka yang berkata bahwa ia tetap menjadi sahabatnya. Lalu film berakhir di adegan Ishida akhirnya berani untuk menatap wajah orang lain dan mendengarkan setiap suara yang dikatakan orang lain.



Jujur gue agak kecewa sama ending film ini yang menurut gue nanggung banget. Atau mungkin sang produser emang ngga berniat menghapus air mata penonton setelah selesai menonton. Jadi emosi kita masih sedih dan air mata belum kering eh film udah abis aja. Untuk lebih lengkapnya sih enaknya baca manganya aja. Ada sekitar 32 chapter yang dijamin bakal lebih dalem lagi menyayat hati. Tapi untuk memainkan emosi, film ini patut diacungin jempol deh.
For me this is 3.5/5

Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Kamis, 13 April 2017

Which One You Ship with Tatsumi? || AKAME GA KILL



Sebenernya gue agak bingung nentuin mana yang jadi tokoh utama di anime ini. Hampir sama seperti kasus Lucy-Natsu di anime Fairy Tail, sudut pandang anime ini dimulai dari Tatsumi (padahal dari judulnya aja udah Akame).

Cowok yang merantau ke ibu kota untuk menyelamatkan desanya dari kemiskinan ini awalnya mau mencari peruntungan sebagai tentara kerajaan. Tapi takdir membawanya kepada sebuah grup pembunuh bayaran Night Raid dan membuatnya bergabung menjadi anggota geng pembunuh tersebut. Dan ternyata mereka memiliki tujuan yang lebih kompleks daripada hanya membunuh target-target mereka.



Anime ini emang bukan bergenre harem. Tapi menurut gue jumlah cewek disini ada lebih dari cukup dan hampir semuanya suka sama satu cowok, Tatsumi.



1. Tatsumi x Leone



Dari semua anggota Night Raid, Leone adalah anggota pertama yang ditemui Tatsumi. Sebenernya agak sial sih pas mereka ketemu. Karena waktu itu Leone berhasil menipu Tatsumi yang masih baru banget sampe di ibu kota dan menguras semua uangnya. Pertemuan kedua mereka adalah waktu Night Raid dapet misi untuk membunuh keluarga elit



Setelah bergabung Night Raid pun Tatsumi selalu dideketin sama Leone. Walaupun Leone terang-terangan bilang kalau dia suka sama Tatsumi dan mau jadiin dia pacarnya, Tatsumi selalu menganggap Leone sebatas kakaknya.




2. Tatsumi x Akame



Awal pertemuan Tatsumi dan Akame adalah saat Akame sedang dalam misi membunuh sekeluarga kaya yang anak perempuannya membawa dan mengijinkan Tatsumi tinggal di rumah mereka. Saat itu Tatsumi selamat dari tebasan Murasame nya Akame. Dan setelah bergabung, mereka menjadi dekat karena pelatihan pertama Tatsumi dilakukan bersama dengan Akame.


Gue pikir karena tiba-tiba Tatsumi dipasangin sama Akame, akhirnya mereka akan jadian atau menyatakan cinta-lah paling tidak. Tapi ternyata emang hubungan mereka cuma sebatas sahabat dan saudara. Jadi ngga ada romantisme diantara mereka. Walaupun begitu, di beberapa bagian gue merasa mereka berdua sangat manis. Perhatian yang diberikan pada keduanya juga bikin bound diantara mereka makin erat.




3. Tatsumi x Esdeath


Senyuman Tatsumi yang bikin Esdeath jatuh cinta
Pertemuan pertama dengan Esdeath adalah ketika Tatsumi disuruh mengikuti kompetisi berkelahi di kota yang diadakan Jenderal Esdeath sebagai bentuk sayembara untuk mencari orang yang bisa menggunakan Teigu milik mendiang Sheele. Saat itu Tatsumi berhasil mengalahkan lawannya dan membuat Esdeath jatuh cinta pada pandangan pertama dengan senyumnya yang polos.




Setelah itu Tatsumi langsung ditarik dan dijadikan pacarnya secara paksa. Awalnya Tatsumi mencoba menyakinkan Esdeath untuk bergabung dengan pasukan pemberontak revolusioner kalau dia memang cinta sama Tatsumi. Tapi setelah dua kali meyakinkan Esdeath dan mengetahui  masa lalunya yang tidak mungkin berubah, Tatsumi menyerah dan siap untuk bertemu sebagai musuh.



Tatsumi mati setelah melawan Teigu milik raja. Lalu Esdeath pun mati setelah bertarung dengan Akame. Di detik-detik kematiannya, Esdeath masih memikirkan Tatsumi dan memeluknya lalu membawanya mati bersamanya di es yang dia buat.







4. Tatsumi X Mine



Saat Tatsumi sudah menyetujui untuk bergabung bersama dengan grup pembunuh Night Raid, Mine tampak selalu memandangnya rendah. Menurutnya Tatsumi belum banyak pengalaman dan masih jauh dari mereka. Tapi sejak misi membunuh penasihat keagamaan di Kyorach, Tatsumi yang dipasangkan dengan Mine ini menjadi lebih sering ngobrol dan beradu argumen. Sampai salah satu anggota gereja di Kyorach bilang kalau mereka berdua dihubungkan dengan benang merah dan menyarankan mereka untuk saling menyatakan cinta.


Mine baru menyadari kalau ternyata dia benar-benar jatuh cinta pada Tatsumi setelah ia diselamatkan dari bom bunuh diri dari Seryu Ubiquitous.


Misi darurat diadakan untuk menyelamatkan Tatsumi yang tertangkap oleh pasukan kerajaan. Saat itu Mine sedang sekarat karena luka yang didapatnya dari pertarungan. Disitulah saat dimana Mine menyatakan cintanya pada Tatsumi lalu mati.



5. Tatsumi X Bulat



Oke ini agak ngaco. Tapi yang jelas Bulat emang ada rasa sama Tatsumi walaupun udah jelas pula Tatsumi ngga tertarik sama Bulat secara 'romantisme'. Meskipun begitu, hubungan Tatsumi dan Bulat sangat dekat. Tatsumi selalu menganggap Bulat sebagai 'abang'-nya dan sangat menghormatinya. Apalagi pada saat-saat kematiannya, Bulat mewariskan Teigunya untuk dipakai Tatsumi.



So, here it is. Which one you ship with Tatsumi??

Kalo buat gue pribadi, gue sih nge-ship Tatsumi sama Mine. Kisah mereka walaupun yang paling getir adalah yang paling manis. Berawal dari berantem-beranteman, sampe akhirnya Mine menyatakan cinta di akhir hidupnya. Lalu mereka berciuman dan itu menjadi awal serta akhir hubungan cinta mereka.




Note:
Murasame: Teigu milik Akame berbentuk pedang beracun yang bisa membunuh apa saja dengan sekali tebas
Teigu: Sebutan untuk senjata kerajaan yang bentuk, jenis dan fungsinya bermacam-macam

Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Jumat, 07 April 2017

Hero Personage | EIJI (Sword Art Online: Ordinal Scale)




Eiji di film Sword Art Online: Ordinal Scale adalah seorang pemain Ordinal Scale ranking 2 yang misterius. Yang mana pada akhir cerita ditemukan bahwa karakter ini merupakan seorang Survivor SAO yang sedang berusaha membantu dosennya menghidupkan kembali Yuuna Shigemura, anak dari developer game OS dan dosen dari Touto University, Dr. Tetsuhiro Shigemura.





Cowok yang bisa dibilang salah satu karakter antagonis ini menjadi karakter favorite gue di film Ordinal Scale. Awalnya kena love at first sight waktu adegan dia ngelindungin Yuna di battle ngelawan bos Aincrad level 10 Samurai Soul. Penampilannya disitu kereeeenn banget. Semua cewek yang liat pasti otomatis kambuh fangirling



Langsung melting pas Eiji disini. Oh my.. tatapannya itu loh

Jadi, Eiji Nochizawa adalah teman satu guild Asuna dulu di Knight Oath Blood. Di SAO username nya Nautilius (kalo ngga salah). Dan dia ketakutan waktu mau ngelawan bos. Akhirnya dia pun ngga ambil bagian di front line. Selama di SAO, dia deket sama Yuuna dan sering menghabiskan waktu bersama. Yah agak mirip kisah cinta Asuna-Kirito. Bedanya Eiji-Yuuna bukan pejuang di garis depan. Dan nasib buruk menimpa Yuuna yang mati karena meninggalkan safe area (menurut pemaparan Asuna).

Setelah Kirito mengalahkan Kayaba Akihiko dan membebaskan para pemain yang terjebak di permainan SAO, kisah para survivor ditulis dalam sebuah buku. Para front liner dan pemain yang memiliki peran penting di SAO terabadikan di buku tersebut. Eiji yang tersinggung namanya tidak tercantum di buku itu memiliki dendam tersendiri kepada para front liner SAO. Belum lagi kesedihannya karena Yuuna mati di game tersebut. Makanya waktu Dr. Shigemura berencana menghidupkan kembali Yuuna dengan mengambil memori para Survivor SAO, Eiji pun setuju untuk membantu. 

Fakta yang terdapat di film Ordinal Scale (SPOILER):

1. Pengisi suara Eiji adalah Yoshio Inoue, seorang aktor film, aktor teater, penyanyi dan penulis buku (menurut sumber )

2. Yoshio Inoue adalah alumni Tokyo University Departemen Seni Musik Vokal

3. Sword Art Online: Ordinal Scale adalah debut kedua Yoshio Inoue sebagai seiyuu setelah sebelumnya ia berkecimpung di dubbing film disney, Plains

4. Eiji adalah salah satu Survivor SAO.

5. Eiji adalah murid dari fakultas yang sama dengan Dr. Shigemura di Touto University

6. Untuk melancarkan rencana menghidupkan kembali Yuuna, memori Eiji tentang SAO juga harus diambil. Di klimaks, Eiji dihadapkan dengan bos Aincrad level 91

7. Eiji memiliki chip berbeda di belakang kepalanya yang membuat dia sangat kuat di permainan Ordinal Scale

8. Sebenarnya Eiji bukanlah orang yang jahat. Yang ingin dia lakukan hanya membantu Yuuna kembali hidup karena ia merasa bersalah tidak bisa menjaganya selama di SAO

9. Eiji dendam pada wakil comander Knight Oath Blood (Asuna) karena dia tidak bisa sekuat Asuna

10. Eiji beranggapan Kirito adalah pemain terkuat di VR, tapi pemain terburuk di AR

Segitu aja spoiler fact mengenai karakter Eiji di Ordinal Scale ini (yang gue tau). Gue JATUH CINTA banget sama karakter badass satu ini. Sebuah side-chara luar biasa cool yang bikin gue deg-deg an tiap dia muncul selama jalannya film. Dan akhirnya gue bisa merelakan Kirito untuk Asuna aja. Hahaha.

Segitu aja.


Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--


Rabu, 29 Maret 2017

Heroine Personage | YUNA (Sword Art Online: Ordinal Scale)



Yuna di film Sword Art Online: Ordinal Scale adalah seorang AR Idol yang kerap bernyanyi untuk mengiringi para pemain menghadapi bos-bos di game Ordinal Scale. Yang mana pada akhir cerita ditemukan bahwa karakter diva ini merupakan seorang korban dari game SAO yang sedang berusaha dihidupkan kembali oleh Profesor Dr. Shigemura, seorang developer game OS dan dosen dari Universitas yang sama dengan mendiang Kayaba Akihiko.


Dibantu oleh Eiji (yang sangat dekat dengan Yuna ketika di SAO), Dr. Shigemura menjadi developer game Ordinal Scale dengan rencana mengambil memori para survivor SAO dan mengumpulkannya untuk membuat Yuna kembali ke dunia nyata dan mengakibatkan para survivor SAO kehilangan ingatan mereka tentang game mematikan tersebut.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh Diva AI pertama ini bisa dilihat di bawah ini (btw ini gue ngga sesuai urutan nyanyi nya di film ya, random pick aja):


Sword Art Online: Ordinal Scale - "longing" by Yuna


Sword Art Online: Ordinal Scale - "Ubiquitous dB" by Yuna


Sword Art Online: Ordinal Scale - "Break Beat Bark!" by Yuna


Sword Art Online: Ordinal Scale - "delete" by Yuna


Sword Art Online: Ordinal Scale - "smile for you" by Yuna (This video Nightcore Version. Sorry can't find the original one)


Sejauh ini lagu kesukaan gue adalah Ubiquitous dB.


Menurut link fb cgv karakter Yuna ini tersinspirasi dari penyanyi Avril Lavigne. Dengan pengisi suara Sayaka Kanda, ia menyanyikan sebagian besar lagu yang diciptakan oleh Yuki Kajiura.

Fakta lain yang terdapat di film Ordinal Scale adalah (SPOILER):

1. Hantu bertudung yang ditemui Kirito adalah Yuna.

2. Yuna adalah pemain ranking 1 di game Ordinal Scale.

3. Yuna (Yuuna Shigemura) adalah anak perempuan dari Dr. Shigemura, developer game Ordinal Scale sekaligus guru dari Kayaba Akihiko.

4. Yuna membantu Kirito dan yang lainnya untuk memasuki full dive Augma saat Kirito akan bertarung melawan bos level 100 Aincrad.

5. Pengisi suara Yuna (Sayaka Kanda) bukanlah seorang seiyuu, melainkan seorang penyanyi.

6. Sayaka Kanda adalah pengisi suara Anna di Frozen versi Jepang.

7. Yang mengenalkan SAO pada Yuna pertama kali adalah ayahnya. Ia dihadiahi Nerve Gear oleh ayahnya.

8. Yuna sangat dekat dengan Eiji di SAO. Dr. Shigemura berjanji pada Eiji bahwa ia dapat hidup bersama Yuna ketika Yuna berhasil dihidupkan kembali. Namun hal tersebut tidak ditepati karena untuk menghidupkan Yuna kembali, ingatan milik Eiji juga harus diambil.

9. Pada akhirnya Yuna tidak jadi dihidupkan kembali di the movie Ordinal Scale.


Segitu aja spoiler fact mengenai karakter Yuna di Ordinal Scale ini (yang gue tau). After all, gue suka banget sama karakter kawaii yang satu ini. Sebuah side-chara yang luar biasa catching dan membuat pikiran gue dimainin selama jalannya film. Karena pertama gue pikir karakter Yuna ini adalah karakter yang jahat di film. Tapi ternyata beberapa dugaan gue tentang Yuna adalah SALAH besar. Hahaha.

Segitu aja.


Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Senin, 27 Maret 2017

Sword Art Online Season 3!!! | Alicization



It is officially announce!

Di post credit film Sword Art Online: Ordinal Scale terdapat teaser season 3 dari anime ini. Pada season 3 ini diambil dari Arc Alicization. Nantinya akan tampil karakter Eugo dan Alice yang sudah lebih dulu diperkenalkan lewat event di Sword Art Online: Memory Defrag.


Untuk bagaimana kelanjutannya nanti kemungkinan bagi para fans yang udah lebih dulu membaca Light novel-nya ngga akan kaget atau kepo lagi dengan jalan ceritanya. Tapi berita ini sungguh membawa begitu banyak nostalgia mengingat begitu lama kami harus menunggu anime selanjutnya setelah season 2 SAO yang tayang bertahun lalu.

Sayangnya waktu gue nonton Ordinal Scale kemarin, gue udah keluar bioskop sebelum menyaksikan teaser di post credit (berhubung sudah malam dan takut ngga bisa pulang) jadi gue cuma bisa lihat scene tersebut di youtube. Game selanjutnya disebut RATH. Apakah ada hubungannya dengan tikus--RAT(H)? Kita tunggu saja animenya tayang.




Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Rabu, 22 Maret 2017

Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale | 2017


"Nerve Gear membuat dunia virtual menjadi nyata, Augma membuat dunia nyata menjadi virtual.." --Kirito.

Ngga bisa dipungkiri betapa banyak orang yang ngga suka banget sama anime ini. Sampai-sampai mereka benci karena alur ceritanya yang tiba-tiba jadi romance dan harem-harem-an. Tapi ngga sedikit juga yang suka banget sama anime ini dan memilih untuk ngga memperdulikan kelemahan dan kenyataan yang ngga sesuai ekspektasi. Dan gue adalah salah satu orang yang memfavoritkan anime ini.

Buat para fans SAO, menunggu anime season 3 itu sangaat laaaammaaaa. Padahal kalo kita ikutin Light Novel-nya, cerita SAO ini udah jauh banget. Tapi masih ada harapan sih kayaknya untuk season 3. Kita tunggu ajaa~

Oke di post kali ini gue akan bahas film terbarunya yaitu Ordinal Scale.



Terhitung lama setelah adaptasi anime nya yang terakhir tayang. Film bertajuk Ordinal Scale ini setidaknya menghilangkan rasa kangen kami pada Kirito dan kawan-kawan..

Seiyuu Yoshitsugu Matsuoka dan Haruka Tomatsu masih mengisi suara dua sejoli Kirito dan Asuna. Dengan seorang idol baru bernama Yuna (Sayaka Kanda) yang karakternya sebagai AI Singer pertama yang bernyanyi untuk para pemain.

Dari trailer nya yang sudah muncul pertengahan tahun 2016 lalu, film ini dilihat cukup menjanjikan. Dengan graphic yang bagus dan sountrack masih menggandeng penyanyi cantik LiSA, dengan mengeluarkan beberapa teaser saja, SAO OS udah menyita perhatian banyak penggemarnya dan membuat kami tidak sabar menunggu.

Di Indonesia film ini akhirnya tayang pada 22 Maret 2017 setelah beberapa kali mengalami kemunduran jadwal. Untuk CGV Blitz sendiri mengadakan screening film ini di CGV Grand Indonesia pada 25 Februari 2017 lalu. Sebenernya gue pengen banget ikut screening nya (biar lebih dulu nonton plus dapet official merchandise XD). Tapi apa daya waktu itu bertepatan banget sama ujian di kampus. Jadi baru pada 22 Maret gue meluncur untuk menyapa kembali sang kekasih Kirito-kun😍😍.

Kali ini gue nonton sendirian tanpa partner. Beruntungnya setelah ngga lama gue duduk di bangku gue, ada dua orang cewek jilbab yang ternyata pas film mulai sama histerisnya sama gue. Gue ngerasa euforia waktu pertama kali nonton Fantastic Beast and Where To Find Them terulang lagi pas film ini dimulai.

Tambah baper pas scene pertama ternyata flashback dari memori Kirito dan Asuna di lantai 22 di rumah mereka di SAO (yang mana ternyata scene ini adalah kunci klimaks film ini). Mereka sedang saling bertukar janji untuk bertemu kembali di dunia nyata dan kembali melanjutkan perasaannya masing-masing.

Dua tahun setelah SAO dikalahkan, terciptalah perangkat baru bernama Augma--Augmented Reality (AR) yang memungkinkan pemain merasakan sensasi permainan secara nyata. Dan semenjak ada AR, penggunaan VR (Nerve Gear dan Amusphere) mulai menurun.

Sebagai pengganti ALO (Karena SAO terlalu mengerikan) muncullah Ordinal Scale. Permainan yang memunculkan peringkat pemainnya di atas kepala mereka itu menarik terlalu banyak perhatian karena sekali kita bermain dan menyelesaikan quest, hadiahnya adalah hal-hal di kehidupan nyata seperti makanan, minuman, ataupun voucher gratis. Semua orang termasuk Klein (Seiyuu Hiroaki Hirata) dan guildnya, Asuna, Silica dan Lisbeth berlomba-lomba menaikkan peringkat mereka kecuali Kirito yang tidak terlalu antusias dengan game ini.

Sebenernya gue agak shock liat trailer film ini karena badannya Kirito tampak begitu berisi dan jauh beda sama Kirito versi ALO, GGO ataupun SAO. Dan akhirnya terkuaklah alasan 'gemuk' nya dia di film ini adalah karena cuma dia yang ngga suka main OS. Jadi OS itu mainnya kan dengan kesadaran penuh, otomatis memaksa para pemainnya menggerakkan tubuh mereka secara real. Berhubung Kirito emang ngga suka banget latihan fisik, maka menggemuklah badannya XD.



Ordinal Scale, sedikit mengingatkan gue sama game yang sempet booming beberapa waktu lalu yaitu Pokemon. Jadi tiap ada bos yang muncul, orang-orang berkumpul di tempat dan waktu yang udah ditentukan dan hanya dengan membawa tools Augma mereka, mereka bisa bermain game secara nyata (dan kalau mereka lepas Augma ngga ada fantasi apa-apa). Pada setiap kesempatan bertarung dengan bos, Idol AI Yuna selalu muncul dan bernyanyi untuk menyemangati para pemain.

Di pertempuran melawan bos OS yang pertama Kirito join, dia merasa ada hal yang ngga beres. Bos yang mereka hadapi ternyata adalah bos yang mereka hadapi di game SAO. Saat itu rank Kirito sekitar 1000 atau 10000 gitu, karena emang dia lebih suka permainan VR daripada AR. Lalu di tengah pertempuran Kirito dan Asuna bertemu dengan orang dengan ranking 2. Kekuatannya luar biasa diatas rata-rata, namun Asuna merasa ada yang aneh dengan orang bernama Eiji (Seiyuu Yoshio Inoue) itu saat dia mendengar orang itu berkata 'switch'--kata khas yang diucapkan pemain SAO.

Asuna lebih sering ikut bagian untuk melawan bos. Sedangkan Kirito yang tidak terlalu suka (atau tidak terlalu percaya Augma lebih safety dari Nerve Gear dan Amusphere) selalu mengingatkan teman-temannya untuk tidak terlalu sering bermain OS. Namun tiba-tiba semuanya berubah saat Asuna kehilangan ingatannya tentang yang terjadi di SAO!

Di kali keempat melawan bos, Asuna menjatuhkan HP nya hingga ke angka nol dan tiba-tiba saja memorinya tentang apa yang terjadi di SAO tidak dapat ia ingat. Hal tersebut membuat Kirito khawatir. Lalu saat itulah ia sadar kalau Augma memiliki kemampuan untuk memindai dan menghapus memori otak pemakainya. Menurut info dari dokter yang menangani kasus Asuna, ada beberapa orang Survivor SAO yang mengalami hal serupa.

Kirito mendatangi dan menanyakan langsung pada pencipta Augma yang adalah seorang profesor di universitas yang ingin dia masuki sekaligus tempat Kayaba Akihiko dulu. Namun jawaban yang ia dapatkan tidaklah memuaskan dan membuatnya makin berpikiran negatif pada Augma. Sejak saat itu Kirito menjadi serius menanggapi game OS ini dengan mengikuti semua pertarungan melawan bos sampai akhirnya rankingnya naik ke angka 6 dan berusaha mencari tahu rahasia dibalik Augma.

Dari sini niat buruk Dr. Tetsuhiro Shigemura (Seiyuu Takeshi Kaga) itu mulai terkuak. Ia memiliki rencana yang dilakukannya bersama dengan si ranking 2 Eiji untuk menghidupkan kembali Yuna--Yuuna Shigemura (yang ternyata anaknya yang telah mati di game SAO). Mereka mengumpulkan memori ingatan para Survivor SAO untuk menghidupkan kembali Yuna. Dengan cara mengumpulkan para Survivor SAO di konser Yuna lalu mengeluarkan semua bos dari SAO untuk memaksa mereka bertarung dan mengeluarkan memori SAO mereka.

Kirito yang sudah mengetahui rencana tersebut telah mengalahkan Eiji yang merupakan kaki tangan Dr. Shigemura sekaligus mantan member dari guild Knight Oath Bloods di SAO. Dan dengan dibantu oleh 'hantu Yuna' untuk membuat tools Augma ke mode VR, dia dan yang lain menyelamatkan para Survivor SAO dengan satu-satunya cara yaitu mengalahkan bos terakhir di lantai 100 Aincrad. Setelah mengalahkan bos di level 100, Kirito mendengar ucapan selamat dari Kayaba Akhiko dan mendapatkan reward berupa sword dengan kekuatan luar biasa. Setelah kembali ke dunia nyata, 'hantu Yuna' yang tidak bisa lagi menahan serangan untuk melindungi Kirito pun kalah. Dengan pedang barunya, Kirito dengan gampangnya menyabet bos-bos Aincrad dan menjadi si ranking 1.

Sebenernya konsep dari The Movie Ordinal Scale ini masih sama dengan SAO, perangkat merusak otak yang bisa berakibat kematian. Pada akhirnya Yuna harus tetap mati karena programnya direstart bersama dengan kalahnya bos di level 100.

Pertama kali mulai, graphic-nya udah bikin meleleh dan jatuh cinta. Pokoknya kualitasnya ngga beda jauh sama animasinya Kimi No Nawa kemarin deh. Menurut gue sih lebih keren karena banyak adegan berantemnya yang bikin merinding dengan durasi yang ngga sebentar. Apalagi pas pertarungan melawan bos di level 100 ihh cakep banget. Ngga nyangka gue mereka bakal ngeluarin bos level 100 Aincrad di film ini. Penggambaran tokoh-tokohnya yang makin dewasa juga keren banget, motornya Kirito, kisah cinta Kirito-Asuna yang so sweet tapi ngga berlebihan, dan juga tokoh Yuna dan Eiji yang ngga kalah keren. Lagu yang dinyanyiin Yuna juga enak-enak banget (gue bahkan udah dengerin playlistnya dua minggu sebelum nonton film ini--kalian bisa cek disini untuk denger lagu-lagunya). After all pokoknya gue puas banget sama animasi satu ini. Dan kalaupun diajak nonton lagi gue pasti ngga akan nolak.




Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Rabu, 15 Maret 2017

19. Uncovered ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Semua orang itu sama. Yang membedakannya adalah bagaimana cara berpikir mereka. Dan apakah mereka cukup berani untuk melakukan apa yang mereka pikirkan.

"Emm.. Kamu sadar yang kamu bilang, Kee?" Tanyaku.

"Apa?" Ucap Kee tidak mengerti.

"Apa kamu baru aja melamarku?" Tanyaku dengan nada bergetar. Aku malu sekali mengatakan hal ini.

"Apa itu terdengar seperti melamar?" Keenan balik bertanya.

"Aku ngga tau." Ucapku jujur.

Keenan tersenyum. "Sheerin, aku akan melamarmu dengan suasana yang lebih manis suatu hari nanti." Ucapnya dengan kedua bola mata menatap tajam padaku.

Seluruh wajahku panas. Aku rasa saat ini inderaku berfungsi sebagaimana mestinya seorang gadis tersipu malu. Aku makin merasa malu pada diriku sendiri.

Kami mulai menjauh meninggalkan lingkungan penjara.

***

Aku makan siang di salah satu restoran cepat saji. Jujur saja, aku sangat mencintai makan ayam goreng tepung yang katanya makanan sampah itu. Tapi makan siangku kali ini tidak senikmat biasanya. Aku masih belum mendapat kabar dari sahabat kesayanganku yang sedang pergi kencan dengan pacar barunya. Dan harus kuakui, menunggu kabar itu ternyata membuat jantungku was was. Bagaimana tidak. Orang yang kutunggu sedang bersama dengan orang yang sama sekali tidak kuharapkan.

"Ayolah sayang. Jangan muram begitu. Kita kan juga sedang kencan." Ucap Keenan seakan baru saja membaca pikiranku.

"Oh, apa kamu lagi ngga ada kerjaan, Kee? Aku bosan." Ucapku.

"Sepertinya ngga. Aku lagi malas ambil bagian." Jawab Keenan.

"Sungguh? Tadi kamu kayak mau mangsa waktu Kak Lisa ngejek." Ledekku.

"Yah. Itu kan beda. Aku cuma tinggal menghabisi dia tanpa banyak pikir dan menyusun rencana. Aku cuma lagi malas mikir aja." Ucap Keenan.

"Wah kalau begitu berarti kamu harus mulai pensiun dini sayang." Ucapku seraya tertawa.

"Dan biar kutebak siapa yang akan mengambil pekerjaanku.." Ucap Keenan.

"Taraaa Sheraphyna Shine yang berkilauan." Aku melanjutkan kalimatnya lalu tertawa.

"Hey, aku ngga akan ngebiarin seorang amatir mencuri pekerjaanku." Ucap Keenan.

Aku hanya tertawa.

Tiba-tiba handphone Keenan yang tergeletak di atas meja berdering. Karena kedua tangan Keenan sedang mengeksekusi sepotong ayam, aku otomatis langsung mengambilnya dan melihat siapa yang telpon, 

"Halo, Ma." Ucapku mengangkat telpon dari mamanya Keenan.

"Oh, kenapa kau yang angkat telponku, Mice." Ucap mama Keenan di seberang.

Mamanya Keenan memanggilku Mice=tikus. Itu terjadi karena menurutnya aku ini seekor makhluk pengerat kecil yang sangat menggangu.

"Kalian ada dimana?" Tanya mama Keenan.

"Kami sedang makan siang." Jawabku.

"Oh baiklah. Dua puluh menit lagi aku tunggu di rumah. Ada hal yang harus kalian lakukan untukku." Ucap mama Keenan.

"Baiklah. Kami akan langsung kesana, Ma." Ucapku.

"Jangan terlambat, Mice." Ucap mama Keenan lalu mengakhiri telpon kami.

Aku kembali ke makan siangku. Kini dengan semangat yang agak aneh.

"Untung kita ngga terlalu jauh dari rumah kamu, Kee." Ucapku. "Dia punya tugas untuk kita."

Keenan menelan suapan terakhirnya agak buru-buru untuk menjawab "Atau mungkin mama udah tau kita ngga terlalu jauh dari rumah."

Setelah perut terisi penuh, kami melanjutkan kencan kami ke rumah keluarga besar Killian. Aku sedikit melupakan sahabatku Diva karena aku tahu nanti akan sangat seru.

Keenan memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya yang luas seperti biasa. Kulihat mobil papanya juga sudah terparkir manis di sebelah mobilnya. Mobil itu tampak sangat kotor dan velg bannya dipenuhi lumpur yang mengeras.

"Mereka dari jauh ya?" Tanyaku.

"Sepertinya begitu." Jawab Keenan. "Ayo. Kita terlambat 2 menit."

Aku mengikuti langkah Keenan yang membawaku ke belakang rumahnya. Disana ada sebuah pintu yang tertimbun di tanah. Ini adalah kali kedua aku masuk ke ruangan dibalik pintu kecil itu. Pertama kali aku masuk kesana orang tua Keenan tampak seperti hendak membuang bangkai tikus--mungkin karena itu juga aku dipanggil Mice--hidung mereka tidak berhenti mengembang dan dua pasang mata tajam yang menyipit menempel pada penampilanku yang bisa dinilai 6/10.

Aku menuruni anak tangga berlumuran darah dengan hati-hati. Berusaha untuk tidak terpeleset atau menyentuhkan kulitku dengan cairan berwarna merah berbau amis itu. Karena biasanya darah yang sudah tercecer seperti itu, banyak ditumbuhi bakteri yang membuat kulitku gatal.

Setelah menuruni tangga sekitar tiga meter dibawah tanah, kami tiba pada ruangan yang bisa dibilang luas untuk ukuran ruang rahasia bawah tanah. Kedua orang tua Keenan bersama adik kecilnya Grace tampak tengah menunggu kami.

Pakaian yang dipakai mama dan papa Keenan berlumuran darah. Di belakang mereka terlihat samar olehku sesosok tubuh seorang wanita, terbaring tanpa busana.

Di sebelah ranjang yang ditiduri wanita itu ada meja berukuran kira-kira 70 x 70 senti dengan berbagai jenis dan ukuran pisau dan gunting tertata rapi dan bersih diatasnya.

Aku tahu seharusnya ketika bertemu dengan orang tua dari pacar, biasanya kita saling bersapa. Tapi kebiasaan itu tidak berlaku untuk keluarga ini. Mereka tidak terlalu mementingkan kesopanan, mereka lebih suka orang yang tidak banyak bicara tapi punya skill luar biasa. Dan aku menyukai itu.

"Sepertinya dia masih muda." Ucap Keenan mendekati tubuh si wanita sambil memperhatikan wajahnya.

"Berapa umurnya?" Tanyaku ikut mendekat untuk melihat lebih jelas wanita itu.

"Delapan belas tahun. Kelas dua SMA." Jawab papa Keenan dengan nada yang tidak sama sekali menunjukkan sifat kebapakan. Suaranya sedingin es.

"Tumben anak muda." Bisikku kepada Keenan.

Keenan memasang sarung tangan karet ke kedua belah tangannya yang panjang-panjang. Lalu menyentuh bagian kiri dada si wanita dan berjengit.

"Dia masih hidup?" Ucap Keenan langsung menjauhkan tangannya.

"Klien kami bilang mereka tidak peduli pada tubuhnya.  Mereka hanya ingin anak ini hilang dari pandangan. Jadi sayang sekali kan kalau tubuhnya tidak dimanfaatkan." Ucap mama Keenan.

Aku menelan ludah ke tenggorokanku yang tiba-tiba kering secara misterius.

"Jadi tugas kami memisahkan bagian tubuhnya sebelum membunuhnya?" Tanya Keenan serius.

"Tentu. Jarang sekali kita punya objek hidup untuk dipraktekan pada Grace. Kurasa ini suatu keberuntungan." Ucap mama Keenan.

"Sejujurnya aku ingin sekali mendapat kesenangan membedahnya. Tapi mamamu bilang kami harus melayani klien selanjutnya." Ucap papa Keenan.

"Kalian langsung pergi?" Tanyaku.

"Ya, Mice. Waktu adalah nyawa. Semakin kau lambat, semakin sedikit nyawa yang bisa kau hilangkan." Ucap mama Keenan.

"Kami akan langsung pergi setelah mandi." Ucap papa Keenan.

"Selamat bersenang-senang kalian bertiga." Ucap mama Keenan seraya mengecup kening Grace lalu memanjat naik ke tangga keluar.

Tersisalah kami bertiga. Keenan masih terus memperhatikan dan meneliti tiap senti kulit si wanita. Aku tahu wanita itu masih hidup. Tapi tidak akan lama lagi.

Di sisa ranjang yang ditiduri wanita itu ada sebuah berkas dalam map berwarna merah hati. Aku membuka berkas tersebut dan melihat foto diri si wanita beserta dengan kartu identitas dan biodata lainnya. Nama gadis itu Marleen. Kalau aku punya hati, aku pasti merasa kasihan pada cewek ini. Usianya baru delapan belas tahun dan harus mati di usianya yang masih remaja itu. Sebuah keberuntungan sebenarnya dia lahir di keluarga yang kaya raya. Pewaris tunggal dari perusahaan internasional yang sukses di negara ini dan beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Namun nasib buruk karena memiliki seorang paman yang haus kekayaan. Cewek ini dibunuh oleh pamannya sendiri yang menginginkan perusahaan ayahnya jatuh ke genggamannya. Wajahnya juga sangat cantik. Aku yakin banyak sekali cowok yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan gadis ini.

Diantara berkas yang tersusun rapi di map merah hati itu, ada sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas yang berbunyi: 'Xs Corp.' dan sederetan nama dan nomor telpon. Kurasa ini milik paman dari gadis ini. Karena sepertinya kartu nama ini tidaklah resmi milik perusahaan Xs. Tidak ada logo atau keterangan alamat lengkap pada kartunya.

Aku menutup berkas itu dan menyegelnya dengan coretan tinta merah berbunyi: 'BY MR. AND MRS. KILLIAN'.

"Kau akan dapat menulis namamu sendiri suatu hari nanti." Ucap Keenan yang ternyata lama memperhatikanku.

Ya. Aku akan menjadi pembunuh bayaran berikutnya di keluarga ini. Kemampuanku memang masih bisa dibilang standar agak tinggi sedikit dari yang bisa dilakukan Grace. Tapi setelah orang tua Keenan mengizinkanku untuk masuk ke dunia mereka, mereka dengan murah hatinya mengajariku beberapa cara dan teknik dalam keluarga ini.

Keluarga Keenan memang sudah sangat lama melakukan bisnis luar biasa keren ini. Mereka sekeluarga adalah satu-satunya keluarga pembunuh bayaran yang paling ditakuti di negara ini. Bukannya tidak ada pihak yang menolak pekerjaan mereka. Polisi dan detektif beberapa kali mengusut dan mencari tahu informasi Killian's Family, tapi sebelum menemukan titik terang, tiba-tiba mereka terbunuh secara misterius.

Aku beruntung bisa satu sekolah dengan anak mereka, Keenan. Saat itu dia menemukanku sedang melakukan pelanggaran peraturan sekolah yang cukup fatal--memotong beberapa jari teman sekelasku yang sedang ketiduran di kelas pada jam olahraga--dan dia menilai kalau aku anak yang asik dan akan sangat cocok dengan dirinya. Jadi mulai saat itu kami pacaran.

Grace memasang sarung tangan karet pada tangannya sendiri dan mulai memperhatikan kakaknya dengan seksama. Tatapan mata anak tiga tahun itu berubah menjadi tajam dan mematikan. Grace adalah spesialis serangga di keluarga ini. Dia hanya beberapa kali melihat kakak-kakaknya membedah tubuh mati manusia tanpa ikut campur tangan. Tapi ini adalah kali pertama ia melakukannya dengan tubuh manusia yang masih bernyawa. Dan sepertinya ia akan mengambil beberapa bagian dalam pembedahan kali ini.

"Baiklah, kau siap, Grace?" Tanya Keenan dengan nada penuh semangat.

Grace mengangguk penuh semangat.

Keenan menyuntikkan suatu cairan pada tangan Marleen. Cairan itu dimaksudkan untuk menetralisir racun lumpuh pada tubuhnya agar dia cepat sadar. Pada praktek bedah di kedokteran, membius pasien adalah hal paling utama yang harus dilakukan. Tapi hal itu sama sekali tidak ada sensasinya. Kami memilih untuk mendengarkan isakan dari cewek itu ketika kami perlahan mulai mengangkat satu persatu bagian dalam tubuhnya. Dan itulah yang membedakan pembedahan orang mati dan orang hidup, kau bisa membuatnya bersuara. Orang tua Keenan pun ingin Grace merasakan sensasi yang berbeda ketika kami mencobanya menemui pasien yang dibedah saat masih hidup.



Rabu, 08 Maret 2017

18. Mercy ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Akan selalu ada matahari setelah malam yang panjang. Harapan bisa datang dari mana saja.

Aku menjabat tangan terborgol Kak Aiden dan Kak Lisa. Tubuh mereka sangat kurus walaupun aku tidak bisa dibilang gemuk, kondisi tubuh mereka jauh lebih memprihatinkan.

Mereka duduk berhadapan denganku dan Keenan.

"Kamu sudah dapat kabar dari Candice?" Tanya Kak Aiden.

"Mmm kayaknya dia udah lupa sama dua kakaknya deh." Jawabku dengan nada mencemooh.

"Hei, jangan samakan adik kami dengan kau, iblis." Ucap Kak Lisa naik pitam.

"Hey Kak. Aku kan adik kalian juga." Protesku. "Adik tersayang malah." Aku menyeringgai kecil.

"Kamu tidak waras, Sheerin. Cepat beritahu kami keadaan Candice." Ucap Kak Aiden.

"Tenang aja Kak. Selama kalian baik-baik aja menjalani hukuman ini, Kak Can ngga akan kenapa-kenapa kok." Ucapku.

Kesunyian menyelinap di ruang tersebut selama beberapa saat. Kak Aiden tampak tidak melepas pandangannya dariku. Sedangkan Kak Lisa terus memperhatikan Keenan.

"Kak." Ucapku memecah kesunyian.

"Apa?" Tanya Kak Aiden dengan nada terpaksa. Setiap kali aku berkunjung dia selalu menunjukkan senyuman penyesalan itu. Nada suaranya pun seperti menandakan kalau dia lebih baik tidak bicara padaku.

"Kakak ingat temanku Doni?" Tanyaku dengan nada santai biasa.

"Cowok yang bikin kamu tinggal kelas?" Ucap Kak Aiden. "Kenapa?" Lanjutnya.

"Dia pacaran sama Diva." Ucapku.

"Wah bagus dong. Siapa tahu kali ini kamu ketangkap basah lagi sama dia." Ucap Kak Lisa nimbrung.

"Kamu udah ngga kayak dulu lagi kan, Sher?" Tanya Kak Aiden. Nada suaranya berubah melembut.

"Ngga kak. Aku--." Aku menengok ke wajah Keenan. Raut wajahnya tanpa ekspresi.

"Aku akan ngelindungin Sheerin." Ucap Keenan tiba-tiba memotong ucapanku.

Kak Lisa mengeluarkan tawa cemooh. "Bisa apa kamu, dek? Jangan mentang-mentang kamu sama psyco-nya seperti Sher kamu bisa ngelindungin dia dari apapun. Udah deh mending kalian akuin kesalahan kalian dan tinggal disini sama kami." Kak Lisa terus menggerutu.

Keenan hanya diam dihina seperti itu. Semoga kali ini dia bisa tahan emosi. Tapi kulihat tangannya terkepal. Ia menatap Kak Lisa sangat tajam. Emosinya pasti akan meledak sebentar lagi.

"Tahan, Kee. Kak Lisa cuma ngga tahu kamu yang sebenarnya." Ucapku mencoba menenangkan.

Ya. Kalau saja Kak Lisa tahu siapa Keenan sebenarnya, jangankan untuk menghina ke-psyco-annya. Untuk menatap seperti barusan saja aku yakin dia tidak akan berani.

Aku membuka resleting tasku dan merogohkan tangan ke dalamnya. Lalu mengeluarkan sebuah kertas berwarna merah dengan ketebalan sekitar setengah senti dan dihiasi banyak ornamen renda warna putih di pinggirnya.

"Sebenernya aku ngga mau kasih tahu berita ini. Tapi kayaknya kalian pantas untuk tahu." Ucapku sambil melempar kertas bertuliskan 'invitation' yang kukeluarkan dari tas ke meja.

Kak Aiden mengambil kertas itu dan membukanya. Kak Lisa tampak shock lalu meneteskan air mata.

"Kamu serius dengan ini?" Tanya Kak Aiden dengan sepasang bola mata membesar menatapku.

"Yah, aku dapat itu beberapa minggu lalu dari tukang pos." Jawabku.

"Candice, adikku. D-dia.." Ucap Kak Lisa terbata dengan mata berkaca-kaca.

"Tenanglah, Lisa. Aku yakin dia akan menjadi lebih baik." Ucap Kak Aiden sambil mengelus lembut punggung adik kembarnya.

Aku melihat pemandangan haru kakak-kakakku. Kadang aku berpikir untuk kembali menjadi Sher yang dulu. Ceria dan dimanja oleh mereka. Tapi aku tahu itu tidak akan mungkin terjadi lagi.

"Aku sudah bilang ke pihak kepolisian. Mereka mengizinkan kalian menghadirinya." Ucapku yang sontak saja membuat Kak Lisa menangis lebih keras lagi.

"Teri-ma ka-sih." Ucap Kak Lisa di tengah isakkannya.

"Pernikahan.." Ucap Kak Aiden.

Dua minggu lagi Kak Can akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang pria yang ditemuinya di New York saat sedang berkuliah disana. Dan dia akan melaksanakan acara itu disini. Aku tahu nanti pasti akan merepotkan. Aku juga tidak menyangka hal-hal seperti pernikahan akan berlangsung di keluargaku yang sudah berantakan ini.

Kak Candice sebenarnya tidak tahu tentang fakta kematian orang tua kami. Dia satu-satunya anak di keluarga Shine yang tidak tersentuh apapun karena kejadian meninggalnya orang tuaku bertepatan dengan waktu perginya. Yang dia tahu, orang tua kami kecelakaan lalu meninggal. Kak Aiden dan Kak Lisa yang stress berat karena ditinggal mama dan papa akhirnya menjadi pecandu dan pengedar narkoba. Dan itulah alasan yang diketahui Kak Can mengapa dua kakak tertua kami mendekam di penjara.

Waktu berbicaraku dengan kakak-kakakku habis. Akhirnya aku dan Keenan meninggalkan penjara. Kali ini aku merasa menjadi anak yang sedikit baik. Biasanya saat mengunjungi kakak-kakakku, yang kutinggalkan hanyalah cemoohan. Kali ini aku memberikan kabar bahagia pada mereka berdua.

"Pernikahan." Gumamku sesaat setelah aku menutup pintu mobil Keenan.

"Kau mau juga?" Tanya Keenan yang langsung membuatku terkejut.

"Apa maksud kamu?" Tanyaku untuk memastikan apa yang kupikirkan sama dengan apa yang cowok ini pikirkan.

"Saling menikah, tentu aja." Jawab Keenan.

Aku rasa kedua belah pipiku bersemu merah saat mendengar pernyataan Keenan barusan. Ini pertama kalinya Keenan mengatakan hal-hal seperti 'pernikahan'. Aku tahu kami adalah sepasang kekasih. Kebanyakan pasangan pasti memimpikan untuk menikah suatu hari nanti. Tapi aku dan Keenan bukan pasangan biasa. Kami tidak memiliki tujuan apapun. Kebanyakan percakapan kami adalah tentang pekerjaan dan hal-hal yang berhubungan dengan rencana dan strategi. Kadang berciuman kalau sedang bosan. Namun hal-hal manis seperti menikah belum pernah terlintas sama sekali. Yang kami tahu, saat kami membutuhkan satu sama lain, kami pasti akan selalu ada. Bukankah itu sudah cukup?

"Emm.."



আPrevious: Nightmare

আNext: Uncovered