Tampilkan postingan dengan label F!Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label F!Journey. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2020

Field Trip Drama


Hati perempuan itu unik ya. Bisa marah, kesal, bahagia, sedih, nangis, menyesal, cemburu, dalam waktu yang singkat aja. 


Yang penting adalah mereka didengarkan. Bukan diacuhkan atau dibiarkan tahu dengan sendirinya soal keadaan tertentu, karena biasanya kalau sudah ambil keputusan sendiri, mereka bisa aja ngga sadar dan ngga melihat logika lagi.

Gue punya satu cerita. Waktu di OSIS dulu, gue sempat dekat dengan salah satu cowok di organisasi yang sama. Kita adalah partner kerja yang baik. Kebetulan gue dan dia adalah dua orang yang paling berpengaruh di organisasi saat itu dan kita juga sudah pasti mau tidak mau harus menjalin komunikasi yang sangat baik.

Awalnya hubungan kita berdua agak canggung. Kita ngga berasal dari kelas yang sama. Bahkan jurusan kami pun berbeda. Sebelum tergabung di OSIS, gue sama sekali tidak kenal cowok ini. Apalagi pernah mengobrol atau dekat. Sama sekali tidak. Jadi kedekatan kami murni di saat organisasi bermula.


Ngga sulit untuk bisa dekat sama gue. Gue orang yang berani soalnya. Waktu itu cowok itu masih pemalu banget. Tapi lama kelamaan kami jadi lebih dekat dari seorang partner organisasi. Bukan berarti kami suka satu sama lain ya. Kadang suka kangen sih kalau udah lama ngga ketemu. Tapi bukan, hubungan kami ngga seperti itu.

Dia menganggap gue sebagai sahabat cowoknya. Iya karena menurutnya kepribadian gue yang unik dan sama sekali tidak mencirikan kepribadian cewek-cewek pada umumnya (at least itu yang dia pikir). Gue pun menjadi santai kalau sama dia. Ngga perlu khawatir dia akan gimana-gimana karena dia juga terkenal sebagai orang yang sopan dan lembut sama orang lain.

Mungkin kalau yang lihat teman-teman cowok, mereka ngga terlalu keberatan sama kedekatan gue dan cowok ini. Tapi kalo yang lihat cewek-cewek, beberapa kali gue merasa 'dilabrak' sama cewek-cewek yang termasuk fans cowok ini. Maklum aja, cowok ini cukup populer di sekolah karena salah satunya ya dia anggota OSIS yang aktif. Can you imagine two popular people in one circle?

Ngga sedikit fans cewek nya (yang kebanyakan adik kelas) bertanya penasaran sama gue. Apakah gue ini pacar dari cowok itu? Dan sampai capek pun gue selalu bilang kalau gue bukan pacarnya. Saat itu bahkan gue sudah punya pacar yang satu kelas dengan gue (walaupun ngga lama setelah menjabat anggota Dewan teratas OSIS, gue putus sama cowok gue).


Gue suka bingung, kalau orang yang beda jenis kelamin berteman dekat, selalu identik sama pacaran ya?

Singkat cerita, waktu itu ada school field trip ke luar kota. Salah satu destinasi yang ada di jadwal adalah pantai. Waktu itu gue sama sekali ngga berniat untuk main air. Karena gue paling malas antri bilasnya. Dan gue ngga terlalu suka berada di bawah sinar matahari kala itu. Jadi gue pakai jaket, di pantai.

Jaket yang gue pakai adalah jaket seragam yang dibuat sama satu kelas gue saat itu. Jadi jaketnya samaan, bedanya hanya ada nama kita di bagian depannya. Gue yakin kalian juga pasti punya deh.


Gue ngga main air, tapi bukan berarti teman-teman gue juga ngga main air. Mereka main air. Awalnya mereka ngga masalah gue ngga ikutan main air. Malah gue menjadi penitipan barang-barang yang ngga tahan air seperti handphone, jam dan lainnya. Tapi tiba-tiba teman-teman dari OSIS merasa gue harus masuk ke air. Gue panik dong. Gue melawan karena memang ngga mau. Tapi mereka terus memaksa. Cowok-cowok OSIS dibantu teman-teman sekelas gue yang lain memaksa gue untuk masuk ke air. Teman cewek gue mengambil barang-barang titipan dan yang cowok terus mendorong gue mendekat air (setengah digendong sih). Dan ya, empat orang cowok melawan satu cewek yang ukuran badannya jauh banget lebih kecil dari mereka. It's imposibble for me to win. Akhirnya gue masuk ke air dan basah. Masih bersama dengan jaket yang gue pakai sebelumnya.


"No way! Lo harus tanggung jawab. Gue ini orangnya gampang kedinginan. Pokoknya jaket lo gue pake!" Jerit gue saat itu kepada si cowok anak OSIS ini yang cuma nyengir aja lihat gue kebasahan di dalam jaket.

Kebetulan kita berada di satu bis yang sama. Dan disitulah dia memenuhi janjinya dan memberikan jaket seragam kelasnya kepada gue. Gue bilang, kalau jaket gue udah kering, dia bisa pakai lagi jaketnya. Dan bukan bualan, gue memang ngga bisa tahan sama dingin. Gue sangat gampang kedinginan. Akhirnya selama sisa field trip itu gue harus memakai jaket miliknya yang literally samaan seperti jaket anak-anak di kelasnya yang lain. Bisa bayangin dong kalau ada orang lain yang pakai jaket kelasan kalian padahal dia bukan anggota kelas kalian? Iya banyak banget yang melihat sinis ke arah gue. But I don't care! Daripada gue kedinginan.


Tiba di saat makan malam. Kami sudah berada di hotel yang disewa sekolah untuk acara itu. Ketika mau ambil makanan, gue merasa ada yang memperhatikan gue. Dan benar aja. Salah satu cewek dari kelas yang sama dengan pemilik jaket yang gue pakai ini dengan sengaja dan kentara sekali berusaha menyibakkan bagian depan jaket yang gue pakai untuk bisa melihat nama siapa yang tertulis disana. Sebenarnya gue berteman cukup baik dengan cewek ini, tapi saat itu dia mengobrol dengan gue dengan nada yang berbeda. Nada curiga yang sinis. Sinis banget. Apalagi setelah membaca nama di jaket yang gue pakai. Dia langsung buru-buru pergi dari gue dan (seperti) melapor pada temannya yang lain. Gue melihat itu dengan jelas. Dan gue mengenali kepada siapa dia melapor. Salah satu mantan pacar si pemilik jaket..



Gue menceritakan kejadian itu kepada seluruh sahabat gue setibanya gue di kamar. Dan mereka berkata kalau gue ngga usah terlalu ambil pusing soal itu. Karena kan gue punya alasan yang jelas untuk itu.

Tapi pada akhirnya, selama sisa field trip, gue (seakan) dimusuhi oleh seluruh anak-anak dari kelas itu (cewek-ceweknya sih). Karena setiap gue lewat di depan mereka, matanya selalu melihat sinis ke arah gue. Gue ngga tahu apa yang dilakukan cewek di makan malam waktu itu. Gue pun ngga mau berspekulasi. Jadi gue mencoba mengabaikan mereka begitu aja. I'm expert about this to be honest.






Setelah field trip, kegiatan sekolah berjalan seperti biasa. Kami belajar, bermain, jahilin guru, pacaran, cabut ke kantin. Tapi hari itu ada yang aneh. Ada sebuah pesan masuk ke handphone gue dari nomor telepon yang tidak gue kenal. So glad, pesan yang masuk langsung memberitahu dia siapa. Dan gue langsung terkejut. SEKAGET-KAGETNYA!


Gue ngga pernah mengobrol atau bahkan sekedar menyapa, tapi orang ini SMS gue. Dia cewek yang waktu itu. Teman seangkatan gue di kelas yang sama dengan pemilik jaket yang gue pinjam dan mantan dari pemilik jaket yang gue ceritain diatas.


Dia SMS dengan kata-kata yang sopan. Dia bilang ada sesuatu yang mengganjal yang ingin dia katakan pada gue. Saat itu dalam hati gue membatin 'ya, oke. Let's see what you gonna say, I bet it's about him all along.' Dan iya, setelah beberapa pesan basa basi yang sopan, dia mengutarakan tujuan utamanya mengirim SMS ke gue.

"Maaf ya safi, tapi gue cuma mau tanya. Bagaimana sih hubungan lo sama cowok itu? Sekarang dia pacaran sama lo ya?"


Again. Gue dikasih pertanyaan kayak gini. Jujur gue tuh merasa jengah banget setiap kali gue ditanya kayak begini. Gue punya beberapa orang teman cowok yang dekat sama gue. Jadi cowok ini bukan kasus pertama kalinya.

Gue pun berusaha sesopan mungkin untuk membalas kata-kata itu. Tapi ya, sesopan-sopannya gue, gue pasti to the point akhirnya.


"Lo cemburu ya waktu gue pake jaketnya di field trip kemaren?" Gue berkata langsung tanpa basa basi.


Dia pun menjawab "Hehe, iya sedikit."


Lalu gue pun menjelaskan awal mula kenapa gue sampai pakai jaket cowok itu. Alasan yang sama seperti yang gue ceritakan di atas sebelumnya.

Ngga lama kemudian, cewek ini pun mengerti. Dari kata-kata di SMS nya, dia sepertinya udah ngga salah paham lagi sama gue. Dan gue bersyukur akan hal itu. Udah terlalu banyak anak-anak cewek yang benci sama gue. Dan gue ngga mau nambah lagi.

Hari berlalu. Dan entah kenapa sejak si cewek itu SMS gue, kita jadi sering tegur sapa kalau ketemu di lorong sekolah. Sampai gue pernah bercanda untuk minta 'pajak jadian' sama cewek itu waktu tahu kalau dia udah punya pacar baru. Dan dikasih dong! Waktu itu gue dibeliin snack. Ngga langsung dikasih ke gue karena dia ngasihnya bertepatan sama acara sekolah dan gue sebagai anggota OSIS bertanggung jawab sebagai panitia untuk acara tersebut. Baru setelah adik kelas gue memberikan titipan si cewek, gue mencari dimana cewek itu duduk dan mengucapkan terima kasih secara langsung.


Kejadian itu sontak aja bikin sahabat-sahabat gue kaget banget. Mereka masih ingat betul kalau di field trip kemarin cewek itu melihat gue dengan tatapan seperti singa yang siap memangsa, tapi hari itu mereka melihat gue dan cewek itu seperti sahabat yang sudah lama kenal.

Sampai sekarang, kita masih komunikasi meskipun tidak se-intense teman dekat. Yaa, cuma sebatas follower IG sih. Sering like post dan coment.





--D Ark R Ain Bow--



Jumat, 14 Februari 2020

My Boyfriend's Secondary Facebook



Gue punya banyak akun email dan sosmed. Iya yang fake nya. Gue emang suka gitu. Dari kelas SMP gue bikin beberapa akun untuk tujuan yang macam-macam sih. Kadang kalau main game atau coba aplikasi itu ada limit untuk free user, kebanyakan untuk itu. Menghindari aplikasi berbayar. Kalo sosmed fake itu kebanyakan untuk game juga sih ujung nya. Soalnya gue tipe orang yang kalo di game, kepribadian gue jauh bedanya sama gue aslinya.


Gue ngga menyalahkan orang yang punya fake akun. Menjadi pribadi lain dari diri mereka dan menikmatinya. Tapi kali ini lain. Ada seorang yang punya akun facebook kedua. Orang itu cowok gue dulu.

Awalnya gue ngga ngerti kenapa dia bikin akun facebook kedua-nya. Dengan foto yang masih foto dia, bio masih bio dia, data pribadi masih data dia juga. Bedanya cuma di akun itu dia ngga berteman sama gue.


Oke, sampai sini udah cringe.


Semua teman seangkatannya tampaknya berteman di akun facebook-nya yang itu. Tapi kalau gue tanya kenapa gue ngga di add, dia pasti selalu bilang kalau akunnya yang itu udah ngga dia pake. Well, gue sama sekali ngga permasalahin hal itu dan menganggap kalau itu privasi nya dia. As long as our real life relationship is going well.

Tapi ternyata ada sesuatu di akun itu. Sesuatu yang ngga pernah gue tahu bahkan ngga pernah gue pikirin akan terjadi sama dia. Sesuatu yang akan mengubah pemikiran gue tentang dia dan hubungan di masa yang akan datang.


Cowok gue ini emang ngga terlalu pinter. Agak reckless to be honest. Jadi dulu dia pernah buka akun keduanya itu di handphone gue. Dan bodohnya dia ngga logout sebelum menyudahi mainan sosmed nya. Selang sekitar seminggu atau cuma beberapa hari, gue buka browser dan nemuin page dimana akun itu belum tertutup. Dengan rasa kepo yang luar biasa, gue pun scroll terus isi dari facebook nya yang itu.


Awalnya gue cuma lihat di wall profil nya. Dan gue langsung nemuin beberapa hal aneh. Memang sih gue ngga nemuin dia upload foto-foto terbarunya ke akun facebook itu, tapi dia beberapa kali nulis status. Dan dilihat dari tanggal postingannya, itu ngga jauh dari tanggal gue buka akun facebooknya. Yang artinya dia masih aktif menggunakan akun tersebut. Dia juga di tandai di beberapa post teman-temannya. Dan iya, mereka saling berbalas komentar.


Karena hal yang gue temukan di wall nya begitu aneh. Gue udah mencium kebohongan yang ternyata dia lakukan lewat akun itu. Akhirnya gue dengan tidak sopan membuka inbox facebook di akun tersebut. Gue langsung lemas sih.


Gue belum buka satu per satu. Tapi begitu lihat kalau tanggal mereka bertukar pesan masih baru, gue langsung mengutuk dalam hati. Makin kurang ajar, gue pun membuka satu persatu pesan dan scroll dari paling awal sampai ke pesan paling baru.


Cowok gue itu saling bertukar pesan dengan seorang cewek. Dan mereka tampak dekat banget. Lama kelamaan lewat pesannya, mereka menunjukan kalau mereka itu pacaran. Ada bagian dimana si cewek di pesan itu mengaku cemburu dengan perlakuan cowok gue yang kadang terlalu deket sama teman-temannya. Dan banyak banget kata-kata 'sayang' atau 'I love you' yang terlontar dari kedua pihak. 

Gue saat itu ngga sadar kalau ternyata gue diselingkuhi lebih dari satu tahun lamanya. Setelah baca semuanya, gue nangis. Iya nangis sejadi-jadinya. Gue ngga ngerti kenapa dia bisa ngelakuin ini ke gue. Gue merasa kalau gue udah cukup baik sama dia. Sebelum mengetahui hal ini, gue memang udah curiga sama cewek di pesan itu. Tapi gue ngga punya apapun untuk membuktikan kalau kedekatan mereka itu terlalu jauh..


Sampai pada waktu yang gue kira sudah tepat, gue print chat yang menurut gue paling menjijikkan dan ngasih kertas-kertas itu ke depan muka nya. Cowok itu masih berusaha mengelak dan bilang kalau yang berbalas chat itu bukan dia, tapi temannya. Jadi dia cerita kalau temannya itu suka sama si cewek, dan dia pinjam akun facebooknya untuk chatting sama cewek itu. But no, I'm not gonna be that donkey.

Teman yang dia jadikan alasan udah punya pacar dan selalu nempel sama pacarnya. I think he doesn't have time to love someone else and using my boyfriend's facebook account to chatting with other girl!

Dan meskipun sampai akhir dia masih terus berkata kalau itu bukan dia, gue ngga pernah percaya. Logika nya begini, kalau kita dituduh melakukan sesuatu yang ngga benar sama orang yang kita sayang, pasti kita akan melakukan segala usaha untuk membuktikan kalau kita ngga salah kan? Dan untuk mendapatkan kepercayaan dari orang itu lagi. But not with him. Once he said it wasn't him, he just pissed off and don't talk to me for very long time.


If I were him, I will call my friend and let her confessing that the one who chatting is her, not me. Tapi yang dia lakukan cuma teriak-teriak dan berkata kalau kedekatan gue dan sahabat cowok gue juga ngga wajar (eventho we never send kiss emoji to each other, like he actually did to that girl).



Ya, you can say I've been stupid. He's my stupidity. But for real, love is blind, man. Nobody could really choose to who they would fall in love and do some stupid things because of it.

Now I'm healed and I continue my life. Without him of course. But my life's better now. It should always be..




--D Ark R Ain Bow--

Rabu, 19 Juni 2019

The First English Test



Dari SD sampai SMP gue benci banget pelajaran Bahasa Inggris. Tapi entah mengapa, gue menjadi murid kesayangan guru Bahasa Inggris di SMA.


Alasan guru Bahasa Inggris mengidolakan gue di kelasnya adalah, katanya Bahasa Inggris gue bagus. Dia belum pernah menemukan anak yang secemerlang gue selama dia mengajar di sekolah itu. Dia bilang dari cara gue bicara dengan Bahasa Inggris, pengucapan gue bukan seperti anak-anak yang lainnya (fyi ini sebelum medsos se-berkembang sekarang dan anak-anak jago-jago banget bahasa inggris). Dari segi penulisan dan penguasaan kosakata pun gue lebih unggul. Padahal untuk ukuran anak-anak di SMP gue dulu, gue itu--mainstream banget.

Lalu dia makin jatuh hati setelah melakukan tes lab Bahasa Inggris pertama kali pada angkatan gue saat itu. Jadi tes lab Bahasa Inggris yang gue maksud disini itu mirip tes TOEIC atau TOEFL gitu. Tes yang terdiri dari beberapa bagian seperti SpeakingListeningReading dan Writing yang kebanyakan soalnya dibacakan oleh kaset yang diputar di ruang lab.

Saat itu gue mengerjakan ujian dengan durasi yang sama dengan anak-anak lain di angkatan gue. Dan gue pun ngga mendapatkan pelajaran tambahan sebelumnya. Tapi gue merasa kalau ujian Bahasa Inggris saat itu bisa gue kerjakan dengan baik walaupun banyak soal yang gue ngga yakin pasti benar jawabannya.

Mengenai soal Listening, menurut gue, gue cukup familiar dengan mendengarkan orang bicara Bahasa Inggris lewat kaset. Thanks to DVD bajakan yang gue beli di abang-abang pasar malem, kebanyakan film barat yang gue tonton dari kaset abang-abang itu subtitle-nya ngaco dan kadang terjemahannya ngasal banget. Jadi, selama gue nonton film dari kaset bajakan itu, keseringan gue nonton film sambil megang kamus dan remote untuk pause beberapa scene yang dialog nya panjang dan ngga ada subtitle nya. Iya, emang se-repot itu.

Setelah hasil dari ujian itu keluar, dari awal gue masuk kelas Bahasa Inggris, (SMA gue moving class, jadi gurunya udah nungguin di dalam kelas dan kita yang samperin gurunya) btw kelas Bahasa Inggris menggunakan ruangan lab bahasa, tahu warnet atau game center kan? modelnya begitu, bedanya ngga ada PC nya aja, cuma ada headset sama beberapa tombol di mejanya yang terintegrasi sama PC guru untuk jawab pertanyaan.

Wajah guru gue saat itu rada aneh. Jutek ke anak-anak tapi senyum lebar begitu lihat gue melewati ambang pintu.

Tanpa basa basi, setelah anak terakhir masuk ke dalam kelas dan menutup pintu di belakangnya, guru gue langsung mencak-mencak. Dia marah-marah ke semua anak-anak di kelas.

Dia kecewa karna hasil test waktu itu benar-benar hancur parah. Sewajarnya anak-anak, mereka pun kepo dong separah apa hasil test itu sampai-sampai guru yang terkenal student-friendly itu mencak-mencak keheranan.

"Emang sesulit apa sih ini soalnya? Masa nilai kalian anjlok semuanya? Bukan cuma kelas ini doang, empat kelas yang Ma'am ajar nilainya begini semua."

Berapa sih nilainya Ma'am, kepo ih.

Sampai ada satu anak perempuan yang memang terkenal suka deketin guru-guru gitu, maju ke meja guru Bahasa Inggris tersebut untuk membicarakan secara diplomatis soal hasil ujian yang katanya hancur banget banget itu.

Biasanya guru itu fine aja sama si anak itu, tapi kali ini si anak langsung disuruh duduk mentah-mentah dan agak kasar.

Atas desakan banyak mulut di kelas itu, guru itu pun membacakan nilai secara random.

"Nih, masa si Budi dapet nilai 8." ucap guru itu. By the way, si Budi ini biasanya paling semangat sama setiap pelajaran dan selalu disebut caper sama guru-guru.

Kelas langsung ribut. Mereka berpikir kalau dapat nilai 8 aja sudah hancur, apa sih yang dimau guru ini?

"Yaelah Ma'am itumah bukan hancur, Ma'am nya bercanda aja nih." celetuk salah satu anak.

"Hey, skor nilai tertingginya itu 100 tahu!" Bentak guru itu.

Kelas langsung sunyi, namun tak berapa lama beberapa anak mulai tertawa dan mulai berbisik dan celoteh lagi. Guru itu memang sedikit membentak, namun nadanya tidak serius benar-benar marah.

"Tuh, si Siti dapat 15, Aminah dapat 18, paling banyak tuh yang belasan."


Guru itu menarik nafas dalam sebelum melanjutkan bicaranya.


"Kelas ini cuma dua orang yang lulus KKM (--Lupa deh ini kepanjangannya apa, pokoknya batas aman nilai lulus gitu deh). Sania sama si Anu."


Seketika saja semua mata tertuju pada gue yang lagi serius nyimak guru itu tapi masih ngga sadar kalau nama gue yang disebut lulus KKM, soalnya guru ini kalo manggil itu nama belakang gue, katanya nama belakang gue manis.


Berapa Ma'am? Ucap seseorang di belakang gue.

"Si Anu dapat nilai 60." ucap guru itu.

"Safi berapa Ma'am?" teriak salah seorang dari ujung kelas dengan tingkat kepo level 9.


"Safi dapat nilai tertinggi diantara semua kelas yang Ma'am ajar. 86."

Whaatthefaaakk. Serius lo?

Seketika semua langsung berisik lagi. Karena gue di sekolah itu tidak mencerminkan sikap seorang anak yang pintar dan teladan. Gue lebih sering terdengar sebagai anak tenang tapi troublemaker, bukan tipe yang sering menawarkan diri untuk bantu guru hapus papan tulis, ngumpulin atau bagiin kertas ulangan, atau sekedar ngambilin barang-barang guru yang ketinggalan dari ruang guru. Pokoknya gue berusaha sebisa mungkin untuk ngga kelihatan deh di kelas. Jadi yaa anak-anak pada penasaran kenapa gue bisa dapat nilai tertinggi. Banyak yang 'wiih anjir keren.' ada juga yang 'contekannya mantap banget.'


I don't give a shit, bro.


Saat itu gue beneran ngerjain soal sendiri. Tanpa nyontek, tanpa bantuan temen, tanpa tau kunci jawaban. Gue yang malah keheranan sama teman sekelas yang lain. Karena menurut gue, soal yang kemarin buat ujian itu ngga terlalu susah. Gue sudah belajar semua materi pelajarannya di SMP. Yang literally, pelajaran Bahasa Inggris ya emang gitu gitu aja. 16 tenses, Modals, Clauses sentense, dan pengulangan dari materi SMP lainnya. Satu-satunya yang baru disitu adalah pengajarnya..






--D Ark R Ain Bow--

Kamis, 06 Desember 2018

Traumatized



Gue pernah punya suatu hubungan yang umurnya sekitar satu setengah tahun. Lalu hubungan itu kandas karena cowok gue selingkuh dari gue. Gue memang ngga menunjukkan patah hati yang berkepanjangan (cuma nangis selama tiga hari tiga malam). Gue tampaknya baik-baik aja. Tapi saat itu gue sadar, gue bukan lagi gue yang dulu. Sebelum gue jadian sama (kita sebut aja Nine/9).



gue sebut Nine bukan karena dia pacar ke sembilan ya, pure sebutan aja.



Ada beberapa cowok yang dekatin gue pasca Nine. Tapi gue sama sekali ngga tertarik. Meskipun gue sudah merasa biasa aja sama dia, gue sudah bisa merelakan dan memaafkan apa yang sudah dia lakuin ke gue. Tapi ternyata hati gue belum siap. Gue belum bisa terima cowok lain di hidup gue. Gue belum bisa kenalan dan terbiasa lagi sama cowok baru. Tahu apa kesukaannya, hobi dia, teman-temannya. Meskipun gue sama sekali ngga mau balikan lagi sama Nine.

Gue ga pernah menyangka kalau hubungan gue sama Nine se-membekas itu. Sampai gue ngga bisa jatuh cinta lagi sama orang lain.


Selama ngga punya pacar, gue jadi punya banyak hobi baru. Tentunya hobi yang bisa gue lakukan seorang diri. Salah satunya hobi nonton di bioskop.


XXI Pejaten Village menjadi saksi bisu dan langganan gue untuk menghilangkan kebosanan. Dalam seminggu, gue bisa 2 kali nonton film. Boros memang, tapi gue bosan. 


Waktu itu kegiatan gue cuma bekerja dan pulang ke rumah. Weekend sih gue ke sekolah SMK gue untuk ikut latihan ekskul Paduan Suara. Tapi itu belum bisa bikin gue sibuk. Dan lagi ngga ada yang chat gue tiap hari, bosenin banget sih keseharian gue. Soalnya orang tua gue juga jarang nyariin gue. Gue juga kurang dekat sama teman kantor karena mereka semua umurnya kebanyakan beda 20 tahun diatas gue yang waktu itu memulai karir di umur 17 tahun. Gue ngga mengharapkan bisa hangout bareng mereka sih. Belum lagi urusan selera dan obrolan yang terkadang ga gue mengerti. Misalnya gini, mereka hidup di zaman Metallica atau Guns and Roses saat gue tau nya lagu Paramore atau Fall out Boys. Age matter


Di tengah dilemma itu, gue deket lagi sama sahabat gue di SMA. Saat itu dia lagi menjalin hubungan sama cewek yang ngga terlalu gue kenal. Tapi ngga lama setelah itu, dia balikan lagi sama sahabat cewek gue di SMA. Mereka bertahan cukup lama kali ini. Gue ikut senang. Karena sepertinya kali ini mereka akan lebih bahagia.


Gue ngga tahu kenapa dan sejak kapan, tapi sebetulnya ada saat dimana gue sama sekali ngga kabar-kabaran sama sahabat cewek gue yang pacaran sama sahabat cowok gue ini. Gue tahu sih si cewek ini sedikit banyak cemburu banget kalau cowoknya deket sama gue. Dan kayaknya itu yang jadi pemicu kita sempat ngga akur. Walaupun gue mendukung mereka berdua seratus persen, si cewek pastinya tetap curiga. Iya, karena gue memang pernah mengakui kalau gue juga suka sama si cowok. 


Kemudian ada sebuah berita yang cukup heboh di inner circle gue. Jadi gue tahu dari sahabat gue yang lain kalo si cewek ini selingkuh dari cowoknya. Dan cowoknya udah tahu dong, walaupun begitu dia ngga mau bilang dan lebih memilih diam dan cuek aja nunggu si cewek mengakui sendiri kalau dia punya pacar yang lain. Tapi gue tahu betul gimana perasaannya si cowok, karena gue juga pernah ngerasain waktu Nine selingkuh dari gue.



Sahabat cowok gue ini menghubungi gue dan minta advice dari gue. Jujur gue bingung. Gue juga lagi dalam kondisi yang ngga memungkinkan untuk dimintai pendapat. Dia tahu gue lagi 'musuhan' sama ceweknya (sampai gue di delete contact blackberry messenger sama ceweknya), tapi dia minta saran sama gue. Dari dulu gue selalu support dia pacaran sama sahabat gue karena gue dulu percaya sama si cewek. Gue rela bukan gue cewek yang dipilih cowok itu. Tapi gue akan bahagia kalau dia bahagia sama cewek yang dia cinta. Kalau si cewek udah selingkuh gini, gue ga tahu mesti gimana dong?


Akhirnya gue pun sering mengajak dia nonton film bareng. Jadi kita ketemuan langsung di XXI Pejaten Village. Gue sih berusaha untuk se-minim mungkin melakukan kontak fisik. Gue lebih pengen jadi pendengar yang baik untuk dia. Gue yakin itu satu-satunya hal yang dia butuhkan saat itu. Entah pertemuan ke berapa, akhirnya gue mengakui kalo perasaan gue buat dia timbul lagi. Iya gue suka lagi sama dia. 



Sebetulnya gue sama sekali ngga pernah berniat untuk ngga suka lagi sama dia, kasus gue dan dia bisa dibilang kurang lebih mirip dengan kasus cinta Harry-Ginny di Harry Potter. Ketika gue sebagai Ginny yang ngga terlihat di mata Harry sama sekali, gue memilih untuk tidak terlalu mengharapkan perasaannya akan membalas perasaan gue. Gue memilih untuk menjadi diri gue sendiri dan mencoba untuk pergi bersama cowok lain untuk menghilangkan kecanggungan kalau gue berhadapan dengan Harry. 


Meskipun gue sama sekali ngga berniat untuk pacaran sama dia. Tapi gue ngga bisa terus melihat dia sedih. Dan tanpa gue sadari, dia pun mulai melihat gue dengan tatapan yang lain. Bukan tatapan seorang teman untuk sahabatnya lagi.


Saat itu ada teman gue yang bilang kalau gue ngga boleh terlalu kepedean, si cowok mau nonton sama gue itu bukan karena dia suka sama gue. Tapi karena gue ada saat dia lagi butuh. Gue memang ngga pernah mau merasa terlalu percaya diri. Tapi perasaan si cowok ini ke gue kelihatan jelas setiap kita ketemu. Dan saat itulah terjadi.






Si cowok ini nembak gue.







Tentu aja tanpa pikir panjang gue nolak dia. Statusnya itu masih pacaran sama sahabat cewek gue. Gue benar-benar ngga punya muka dan hati kalau misalnya nerima cowok ini. Tapi lebih dari itu, gue memang masih belum siap untuk pacaran lagi. Gue masih belum bisa menerima kenyataan kalau di setiap memulai hubungan, cepat atau lambat pasti akan berakhir. Dan menurut pengalaman gue yang baru aja gue rasain, mengakhiri hubungan itu ngga selalu berjalan baik. Terkadang ada pengkhianatan disana.


Tapi cowok ini ngga menyerah begitu aja. Entah berapa kali dia sudah nembak gue dan memohon agar gue mau nerima dia jadi pacar gue. Dan gue juga ngga menyerah begitu aja untuk selalu menolak dan menolak lagi. Meskipun gue tahu perasaannya saat itu lagi ngga karuan dan butuh penghiburan. Tapi gue tetap terus menolak.

"Gue akan tetap hibur lo, ada di sisi lo, dan siap dengerin semua keluhan lo soal hidup lo. Gue akan lakuin itu semua meskipun gue bukan pacar lo." Itu yang selalu gue bilang.

Sampai akhirnya, si cowok ini melakukan satu keputusan besar dalam hubungannya.


Hubungan sahabat cowok gue dengan sahabat cewek gue berlangsung cukup lama. Mereka beberapa kali putus nyambung. Dan biasanya si cewek lah yang mutusin hubungan mereka. Tapi kali ini, si cowok yang mengambil langkah. Dia ngga bisa lagi melihat pacarnya pacaran sama cowok lain. Dan ya, cowok itu mutusin ceweknya. Setelah itu dia kirim chat gue sekali, "gue udah putus" dan setelah chat singkat itu, dia pun menghilang ngga ada kabar lagi berhari-hari kemudian.


Gue merasa yang dilakuin cowok itu adalah yang paling tepat. Kalau memang sahabat cewek gue bahagia dengan keputusannya memilih selingkuhannya dibanding sahabat cowok gue, gue rasa cowok ini pantas untuk bahagia juga, meskipun ngga bersama si cewek. Tapi bagaimana pun, si cowok itu pasti patah hati banget. Hubungan mereka itu kira-kira berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. 


Setelah hilang kurang lebih seminggu, dia akhirnya kembali memenuhi chat gue. Dia minta maaf karena hilang selama ini. Dia bilang dia butuh waktu untuk sendiri dan menghilangkan bayangan si cewek. Dan gue bangga sama dia karena bisa mengambil keputusan yang tepat saat itu. Bukan karena gue berharap setelah mereka putus terus si cowok bakal nembak gue lagi. Tapi karena gue ngga bisa terus melihat dia sedih.

We're back to how we were before. Supporting each other and just be friends.. But not for a long time.


Dia kembali nembak gue meskipun udah tahu apa jawaban gue. No, I'm fine with my loneliness.


And again, he's just confessed.

But yeah, my guard is break more and more.

And finally, I lose.


Perasaan untuk memiliki orang yang gue sayang yang selama ini gue tahan, akhirnya ga bisa lagi gue tahan. Gue mengalah pada cinta. Gue mengalah dan menerima bahwa gue jatuh cinta sama dia. Dan gue membayangkan akan lebih bahagia kalau gue dan dia bisa sama-sama mencintai.


Dan untuk sahabat cewek gue yang juga mantan cowok itu, I feel bad for her. Gue sudah mempercayakan orang yang gue sayang untuk bahagia sama dia. Tapi dia mengecewakan bukan hanya si cowok, tapi juga gue. Ibaratnya gue memberikan rasa sayang gue ke cowok itu sekitar tujuh puluh persen, tapi gue mengalah untuk membiarkan cowok itu menjadi milik cewek yang rasa cintanya ke cowok itu cuma sekitar tiga puluh persen. That's hurt. Gue merasa kalau itu sudah final. Once a cheater, she will do it again and again.




So, apa gue masih ngga siap untuk memulai hubungan baru? Ya, gue ngga siap. Gue terima ajakan pacaran cowok itu karena dia bukan orang baru di hidup gue. Dan gue suka sama dia sejak empat tahun sebelum kami jadian, tepatnya sejak kita ketemu di tingkat SMA. Lagipula kalau dia memilih gue untuk jadi pacarnya, setidaknya itu berarti gue membuat dia sedikit banyak merasa bahagia kan? Kalau gue belum bisa membuat diri gue sendiri bahagia, setidaknya gue ngga perlu menolak orang yang akan merasa bahagia kalau gue menjadi pacarnya. Sampai sekarang gue merasa kalau bukan karena cowok itu, gue ngga akan pernah siap menjalin hubungan baru setelah Nine.


Buat kalian yang pernah atau sudah beberapa kali cheating, please STOP. If you aren't love your boyfriend/girlfriend anymore and just bored, please just leave them. Because you don't know how much your love is loved you. And even after you gone, the scar will always stay there. Don't know how long it takes to make it gone forever.



--D Ark R Ain Bow--



Senin, 27 Agustus 2018

I love you?



Banyak yang terjadi selama gue ngga punya pacar hampir setahun. Salah satunya adalah gue sempat dekat sama cowok sekelas gue dulu di SMA. Gue dan dia punya hubungan yang hampir seperti sahabat. Gue selalu menganggap dia abang gue karena umur nya memang lebih tua dari gue beberapa tahun. Saat itu entah kenapa kita jadi cukup dekat untuk curhat satu sama lain. Hal yang ngga pernah terjadi diantara kita sebelumnya. Dia waktu itu juga lagi ngga punya pacar dan masih belum bisa move on dari mantannya. Gue pun berada di posisi yang sama. Mantan gue kala itu sempat selingkuh dari gue dan akhirnya gue mutusin dia.


Dia tipe cowok yang good boy. Punya reputasi baik diantara para guru, suka kebersihan dan bersih-bersih, aktif di ekskul futsal, serius, kadang humoris juga dan bisa dibilang bapaknya anak-anak di kelas selama SMA dulu. Pokoknya kalau dia udah marah, suasana kelas langsung berubah suram. Karna kalau dia marah, pasti yang kena dampaknya satu kelas. 


Saat sekolah dulu gue ngga pernah mikir kalau kita akan sedekat itu. Gue yang 'sengak' ga cocok banget sama good boy kayak dia kan? Tapi gue lihat sih dia juga bingung sama kepribadian gue yang kayak gini. Dulu kita dekat di kelas kalau lagi diskusi soal pelajaran doang. Dia memang bisa dibilang rajin banget belajar, tapi unlucky, gue yang lebih pinter dari dia meskipun selama pelajaran keseringan gue habiskan untuk tidur siang.


Saat itu kita habis tukar cerita. Dia sempat menganggur setelah lulus SMA sedangkan gue udah dapat kerja. Untuk cowok yang belum kerja (apalagi umurnya udah jauh dari gue) dia merasa ngga percaya diri banget. Teman-teman sekelas kita kebanyakan udah dapat kerja. Tapi cowok ini tipe yang pemilih. Dia punya kriteria sendiri untuk cari pekerjaannya. Jadi dia juga sempat stress karena itu. Dia ngga pernah ikut ngumpul sama teman-teman sekelas karena agak malu sama keadaannya saat itu. Sikapnya sama orang-orang jadi tambah dingin. Dan dia sempat kayak menarik diri dari pergaulan.


Oh iya, yang gue bilang dekat itu, kita sampai sms-an seharian. Literaly 24 jam sehari. Gue cukup terhibur sih sama kedekatan kita. Sampai akhirnya hal itu terjadi.


"Gue suka sama lo, lo mau ngga jadian sama gue?"


Kata-kata itu akhirnya keluar. Tapi bukan dari cowok itu. Melainkan gue.



Gue ga tau gue mikir apa saat itu. Gue ngga pernah nembak cowok sebelumnya. Gue bukan tipe cewek yang suka ngumbar rasa suka. Kalo mama gue tau gue nembak cowok, pasti gue diomelin abis-abisan. Karena menurut dia, cewek itu harus gengsi, dan cewek agresif mendapat nilai buruk di matanya. Gue juga ngga pernah sadar kalo gue suka sama cowok itu sampai pengen jadiin dia pacar. Di saat semua orang ngejauhin dia karena sikapnya, gue malah mau jadiin dia pacar gue. 


Setelah sadar apa yang telah gue lakuin, gue mikir. Kalau sampai dia nerima gue gimana? Apa gue siap pacaran sama dia? Padahal gue masih ngga yakin sama perasaan gue saat itu. Tapi kayaknya saat itu gue nembak dia karena gue yakin gue bakal ditolak. 


Jadi gini, bukannya gue mau bohongan nembak (misalnya giliran ditolak gue bilang 'haha iya gue bercanda kok, jangan dianggap serius ya' ngga, gak gitu juga. Tapi gue lebih ke 'kalau dia nerima gue ya kita coba jalanin aja') gue lebih pengen ngasih kesan dia itu masih deserve all the love in the world.


Bayangin lo punya teman cowok yang habis ditinggal pacarnya (btw mantannya langsung punya pacar baru dong) terus dia udah lulus sekolah tapi belum dapat kerja sementara untuk cowok seumur dia, harusnya dia udah kerja (fitrahnya cowok setelah selesai pendidikannya kan kerja selama sisa hidupnya ya), dia pun anak pertama di keluarganya, dia lagi menarik diri dari lingkungan pergaulannya, teman cewek pun dia ga punya banyak selain teman-teman cewek sekelas. Gue ngerti banget ada di posisinya saat itu pasti berat. Merasa kalau dia gagal di segala aspek kehidupannya.


Dengan gue nembak dia, gue berharap akan berdampak di rasa percaya dirinya. Gue mau dia merasa kalau masih ada orang yang mau dia. Masih ada orang yang mau terima dia apa adanya. Masih ada orang yang akan dengerin segala keluhannya. Dan gue yakin, orang itu bukan cuma gue aja.


Cowok itu sempet shock luar biasa. Dia pun mengutarakan pendapatnya yang bilang kalau selain saat nya ngga tepat, dia ngga pernah melihat gue dari sisi yang itu. Dia ngga pernah mikir gue untuk jadi pacarnya (jujur gue pun ngga) dan lagi dia juga bingung kenapa gue nembak dia setelah gue tau segala masalah yang dia sedang hadapi saat itu.



'Sorry saf, kita temenan aja ya. Lo kan tau kondisi gue lagi kayak gimana. Gue ga mau jadi beban. Gue juga belum siap pacaran lagi.'


Gue menarik nafas lega.


Mungkin beberapa dari kalian punya pengalaman kalo teman yang habis nembak dan ditolak, bakalan canggung setelah nya.


But no, in my story we going so well.



'Bener ya temenan. Please jangan berubah setelah ini.'


'Iya saf, maaf ya. Makasih ya udah suka sama gue.'


Setelah itu gue pun ngga malu kalau gue pernah nembak dia (bahkan gue cerita ke pacar gue yang sekarang kalau gue pernah nembak dia). Kita tetap dekat kayak sebelumnya. Bahkan pas kita ketemuan pun gue ngga berubah. Ngga merasa malu atau apa. (Ini gue nya yang ngga tahu malu atau apa ya?)


Tapi gimana kalo dia terima gue? Gue pun ga tau. Gue saat itu masih belum bisa berpaling dari mantan gue. Rasanya sakit hati banget pacaran selama hampir dua tahun dan ternyata dia punya pacar yang lain.


Terus apa gue nembak dia cuma karena kasihan? No, big no. I do really like him. But not really like him that way. I want him to be happy. I want take a 'little' pain away. I hope so. But who knows? As long as he survive his own tension, then it will be good for him.


Kalau sekarang gimana hubungan gue sama dia? Gue sih udah punya pacar (dan itu teman sekelas kita juga--akan gue ceritain di post lain), kita tetap teman dekat. Walaupun sekarang ngga 24 jam berkabar. Dia sih belum berhasil sama urusan cinta nya. Tapi dia udah dapat pekerjaan yang saat ini dia bisa enjoy. Dia juga udah ngga menarik diri lagi dari pergaulan. Dia udah menjalani hidupnya dengan lebih baik. Ngga tahu apa yang gue lakukan waktu itu mempengaruhi semangat hidupnya atau ngga, but I'm so happy about that!



I think he gonna be my first and last confession.






--D Ark R Ain Bow--