Tampilkan postingan dengan label Animasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Animasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 November 2017

No Game No Life: Zero | 2017


Masih pada inget duo bersaudara Sora dan Shiro kann??

Yupps bener banget

'Kouhaku--Blank'

Ngga kosong juga sih sebenernya. Dua saudara tidak sedarah Sora dan Shiro yang sudah berhasil mengembalikan kedamaian di Elkia ini sedikit sekali loh muncul di film terbarunya No Game No Life: Zero.


Film ini tayang di Indonesia mulai tanggal 25 Oktober kemarin. Dan gue langsung buru-buru nonton dong. Berhubung belum ada anime yang bertahan lama di bioskop selain Sword Art Online Ordinal Scale bulan Maret kemarin. Apalagi udah ada antrian film Fireworks, jadi harus gercep.

-----

Nah, kenapa gue bilang di film ini Sora dan Shiro cuma sedikit banget munculnya?

Karena film ini bercerita tentang sebuah sejarah Perang Abadi di Elkia 6.000 tahun sebelum era Sora dan Shiro dimulai.

Teto (Rie Kugimiya) dan Izuna (Miyuki Sawashiro) sedang bermain catur. Lebih tepatnya sih Izuna lagi menerima kekalahannya atas Teto. Lalu disitu Teto mulai cerita soal legenda yang sudah dilupakan orang-orang di Elkia namun tak bisa dilupakannya. Cerita tentang perang abadi bangsa Elkia 6.000 tahun lalu.



Dunia sedang dalam keadaan sangat memprihatinkan. Perang terjadi dimana-mana. Dan sebagai ras paling lemah, manusia hanya bisa kabur untuk bertahan hidup dari para ras lain yang saling melemparkan serangan.

Pemimpin bangsa Manusia, Riku (Yoshitsugu Matsuoka-doi juga pengisi suara Kirito) bersama dengan dua temannya sedang mengeksplor bagian dari reruntuhan yang ditinggalkan bangsa Dwarf. Tapi sayangnya salah satu dari mereka harus mati untuk menyelamatkan yang lainnya.

Di pemukiman, Corone (YĆ“ko Hikasa) sedang mengajarkan anak-anak menulis termasuk Nonna (Yuka Iguchi), anak dari Ivan (yang mati di reruntuhan bangsa Dwarf). Nonna emosi ketika Riku kembali ke pemukiman dan mengatakan kalau ayahnya meninggal dunia, telah memicu temperamen Riku yang langsung membuatnya frustasi. Ia merasa kalau perang ini tidak bisa dihentikan dan bangsa manusia hanya bisa menghindar untuk bertahan hidup. Sejak saat itu, Riku berkelana seorang diri.

Sampailah dia pada sebuah bagian yang diyakini adalah milik bangsa Elf. Karena selain tanah lapang itu, tempat sekitarnya telah hancur berantakan. Dan disanalah pertama kalinya Riku bertemu dengan seorang ex-machina.

Seorang ex-machina berbentuk robot perempuan ini menganalisa Riku lalu menciumnya. Ia mengatakan kalau dirinya ingin mempelajari cara kerja hati manusia. Namun Riku menolak, karena ex-machina tidak pernah bekerja sendirian. Kalau salah saja menyerangnya, para ex-machina lain akan datang dan menyerbu. Tapi ex-machina itu mengatakan kalau dirinya sudah tidak terhubung lagi dengan yang lainnya, artinya dirinya merupakan seorang ex-machina yang terbuang. Dengan tantangan permainan catur, ex-machina itu berhasil membuat Riku menyanggupi permintaannya. Riku membawa ex-machina tersebut ke pemukimannya.

Sebelum mengenalkannya pada orang-orang di desa, Riku meminta ex-machina itu menyesuaikan diri dengan kepribadian yang lebih manusiawi. Dia disuruh memilih sebuah nama yang manusiawi pula agar tidak aneh karena namanya berupa deretan angka-angka ordinal. Lalu ex-machina perempuan itu pun memilih nama Schwi (Shuvi--Ai Kayano). Riku sangat terkejut ketika Shuvi mengganti cara bicaranya menjadi sesosok yang sangat kawaii menurutnya.

Singkat cerita, semenjak Shuvi ikut dengan Riku dan mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Riku, mereka selalu berdua kemana pun mereka pergi. Riku sekarang menjadi lebih unggul dengan segala informasi yang diberikan Shuvi mengenai perang dan bagaimana cara menghentikannya.



Sampai akhirnya Riku melamar Shuvi. Saat itu Shuvi tidak menyangka dan menyangkal kalau mereka tidak mungkin bisa bersama selamanya. Shuvi hanyalah sebuah robot yang tidak hidup dan bukanlah manusia, Shuvi tidak bisa memberinya keturunan dan semacamnya. Bahkan Shuvi mengatakan kalau dirinyalah yang menghancurkan kampung halaman Riku, bangsa manusia. Namun secara mengejutkan, Riku berkata bahwa dirinya sudah mengetahui hal itu dan memilih untuk tidak peduli dan tetap mencintai Shuvi, lalu mereka memutuskan untuk menikah di hadapan kakaknya, Corone yang kini telah ditunjuk untuk memimpin bangsa manusia.

Setelah menikah, Riku dan Shuvi melanjutkan rencana mereka. Karena peradaban manusia telah diserang dan pemukiman sudah pindah, Riku memiliki rencana untuk menjadi 'hantu' dan menipu para bangsa lain untuk saling menyerang di benua lain yang jauh dari peradaban manusia yang selamat. Namun perlahan, tubuhnya mulai rusak akibat menelan terlalu banyak asap hitam. Ia terpaksa kehilangan sebelah tangan dan wajahnya pun terluka parah. Ia juga tidak istirahat dengan cukup.

Akhirnya Shuvi menyuruhnya untuk istirahat sehari penuh sementara dirinya menjaga Riku. Riku meminta Shuvi untuk menggenggam tangannya selama dia tertidur. Shuvi melakukan yang diperintahkan Riku. Namun setelah Riku terlelap, Shuvi meninggalkannya dan meneruskan rencana mereka seorang diri dengan mengambil alih senjata milik ex-machina untuk menghancurkan matahari sesaat setelah para bangsa lain saling melemparkan senjata mereka.



Saat itu Shuvi baru saja berhasil mengambil alih 1 unit dari 9 unit yang tersisa. Ketika seorang bangsa Elf Flugel tiba-tiba datang dan menyerang dirinya. Elf Flugel bernama Jibril (Yukari Tamura) itu menyerangnya habis-habisan sampai Shuvi terluka parah dan tidak dapat melawan lagi. Akhirnya terpaksa Shuvi menghubungi ex-machina lain untuk meminta bantuan. Tapi karena dirinya sudah menjadi robot ex-machina yang terbuang, pangkalan pun tidak mau membantu. Namun Shuvi terus mengirimi mereka sinyal bantuan dan mengatakan kalau dirinya telah berhasil memahami cara kerja hati manusia. Akhirnya pemimpin pasukan ex-machina menerima permintaanya dan segera mengirimkan bala bantuan dalam waktu 251 detik. Maka dalam waktu itu, Shuvi harus bisa bertahan dari serangan Jibril sampai mereka tiba.

Akhirnya bantuan dari pangkalan ex-machina tiba dan menyerang Jibril namun sayangnya, Shuvi tidak selamat. Tubuhnya hancur dan sama sekali sudah tidak berfungsi lagi. Sedangkan Jibril tubuhnya menjadi menciut karena serangan yang dilakukannya menghabiskan terlalu banyak energinya. Belum lagi serangan balasan dari bangsa ex-machina lainnya. Tapi dia tidak mati. Dan disini gue berusaha sekuat mungkin untuk ngga nangis di bioskop (karena gue nonton sendiri dan rada malu sih kalo nangis gada temennya) gue ngerasa ngga adil aja, kenapa Shuvi mati sedangkan Jibril ngga, padahal yang bermasalah itu Jibril.

Tepat saat itu Riku terbangun dari tidurnya dan menemukan kalau Shuvi tidak ada lagi disisinya. Ia didatangi oleh sorang ex-machina lain yang membawa pesan dari mendiang Shuvi. Riku sangat sedih karena Shuvi sudah mati. Namun ex-machina itu mengatakan bahwa para bangsa ex-machina yang lainnya akan membantu Riku dalam memenangkan perang ini. Lalu Riku melanjutkan rencananya bersama Shuvi dibantu dengan bangsa ex-machina.

Nah, klimaksnya nih, semua bangsa saling melemparkan senjata. Termasuk bangsa ex-machina. Sampai muncullah, sebuah kotak yang jika seseorang berhasil mendapatkannya, maka ia yang akan menjadi pemimpin Elkia. Riku sudah mempersiapkan diri untuk mengambilnya, namun dia ternyata tidak berhasil dan yang mendapatkannya adalah Teto. Disitulah ia percaya bahwa dewa permainan itu memang ada. Bahwa selama kecil ia tidak hanya membayangkan Teto.

Riku mati. Dunia ditata ulang. Dan Teto menambahkan beberapa peraturan permainan yang telah dibuat oleh Riku.

Latar kembali ke waktu dimana Sora dan Shiro sedang berlari menghampiri Izuna. Dan menurut gue percakapan mereka (sekali lagi) made my day!

Sora: "Izuna-chan, ternyata kau disana. Kau harus berhati-hati terhadap orang-orang jahat yang akan menculikmu." *sambil berlari lalu memeluk Izuna*

Izuna: "Seperti kau misalnya?"

Shiro: *Ikut memeluk Izuna* "Atau orang seperti aku."

Dan yah, Sora dan Shiro cuma muncul di epilog film ini.



Disini keliatan banget kalo si Riku itu mirip banget sama Sora dan Shuvi mirip banget sama Shiro. Pengisi suara untuk mereka berdua pun masih sama. Dan untuk yang lain juga begitu. Jadi semuanya kayak semacam reinkarnasi aja. Kecuali Jibril yang emang itu adalah dia yang sejak 6.000 tahun.

Menurut gue, film ini cukup bagus dan entertaining. Meskipun jujur gue agak kecewa karena emang Sora dan Shiro tidak banyak ambil bagian film ini. Gue pikir mereka akan muncul seengganya Teto ngasih tau ke mereka soal sejarah ini. Tapi ternyata engga.

Untuk kualitas gambar dan animasinya oke banget. Waktu perang dan ledakan-ledakannya juga oke. Tapi lagi-lagi menurut gue perang inti saat semua bangsa saling lempar senjata itu masih kalah dengan pertarungan Shuvi-Jibril yang logikanya itu cuma kecil aja kalo dibandingin perang semua bangsa. Tapi pertarungan Shuvi-Jibril divisualkan lebih baik daripada perang antar bangsa.

Jadi, gue cukup sekali aja deh nonton film ini. Yang penting udah melepas kangen sama Sora dan Shiro. Dan kisah Riku-Shuvi tragis banget. For me, this is around 3.5/5




Jaa ne~


--D Ark R Ain Bow--

Minggu, 07 Mei 2017

A Silent Voice (Koe No Katachi) | 2017



Siapa yang suka nge-bully?

Eh jangan lah ya. Inti dari film ini mengajarkan kita untuk ngga melakukan hal buruk tersebut. 

Hampir aja gue ngga kedapetan jam pertama dari penayangannya di Cibinong Platinum karena ternyata kondisi jalan yang padat. Gue menonton film ini 3 hari setelah tanggal tayangnya di Indonesia dan karena di GI tumbenan belum menjadwalkan film ini tayang disana, akhirnya memaksa gue ke Cibinong daripada harus ke Kelapa Gading yang gue belum pernah jelajahi.

Gue sampe di bioskop kira-kira 3 menit sebelum jadwal tayang jam pertama. Masih ngos-ngosan dan ngga sempet beli snack dan minuman, di dalem bioskop udah gelap dan layar udah menampilkan pembukaan film.

A Silent Voice.

Film bermula dengan adegan Ishida Shoya yang merasa sangat depresi dan menarik diri dari lingkungan sosialnya, ia mencoret kalendernya dengan hitungan lamanya dia bekerja paruh waktu. Lalu menjual semua komik dan koleksinya untuk mendapatkan uang yang diberikannya pada mamanya. Lalu berganti adegan di kelas 6 SD dimana Ishida (Seiyuu Mayu Matsuoka) terkenal populer di kalangan teman-temannya. Kemudian adegan berganti pada saat di kelas Ishida akan ada seorang murid baru.

Perkenalan murid baru kali itu berbeda dengan biasanya. Si murid baru mengabaikan guru ketika ia disuruh menyebutkan namanya dan berkenalan. Kelas menjadi sepi senyap sampai sang guru menyentuh bahu si murid baru dan dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam tasnya.

Anak baru bernama Shouko Nishimiya (Seiyuu Saori Hayami) itu membalikkan selembar demi selembar kertas pada buku catatannya yang ternyata isinya adalah kalimat-kalimat perkenalan. Di akhir perkenalannya, ia memberitahu teman-teman sekelasnya kalau dirinya tuli. Disaat yang lain terbengong-bengong karena tahu kenyataan bahwa Nishiyama tuli, Ishida menyeletuk dengan keras dan langsung dinilai tidak sopan.

Mulai saat itu awalnya banyak yang tertarik untuk berteman dengan Nishimiya, namun lama kelamaan banyak yang sulit mengerti perkataan Nishimiya dan menghindar.

Sebenarnya Nishimiya mengajak Ishida berteman. Namun Ishida yang juga tidak mengerti apa yang diucapkannya pun malah membentak Nishimiya dan ikut menjauhinya juga. Sampai akhirnya hal ini berlanjut ke tindakan bully yang dilakukan Ishida. 

Ibu Nishimiya melapor kepada pihak sekolah kalau Nishimiya sudah kehilangan 8 alat bantu dengar dan beranggapan bahwa anaknya telah menjadi korban bully, akhirnya kasus ini berujung pada guru yang langsung tahu bahwa pelakunya adalah Ishida. Ibu Ishida menemui Ibunya Nishimiya untuk meminta maaf sekaligus ganti rugi atas alat bantu dengar Nishimiya yang dihilangkan oleh Ishida. Sejak saat itu, tidak ada lagi seorang pun yang mau berteman dengan Ishida. 

Lalu adegan kembali ke masa Ishida (Seiyuu Miyu Irina) yang telah berhasil mengumpulkan uang lalu memberikannya kepada ibunya. Namun bukannya senang, ibunya malah mengancam akan membakar uang hasil kerja kerasnya karena tahu bahwa Ishida punya kalender aneh yang berakhir hanya sampai bulan April. Dari situ ibu Ishida menyimpulkan bahwa anaknya akan bunuh diri. Ia terus menyudutkan Ishida untuk berjanji tidak akan bunuh diri. Akhirnya Ishida pun berjanji walaupun akhirnya uang yang sudah berhasil dikumpulkannya tetap terbakar karena ibunya terlalu senang mendengar perkataan anaknya.

Ishida yang sudah lebih dewasa kini menjadi anak yang pemurung. Karena di sekolah barunya ada yang menyebarkan berita bahwa dirinya suka melakukan hal-hal mengerikan pada orang lain, akhirnya dia tidak memiliki teman. Ia jadi memiliki kebiasaan takut memandang wajah orang lain dan mendengar perkataan orang lain. Saking merasa bersalahnya atas kejadian di SD itu, dia pun merasa bahwa monster seperti dirinya tidak pantas bahagia dan bahkan tidak pantas untuk hidup.

Ishida SMP kini mengikuti klub bahasa isyarat. Dan saat ia merasa bahwa harapannya untuk hidup telah benar-benar hilang, tiba-tiba saja ia melihat Nishimiya lewat di hadapannya lalu mengejarnya. Saat itu ia melakukan bahasa isyarat mengajak Nishimiya berteman dengannya. Kemudian ia menyadari ternyata itulah yang dikatakan Nishimiya dulu di SD. Ishida makin merasa bersalah dan lari dari hadapan Nishimiya.

Sejak saat itu, Ishida menghindari Nishimiya karena merasa canggung.

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang dipaksa meminjamkan sepedanya kepada anak lain. Karena tidak tega melihatnya, Ishida pun merelakan sepeda miliknya dipinjam orang itu (yang ternyaata tidak dikembalikan). Ishida merasa kesal karena saat itu niatnya dia mau menemui Nishimiya. Tapi sewaktu ia di perjalanan pulang, cowok yang tadi ia tolong dari peminjam sepeda itu ternyata sedang berdiri di persimpangan jalan sambil menuntun sepeda Ishida! Lalu mulai saat itulah Ishida dengan cowok bernama Tomohiro Nagatsuka menjadi teman dekat.

Hari-hari selanjutnya dilalui dengan mudah dengan adanya Nagatsuka yang ceria disisi Ishida. Tapi tidak ketika ia ingin menemui Nishimiya yang langsung dihadang oleh orang bertubuh kecil yang mengaku pacar Nishimiya. Tapi berkat bantuan Nagatsuka, akhirnya Ishida bisa mengobrol dengan Nishimiya. Mereka mulai dekat dan tidak canggung. Ishida jujur pada Nishimiya kalau dirinya sedang mencari arti tentang pertemanan belakangan ini sebelum menemuinya kembali. Ia masih merasa bersalah atas apa yang dilakukannya di masa lalu.

Dari jauh, Nagatsuka dan orang yang mengaku pacar Nishimiya itu memperhatikan obrolan Ishida dan Nishimiya. Yang berakhir pada terceburnya Ishida dan Nishimiya ke dalam sungai karena usaha mereka untuk mengambil buku catatan milik Nishimiya yang terjatuh.

Besoknya Ishida disuruh menjemput adiknya Maria di TK. Disitulah ia bertemu dengan orang yang mengaku pacar Nishimiya. Karena keadaannya yang lemas akhirnya orang yang ternyata bernama Yuzuru (Seiyuu Aoi Yuuki) itu diajak pulang ke rumah Ishida dan menginap bersamanya (Ishida masih belum tahu kalau Yuzuru bukan laki-laki).

Di tengah malam, Yuzuru melarikan diri dari rumah Ishida. Setelah dikejar akhirnya Yuzuru mengaku bahwa dia adalah adik perempuan Nishimiya.


Film ini banyak menampilkan adegan yang menurut gue agak bertele-tele. Tapi selama film berlangsung, banyak adegan yang bikin penonton ketawa terus karena tingkah lucu dari tokoh-tokohnya terutama Nagatsuka yang kocak dan penyataan cinta Nishimiya kepada Ishida yang tidak tersampaikan dengan jelas.

Di seperempat film, emosi penonton mulai dibuat melow.

Ternyata Nishimiya juga merasa depresi dan sering kali berniat bunuh diri. Makanya Yuzuru selalu ada didekatnya dan menjaganya sampai dia tidak masuk sekolah.

Saat festival kembang api, Ishida menontonya bersama dengan ibu dan kakak beradik Nishimiya. Saat itu Nishimiya izin pulang lebih dulu. Tapi karena Yuzuru minta tolong diambilkan kameranya, Ishida pun pergi ke rumah Nishimiya dan malah menemukan Nishimiya yang sedang berdiri di pinggir balkon rumahnya.

Ishida sangat ketakutan dan berlari menuju Nishimiya yang kini melompat jatuh. Beruntung tangannya masih sempat menggapai Nishimiya. Namun sialnya, ketika mengangkat naik tubuh Nishimiya, tubuh Ishida malah berbalik jatuh dan mengakibatkan dirinya dirawat di rumah sakit beberapa hari.

Ibu Nishimiya merasa bersalah atas kejadian tersebut dan berlutut minta maaf pada ibu Ishida.

Setelah kesadarannya pulih, Ishida langsung menemui Nishimiya dan berkata bahwa dia akan membantunya untuk tetap hidup. Gue pikir disini mereka akhirnya akan jadian. Tapi ternyata engga genks. Film ini lebih ke arah persahabatan dan arti pertemanan yang sesungguhnya.

Ishida kembali ke sekolah pada saat di sekolah sedang berlangsung festival kebudayaan. Kedatangannya ke kelas langsung disambut oleh tangis haru Nagatsuka yang berkata bahwa ia tetap menjadi sahabatnya. Lalu film berakhir di adegan Ishida akhirnya berani untuk menatap wajah orang lain dan mendengarkan setiap suara yang dikatakan orang lain.



Jujur gue agak kecewa sama ending film ini yang menurut gue nanggung banget. Atau mungkin sang produser emang ngga berniat menghapus air mata penonton setelah selesai menonton. Jadi emosi kita masih sedih dan air mata belum kering eh film udah abis aja. Untuk lebih lengkapnya sih enaknya baca manganya aja. Ada sekitar 32 chapter yang dijamin bakal lebih dalem lagi menyayat hati. Tapi untuk memainkan emosi, film ini patut diacungin jempol deh.
For me this is 3.5/5

Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Rabu, 22 Maret 2017

Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale | 2017


"Nerve Gear membuat dunia virtual menjadi nyata, Augma membuat dunia nyata menjadi virtual.." --Kirito.

Ngga bisa dipungkiri betapa banyak orang yang ngga suka banget sama anime ini. Sampai-sampai mereka benci karena alur ceritanya yang tiba-tiba jadi romance dan harem-harem-an. Tapi ngga sedikit juga yang suka banget sama anime ini dan memilih untuk ngga memperdulikan kelemahan dan kenyataan yang ngga sesuai ekspektasi. Dan gue adalah salah satu orang yang memfavoritkan anime ini.

Buat para fans SAO, menunggu anime season 3 itu sangaat laaaammaaaa. Padahal kalo kita ikutin Light Novel-nya, cerita SAO ini udah jauh banget. Tapi masih ada harapan sih kayaknya untuk season 3. Kita tunggu ajaa~

Oke di post kali ini gue akan bahas film terbarunya yaitu Ordinal Scale.



Terhitung lama setelah adaptasi anime nya yang terakhir tayang. Film bertajuk Ordinal Scale ini setidaknya menghilangkan rasa kangen kami pada Kirito dan kawan-kawan..

Seiyuu Yoshitsugu Matsuoka dan Haruka Tomatsu masih mengisi suara dua sejoli Kirito dan Asuna. Dengan seorang idol baru bernama Yuna (Sayaka Kanda) yang karakternya sebagai AI Singer pertama yang bernyanyi untuk para pemain.

Dari trailer nya yang sudah muncul pertengahan tahun 2016 lalu, film ini dilihat cukup menjanjikan. Dengan graphic yang bagus dan sountrack masih menggandeng penyanyi cantik LiSA, dengan mengeluarkan beberapa teaser saja, SAO OS udah menyita perhatian banyak penggemarnya dan membuat kami tidak sabar menunggu.

Di Indonesia film ini akhirnya tayang pada 22 Maret 2017 setelah beberapa kali mengalami kemunduran jadwal. Untuk CGV Blitz sendiri mengadakan screening film ini di CGV Grand Indonesia pada 25 Februari 2017 lalu. Sebenernya gue pengen banget ikut screening nya (biar lebih dulu nonton plus dapet official merchandise XD). Tapi apa daya waktu itu bertepatan banget sama ujian di kampus. Jadi baru pada 22 Maret gue meluncur untuk menyapa kembali sang kekasih Kirito-kunšŸ˜šŸ˜.

Kali ini gue nonton sendirian tanpa partner. Beruntungnya setelah ngga lama gue duduk di bangku gue, ada dua orang cewek jilbab yang ternyata pas film mulai sama histerisnya sama gue. Gue ngerasa euforia waktu pertama kali nonton Fantastic Beast and Where To Find Them terulang lagi pas film ini dimulai.

Tambah baper pas scene pertama ternyata flashback dari memori Kirito dan Asuna di lantai 22 di rumah mereka di SAO (yang mana ternyata scene ini adalah kunci klimaks film ini). Mereka sedang saling bertukar janji untuk bertemu kembali di dunia nyata dan kembali melanjutkan perasaannya masing-masing.

Dua tahun setelah SAO dikalahkan, terciptalah perangkat baru bernama Augma--Augmented Reality (AR) yang memungkinkan pemain merasakan sensasi permainan secara nyata. Dan semenjak ada AR, penggunaan VR (Nerve Gear dan Amusphere) mulai menurun.

Sebagai pengganti ALO (Karena SAO terlalu mengerikan) muncullah Ordinal Scale. Permainan yang memunculkan peringkat pemainnya di atas kepala mereka itu menarik terlalu banyak perhatian karena sekali kita bermain dan menyelesaikan quest, hadiahnya adalah hal-hal di kehidupan nyata seperti makanan, minuman, ataupun voucher gratis. Semua orang termasuk Klein (Seiyuu Hiroaki Hirata) dan guildnya, Asuna, Silica dan Lisbeth berlomba-lomba menaikkan peringkat mereka kecuali Kirito yang tidak terlalu antusias dengan game ini.

Sebenernya gue agak shock liat trailer film ini karena badannya Kirito tampak begitu berisi dan jauh beda sama Kirito versi ALO, GGO ataupun SAO. Dan akhirnya terkuaklah alasan 'gemuk' nya dia di film ini adalah karena cuma dia yang ngga suka main OS. Jadi OS itu mainnya kan dengan kesadaran penuh, otomatis memaksa para pemainnya menggerakkan tubuh mereka secara real. Berhubung Kirito emang ngga suka banget latihan fisik, maka menggemuklah badannya XD.



Ordinal Scale, sedikit mengingatkan gue sama game yang sempet booming beberapa waktu lalu yaitu Pokemon. Jadi tiap ada bos yang muncul, orang-orang berkumpul di tempat dan waktu yang udah ditentukan dan hanya dengan membawa tools Augma mereka, mereka bisa bermain game secara nyata (dan kalau mereka lepas Augma ngga ada fantasi apa-apa). Pada setiap kesempatan bertarung dengan bos, Idol AI Yuna selalu muncul dan bernyanyi untuk menyemangati para pemain.

Di pertempuran melawan bos OS yang pertama Kirito join, dia merasa ada hal yang ngga beres. Bos yang mereka hadapi ternyata adalah bos yang mereka hadapi di game SAO. Saat itu rank Kirito sekitar 1000 atau 10000 gitu, karena emang dia lebih suka permainan VR daripada AR. Lalu di tengah pertempuran Kirito dan Asuna bertemu dengan orang dengan ranking 2. Kekuatannya luar biasa diatas rata-rata, namun Asuna merasa ada yang aneh dengan orang bernama Eiji (Seiyuu Yoshio Inoue) itu saat dia mendengar orang itu berkata 'switch'--kata khas yang diucapkan pemain SAO.

Asuna lebih sering ikut bagian untuk melawan bos. Sedangkan Kirito yang tidak terlalu suka (atau tidak terlalu percaya Augma lebih safety dari Nerve Gear dan Amusphere) selalu mengingatkan teman-temannya untuk tidak terlalu sering bermain OS. Namun tiba-tiba semuanya berubah saat Asuna kehilangan ingatannya tentang yang terjadi di SAO!

Di kali keempat melawan bos, Asuna menjatuhkan HP nya hingga ke angka nol dan tiba-tiba saja memorinya tentang apa yang terjadi di SAO tidak dapat ia ingat. Hal tersebut membuat Kirito khawatir. Lalu saat itulah ia sadar kalau Augma memiliki kemampuan untuk memindai dan menghapus memori otak pemakainya. Menurut info dari dokter yang menangani kasus Asuna, ada beberapa orang Survivor SAO yang mengalami hal serupa.

Kirito mendatangi dan menanyakan langsung pada pencipta Augma yang adalah seorang profesor di universitas yang ingin dia masuki sekaligus tempat Kayaba Akihiko dulu. Namun jawaban yang ia dapatkan tidaklah memuaskan dan membuatnya makin berpikiran negatif pada Augma. Sejak saat itu Kirito menjadi serius menanggapi game OS ini dengan mengikuti semua pertarungan melawan bos sampai akhirnya rankingnya naik ke angka 6 dan berusaha mencari tahu rahasia dibalik Augma.

Dari sini niat buruk Dr. Tetsuhiro Shigemura (Seiyuu Takeshi Kaga) itu mulai terkuak. Ia memiliki rencana yang dilakukannya bersama dengan si ranking 2 Eiji untuk menghidupkan kembali Yuna--Yuuna Shigemura (yang ternyata anaknya yang telah mati di game SAO). Mereka mengumpulkan memori ingatan para Survivor SAO untuk menghidupkan kembali Yuna. Dengan cara mengumpulkan para Survivor SAO di konser Yuna lalu mengeluarkan semua bos dari SAO untuk memaksa mereka bertarung dan mengeluarkan memori SAO mereka.

Kirito yang sudah mengetahui rencana tersebut telah mengalahkan Eiji yang merupakan kaki tangan Dr. Shigemura sekaligus mantan member dari guild Knight Oath Bloods di SAO. Dan dengan dibantu oleh 'hantu Yuna' untuk membuat tools Augma ke mode VR, dia dan yang lain menyelamatkan para Survivor SAO dengan satu-satunya cara yaitu mengalahkan bos terakhir di lantai 100 Aincrad. Setelah mengalahkan bos di level 100, Kirito mendengar ucapan selamat dari Kayaba Akhiko dan mendapatkan reward berupa sword dengan kekuatan luar biasa. Setelah kembali ke dunia nyata, 'hantu Yuna' yang tidak bisa lagi menahan serangan untuk melindungi Kirito pun kalah. Dengan pedang barunya, Kirito dengan gampangnya menyabet bos-bos Aincrad dan menjadi si ranking 1.

Sebenernya konsep dari The Movie Ordinal Scale ini masih sama dengan SAO, perangkat merusak otak yang bisa berakibat kematian. Pada akhirnya Yuna harus tetap mati karena programnya direstart bersama dengan kalahnya bos di level 100.

Pertama kali mulai, graphic-nya udah bikin meleleh dan jatuh cinta. Pokoknya kualitasnya ngga beda jauh sama animasinya Kimi No Nawa kemarin deh. Menurut gue sih lebih keren karena banyak adegan berantemnya yang bikin merinding dengan durasi yang ngga sebentar. Apalagi pas pertarungan melawan bos di level 100 ihh cakep banget. Ngga nyangka gue mereka bakal ngeluarin bos level 100 Aincrad di film ini. Penggambaran tokoh-tokohnya yang makin dewasa juga keren banget, motornya Kirito, kisah cinta Kirito-Asuna yang so sweet tapi ngga berlebihan, dan juga tokoh Yuna dan Eiji yang ngga kalah keren. Lagu yang dinyanyiin Yuna juga enak-enak banget (gue bahkan udah dengerin playlistnya dua minggu sebelum nonton film ini--kalian bisa cek disini untuk denger lagu-lagunya). After all pokoknya gue puas banget sama animasi satu ini. Dan kalaupun diajak nonton lagi gue pasti ngga akan nolak.




Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Kamis, 01 Desember 2016

MOANA | 2016


Setelah 3 kali nonton film Fantastic Beasts di bioskop, akhirnya gue pun move ke salah satu film keluaran Disney yang juga adik dari Frozen dan Zootopia. Awalnya agak ragu untuk nonton film ini karena ternyata Underworld: Blood Wars juga tayang pada hari itu. Tapi karena emang kepo duluan sama Moana, akhirnya gue memutuskan untuk tetap menonton film ini.

Ngga ngagetin emang kalo kebanyakan penonton itu bawa anak-anak. Ini emang film anak-anak. Musikal pula.

Prolog dibuka dengan short animasi yang dalem banget pesannya. Gue hampir nangis nonton prolog nya. Ini beneran loh gue pengen nangis.

Lalu mulailah cerita Moana dibuka dengan dongeng-dongeng masa lalu tentang dunia yang isinya hanya air, sampai muncul seorang ibu pulau yang dipanggil Te Fiti yang membuat pulau-pulau mengapung di lautan. Te Fiti menyebarkan kesuburan ke pulau-pulau, menumbuhkan pohon-pohon, ikan dan makhluk hidup lainnya. Namun semua berubah saat negara api menyerang  Maui (Dwayne Johnson)--manusia setengah Dewa Angin dan Lautan-- mencuri jantung Te Fiti dengan harapan bisa membuat sendiri kehidupan dengan jantung tersebut. Saat itu muncullah Te Ka, monster dunia tanah dan lahar yang mengalahkan Maui dan memisahkannya dengan kail ikan ajaibnya. Selama seribu tahun, Maui tidak terdengar lagi kabarnya dan Te Ka mulai  menyebar penyakit ke pulau-pulau lain.

Di pulai Motonui, Moana kecil tinggal bersama ibu dan ayahnya yang seorang kepala desa. Ia diceritakan dongeng tentang jantung Te Fiti oleh neneknya (Rachel House). Ia tidak takut monster, dan ia sangat ingin berlayar di lautan. Namun ayahnya tidak pernah membolehkannya mendekati lautan.


Moana tumbuh semakin besar dan mulai diajarkan untuk menjaga desa dan penduduknya. Suatu saat ia akan menjadi kepala desa setelah ayahnya. Namun keinginan untuk pergi ke lautan masih nyata baginya. Maka pada suatu hari ia nekat mencuri salah satu sampan nelayan dan mulai berlayar dengan babi peliharaannya. Semua baik-baik saja sampai ombak tinggi menyapu sampan dan membalikkannya. Ia terlempar ke lautan dan kakinya terjepit karang. Ia dan babinya berhasil kembali ke pulau dengan luka di kakinya. Saat itu Moana mulai mencoba takdirnya untuk tetap tinggal di pulau dan mengurus penduduk desanya.

Selang waktu berjalan, semua kelapa di desa mengalami gagal panen. Ikan-ikan yang ditangkap di sekitar karang pun menghilang tiba-tiba. Moana (Auli'i Cravalho) memutuskan untuk mencoba mencari ikan di luar lingkaran karang. Tetapi lagi-lagi ayahnya menolak keras untuk pergi ke laut. Akhirnya saat neneknya sekarat dan meninggal, Moana menjalankan pesan terakhir neneknya untuk pergi ke lautan, mencari Maui dan membawanya mengembalikan jantung Te Fitti.

Alur cerita ini mulus dan ngga bikin mumet. Ya namanya juga sasarannya anak-anak. Tapi meskipun begitu, problem ceritanya yang simpel dengan bumbu komedi sana sini bikin 1 jam 30 menit ngga terasa ngebosenin. Kalo boleh ngebandingin film ini dengan kakaknya (Frozen) gue akan lebih suka nonton Moana. 7/10

_D Ark R Ain Bow_

Rabu, 26 Agustus 2015

Battle of Surabaya (2015)


Awalnya gue kira ini bakal jadi film dokumenter yang pastinya ngebosenin abis. Apalagi openingnya nyeritain sejarah perang 10 November di Surabaya itu. But wait, ternyata kali ini, mereka bikin film yang keren banget ceritanya. Temen gue aja ampe nangis terharu (haha baper). Jadi ceritanya emang berlatar pada tahun 1945 dan saat menuju perang Surabaya. Tapi alur nya ngga menurut sudut pandang pahlawan-pahlawan kemerdekaan kayak kebanyakan film sebelumnya. Sudut pandang yang diambil di film ini adalah dari seorang anak cowok bernama Musa (Ian Saybani—voice).


Musa hanyalah seorang tukang semir sepatu dan kurir amatiran. Dia tinggal bersama ibunya yang sudah sakit-sakitan. Ayahnya diceritakan sudah gugur di medan perang. Tapi dia dekat dengan seorang pria Jepang bernama Tuan Yoshimura (Tanaka Hidetoshi—voice). Hampir setiap hari Tuan Yoshimura menjadi pelanggan setia Musa dan sering mengajaknya bermain. Musa sudah menganggap Tuan Yoshimura seperti ayahnya sendiri. Sampai suatu hari Tuan Yoshimura tewas ditembak para pemuda PETA yang memang sering membunuh para warga asing yang masih menetap di Indonesia khususnya Surabaya.

Semenjak itu, Musa menjadi lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai kurir surat.

Musa bersahabat baik dengan Yumna (Maudy Ayunda—voice), seorang cewek berambut panjang diikat dua penjual nasi tiwul. Hampir setiap hari ia mendapat jatah nasi dari Yumna. Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama. Yumna sudah tidak mempunyai ayah dan ibu. Ia tinggal bersama dengan nenek angkatnya setelah Danu (Reza Rahardian—voice) menemukannya sendirian di rumah majikan orang tuanya—orang Belanda—yang tengah terbakar akibat para pemuda PETA. Dan mulai saat itu Yumna menganggap Danu seperti kakaknya sendiri.

Tapi, suatu hari Musa melihat tato yang tidak biasa pada punggung  Yumna. Setelah bertanya pada Residen Soedirman (Guritno—voice), tato itu adalah tanda keanggotaan dari organisasi Kipas Hitam yang kini tujuannya sudah menyimpang. Organisasi Kipas Hitam bisa dibilang adalah pengkhianat bangsa. Musa sempat bingung apakah benar Yumna adalah pengkhianat? Akhirnya ia memilih untuk menghindari Yumna.

Ketika pulang ke rumahnya, Musa terkejut karena api telah melahap hampir seisi pemukiman rumahnya. Dan ibunya masih terjebak di dalamnya. Saat ingin menolong ibunya, justru Musa malah terperangkap di rumahnya. Untunglah ada seseorang berpakaian serba hitam yang menolongnya. Dan ternyata orang itu adalah Yumna! Rumahnya juga terbakar dan nenek angkatnya juga meninggal. Kini baik Yumna maupun Musa sudah tidak memiliki tempat tinggal. Musa jadi tidak enak hati untuk menghindari Yumna lagi. Ia merasa berutang padanya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk bertanya mengenai tato di punggungnya.

Yumna memang pernah menjalani pelatihan di organisasi Kipas Hitam. Ia berkali-kali disiksa dan didoktrin oleh pemimpin organisasi. Sampai ia hampir lupa tujuan utamanya mendekati Jepang adalah untuk mencari keberadaan ibunya yang diculik. Tapi setelah kepemimpinan Kipas Hitam berpindah, tujuan organisasi jadi menyimpang. Dan akhirnya Yumna pun kabur. Ia tidak mau menjadi pengkhianat bangsanya sendiri. Musa merasa makin tidak enak karena telah menghindari Yumna dan menganggapnya sebagai pengkhianat.

Setelah itu Yumna melanjutkan hidupnya sebagai perawat. Dan Musa masih menjadi kurir bagi Residen Soedirman. Ia sering berkumpul dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang dipimpin oleh Cak Solehudin (Alan Bona—voice).

Di sisi lain, organisasi Kipas Hitam sedang mencari seorang buronan yang menurut informasi membawa berkas penting. Dan seorang anggota rahasia menggambarkan sketsa wajah Musa.

Mulai saat itu Musa dicari oleh Kapten John Wright (Jason Williams—voice) dan anak buahnya. Ia sempat tertangkap dan diinterogasi di markas Kipas Hitam bersama dengan Danu yang entah mengapa juga ditangkap. Danu bertanya dimana Musa menyembunyikan berkas itu. Namun saat sedang mencoba melepaskan ikatan di tangan Danu, Musa melihat tato yang sama seperti milik Yumna di punggung Danu. Musa menjadi lebih berhati-hati dan memilih tidak memberitahu Danu. Dan benar saja, saat Kapten John Wright dan anak buahnya masuk ke ruang tahanan, Danu bergabung dengan mereka.

Yumna yang tahu Danu akan menggagalkan misi Musa untuk mengantar berkas rahasia itu pun berencana untuk menerobos masuk ke markas Kipas Hitam dan menyelamatkannya. Bersama dengan tim TKR Cak Soleh, mereka pun menerobos masuk. Musa berhasil ditemukan. Tapi sayangnya Yumna harus tewas tertembak saat ingin melindungi Musa. Danu merasa bersalah dan ia pun akhirnya menjalankan wasiat terakhir Yumna yang sangat dicintainya, untuk melindungi Musa.

Tim TKR Cak Soleh tidak ada yang selamat. Namun Musa dan Danu berhasil kabur. Tapi tetap, mereka dikejar oleh Kapten John Wright dan anak buahnya. Danu pun tewas dalam usahanya melawan mereka. Ketika Musa akhirnya sampai di kota, ternyata ia terlambat. Tidak ada lagi orang yang masih hidup disana. Kota sudah hancur berantakan.

Latar berganti 15 tahun kemudian. Musa dewasa tampak tengah mengunjungi makam Tuan Yoshimura. Dan di belakanganya ada Kioko (Sana Hamada—voice), anak perempuan Tuan Yoshimura yang datang dari Jepang.

Latar berganti lagi dan kini Musa tampak sudah tua. Ia sudah memiliki cucu (feeling gue sih dia nikah sama Kioko). Tapi tampaknya ia masih belum bisa move on dari Yumna cinta pertamanya. Karena ia masih mengenang saat-saat bersama Yumna.

Animasinya Danu itu looh. Ngingetin cinta pertama gue sama Zuko. Hahaha. Cakep banget. Kalo Yumna karakternya mirip Sakura yang bisa medis sama berantem-berantem ala ninja gitu. Hihihi.


Emang pantes sih kita bangga sama film animasi yang satu ini. Ceritanya itu orisinil banget. Ngga ngebosenin dan animasinya udah lebih bagus banget dari animasi Indonesia sebelumnya. Pantesan aja mau dibeli Walt Disney. Daan, film ini nampilin 4 Bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Inggris, Jepang dan Belanda. Hihihi. Ditunggu deh animasi yang lainnya. 

--D Ark R Ain Bow--

Kamis, 20 Agustus 2015

Inside Out (2015)


Excited banget waktu ngeliat trailer ini.



Jadi, pas tau film ini udah tayang, hari itu juga minta temenin untuk nonton. Dan ini dia. Lampu mulai redup—lebih gelap—lebih gelap—padaaamm—daaan... what??!! Sebuah gunung berapi menyanyi?? Opening yang sangat mencengangkan saudara-saudara!! Selama kira-kira semenit lebih kita harus dengerin gunung berapi nyanyi yang liriknya itu ngebosenin banget karena diulang-ulang. Seriously? We have to go out of cinema as soon as possible!!

But wait, the opening start again. Front credit tittle shown up and make all the audience keep on seat. We’re ready.

Ini dia bayi Riley yang baru saja membuka matanya. Dan Joy (Perasaan senang) pun muncul di kepalanya. Sebuah memori bahagia berbentuk bulat berwarna kuning terbentuk dan masuk ke dalam markas dimana pusat kendali emosi pikiran Riley berada.

Satu persatu perasaan emosi pun muncul ke dalam markas. Mereka Joy (Perasaan senang—sebagai pemimpin para perasaan lain yang mengendalikan suasana dan menjaga agar Riley selalu bahagia), Disgust (perasaan jijik—yang tugasnya menjaga Riley dari hal-hal menjijikan), Fear (perasaan takut—menjaga Riley dari melakukan hal berbahaya), Anger (Perasaan marah—membuat emosi pada Riley), dan Sadness (Perasaan sedih—yang tugasnya belum diketahui Joy).



Selama hidupnya hingga usia 11 tahun, Riley selalu mengalami perasaan bahagia dalam sehari-harinya. Ada beberapa core memory (memori inti) yang menjadi pembentuk karakter Riley. Dari memori inti itu terdapat pulau-pulau dalam otaknya. Yaitu pulau keluarga (pulau yang berisi memori tentang ayah dan ibunya, hubungan dan perasaan cinta kasih terhadap mereka), pulau hoki (permainan hoki yang disuka Riley), pulau persahabatan (hubungan antara Riley dan sahabatnya), pulau canda (memori tentang candaan).


Lalu beberapa hal harus berubah saat Riley dan keluarganya pindah ke San Fransisco. Bayangan menyenangkan tentang rumah barunya ternyata tidaklah nyata. Ia harus menerima keadaan yang sangat berbeda dari kehidupannya di Minnesota. Tapi Joy (Amy Poehler) tetap bisa menjaga perasaan Riley (Kaitlyn Dias) agar tetap bahagia. Sampaaii.. Sadness (Phyllis Smith) menyentuh bola  memori inti Riley sehingga bola itu berubah menjadi berwarna biru dan perasaan Riley menjadi sedih.

Hari pertama di sekolah barunya menjadi memalukan karena Riley terus menangis saat perkenalan di depan kelas. Apalagi saat Joy dan Sadness tersedot masuk ke memori jangka panjang yang menyisakan Anger (Lewis Black), Disgust (Mindy Kaling) dan Fear (Bill Hader) di markas. Dan yang bisa mereka bertiga lakukan adalah memperburuk keadaan.

Jatuh di rak memori jangka panjang, Joy dan Sadness berusaha mencari jalan pulang. Mereka banyak tersesat, tapi jalan mulai terlihat ketika mereka akhirnya bertemu dengan Bing Bong (Richard Kind), teman hayalan Riley saat kecil. Bing Bong punya ide untuk mengantar pulang Joy dan Disgust dengan kereta memori.




Dengan perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, akhirnya Joy dan Sadness berhasil kembali ke markas. Dan saat itu Joy mempercayakan Sadness untuk pertama kalinya memegang kendali emosi. Riley yang berencana kabur dari rumah akhirnya pulang dan menyesal. Ia meminta maaf kepada orang tuanya dan pulau keluarga dalam memori inti pun kembali terbentuk.


Riley kembali menjadi gadis yang ceria. Keadaan di markas pun membaik. Kini semua perasaan memegang kendali masing-masing. Sadness yang tadinya menjadi troublemaker pun kini dapat mengendalikan emosi Riley dan emosi dirinya sendiri. Bola-bola memori yang tadinya hanya terdiri dari satu warna kini terlihat warna warni. Riley menemukan kebahagiaan sendiri tinggal di rumah barunya.


More info and schedule: http://www.21cineplex.com/playnow/inside-out,3920,15IOUT.htm

--D Ark R Ain Bow--