Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Oktober 2017

24. Midst ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Left the conviction in the middle



"Err, kita harus mulai obrolan apa ya?" ucap Diva canggung.

Keadaannya memang sangat canggung. Atmosfer diantara aku, Keenan dan Doni juga memanas. Entah Diva yang bodoh atau memang kami bertiga sangat pintar dalam menyembunyikan kebencian darinya. Aku yakin sekali Doni sedang berusaha mengingat siapa Keenan. Dia terdiam lama sekali dengan raut wajah kebingungan. Aku tahu Doni dan Keenan tidak sering bertemu sebelum ini. Bagi Doni pun, kehadiran Keenan mungkin hanya sebagian kecil pemeran figuran yang melintas dalam kehidupannya. Tapi kurasa setelah hari ini, hal itu akan berubah.

"Kurasa aku harus ke mobilku. Aku meninggalkan beberapa cemilan disana." Ucap Doni tiba-tiba.

"Benarkah sayang? Bukannya kita sudah memakan semuanya di perjalanan kita kesini tadi?" ucap Diva.

"Aku harus memeriksanya." ucap Doni sambil beranjak dari tempat duduknya.

Doni terus berjalan keluar rumah tanpa menghiraukan tiga pasang mata yang terus memperhatikannya. Ia tampak begitu gugup, namun tampak begitu berusaha keras agar kami tidak menyadarinya. Aku tahu apa yang akan dilakukannya kira-kira. Dia akan memeriksa apakah mobilnya tidak ditempelkan gps dan alat sadap. Dan kemungkinan juga dia akan menaruh kedua benda itu ke mobil yang dibawa Keenan. Aku tahu betul jalan pikiran orang-orang seperti Doni.

Tidak menunggu lama, Doni kembali dari luar. Dia tidak membawa satu pun cemilan yang dikatakan sebelumnya. "Kau benar sayang. Ternyata sudah kita habiskan semuanya. Hahaha." ucap Doni ketika bergabung lagi bersama kami yang kini sedang menatap televisi untuk menghilangkan kesunyian.

"Kau selalu saja tidak percaya padaku." ucap Diva.

"Tapi aku mempercayakan masa depanku padamu Diva." ucap Doni sambil merangkul Diva dengan lembut.

Tanpa sadar, aku dan Keenan sama-sama sudah tidak memperhatikan layar televisi lagi. Kami memperhatikan keakraban Diva dan Doni di depan kami.

"Hey guys, I think you both dating each others too. Didn't you flirting to each other or something?" ucap Doni pada kami. Dia memang tidak seperti merasa terganggu karena kami memperhatikan mereka. Dia lebih seperti meledek kami berdua.

Diva tertawa. "Padahal kalian yang lebih lama pacaran. Kenapa kalian begitu kaku?" tambah Diva.

Aku merasa ada sesuatu yang normalnya harus kulakukan dengan Keenan saat ini. Dan yang menjadi standarnya adalah kedua pasangan baru ini. Tapi aku benar-benar tidak ingin melakukannya.

"Kau benar-benar tidak romantis, Keenan." ucap Diva.

'menurutku dia sangat romantis ketika kami bersama-sama mengeluarkan isi perut seseorang.' batinku. Tapi sial, aku cemburu melihat Diva sangat dekat dengan Doni. Rasanya aku ingin sekali membunuh Doni dan menjadikannya tujuh bagian untuk diedarkan ke ketujuh benua di dunia.

"Kapan kalian tepatnya mulai pacaran?" tanya Doni tiba-tiba.

"Sejak SMP! Luar biasa kan sayang!" Diva yang menjawabnya.

"SMP? Kalian satu sekolah ketika SMP?" tanya Doni lagi.

"Ya! Saat itu Keenan adalah kakak kelas kami. Reputasi Sher langsung melonjak tinggi ketika seisi sekolah tahu kalau dia berpacaran dengan kakak kelas." ucap Diva.

"Kau tahu banyak soal sahabatmu ya Diva." ucap Doni.

"Tentu saja. Sher adalah penyelamatku. Aku tahu segala hal tentangnya karena kami ini satu jiwa." ucap Diva. "Tapi ada satu hal yang tidak pernah kutahu, Sher."

"Apa itu?" tanyaku akhirnya seakan baru menyadari aku bisa bergabung dengan percakapan mereka.

"Cerita detail bagaimana kau dan Keenan bisa pacaran. Waktu itu kan aku sedang ada di rumah sakit. Tiba-tiba setelah aku kembali ke sekolah, sudah ada orang yang menunggumu setiap pulang sekolah." ucap Diva. "Kau hanya bilang kalau kalian bertemu saat terjadi insiden mati listrik yang mengagetkan satu cewek kelas kita sampai pingsan."

DEG. Jantungku berdetak keras satu kali. Kita harus menghindari topik pembicaraan ini. Ini akan sangat berbahaya kalau sampai Doni menyadari sesuatu dari memori saat itu.

"Kami berdesakan di barisan saat itu. Dan tanpa sengaja aku menabrak Sheerin sampai jatuh. Jadi kurasa itulah takdir kami. Dipertemukan oleh sebuah tabrakan." ucap Keenan mengejutkanku.

"Oh manis sekali. Kau tidak pernah mau ceritakan bagian itu padaku, Sher." ucap Diva.

"Harusnya kenangan itu hanya untukku sendiri, Diva. Itu adalah saat Keenan masih sangat manis." ucapku meyakinkan cerita bualan yang Keenan buat.

"Hehe, maaf kawan." ucap Diva.

"Oh tidak. Sepertinya kita harus pulang sekarang Diva. Aku kan sudah janji mau mengantar mamaku belanja." Ucap Doni tiba-tiba.

'oh come on Doni. Alasan mengantar ibu belanja itu sudah klise.' batinku.

"Benarkah? Kalau begitu kita tidak boleh terlambat." ucap Diva seraya bangun dari duduknya. "Aku pulang sekarang ya Sher. Jangan lupa kau harus masuk kuliah besok. Kalau tidak aku akan menyeretmu ke kelas."

Lalu mereka berdua pulang.

"Menurutmu dia ingat kejadian itu?" tanyaku pada Keenan ketika sudah kupastikan Diva dan Doni jauh dari rumahku.

"Bukan hanya ingat. Bahkan dia sadar kalau kita tidak bertabrakan di barisan." jawab Keenan tenang.


***

--Doni's POV--

"Kapan kalian tepatnya mulai pacaran?" tanyaku.

"Sejak SMP! Luar biasa kan sayang!" Diva yang menjawabnya.

"SMP? Kalian satu sekolah ketika SMP?" tanyaku lagi.

"Ya! Saat itu Keenan adalah kakak kelas kami. Reputasi Sher langsung melonjak tinggi ketika seisi sekolah tahu kalau dia berpacaran dengan kakak kelas." ucap Diva.

"Kau tahu banyak soal sahabatmu ya Diva." ucapku. Tapi dia sama sekali tidak menyadari bahwa aku juga satu sekolah SMP dengannya. Aku satu angkatan dengan Keenan.

"Tentu saja. Sher adalah penyelamatku. Aku tahu segala hal tentangnya karena kami ini satu jiwa." ucap Diva. "Tapi ada satu hal yang tidak pernah kutahu, Sher."

"Apa itu?" tanya Sheerin buru-buru seakan takut orang lain akan mengajukan pertanyaan itu sebelum dia.

"Cerita detail bagaimana kau dan Keenan bisa pacaran. Waktu itu kan aku sedang ada di rumah sakit. Tiba-tiba setelah aku kembali ke sekolah, sudah ada orang yang menunggumu setiap pulang sekolah." ucap Diva. "Kau hanya bilang kalau kalian bertemu saat terjadi insiden mati listrik yang mengagetkan satu cewek kelas kita sampai pingsan."

Diva benar-benar tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Dia bahkan tidak tahu salah saatu teman sekelasnya keluar dari sekolah setelah insiden yang 'katanya' mati listrik itu.

Kukira dua monster ini akan terkena skak mat atas apa yang diucapkan Diva. Tapi mereka begitu licik. Bahkan bisa mengarang cerita dalam waktu sepersekian detik saja.

"Kami berdesakan di barisan saat itu. Dan tanpa sengaja aku menabrak Sheerin sampai jatuh. Jadi kurasa itulah takdir kami. Dipertemukan oleh sebuah tabrakan." ucap Keenan tiba-tiba.

"Oh manis sekali. Kau tidak pernah mau ceritakan bagian itu padaku, Sher." ucap Diva.

"Harusnya kenangan itu hanya untukku sendiri, Diva. Itu adalah saat Keenan masih sangat manis." ucap Sheerin.

"Hehe, maaf kawan." ucap Diva.

Aku sudah tidak tahan berada disini saat ini. Aku harus memikirkan cara lain untuk membalas mereka. Saat ini aku harus menjauh dari mereka secepatnya. Aku tahu mereka menyadari kalau aku tahu keadaan sebenarnya. Bahwa mereka lah yang memotong jemari mantan pacarku dulu. 

"Oh tidak. Sepertinya kita harus pulang sekarang Diva. Aku kan sudah janji mau mengantar mamaku belanja." Ucapku tiba-tiba.

"Benarkah? Kalau begitu kita tidak boleh terlambat." ucap Diva seraya bangun dari duduknya. "Aku pulang sekarang ya Sher. Jangan lupa kau harus masuk kuliah besok. Kalau tidak aku akan menyeretmu ke kelas."

Lalu kami berdua pulang.

Setelah menjauh sekitar tiga pulluh meter dari gerbang rumah Sheerin. Diva angkat bicara. 

"Puas sekarang?" ucap Diva tiba-tiba dengan nada agak kesal.

"Apanya?" tanyaku kebingungan.

"Kau membuatkku berbohong di hadapan sahabatku satu-satunya, sayang. Dan kau lihat kan? Sheerin dan bahkan Keenan itu sama seperti manusia normal lainnya. Dia bahkan bercerita soal bagaiamana mereka bertemu dan kakaknya akan menikah sebentar lagi." jelasnya.

"Kau benar-benar tidak bisa melihat sahabatmu dari sisi lainnya ya?" ucapku kesal.

"Tentu saja. Dia kan sahabatku." ucap Diva.

"Apa kau percaya kalau aku juga satu sekolah SMP yang sama dengan kalian betiga?" ucapku.

"Ya. Dan apa kau percaya kalau aku tahu hubunganmu dengan Irene?" ucap Diva yang sontak saja mengagetkanku. Irene adalah mantan pacarku yang satu kelas dengannya. Dia yang jemarinya dipotong oleh Sheerin.

"Dari mana kau tahu itu?" tanyaku.

"Aku tahu Irene pindah sekolah setelah katanya kau mencoba memutuskan hubungan dengannya. Sampai-sampai dia gila dan memotong jari-jari tangannya di kelas olahraga." ucap Diva dengan nada seperti sedang membicarakan kalau lalat itu jorok.

Kontan saja aku menghentikan mobilku. "Dari mana kau mendengar gosip seperti itu?" tanyaku naik darah.

"Apa itu penting?" ucap Diva. "Kau bilang kau tidak pernah pacaran sebelum denganku kan? Itu menguatkan alasanmu saat berniat meninggalkan Irene. Kau tidak benar-benar menyukainya. Karena kau lah Irene memotong jemarinya."

"Bukan aku. Tapi Sheerin." Ucapku walaupun aku tahu kalau Diva akan lebih mempercayai Sheerin.

"Sayang, berhentilah mencurigai Sheerin. Ayo kita hidup normal saja. Sheerin itu ngga seperti yang kamu pikirkan selama ini." ucap Diva, nadanya melembut.

Sheerin. Sudah kau jadikan apa cewek sebaik Diva? Mengapa kau seperti punya sebuah boneka tangan yang selalu mengikuti arah gerakmu?

Aku akan mengumpulkan bukti dan memastikan kalau kau tidak akan mencapai usia tiga puluh.












Rabu, 27 September 2017

23. The Brighter Dark ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die



It is too dark to see much.

Aku segera bangun dari dudukku. Aku tidak mengenali suara klakson mobil yang berbunyi itu. Tapi jelas sekali kalau mobil itu berhenti tepat di depan rumahku. "Sebentar ya." ucapku pada Diva dan Doni. Lalu aku keluar.

Sebuah mobil berwarna biru dongker berhenti di depan pintu gerbang rumahku. Aku melihat seseorang dibalik kemudi yang ternyata adalah pacarku tercinta. Tapi mobil itu bukanlah milik Keenan. Aku membuka pintu gerbang dan membiarkan Keenan masuk. Dengan gelagat yang sedikit terburu-buru, Keenan menghampiriku.

"Apa yang dia lakukan disini?" Tanya Keenan dengan nada waspada.

Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Apa yang kamu lakuin disini?" tanyaku.

"Aku khawatir sama kamu tentu aja." jawab Keenan.

"Tapi kalau kamu disini dan ketemu dia, kemungkinan dia bisa ingat kejadian itu." ucapku.

"Sepertinya sudah saatnya mengingatkan dia soal itu." jawab Keenan.

"Kamu serius?" tanyaku.

"Ayo kita masuk." jawab Keenan sambil mengajakku masuk kembali ke dalam rumah.

Saat aku dan Keenan tiba di ruang tamu, Diva dan Doni sedang mengobrol seru. Sudah lama sekali aku tidak melihat Diva senyaman itu bersama dengan orang selain aku. Rasanya seperti sebuah logam panas mengalir ke perutku. Aku tidak mau Diva bahagia bersama orang lain.

Diva menoleh padaku dan Keenan ketika mendengar suara langkah kaki kami mendekat. "Hai Kee." sapanya sambil tersenyum ke arah Keenan.

"Halo Diva. Apa kabar kau? Kudengar kau mengabaikan pacarku weekend kemarin?" ucap Keenan dengan nada lembut dan bersahabat tapi jelas sekali beracun.

"Aku baik. Maaf kalau kemarin aku lupa waktu. Aku bersama pacar baru, kau lihat?" jawab Diva disusul sedikit tawa sambil melirik Doni.

"Jadi ini pacarmu?" tanya Keenan.

Diva dan Doni berdiri. "Kenalkan, aku Doni." ucap Doni sambil mengulurkan tangannya.

"Aku Keenan." ucap Keenan sambil menjabat tangan Doni yang terulur.

Aku tidak tahu apa yang dirasakan Doni ketika tangan mereka bersentuhan. Tapi mereka berjabat tangan cukup lama dan dengan urat otot yang kelihatannya menegang.

Saat akhirnya mereka saling melepas jabatan tangan, Keenan mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Lalu kami berempat duduk dalam diam untuk beberapa saat.

Diva menyebarkan pandangan ke mata tiap orang. Jelas sekali ia mulai terganggu dengan kesunyian ini.



--Doni POV--

Sheerin baru saja kembali dari luar bersama dengan seorang cowok yang sekiranya seumuran denganku. Aku yakin sekali baru pertama kalinya bertemu dengan cowok ini. Tapi entah kenapa aku merasa kalau aku pernah berurusan dengan dia sebelumnya. Tapi aku berusaha se-natural mungkin.

"Jadi ini pacarmu?" tanya dia.

Aku dan Diva berdiri. "Kenalkan, aku Doni." ucapku sambil mengulurkan tangan.

"Aku Keenan." ucap cowok itu sambil menjabat tanganku yang terulur.

Kami berjabat tangan cukup lama. Aku merasakan kebencian dari sentuhan tangan Keenan. Tatapannya seperti sedang melihat jauh ke dalam pikiranku.

Aku berusaha lebih keras untuk mengingat ada apa dengan cowok ini. Tiba-tiba rasanya jiwaku seperti dibawa terbang jauh.

Aku terbangun dalam bayangan kantin sekolah SMP ku dulu. Saat itu aku dan beberapa teman sekelasku sedang makan dan minum. Lalu pacarku dan gerombolannya menghampiri tempat duduk kami dan bergabung. Mereka tertawa-tawa dan saling bercerita kalau yang mereka lakukan di kamar mandi cewek tadi pantas dilakukan untuk anak aneh itu. Aku baru saja hendak menanyakan siapa anak aneh yang dimaksudnya, ketika seorang cewek dengan seragam olahraga memasuki kantin. Penampilannya tambah aneh karena selain saat itu dia tidak sedang dalam pelajaran olahraga, tubuhnya juga terlihat seperti baru saja keluar dari dalam selokan. Cewek itu adalah teman sekelas pacarku. Sekaligus teman sekelasku dulu, Sheraphyna Shine.

Dia melewati tempat kami duduk. Tatapan matanya sangat tajam dan aku hampir tidak percaya bahwa dia masih seumuran denganku. Karena tidak ada anak lain yang tatapannya setajam dia. Dia pun kulihat tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali satu orang.

"Hei lihat siapa yang datang. Apa kau harus memakai pakaian olahraga untuk menghitung rumus-rumus?" Ucap pacarku ketika Sheerin berpapasan dengannya.

Beberapa anak tertawa.

"Benar, setelah ini kita belajar matematika, bukan olahraga." Sambung yang lainnya.

Tiba-tiba saja, Sheerin membuat sebuah gerakan seakan dirinya tersandung. Aku yakin betul kalau dia melakukan itu dengan sengaja. Karena kulihat tidak ada satupun yang menghalangi langkahnya. Dan detik berikutnya minuman yang berada di depan pacarku tumpah ke meja.

"Hei, kau pikir apa yang kamu lakukan, aneh?!" Jerit pacarku sambil bangun dari duduknya. Beruntung minuman itu tidak mengenai seragam sekolahnya.

"Ma-maafkan aku. Aku tersandung." ucap Sheerin. "Akan kubelikan kau yang baru."

Pacarku tersenyum miring. "Tapi aku mau yang paling mahal." ucapnya kemudian.

Sheerin hanya menunduk dan memandangi sepatunya. "Kau mau minum apa?" tanya dia.

"Milkshake cokelat dengan tambahan toping cookies dan whip cream diatasnya." Ucap pacarku.

Sheerin hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan meja kami.

Sekitar beberapa menit berlalu. Sheerin kembali ke meja kami dengan membawa pesanan pacarku. Aku tidak mengerti mengapa ia menuruti permintaan pacarku ini. Harga milkshake yang dibelikannya 5 kali lebih mahal dari minuman yang ditumpahkannya. Dan lagi, dia ini baru saja dibully di kamar mandi anak perempuan. Kenapa juga dia masih mau berurusan dengan orang yang membully-nya?

Karena bel istirahat sudah berbunyi, aku pamit pada pacarku dan teman-temannya untuk kembali ke kelas.

Letak kelasku tepat di depan lapangan yang biasa dipakai untuk pelajaran olahraga. Setelah pelajaran matematika di kelas pacarku, mereka akan berada di lapangan untuk pelajaran olahraga. Biasanya aku sering membuat alasan keluar kelas kepada guru yang ada di kelasku agar aku bisa melihat pacarku. Namun ini aneh. Sudah sekitar 10 menit pelajaran olahraga hari itu dimulai, aku masih belum melihat pacarku di lapangan. Sementara anak-anak yang lain sudah melakukan pemanasan.

Dari ujung lapangan, aku melihatnya lagi. Sheerin seperti sedang menatap ke arah kelasku. Bukannya ikut olah raga, dia hanya duduk di pinggir lapangan.

Lalu di tengah kesunyian sekolah yang sedang dalam jam pelajaran, tiba-tiba terdengar seorang cewek berteriak dari lantai dua gedung sekolah. Aku dan teman sekelasku sontak saja keluar dari dalam kelas dan berusaha untuk tahu apa yang terjadi. Ternyata bukan kelas kami satu-satunya yang penasaran. Seluruh siswa sudah berada di luar kelas sekarang. Hanya ada satu kelas yang sepi. Kelas pacarku, karena mereka semua berada di lapangan. Tapi aku langsung ingat kalau pacarku tidak ada di lapangan. Tanpa komando apapun, aku langsung berlari secepat mungkin menuju kelasnya. Dan disana lah aku bertemu dengan salah seorang teman dekat pacarku. Ternyata dialah yang teriak begitu kencang. Kini ia terbaring di lantai, pingsan. Ada seorang cewek lagi terduduk di salah satu bangku paling belakang kelas dengan kepala terkulai lemas di meja. Cewek itu pacarku! Dia juga tidak sadarkan diri.

Aku mendekatinya. Namun aku panik ketika melihat lantai di dekatnya sudah dilumuri darah segar. Aku semakin mendekat dan menemukan beberapa potong jari manusia! "Oh Tuhan." gumamku ketika melihat bahwa jari-jari manusia di lantai itu adalah milik pacarku. Keempat jarinya putus dan menyisakan hanya jari tengah di kanan dan kiri telapak tangannya.

Saat itu aku langsung menyimpulkan kalau ada yang melakukan ini dengan sengaja kepada pacarku. Tidak mungkin dia memotong jarinya sendiri. Dan saat ditemukan, ia tidak sadarkan diri. Jadi kemungkinan sebelum jarinya putus, ia dibius terlebih dahulu. Tapi yang jadi misteri adalah, siapa orang di sekolah ini yang cukup gila untuk melakukan hal semengerikan ini?

Kalau pacarku benar telah dibius, pasti melalui makanan atau minuman. Aku berpikir sejenak. Oh tidak. Apakah benar Sheerin segila itu? Benarkah cewek sepertinya bisa melakukan hal ini? Aku merasa bersalah karena langsung menuduh Sheerin yang melakukan ini pada pacarku. Tapi minuman terakhir yang diminum pacarku hanyalah milkshake pemberiannya.

Para guru mulai berdatangan dan beberapa dari mereka mual melihat keadaan pacarku saat ini. Mereka segera memindahkan teman cewek pacarku dan menyuruhku menunggu di ruang guru. Aku menuruti perintah mereka dan berjalan menuju ruang guru. Dari lantai dua, kulihat semua siswa sudah dikumpulkan dan sedang diberi pengarahan oleh kepala sekolah. Aneh, tapi aku melihat ada seseorang yang mengajak Sheerin bicara. Setahuku dia tidak pernah bicara pada siapapun kecuali satu teman ceweknya. Tapi saat itu jelas sekali ada cowok yang mendekatinya dan bicara di samping tubuhnya. Dan sepertinya aku tidak asing dengan cowok itu. Dia satu angkatan denganku. Artinya dia adalah kakak kelas bagi Sheerin. Bagaimana Sheerin bisa mengenalnya? Sedangkan dengan teman sekelas saja dia tidak pernah berbicara.

"Err, kita harus mulai obrolan apa ya?" ucap Diva canggung, membuyarkan lamunanku dari ingatan yang tiba-tiba muncul tadi.

--


আPrevious: Guerrilla

আNext: Midst




Rabu, 30 Agustus 2017

22. Guerrilla ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die



Aku tidak takut pada musuhku. Karena aku percaya ada yang lebih berbahaya daripadanya.


Weekend berlalu sangat cepat. Entah terkadang aku merasa waktu berputar sangat cepat, kadang sangat lambat. Mungkin karena hal-hal yang terjadi di hidupku selalu berbeda setiap harinya. Bukan hanya seorang mahasiswi yang kerjanya kuliah dan nongkrong menghabiskan uang orangtua, banyak hal seru yang biasanya aku lakukan. Dan lebih lagi karena aku tidak punya orangtua untuk kumintai uang.

Selama akhir pekan kemarin, Diva sama sekali tidak menghubungiku. Untung saja Keenan menghiburku dengan adanya Marleen. Tapi tetap saja ketika aku tiba di rumahku yang kosong, pikiranku selalu kembali pada Diva.

Banyak orang yang berpikir mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Aku pun tak mengerti perasaan jenis apa yang kurasakan untuk sahabatku itu. Kadang aku merasa terlalu memonopoli kehidupannya. Dan dia membiarkanku melakukan itu sampai Doni datang dan memisahkan kami berdua.

Aku kembali melihat ke layar ponselku. Sudah sekitar 36 pesan yang kukirim ke ponsel Diva dan 54 kali missedcall-ku terabaikan. Aku mulai kesal dengannya. Tapi aku tidak bisa begitu saja menemuinya. Bagaimana kalau ternyata disana ada Doni? Habislah aku jika tanpa persiapan apapun.

Tubuhku terasa sangat berat. Kurasa aku kurang olahraga belakangan ini. Kekuatanku terus menurun. Kalau begini terus, Mr. dan Mrs. Killian tidak akan pernah mengadopsiku sebagai tim mereka.

Aku berbaring di kamarku. Kembali ke tempat tidur yang keras dan dingin. Pikiranku sangat random kali ini. Dan aku masih harus memikirkan pernikahan Candice yang sebentar lagi. Tiga hari dari hari ini ia dan calon suaminya akan tiba di rumahku. Aku harus menyiapkan kejutan untuknya. Dan tentu saja membantu persiapan acara pernikahan mereka.

"Baiklah, aku akan mulai beres-beres rumah." Ucapku pada diriku sendiri.

***

--Doni's POV--

"Sayang, Sheerin udah banyak banget spam handphone aku loh. Aku diemin aja nih? Nanti kalo ketemu dia di kampus aku mesti ngomong apa?" Ucap Diva di perjalanan kami menuju kampus.

"Tenang aja. Hari ini dia ngga akan ngampus. Jadi nanti siang kita ke rumahnya." Jawabku.

"Masa sih? Kamu tau dari mana?" Tanya Diva.

"Intuisi?" Ucapku singkat.

Jalanan hari ini lancar sekali. Sepertinya agak aneh karena ini masih hari Senin. Tapi aku tidak terlalu memikirkan jalanan yang sepi ini. Otakku kembali sibuk mengurusi masalah Sheerin dan rahasia kecilnya. Tapi aku yakin dia tidak akan masuk kuliah. Dia habis bersenang-senang bersama pacarnya kan?

***

"Yups selesai juga. Sheerin sangat luar biasa dalam hal membersihkan masalah." Ucapku memuji diri sendiri. Kurasa aku memang  pantas mendapat pujian itu. Membersihkan sebuah rumah 3 lantai dalam waktu 2 jam bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan bagi sebagian orang. Kemungkinan besar mereka menyewa orang lain untuk membersihkan rumah mereka. Padahal kan kalau orang lain yang membersihkannya, bisa jadi rahasia dan barang-barang koleksi pribadi mereka tersentuh tangan-tangan tidak profesional.

Ting tong

"Seperti suara bel." Ucapku sambil mengipaskan sebuah majalah lama di depan wajahku.

Ting tong

"Hei itu memang suara bel rumahku. Siapa yang membunyikannya? Keenan kan tidak perlu bunyikan bel untuk masuk ke rumah. Apa orang-orang kompleks lagi? Tapi kan buah-buah dan makanan masih banyak. Atau?"

Aku segera mungkin menuju ke pintu utama rumahku. Gerbangnya memang tak pernah kukunci, tapi untuk beberapa hal seperti membersihkan rumah, aku selalu mengunci pintu utama rumahku. Untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang mengganggu saat aku menelaah kembali barang-barang penuh nostalgia milikku.

Aku mengintip lewat lubang kunci.

Sial, ini kan pintu model baru. Lubangnya bahkan tidak bisa kupakai untuk membuat kunci duplikat sederhana. Dan aku tidak pernah sempat membuat lubang intip karena sudah lama sekali rumah ini tidak kehadiran tamu.

Aku membuka pintu perlahan. Memang aku bukan tipe orang yang gampang panik dan takut. Tapi kali ini aku merasa harus sedikit waspada pada apapun yang ada di balik pintu. Wajahku panas, lalu..

Ada seseorang yang menubrukku. Dia mendekapku dalam pelukannya erat sekali. Sampai aku tidak sempat menarik nafas.

"Sayaaang, maaf aku ngga sempat hubungin kamu. Handphone-ku tertinggal di Doni dan aku mabuk semalam. Kamu kenapa ngga kuliah?" Diva memborbardirku dengan kalimat khawatirnya yang biasa. Walaupun aku merasa ada sesuatu di nada suaranya. Aku tahu dia tidak mabuk semalam, sebab kalau ya, dia tidak akan seceria ini. Dan aku tahu ponselnya tidak tertinggal di Doni, karena aku melacak gps ponselnya berada di kawasan rumahnya. Kenapa dia bohong padaku?

Lalu dia melepaskan pelukannya.

Aku mulai bisa bernafas lagi. Namun tersekat lagi ketika kulihat Diva tidak datang seorang diri. Apa yang dilakukannya disini?!

Laki-laki itu menatapku dengan tatapan santai dan tanpa emosi. Namun aku tahu betul di dalam hatinya tersimpan begitu dalam kebencian. Dan sekarang dia sudah tahu tempatku tinggal. Baiklah Sheerin, tetap tenang. Yang penting dia tidak  tahu kediaman keluarga Killians.

Aku menyunggingkan senyuman di bibirku. "Silakan masuk kalian." Ucapku mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah.

"Kalian datang tepat waktu loh. Aku baru selesai beres-beres rumah." Ucapku.

"Jadi kamu ngga masuk kuliah karena bersih-bersih rumah?" Tanya Diva.

"Begitulah, Candice akan pulang dua hari lagi. Jadi aku harus siap-siap kan?" Ucapku. "Sebentar, aku ambilkan kalian minum dulu."

"Ngga usah Sher, tadi sebelum kesini aku sama Doni mampir beli kopi dulu. Nih." Diva menyodorkan segelas es kopi padaku.

'Dia ngga sebodoh dulu rupanya.' Ucapku dalam hati. Tidak menerima makanan atau minuman dari musuh itu adalah salah satu hal baik yang harus dilakukan setiap orang.

Lalu kami bertiga duduk bersama di ruang tamu. Aku baru ingat. Mereka belum kuberitahu soal Candice yang akan menikah sebentar lagi. Atau apakah aman kalau aku mengundang mereka berdua? Tapi pasti akan janggal kalau tidak diundang kan?

"Candice mau pulang?" Tanya Diva.

"Ya. Bersama calon suaminya." Jawabku.

Raut wajah Diva berubah terkejut. Tapi tetap senang. "Candice akan menikah?" Tanyanya.

"Ya, minggu depan." Jawabku.

Kini wajah Diva menjadi bersemangat sekali. "Lihat sayang, bukan cuma kita yang akan berbahagia." Ucap Diva pada Doni.

'Berbahagia'? Pikirku dalam hati. "Maksud kamu, Va?" Tanyaku.

Diva tersenyum sambil melambaikan tangan kirinya. Menunjukkan jemarinya yang panjang dan pada salah satu jarinya kulihat sesuatu yang tidak kulihat sebelumnya. Sebuah cincin berwarna perak bermata berlian sederhana terpasang di jari manis-nya.

"Doni melamarku." Ucap Diva senang.

'Apaaa??!!!!' Ucapku dalam hati.

"Jadi kamu mengambil Diva milikku?" Ucapku pada Doni dengan emosi berapi-api.

Diva tertawa. Dia pikir aku hanya bercanda berkata demikian. "Sheerin, setiap burung pasti akan terbang pada akhirnya." Ucapnya ceria.

"Tapi kamu bukan burung, Diva. Kamu ngga bisa tinggalin aku." Ucapku. Aku tahu ini adalah reaksi yang diharapkan Doni. Tapi mengetahui Diva telah menerima lamarannya, aku menjadi sulit mengendalikan emosiku.

"Sher, kamu ngomong apa sih. Aku ngga akan tinggalin kamu. Kita kan tetap sahabat. Sampai aku dan Doni menikah, sampai kamu dan Keenan menikah, sampai kita punya anak pun kita tetap sahabat, Sher." Ucap Diva.

'Aku harus tenang.' gumamku dalam hati sambil menstabilkan detak jantungku.

Aku tersenyum pada mereka berdua. "Ahahaha maaf aku hanya kaget sekali tadi. Kalian sangat cepat mengambil langkah. Aku dan Keenan saja belum terpikirkan sampai kesana." ucapku seraya tertawa kecil.

"Keenan harus belajar dariku kalau begitu." Ucap Doni dengan senyum palsu tampak jelas di wajahnya.

Aku membalas senyum palsunya. "Ahaha, ya kamu sangat agresif ternyata." Balasku. Yang kumaksud 'agresif' di kalimatku adalah bukan berarti dia benar-benar ingin menikahi Diva, tapi dia benar-benar ingin membalas dendam padaku dengan menggunakan satu-satunya sahabat yang kupunya.

Aku kembali menoleh ke Diva. "Selamat untuk kalian berdua kalau begitu. Dan jangan lupa datang ke acara Candice ya." Ucapku.

"Tentu." Jawab Diva berseri-seri.

Kami terdiam beberapa saat untuk meminum kopi kami. Aku hampir bisa mengetahui rencana yang sedang dijalankan Doni. Tapi kenapa sampai melibatkan perasaan Diva? Harusnya urusan ini hanya antara aku dan dia kan?

Aku memutar-mutar gelas kopi dalam genggamanku. Diva sedang mengecek handphone-nya sementara Doni memperhatikan gerakkanku. Aku tahu dia sedang menimbang langkah selanjutnya yang harus ia ambil. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari luar rumah. Klakson mobil yang tidak kukenal. Siapa lagi yang bertamu ke rumahku?




আPrevious: Clink and Scream


আNext: The Brighter Dark




Senin, 19 Juni 2017

21. Clink and Scream ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


WARNING!
PART INI MENGANDUNG KONTEN GORE RINGAN.
KALIAN BOLEH SKIP PART INI KALAU TIDAK KUAT MEMBAYANGKANNYA.
TIDAK APA-APA, AKU TIDAK BERMAKSUD MEMBUAT KALIAN MERINDING ATAU MUNTAH.
JIKA KUAT SILAKAN BACA.
TERIMA KASIH.

----------------------------------------------------------------------------------------------



Marleen mulai menggerakkan jemarinya. Lalu kelopak matanya membuka dan menampakkan bola mata yang berwarna biru berkilau. Bola mata itu berputar pelan dalam rongganya. Kurasa kepalanya sedikit pusing. Aku tahu sensasinya saat kau diberikan racun palsied (racun lumpuh total) lalu kau diberikan penawarnya. Rasanya seperti dipaksa untuk tidur lalu saat sedang lelap-lelapnya dibangunkan dengan paksa pula.

Marleen masih berusaha mengambil kembali kesadarannya. Dia belum berkata apa-apa. Suasana di ruangan itu  menjadi sangat sunyi. Namun tiba-tiba pintu terdengar membuka disusul suara langkah kaki yang mendekat. Aku  menahan nafas seakan itu akan menimbulkan suara yang sangat gaduh dan merusak kesunyian ini.

Suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Ada sesuatu yang menyentuh pundakku. Rasanya dingin sekali.

“Bersenang-senang tanpaku?” Ucap suara seseorang yang memegang pundakku.

Keenan menengok ke arah datangnya suara. “Sawbonera.” Ucapnya.

“Sawbonera?” Gumamku penuh tanya sambil menoleh ke belakang.

“Sher, kenalkan dia kakakku.” Ucap Keenan.

Aku menjabat tangan cowok berkulit nyaris transparan itu. Kulitnya sedingin pandangan matanya. Aku memberikan senyuman ragu, takut salah melakukan sesuatu.

“Hei jangan se-kaku itu. Aku bukan es balok kok.” Ucap cowok yang dipanggil Sawbonera dengan nada yang tidak sedingin raut wajahnya. Sungguh kombinasi yang sangat sulit.

Aku memberanikan diri menatap mata kakaknya Keenan.

“Aku Sheerin. Apa namamu selalu se-keren itu?” Ucapku mencoba sesantai mungkin.

“Kau bisa panggil aku Ed disini. Tapi jangan sekalipun panggil begitu di luar rumah ini kalau kau tidak mau mengucapkan selamat tinggal pada organ tubuhmu.” Ucap Sawbonera.

“Ya itu lebih baik. Namamu membuatku lapar.” Ucapku yang sejak Keenan memanggil nama kakaknya tadi selalu terpikir Carbonara.

Ed meninggalkan belakang tubuhku dan berjalan ke arah tubuh Marleen yang kini sudah bisa merintih. “Kau yakin bisa melakukannya sendirian, Jack?” Tanyanya.

“Kupikir kau tidak ada di rumah. Lagi pula Grace yang kali ini akan menanganinya. Semacam ujian kecil.” Ucap Keenan.

“Baiklah, lakukan sebisa kalian. Aku akan memperhatikan dan membereskan sisanya.” Ucap Ed yang kini mengambil kursi dan duduk di sudut ruangan.

Selama aku berpacaran dengan Keenan, hanya Grace-lah saudara kandungnya yang kukenal. Walaupun Keenan memberitahuku bahwa dia memiliki 6 saudara kandung, aku belum pernah bertemu dengan lima yang lainnya. Dan saat ini aku bertemu salah satu kakaknya disaat kami akan melakukan pembedahan. Kira-kira orang seperti apa Ed itu?

Aku menahan semua pertanyaan dalam kepalaku dan kembali ke fokus pembedahan Marleen.

Karena tujuan utama dari pembedahan kali ini adalah untuk Grace. Aku hanya akan membantu menyusun organ dalam si gadis ke dalam kotak. Aku mengeluarkan kotak-kotak kaca dengan berbagai ukuran dari dalam sebuah koper kayu. Dalam satu koper ini nantinya akan berisi organ dalam yang akan dijual di rumah-rumah sakit (tentunya dengan transaksi rahasia) dengan harga tinggi. Untuk tulang dan daging, biasanya orang tua Keenan menjualnya ke pasar gelap khusus para kanibal, dengan harga sekitar seratus kali lipat dari harga daging sapi. Tergantung pada identitas daging tersebut. Biasanya orang-orang penting akan berharga lebih tinggi.

Grace mengambil pisau kecil dari meja lalu mendekati tubuh Marleen.

"Pastikan kau jangan langsung membunuhnya, sayang." Ucap Ed dari sudut dengan nada penuh kasih.

"Yap." Gumam Grace yang kini menaiki bangku kecil untuk melihat wajah Marleen yang lebih tinggi darinya.

Grace meneliti tiap senti kulit wajah wanita di depannya.

Kulihat Marleen mulai mendapatkan fokus pandangannya. Dan pemandangan pertama setelah tersadar dari palsied adalah wajah seorang gadis kecil yang menatapnya dengan tatapan siap memangsa.

"Siapa kamu adik kecil?" Ucap Marleen yang kesadarannya belum penuh.

"Your deadly angel." Jawab Grace dengan raut wajah datar.

Marleen mencoba menggerakkan tangannya. Namun saat itu ia menyadari bahwa tidak ada satupun bagian tubuh yang bisa digerakkannya selain bernafas, berkedip dan berbicara. Ia mulai dapat menangkap bayangan sosok Keenan dan aku dalam bola matanya.

"Hey kalian siapa? Kenapa saya ada disini? Apa yang kalian lakukan?" Marleen berkata sambil meronta-ronta. Raut wajahnya berubah panik.

Aku mendekati tubuh Marleen. "Hai Marleen, aku Sheerin. Aku dan pacarku juga adiknya akan memisahkan organ tubuhmu. Mohon kerjasamanya ya." Ucapku sesantai mungkin lalu tersenyum.

"Kau gila! Kalian semua gila! Ini pasti mimpi!" Marleen mulai berteriak.

Sementara tanpa disadari, Grace sudah mendapatkan daun telinga sebelah kanan milik Marleen. Darah mengalir segar dari lubang yang tadinya terdapat daun telinga dengan sebuah anting-anting berwarna perak yang manis.

Marleen menjerit sampai sepertinya tenggorokkannya akan keluar ke mulutnya.

"Pilihan yang unik untuk memulai, Grace." Ucap Ed dari sudut.

Grace menoleh ke arah kakaknya seraya menyunggingkan senyum polosnya yang biasa. Lalu ia menuruni bangku kecil nya dan meletakkan daun telinga Marleen di sebuah baki kaca. Kemudian kembali menghadapi Marleen.

"KALIAN GILA!!!" Marleen kembali berteriak ketika Grace berhasil melepaskan daun telinga yang satunya.

Sekarang sisi kanan dan kiri kepala Marleen menjadi aneh tanpa adanya daun telinga.

"Kak Kee, kau bisa bantu aku untuk membelah bagian perutnya? Aku sepertinya agak kesulitan." Ucap Grace.

"Tentu." Ucap Keenan seraya mengambil sebuah pisau dan mendekati tubuh Marleen.

Perlahan, Keenan menempelkan mata pisau ke kulit Marleen dan menyebabkan Marleen mengeluarkan banyak sekali darahnya. Setiap kali Keenan menggerakkan pisaunya diatas kulit Marleen, ia menjerit luar biasa sampai sepertinya gendang telingaku mau pecah.

"HENTIKAAAANN!!! BUNUH SAJA SAYA!! TOLONG!! JANGAN SIKSA LAGI-" Marleen terus meronta.

Kini Keenan telah berhasil melubangi daerah dada sampai ke pusarnya. Menampilkan organ dalam tubuh Marleen yang saling bertumpuk dan berdenyut seirama.

Grace kembali mengambil alih. Tapi lalu ia mundur kembali.

"Ada apa Grace?" Tanyaku.

"Sepertinya aku ngga yakin." Ucap Grace. "Aku takut membunuhnya. Dia sangat berbeda dengan serangga-serangga itu."

Ed dari sudut bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia mendekati Grace dan mengambil alih pisau yang dipegangnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, diiringi dengan jerit kesakitan dari mulut Marleen, Ed mengeluarkan satu per satu organ tubuhnya. Ia melakukannya sangat cepat. Sampai-sampai aku hampir berpikir dia sedang membedah ayam, bukan manusia.

Sampai terakhir ia mengeluarkan jantung Marleen dari rongga dadanya dan memasukkannya ke alat khusus dengan hati-hati. Jantung itu berhenti berdetak beberapa detik sebelum akhirnya berdenyut lagi di dalam sebuah kotak kaca.

Marleen kini sudah tidak bernyawa. Matanya terbuka dengan raut wajah menahan sakit yang sangat lucu menurutku. Kurasa sebelumnya dia tidak pernah tergores selain oleh kertas baru. Makanya reaksinya sangat bagus tadi.

Pembedahan kali ini selesai. Setelah mencongkel mata Marleen, Ed memberikan sisanya pada Keenan. Untuk menguliti dan memotong-motong bagian tubuh seperti kaki dan tangan. Aku hanya membantu membersihkan darah yang berceceran di lantai. Dan kini aku tahu satu hal mengenai Ed. Dia adalah ahli bedah dalam keluarga ini.

***


আPrevious: Propose

আNext: Guerrilla


Rabu, 10 Mei 2017

20. Propose ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Kebenaran adalah apa yang kau percayai. Bukan hal yang pertama kali kau ketahui.



--Diva's POV--

"...jadi kalau weekend biasanya dia jalan sama pacarnya?" Tanya Doni.

"Iya. Karena dia ngga punya siapa-siapa lagi, bisa dibilang dia bergantung sama aku dan Keenan." Jawabku.

Aku menghentikan obrolan dengan Doni. Apa sih sebenarnya yang dia mau? Kenapa dari tadi selalu bertanya soal Sheerin?

Hari ini aku jalan-jalan dengan Doni yang kini menjadi pacarku. Aku belum lama mengenalnya, mungkin sekitar enam bulan kami menjadi teman pena yang berkenalan secara online. Akhirnya setelah bertemu kami pun sepakat untuk pacaran. Sebenarnya aku agak kecewa dengan sikapnya yang berbeda dengan Doni yang aku temui di online. Di chat, dia lebih banyak bicara dan membuatku sama sekali tidak bosan. Sedangkan Doni yang kutemui tidaklah sebawel itu. Dia hanya berbicara padaku mengenai hal-hal yang penting saja. Tidak ada bercandaan seperti biasanya. Dan yang aku sedikit kesal, dia tampak begitu tertarik membicarakan Sheerin. Memangnya sepenting apa sih pembicaraan tentang Sheerin itu?

"Emm, Doni. Kamu ada kelas jam berapa besok?" Tanyaku mencoba mengalihkan obrolan.

"Jam pertama." Jawab Doni tanpa ekspresi dan perhatiannya terus ditujukan pada handphone-nya.

Aku agak kesal. Makin kesal tepatnya. Kenapa dia seakan tidak nyaman jalan sama aku? Kenapa juga dia ajak aku keluar kalau aku diabaikan seperti ini? Aku ingin pulang dan menangis rasanya.

Akhirnya kami berdua terdiam cukup lama karena aku sudah kehabisan topik pembicaraan satu arah ini.

"Hey, maaf." Ucap Doni tiba-tiba.

Aku menghentikan langkahku. Apa aku salah dengar barusan?

Doni menghentikan langkahnya juga lalu memposisikan diri di depanku.

"Maaf sikap aku yang aneh sejak kita ketemuan. Aku ngga bermaksud buat kamu merasa cemburu atau apa. Aku akan kasih tau alasannya, nanti, oke?" Ucap Doni seraya meraih tanganku dan mengajakku melanjutkan langkah kami.

Dia tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Aku pun akan merasa bersalah kalau aku tiba-tiba marah pada orang yang baru saja meminta maaf. Aku hanya terdiam dan terus berjalan mengikuti arahan dari tangan yang menggenggam tanganku dengan erat.

Kami menuju ke bioskop di salah satu mal. Dia memilihkan sebuah film yang sama sekali bukan kesukaanku. Ada banyak adegan adu senjata dan permainan cuci otak. Aku setuju untuk nonton ini karena dia yang memilihkan. Selama beberapa menit di dalam bioskop, aku berkali-kali menutup mataku. Film ini membuat memori buruk masa laluku seperti muncul lagi di depan mata.

Doni tampak tenang menonton di sampingku. Matanya tertuju pada layar. Sebenarnya aku tidak mau mengganggu, tapi aku tidak tahan lagi. Aku meraih tangannya seraya mendekati telinganya dan berbisik. "Sayang, aku keluar ya." Doni memalingkan pandangannya dari layar ke wajahku. Lalu ia bangkit dari kursinya dan menggandengku keluar dari bioskop.

"Maaf ya aku maksa kamu nonton film kayak gitu." Ucap Doni.

"Iya gapapa." Ucapku.

"Yaudah sekarang kita ke rumahku, ya?" Ucap Doni.

Saat itu aku hanya bisa mengikuti langkah kaki Doni yang kini menuntunku ke parkiran mal. Kami menaiki motor milik Doni dan menuju ke rumahnya. Ini pertama kalinya aku ke rumah seorang teman cowok. Sebenarnya aku merasa agak gugup. Keenan saja yang sudah lama aku kenal belum pernah mengajakku ke rumahnya. Dan ini Doni pacarku loh. Aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk bertemu keluarganya.

"Kamu ngga perlu khawatir, Diva. Orang tuaku lagi ngga ada di rumah kok." Ucap Doni yang lagi-lagi seakan bisa membaca pikiranku.

"Ehh, iya sayang." Ucapku gugup.

Aku harus bagaimana sekarang?

Tak lama kemudian kami tiba di depan sebuah rumah. Aku masuk ke dalam dan menuju ke sebuah ruangan di lantai dua yang sepertinya kamar Doni.

Sebelum melangkah masuk ke kamar, aku menghentikan langkahku tepat di ambang pintu.

"Ayo masuk." Ucap Doni yang sudah berada di dalam kamarnya.

Aku masih terdiam.

"Diva, tenang aja aku ngga akan ngelakuin yang aneh-aneh kok." Ucap Doni kalem.

"Maaf." Ucapku kikuk seraya melangkah masuk.

"Iya aku ngerti kamu ngga biasa deket sama cowok yang bukan keluarga kamu." Ucap Doni sambil menutup pintu di belakangku.

Kenapa pintunya harus ditutup dan dikunci sih? Aku jadi merasa ngga nyaman.

Doni mendudukkanku di tempat tidurnya. Tapi dia masih berdiri dan meraba ruang di sekitar rak bukunya yang tersusun rapi.

Dia kembali menghadapku.

"Eh sebelumnya aku harus ngasih tahu kamu dulu kenapa aku nunggu sampai kita di kamarku untuk bilang hal ini. Aku ngga mau kamu salah paham dan mikir yang negatif dan mesum ke aku." Ucap Doni yang kini pipinya bersemu merah padam. "Jadi, kalo dari dalam kamar ini ngga akan ada orang luar yang bisa denger suara di dalamnya kalo pintunya terkunci. Ada beberapa sensor di dinding yang bakal ngasih tau ke orang yang ada di dalamnya kalo ada hal-hal berupa penyadapan atau gangguan lainnya lewat monitor disini." Doni menunjuk sebuah monitor kecil di sekitar rak bukunya.

Aku menghela nafas lega. Aku tahu Doni punya alasan yang jelas dengan keanehannya.

"Oke, jadi yang mau kamu jelasin ke aku adalah?" Tanyaku yang kini mulai mendapatkan kembali diriku yang biasanya.

"Diva, maaf sebelumnya aku harus bilang yang sejujurnya sama kamu." Ucap Doni memulai kata-katanya. "Aku bukannya mau balas dendam atau apa, tapi aku bener-bener harus ngelakuin ini."

"Apa?" Ucapku bingung.

"Pertama kamu harus tahu fakta kalau aku ini temen sekelasnya sahabat kamu Sheerin." Ucap Doni.

"Tapi kan dia satu angkatan sama aku." Ucapku bingung.

"Aku ngga tau versi seperti apa yang dia ceritain ke kamu. Tapi nyatanya dia tinggal kelas gara-gara aku." Ucap Doni.

"Kamu?" Ucapku tambah bingung. "Dia ngga pernah bilang kalau dia pernah tinggal kelas."

"Dulu aku itu teman TK nya. Singkatnya aku dulu pernah bully dia sampai dia ngga punya satupun teman. Dan itu berlanjut saat masuk SD yang ternyata kami satu kelas lagi. Tapi setelah aku sleepwalking dan menghancurkan tulang kakiku, aku menghabiskan beberapa bulan homeschooling, begitu aku masuk lagi ke sekolah dia ngga ada di kelasku. Ngga ada yang terlalu memperhatikan dia karena memang dia ngga punya teman. Tapi sejak saat itu aku selalu cari tau tentang dia. Aku selalu mengharapkan dia masuk sekolah. Aku selalu ingin bertemu dia. Aku ngga tahu kenapa aku bisa sampai terobsesi sama dia, tapi aku harus bertemu dia."

Jadi Doni suka sama Sheerin? Itu menjelaskan banyak hal.

"Tolong jangan salah paham. Aku bukannya suka sama dia,--('dia selalu tahu apa yang aku pikirkan!')-- aku cuma merasa bersalah karena aku yang bikin dia ngga punya temen di sekolah. Aku selalu cari info tentang dia. Dan begitu aku dapat banyak informasi, aku mulai sadar kalau aku merasa bersalah pada orang yang salah. Karena justru dialah yang membuat aku jatuh dari jendela kamarku dan membuat kakiku patah. Dan itulah alasannya untuk memilih tinggal kelas, supaya tidak bertemu denganku dan menghapus jejaknya."

"Kenapa kamu simpulkan seperti itu?" Tanyaku yang sedikit tidak terima sahabatku difitnah seperti itu.

Doni kembali ke rak bukunya. Kali ini ia mengambil sebuah buku yang sudah agak usang.

"Aku bukan menuduh tanpa bukti." Doni meletakkan buku itu di antara kami.

"Beranjak SMP, aku mulai belajar komputer dan berhasil membobol sistem kamera pengintai milik kepolisisan yang dipasang di sekitar rumahku." Doni membolak-balik halaman pada buku itu dan sampai pada sebuah gambar rumah ini dari luar, dengan penerangan seadanya. Lampu kamar di lantai dua rumah  menyala, saat itu pula ada sesosok gadis kecil dengan kepala berwarna merah menyembul dari antara semak-semak tinggi. Aku melihat ada banyak gambar serupa dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

"Sheerin?" Gumamku.

"Ini gambar waktu aku ternyata sleepwalking dan jatuh dari lantai dua rumahku. Aku juga sempat ngga percaya. Tapi aku terus cari informasi." Doni membalik halaman buku itu lagi dan kali ini aku melihat gambar wajahku di kertas lusuh itu.

"Aku?" Tanyaku.

"Aku tahu kasus penculikan itu ngga boleh diberitakan. Tapi aku butuh informasi yang bersangkutan dengan Sheraphyna Shine. Dan dia ada disana waktu penculikan kamu." Ucap Doni.

Aku bangun dari dudukku. "Doni, apa kamu pikir Sheerin yang berusaha menculikku atau apa?" Ucapku dengan emosi berapi-api.

"Aku  ngga bilang begitu. Tapi tolong dengerin dulu sampai selesai. Aku tahu betapa menakutkannya penculikan itu. Tapi kamu harus bantu aku. Aku ngga bisa biarin orang seperti Sheerin berkeliaran bebas."

Aku kembali duduk dan berusaha menenangkan diriku. Sulit dipercaya orang yang aku kenal sejak SD itu adalah orang jahat. Tapi apakah yang dikatakan Doni benar? Atau sebenarnya yang jahat itu Doni dan dia sedang berusaha membuatku jatuh ke dalam jebakannya?

Kali ini Doni menunjukkan sebuah buku lusuh yang lainnya. Ada sederetan foto orang-orang yang tidak kukenal.

"Mereka detektif." Ucap Doni. "Yang ini kakek buyut Sheerin." Doni menunjuk salah satu pria di gambar dua pria yang sedang saling bersalaman.

"Mereka berdua ada di tim yang sama. Saat itu kasusnya adalah pembunuhan dan mutilasi yang korbannya adalah wanita dan anak-anak. Mereka berdua detektif yang hebat pada masa itu. Semua masalah bisa terselesaikan dengan baik dan cepat. Tapi di kasus mutilasi ini mereka berbeda pendapat. Pada akhirnya kasus ditutup dengan tersangkanya Ravin Shikurone. Orang ini." Doni menunjuk gambat pria yang tadi dia bilang kakek buyut Sheerin.

Aku memperhatikan buku itu baik-baik. Isinya berupa potongan-potongan berita yang digunting dari surat kabar lama yang sudah dilaminating. Judul di artikel itu ditulis besar-besar dengan warna merah 'DETEKTIF PSIKOPAT SHIKURONE TERSANGKA PEMBUNUHAN DAN MUTILASI, DIHUKUM GANTUNG'. Aku membaca isi artikel tersebut.

"Kalau emang Sheerin itu cucu dari orang ini, kenapa nama belakang mereka beda? Lagi pula disini ditulis katanya Ravin Shikurone menerima hukuman gantung di depan umum dengan seluruh keluarganya. Terus dari mana garis keturunan yang menghubungkan dia dan Sheerin?" Ucapku kebingungan.

"Sebelum aku kasih tahu semua hal lebih lanjut, aku butuh komitmen dari kamu." Ucap Doni.

"Komitmen untuk apa?" Tanyaku.

"Ka-Kamu nikah sama aku?" Ucap Doni, wajahnya memerah.

Perasaan macam apa ini? Apa kata-kata tadi itu sebuah lamaran? Atau dia tidak bermaksud seperti yang aku maksud?

"Nikah?" Tanyaku.

"Iya." Jawab Doni sungguh-sungguh.

"Tapi kenapa?" Tanyaku.

"Karena cuma pernikahan-lah ikatan paling erat yang menghubungkan dua orang. Aku mau kamu selalu jadi temanku, selalu jadi pasanganku dalam situasi apapun. Aku mau kamu selalu ada disaat apapun. Aku mau kamu selalu ada di hidup aku."

"Untuk nyari tahu informasi tentang sahabatku?" Ucapku agak tersinggung.

"Aku mau menghapus seluruh keturunan Shikurone. Tapi aku ngga bisa melakukannya sendirian. Aku butuh kamu. Dan kalau kamu ngga selalu ada di samping aku, kamu akan jadi target berikutnya."

"Coba bilang pakai kata-kata yang bisa aku mengerti, sayang."

Doni menarik nafas dalam-dalam. Ia tampak sedang berpikir keras.

"Diva, aku belum pernah pacaran selama hidupku. Aku ngga pernah merasakan perasaan aneh yang berlebihan pada seorang cewek. Tapi saat itu kamu. Aku ngga bisa apa-apa. Aku ngga bisa cuma lihat kamu dari jauh. Aku mau deket sama kamu. Tapi kalau deket sama kamu, kamu bisa ada dalam bahaya. Aku--" Doni menarik nafas dalam lagi. "Aku cinta kamu dan ngga mau kamu kenapa-kenapa. Aku takut kehilangan kamu. Aku cinta kamu makanya aku mau kamu nikah sama aku. Aku cinta kamu.."

Doni mengatakan hal itu dengan sangat jelas. Lalu setelah itu dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dari pandanganku.

"Hey sayang." Ucapku sambil menaikan wajahnya sampai setara dengan wajahku. "Terima kasih."

Doni memperlihatkan wajahnya yang merah padam dan air mata yang mengalir perlahan jatuh ke pipinya.

"Terima kasih sudah jatuh cinta sama aku. Walaupun ini bisa dibilang terlalu cepat, tapi aku akan tetap bilang kalau aku bersedia nikah sama kamu." Ucapku.

Doni memelukku beberapa detik. Lalu melepaskannya. Wajahnya masih memerah dan aku bisa lihat di pipinya masih terpeta bekas air mata. Kemudian kesunyian menyusul.

Secara spontan aku menggelakkan tawa.

"Ada yang lucu, Div?" Tanya Doni.

"Kamu." Ucapku disela tawa. "Kamu terlalu random. Tadi sikap kamu itu misterius banget. Terus bilang kalo kamu musuhan sama Sheerin. Terus cerita soal sejarah keluarga Sheerin yang ternyata kriminal. Dan akhirnya kamu ngelamar aku. Gimana aku ngga ketawa coba?"

Doni hanya memberikan seyuman yang menampilkan gigi depannya yang rapih. Lalu aku tiba-tiba saja mendaratkan sebuah ciuman ke pipinya.

Wajah Doni memerah lagi. Aku tidak percaya ternyata Doni orang yang mudah blushing juga. Mungkin dia benar-benar cinta sama aku? Aku harap begitu. Tapi aku ngga percaya sedikitpun yang dibilang Doni barusan. Aku bersedia menikah dengannya hanya karena aku mau mengumpulkan lebih banyak informasi untuk sahabatku. Tentu saja aku lebih percaya padanya daripada Doni, cowok yang baru aku kenal beberapa bulan. Sheerin belum pernah mengecewakanku sekalipun. Tidak mungkin ada satupun fitnah dari Doni yang benar. Ya, aku percaya Sheerin.

***


আPrevious: Uncovered

আNext: Clink and Scream





Rabu, 15 Maret 2017

19. Uncovered ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Semua orang itu sama. Yang membedakannya adalah bagaimana cara berpikir mereka. Dan apakah mereka cukup berani untuk melakukan apa yang mereka pikirkan.

"Emm.. Kamu sadar yang kamu bilang, Kee?" Tanyaku.

"Apa?" Ucap Kee tidak mengerti.

"Apa kamu baru aja melamarku?" Tanyaku dengan nada bergetar. Aku malu sekali mengatakan hal ini.

"Apa itu terdengar seperti melamar?" Keenan balik bertanya.

"Aku ngga tau." Ucapku jujur.

Keenan tersenyum. "Sheerin, aku akan melamarmu dengan suasana yang lebih manis suatu hari nanti." Ucapnya dengan kedua bola mata menatap tajam padaku.

Seluruh wajahku panas. Aku rasa saat ini inderaku berfungsi sebagaimana mestinya seorang gadis tersipu malu. Aku makin merasa malu pada diriku sendiri.

Kami mulai menjauh meninggalkan lingkungan penjara.

***

Aku makan siang di salah satu restoran cepat saji. Jujur saja, aku sangat mencintai makan ayam goreng tepung yang katanya makanan sampah itu. Tapi makan siangku kali ini tidak senikmat biasanya. Aku masih belum mendapat kabar dari sahabat kesayanganku yang sedang pergi kencan dengan pacar barunya. Dan harus kuakui, menunggu kabar itu ternyata membuat jantungku was was. Bagaimana tidak. Orang yang kutunggu sedang bersama dengan orang yang sama sekali tidak kuharapkan.

"Ayolah sayang. Jangan muram begitu. Kita kan juga sedang kencan." Ucap Keenan seakan baru saja membaca pikiranku.

"Oh, apa kamu lagi ngga ada kerjaan, Kee? Aku bosan." Ucapku.

"Sepertinya ngga. Aku lagi malas ambil bagian." Jawab Keenan.

"Sungguh? Tadi kamu kayak mau mangsa waktu Kak Lisa ngejek." Ledekku.

"Yah. Itu kan beda. Aku cuma tinggal menghabisi dia tanpa banyak pikir dan menyusun rencana. Aku cuma lagi malas mikir aja." Ucap Keenan.

"Wah kalau begitu berarti kamu harus mulai pensiun dini sayang." Ucapku seraya tertawa.

"Dan biar kutebak siapa yang akan mengambil pekerjaanku.." Ucap Keenan.

"Taraaa Sheraphyna Shine yang berkilauan." Aku melanjutkan kalimatnya lalu tertawa.

"Hey, aku ngga akan ngebiarin seorang amatir mencuri pekerjaanku." Ucap Keenan.

Aku hanya tertawa.

Tiba-tiba handphone Keenan yang tergeletak di atas meja berdering. Karena kedua tangan Keenan sedang mengeksekusi sepotong ayam, aku otomatis langsung mengambilnya dan melihat siapa yang telpon, 

"Halo, Ma." Ucapku mengangkat telpon dari mamanya Keenan.

"Oh, kenapa kau yang angkat telponku, Mice." Ucap mama Keenan di seberang.

Mamanya Keenan memanggilku Mice=tikus. Itu terjadi karena menurutnya aku ini seekor makhluk pengerat kecil yang sangat menggangu.

"Kalian ada dimana?" Tanya mama Keenan.

"Kami sedang makan siang." Jawabku.

"Oh baiklah. Dua puluh menit lagi aku tunggu di rumah. Ada hal yang harus kalian lakukan untukku." Ucap mama Keenan.

"Baiklah. Kami akan langsung kesana, Ma." Ucapku.

"Jangan terlambat, Mice." Ucap mama Keenan lalu mengakhiri telpon kami.

Aku kembali ke makan siangku. Kini dengan semangat yang agak aneh.

"Untung kita ngga terlalu jauh dari rumah kamu, Kee." Ucapku. "Dia punya tugas untuk kita."

Keenan menelan suapan terakhirnya agak buru-buru untuk menjawab "Atau mungkin mama udah tau kita ngga terlalu jauh dari rumah."

Setelah perut terisi penuh, kami melanjutkan kencan kami ke rumah keluarga besar Killian. Aku sedikit melupakan sahabatku Diva karena aku tahu nanti akan sangat seru.

Keenan memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya yang luas seperti biasa. Kulihat mobil papanya juga sudah terparkir manis di sebelah mobilnya. Mobil itu tampak sangat kotor dan velg bannya dipenuhi lumpur yang mengeras.

"Mereka dari jauh ya?" Tanyaku.

"Sepertinya begitu." Jawab Keenan. "Ayo. Kita terlambat 2 menit."

Aku mengikuti langkah Keenan yang membawaku ke belakang rumahnya. Disana ada sebuah pintu yang tertimbun di tanah. Ini adalah kali kedua aku masuk ke ruangan dibalik pintu kecil itu. Pertama kali aku masuk kesana orang tua Keenan tampak seperti hendak membuang bangkai tikus--mungkin karena itu juga aku dipanggil Mice--hidung mereka tidak berhenti mengembang dan dua pasang mata tajam yang menyipit menempel pada penampilanku yang bisa dinilai 6/10.

Aku menuruni anak tangga berlumuran darah dengan hati-hati. Berusaha untuk tidak terpeleset atau menyentuhkan kulitku dengan cairan berwarna merah berbau amis itu. Karena biasanya darah yang sudah tercecer seperti itu, banyak ditumbuhi bakteri yang membuat kulitku gatal.

Setelah menuruni tangga sekitar tiga meter dibawah tanah, kami tiba pada ruangan yang bisa dibilang luas untuk ukuran ruang rahasia bawah tanah. Kedua orang tua Keenan bersama adik kecilnya Grace tampak tengah menunggu kami.

Pakaian yang dipakai mama dan papa Keenan berlumuran darah. Di belakang mereka terlihat samar olehku sesosok tubuh seorang wanita, terbaring tanpa busana.

Di sebelah ranjang yang ditiduri wanita itu ada meja berukuran kira-kira 70 x 70 senti dengan berbagai jenis dan ukuran pisau dan gunting tertata rapi dan bersih diatasnya.

Aku tahu seharusnya ketika bertemu dengan orang tua dari pacar, biasanya kita saling bersapa. Tapi kebiasaan itu tidak berlaku untuk keluarga ini. Mereka tidak terlalu mementingkan kesopanan, mereka lebih suka orang yang tidak banyak bicara tapi punya skill luar biasa. Dan aku menyukai itu.

"Sepertinya dia masih muda." Ucap Keenan mendekati tubuh si wanita sambil memperhatikan wajahnya.

"Berapa umurnya?" Tanyaku ikut mendekat untuk melihat lebih jelas wanita itu.

"Delapan belas tahun. Kelas dua SMA." Jawab papa Keenan dengan nada yang tidak sama sekali menunjukkan sifat kebapakan. Suaranya sedingin es.

"Tumben anak muda." Bisikku kepada Keenan.

Keenan memasang sarung tangan karet ke kedua belah tangannya yang panjang-panjang. Lalu menyentuh bagian kiri dada si wanita dan berjengit.

"Dia masih hidup?" Ucap Keenan langsung menjauhkan tangannya.

"Klien kami bilang mereka tidak peduli pada tubuhnya.  Mereka hanya ingin anak ini hilang dari pandangan. Jadi sayang sekali kan kalau tubuhnya tidak dimanfaatkan." Ucap mama Keenan.

Aku menelan ludah ke tenggorokanku yang tiba-tiba kering secara misterius.

"Jadi tugas kami memisahkan bagian tubuhnya sebelum membunuhnya?" Tanya Keenan serius.

"Tentu. Jarang sekali kita punya objek hidup untuk dipraktekan pada Grace. Kurasa ini suatu keberuntungan." Ucap mama Keenan.

"Sejujurnya aku ingin sekali mendapat kesenangan membedahnya. Tapi mamamu bilang kami harus melayani klien selanjutnya." Ucap papa Keenan.

"Kalian langsung pergi?" Tanyaku.

"Ya, Mice. Waktu adalah nyawa. Semakin kau lambat, semakin sedikit nyawa yang bisa kau hilangkan." Ucap mama Keenan.

"Kami akan langsung pergi setelah mandi." Ucap papa Keenan.

"Selamat bersenang-senang kalian bertiga." Ucap mama Keenan seraya mengecup kening Grace lalu memanjat naik ke tangga keluar.

Tersisalah kami bertiga. Keenan masih terus memperhatikan dan meneliti tiap senti kulit si wanita. Aku tahu wanita itu masih hidup. Tapi tidak akan lama lagi.

Di sisa ranjang yang ditiduri wanita itu ada sebuah berkas dalam map berwarna merah hati. Aku membuka berkas tersebut dan melihat foto diri si wanita beserta dengan kartu identitas dan biodata lainnya. Nama gadis itu Marleen. Kalau aku punya hati, aku pasti merasa kasihan pada cewek ini. Usianya baru delapan belas tahun dan harus mati di usianya yang masih remaja itu. Sebuah keberuntungan sebenarnya dia lahir di keluarga yang kaya raya. Pewaris tunggal dari perusahaan internasional yang sukses di negara ini dan beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Namun nasib buruk karena memiliki seorang paman yang haus kekayaan. Cewek ini dibunuh oleh pamannya sendiri yang menginginkan perusahaan ayahnya jatuh ke genggamannya. Wajahnya juga sangat cantik. Aku yakin banyak sekali cowok yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan gadis ini.

Diantara berkas yang tersusun rapi di map merah hati itu, ada sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas yang berbunyi: 'Xs Corp.' dan sederetan nama dan nomor telpon. Kurasa ini milik paman dari gadis ini. Karena sepertinya kartu nama ini tidaklah resmi milik perusahaan Xs. Tidak ada logo atau keterangan alamat lengkap pada kartunya.

Aku menutup berkas itu dan menyegelnya dengan coretan tinta merah berbunyi: 'BY MR. AND MRS. KILLIAN'.

"Kau akan dapat menulis namamu sendiri suatu hari nanti." Ucap Keenan yang ternyata lama memperhatikanku.

Ya. Aku akan menjadi pembunuh bayaran berikutnya di keluarga ini. Kemampuanku memang masih bisa dibilang standar agak tinggi sedikit dari yang bisa dilakukan Grace. Tapi setelah orang tua Keenan mengizinkanku untuk masuk ke dunia mereka, mereka dengan murah hatinya mengajariku beberapa cara dan teknik dalam keluarga ini.

Keluarga Keenan memang sudah sangat lama melakukan bisnis luar biasa keren ini. Mereka sekeluarga adalah satu-satunya keluarga pembunuh bayaran yang paling ditakuti di negara ini. Bukannya tidak ada pihak yang menolak pekerjaan mereka. Polisi dan detektif beberapa kali mengusut dan mencari tahu informasi Killian's Family, tapi sebelum menemukan titik terang, tiba-tiba mereka terbunuh secara misterius.

Aku beruntung bisa satu sekolah dengan anak mereka, Keenan. Saat itu dia menemukanku sedang melakukan pelanggaran peraturan sekolah yang cukup fatal--memotong beberapa jari teman sekelasku yang sedang ketiduran di kelas pada jam olahraga--dan dia menilai kalau aku anak yang asik dan akan sangat cocok dengan dirinya. Jadi mulai saat itu kami pacaran.

Grace memasang sarung tangan karet pada tangannya sendiri dan mulai memperhatikan kakaknya dengan seksama. Tatapan mata anak tiga tahun itu berubah menjadi tajam dan mematikan. Grace adalah spesialis serangga di keluarga ini. Dia hanya beberapa kali melihat kakak-kakaknya membedah tubuh mati manusia tanpa ikut campur tangan. Tapi ini adalah kali pertama ia melakukannya dengan tubuh manusia yang masih bernyawa. Dan sepertinya ia akan mengambil beberapa bagian dalam pembedahan kali ini.

"Baiklah, kau siap, Grace?" Tanya Keenan dengan nada penuh semangat.

Grace mengangguk penuh semangat.

Keenan menyuntikkan suatu cairan pada tangan Marleen. Cairan itu dimaksudkan untuk menetralisir racun lumpuh pada tubuhnya agar dia cepat sadar. Pada praktek bedah di kedokteran, membius pasien adalah hal paling utama yang harus dilakukan. Tapi hal itu sama sekali tidak ada sensasinya. Kami memilih untuk mendengarkan isakan dari cewek itu ketika kami perlahan mulai mengangkat satu persatu bagian dalam tubuhnya. Dan itulah yang membedakan pembedahan orang mati dan orang hidup, kau bisa membuatnya bersuara. Orang tua Keenan pun ingin Grace merasakan sensasi yang berbeda ketika kami mencobanya menemui pasien yang dibedah saat masih hidup.



Rabu, 08 Maret 2017

18. Mercy ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Akan selalu ada matahari setelah malam yang panjang. Harapan bisa datang dari mana saja.

Aku menjabat tangan terborgol Kak Aiden dan Kak Lisa. Tubuh mereka sangat kurus walaupun aku tidak bisa dibilang gemuk, kondisi tubuh mereka jauh lebih memprihatinkan.

Mereka duduk berhadapan denganku dan Keenan.

"Kamu sudah dapat kabar dari Candice?" Tanya Kak Aiden.

"Mmm kayaknya dia udah lupa sama dua kakaknya deh." Jawabku dengan nada mencemooh.

"Hei, jangan samakan adik kami dengan kau, iblis." Ucap Kak Lisa naik pitam.

"Hey Kak. Aku kan adik kalian juga." Protesku. "Adik tersayang malah." Aku menyeringgai kecil.

"Kamu tidak waras, Sheerin. Cepat beritahu kami keadaan Candice." Ucap Kak Aiden.

"Tenang aja Kak. Selama kalian baik-baik aja menjalani hukuman ini, Kak Can ngga akan kenapa-kenapa kok." Ucapku.

Kesunyian menyelinap di ruang tersebut selama beberapa saat. Kak Aiden tampak tidak melepas pandangannya dariku. Sedangkan Kak Lisa terus memperhatikan Keenan.

"Kak." Ucapku memecah kesunyian.

"Apa?" Tanya Kak Aiden dengan nada terpaksa. Setiap kali aku berkunjung dia selalu menunjukkan senyuman penyesalan itu. Nada suaranya pun seperti menandakan kalau dia lebih baik tidak bicara padaku.

"Kakak ingat temanku Doni?" Tanyaku dengan nada santai biasa.

"Cowok yang bikin kamu tinggal kelas?" Ucap Kak Aiden. "Kenapa?" Lanjutnya.

"Dia pacaran sama Diva." Ucapku.

"Wah bagus dong. Siapa tahu kali ini kamu ketangkap basah lagi sama dia." Ucap Kak Lisa nimbrung.

"Kamu udah ngga kayak dulu lagi kan, Sher?" Tanya Kak Aiden. Nada suaranya berubah melembut.

"Ngga kak. Aku--." Aku menengok ke wajah Keenan. Raut wajahnya tanpa ekspresi.

"Aku akan ngelindungin Sheerin." Ucap Keenan tiba-tiba memotong ucapanku.

Kak Lisa mengeluarkan tawa cemooh. "Bisa apa kamu, dek? Jangan mentang-mentang kamu sama psyco-nya seperti Sher kamu bisa ngelindungin dia dari apapun. Udah deh mending kalian akuin kesalahan kalian dan tinggal disini sama kami." Kak Lisa terus menggerutu.

Keenan hanya diam dihina seperti itu. Semoga kali ini dia bisa tahan emosi. Tapi kulihat tangannya terkepal. Ia menatap Kak Lisa sangat tajam. Emosinya pasti akan meledak sebentar lagi.

"Tahan, Kee. Kak Lisa cuma ngga tahu kamu yang sebenarnya." Ucapku mencoba menenangkan.

Ya. Kalau saja Kak Lisa tahu siapa Keenan sebenarnya, jangankan untuk menghina ke-psyco-annya. Untuk menatap seperti barusan saja aku yakin dia tidak akan berani.

Aku membuka resleting tasku dan merogohkan tangan ke dalamnya. Lalu mengeluarkan sebuah kertas berwarna merah dengan ketebalan sekitar setengah senti dan dihiasi banyak ornamen renda warna putih di pinggirnya.

"Sebenernya aku ngga mau kasih tahu berita ini. Tapi kayaknya kalian pantas untuk tahu." Ucapku sambil melempar kertas bertuliskan 'invitation' yang kukeluarkan dari tas ke meja.

Kak Aiden mengambil kertas itu dan membukanya. Kak Lisa tampak shock lalu meneteskan air mata.

"Kamu serius dengan ini?" Tanya Kak Aiden dengan sepasang bola mata membesar menatapku.

"Yah, aku dapat itu beberapa minggu lalu dari tukang pos." Jawabku.

"Candice, adikku. D-dia.." Ucap Kak Lisa terbata dengan mata berkaca-kaca.

"Tenanglah, Lisa. Aku yakin dia akan menjadi lebih baik." Ucap Kak Aiden sambil mengelus lembut punggung adik kembarnya.

Aku melihat pemandangan haru kakak-kakakku. Kadang aku berpikir untuk kembali menjadi Sher yang dulu. Ceria dan dimanja oleh mereka. Tapi aku tahu itu tidak akan mungkin terjadi lagi.

"Aku sudah bilang ke pihak kepolisian. Mereka mengizinkan kalian menghadirinya." Ucapku yang sontak saja membuat Kak Lisa menangis lebih keras lagi.

"Teri-ma ka-sih." Ucap Kak Lisa di tengah isakkannya.

"Pernikahan.." Ucap Kak Aiden.

Dua minggu lagi Kak Can akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang pria yang ditemuinya di New York saat sedang berkuliah disana. Dan dia akan melaksanakan acara itu disini. Aku tahu nanti pasti akan merepotkan. Aku juga tidak menyangka hal-hal seperti pernikahan akan berlangsung di keluargaku yang sudah berantakan ini.

Kak Candice sebenarnya tidak tahu tentang fakta kematian orang tua kami. Dia satu-satunya anak di keluarga Shine yang tidak tersentuh apapun karena kejadian meninggalnya orang tuaku bertepatan dengan waktu perginya. Yang dia tahu, orang tua kami kecelakaan lalu meninggal. Kak Aiden dan Kak Lisa yang stress berat karena ditinggal mama dan papa akhirnya menjadi pecandu dan pengedar narkoba. Dan itulah alasan yang diketahui Kak Can mengapa dua kakak tertua kami mendekam di penjara.

Waktu berbicaraku dengan kakak-kakakku habis. Akhirnya aku dan Keenan meninggalkan penjara. Kali ini aku merasa menjadi anak yang sedikit baik. Biasanya saat mengunjungi kakak-kakakku, yang kutinggalkan hanyalah cemoohan. Kali ini aku memberikan kabar bahagia pada mereka berdua.

"Pernikahan." Gumamku sesaat setelah aku menutup pintu mobil Keenan.

"Kau mau juga?" Tanya Keenan yang langsung membuatku terkejut.

"Apa maksud kamu?" Tanyaku untuk memastikan apa yang kupikirkan sama dengan apa yang cowok ini pikirkan.

"Saling menikah, tentu aja." Jawab Keenan.

Aku rasa kedua belah pipiku bersemu merah saat mendengar pernyataan Keenan barusan. Ini pertama kalinya Keenan mengatakan hal-hal seperti 'pernikahan'. Aku tahu kami adalah sepasang kekasih. Kebanyakan pasangan pasti memimpikan untuk menikah suatu hari nanti. Tapi aku dan Keenan bukan pasangan biasa. Kami tidak memiliki tujuan apapun. Kebanyakan percakapan kami adalah tentang pekerjaan dan hal-hal yang berhubungan dengan rencana dan strategi. Kadang berciuman kalau sedang bosan. Namun hal-hal manis seperti menikah belum pernah terlintas sama sekali. Yang kami tahu, saat kami membutuhkan satu sama lain, kami pasti akan selalu ada. Bukankah itu sudah cukup?

"Emm.."



আPrevious: Nightmare

আNext: Uncovered


Rabu, 15 Februari 2017

17. Nightmare ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


If the dream start bothering you, so you'd better not sleeping, right?


--Lisa's POV--

Lututku lemas melihat dua tubuh kaku milik kedua orang tuaku yang tergantung pada seutas tali besar. Apa yang terjadi?

"Oh kayaknya udah hilang." Ucap Sheerin tiba-tiba dari balik tubuhku. Aku terlonjak kaget lalu cepat bangun. Aku menoleh dan melihat raut wajah adikku. Dia tidak tampak terkejut sama sekali.

"Apa maksudmu udah hilang?" Tanyaku hati-hati.

"Nyawa mereka, tentu aja." Jawab Sheerin dengan entengnya dan cengiran yang biasa ia tunjukkan ketika papa memberikan sesuatu yang dia minta.

*plaakk*

Aku mendaratkan sebuah tamparan ke pipi Sher yang mulus dan warna pink. Sekarang pipinya berubah sewarna tomat. Tapi itu belum cukup untuk membalas apa yang telah dilakukannya pada orang tua kami.

"Kakak!" Sheerin merubah raut wajahnya. Kali ini dia sangat marah.

Sheerin memberikan tatapan sangat tajam. Tapi seharusnya aku yang marah. DIA MENGGANTUNG ORANG TUA KAMI SAMPAI MATI! Apa dia benar Sheerin adikku?

"KAU IBLIS!" Ucapku.

"Orang yang menculik Diva juga berpendapat demikian. Sepertinya kalian cocok. Mau coba saling mencinta? Ah ya aku lupa dia sudah mati karena racun yang kuberikan." Sheerin mengatakan hal yang tidak pernah kupikirkan selama ini.

"Sheerin." Aku berkata lemah seraya meraih leher adikku dan mencekiknya.

Pipinya yang tadi merah sekarang menjadi pucat sekali. Namun raut wajahnya tidak berubah. Ia tidak panik atau menunjukkan tanda-tanda kesakitan.

Tiba-tiba saja aku merasa kulit di bagian perutku terbuka. Rasanya perih sekali. Aku melepaskan tanganku dari leher Sher seraya memegangi perutku yang kini bercucuran darah.

"Ups maaf, Kak. Tanganku tergelincir." Ucap Sheerin seraya mendekati kedua orang tuaku. "Bisa bantu sedikit? Papa agak berat." Ucap Sheerin.

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang telah dilakukan Sheerin tampak seperti tidak nyata bagiku. Aku tidak percaya mama dan papaku mati di tangannya. Aku membantu Sher menarik tubuh kedua orang tuaku. Bukan karena aku setuju untuk membantunya. Lebih karena aku tidak tega melihat tubuh mereka tergantung seperti itu. Aku tidak berhenti menangis.

"Mama.. Papa.." Ucapku lirih. Aku berlutut di atas tubuh orang tuaku.

Saat sedang berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat leher mereka, tiba-tiba saja Sher menyemprotku dengan sebuah cairan yang membuatku tidak bisa menggerakkan satu ototpun. Aku tergeletak dengan kesadaran penuh, namun tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara.

"Terima kasih bantuannya, Kakak." Ucap Sheerin yang kini mulai menyeretku masuk ke dalam rumah.

Sheerin mendudukkanku di depan lemari pakaian. Lalu ia keluar kamar dan kembali bersama tubuh mama. Dia meletakan tubuh mama jauh berseberangan denganku. Lalu ia menyeret tubuh papa dan meletakannya bersebelahan dengan mama. Aku menangis hingga perih tanpa suara. Setiap gerakan yang dibuat Sher, sepertinya ini bukanlah hal mengerikan pertama yang pernah dilakukannya. Dia seperti sudah terbiasa melakukan hal semacam ini.

"Hoi, Kak!" Sher berteriak dari seberang kamar. Ia membungkuk di atas tubuh mama dengan sebuah pisau dapur di tangannya. "Kalau Kakak bilang aku bersalah, kurang lebih beginilah Candice selanjutnya." Setelah berkata begitu, Sher menghujani tubuh mamaku dengan pisau dapurnya. Cairan merah itu keluar begitu amis dari tubuh mati mamaku. Berarti waktu kematian mereka belum lama karena darahnya belum kering. Apakah Sher menggantung mereka saat aku sedang mandi? Bagaimana caranya?

Sher tertawa seperti orang gila. Akan kupastikan dia mati sebelum bisa menjangkau Candice. Aku sangat berharap Kak Aiden cepat pulang dan menghentikan semua kegilaan ini. Mimpi buruk yang dibawa ke kenyataan oleh adikku sendiri.

Sher sepertinya sudah puas dengan tubuh mamaku, dia berdiri dan mendapati pakaiannya berlumuran darah. Lalu ia membuka seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya dan menggantinya dengan yang bersih.

"Janji ya Kak jangan bilang ini ke siapa-siapa. Nanti aku marah lho." Ucap Sheerin.

Apa-apaan dia? Mana mungkin aku diam saja. Setelah dia mati atau di penjara Candice akan selamat kan? Dia tidak akan bisa menyentuh Can.

"Oh ya Kak. Kenalin, itu Keenan." Sher berkata sambil menunjuk seorang cowok yang berdiri di muka pintu. Wajah cowok itu ditutup dengan sebuah poster wajah penyanyi Justin Bieber yang sepertinya diambil dari sebuah majalah. Dia melambai ke arahku. "Kalau Kakak ingkar janji, dia akan menjadi Sheerin." Sher memberikan pakaian penuh darahnya kepada cowok itu. Kemudian cowok itu meninggalkan kamar.

"Keenan bilang Kak Aiden udah mau sampe rumah lho, Kak." Ucap Sheerin seraya keluar kamar.

Aku merasakan ketakutan yang aneh. Sher tidak melakukan ini sendirian. Dia punya seorang partner yang bisa dibilang sama gila dengan dirinya. Jantungku berdegup sangat kencang. Tubuhku masih mati rasa. Tiba-tiba saja lampu mati dan kegelapan segera membuat satu lagi inderaku tidak berguna.

"Mama, aku pulang." Aku mendengar suara Kak Aiden samar-samar.

"Kakaaak! Jangan masuk!" Teriak suara Sheerin dari salah satu ruangan yang aku tidak tahu ruangan mana.

"Sher, kamu dimana?" Kak Aiden balas berteriak pada Sheerin dengan nada panik.

Kak, kumohon jangan masuk. Pergilah sejauh mungkin dari rumah ini. Air mataku sudah tidak keluar lagi. Mataku perih sekali. Aku tidak tahu sekarang jam berapa. Suara Kak Aiden hilang. Aku menunggu lama sekali dan berharap Kak Aiden menjauh dari rumah ini. Semoga ia tidak tertangkap oleh adik kami.

Aku nyaris kehilangan kesadaran ketika Sher kembali ke kamar orang tuaku dan berbisik di telingaku sebelum dia masuk ke dalam lemari di belakangku. "Show time."

"Sheerin kamu ada dimana?" Aku mendengar Kak Aiden berteriak. Jantungku kembali berdegup kencang.

Pintu kamar orang tuaku terbuka. Lampu di luar kamar sudah menyala, aku melihat siluet Kak Aiden yang berdiri di muka pintu. Lalu dia masuk ke dalam kamar ini. Aku melihat cowok bernama Keenan itu menutup pintu. Kegelapan kembali menyelimuti. Aku tidak bisa melihat apapun.

Aku dengar Kak Aiden melangkahkan kaki, lalu sepertinya ia menginjak sesuatu.

Kak Aiden melangkah lagi. Ia mencoba menyalakan lampu

"Sial. Kenapa lampu nya ngga bisa nyala." Ucap suara Kak Aiden sambil terus menekan saklar lampu yang tetap tidak nyala juga.

"Hey keluar kau. Siapa kamu?" Dia berteriak.

Entah sejak kapan, aku baru merasakan kalau tanganku memegang tali. Dan tali itu seperti ditarik ke arahku. Pasti Sheerin yang menariknya dari dalam lemari.

Sreet-sreet*

Papa mamaku pasti terseret mendekat.

Aku merasakan tarikan lagi.

Sreet-sreet*

Tanganku hanya bisa merasakan rasanya tali itu tertarik tanpa bisa memegangnya.

Sreet-sreet*

Sepertinya tubuh mereka tersangkut dengan benda lain. Ada sentakkan dan tali menegang sedikit.

Detik berikutnya aku mendengar suara tusukkan berkali-kali. Pintu lemari di belakangku terbuka sedikit lalu Sher membuang bagian tali yang tadi dipegangnya ke tubuhku.

Bau amis kembali memenuhi ruangan kamar yang gelap. Aku berusaha nangis lagi. Air mataku sudah benar-benar kering.

Tiba-tiba pintu kamar menjeblak terbuka. Kulihat beberapa siluet bayangan orang-orang bertubuh besar di muka pintu. Mereka tampak memegang senjata. Kak Aiden berlutut di sebelah tubuh papaku yang kini berlumur darah.

Lampu menyala. Menampilkan pemandangan menjijikkan di ruangan ini.

"Jangan bergerak." Ucap siluet di muka pintu yang kukenali sebagai polisi.

Dua orang lain mendekati Kak Aiden dan melumpuhkan pergerakannya.

Kak Aiden menangis tertunduk. "Perampoknya masih ada, Pak." Ucapnya pada polisi yang membawanya keluar.

"Apa yang kau bicarakan? Perampoknya itu kau, nak." Jawab polisi itu.

Dua orang polisi mendekatiku dan membawaku keluar dari kamar itu, otot di tubuhku masih belum bisa kukuasai sepenuhnya. Yang kuingat aku masih memegang tali itu. Tali yang berujung pada leher kedua orang tuaku.

Aku sudah berada di dalam salah satu mobil polisi. Para tetangga mengerumun di depan rumahku. Kebanyakan dari mereka tampak khawatir dan takut. Sisanya terkejut luar biasa.

Lalu mereka membawaku ke kantor polisi.

Polisi langsung membawa aku dan Kak Aiden ke ruang interogasi. Mereka terus menanyai kami dengan pertanyaan yang tidak bisa kami jawab. Mereka memutuskan bahwa kami adalah tersangka utama dari kasus pembunuhan orang tua kami sendiri. Tapi Kak Aiden tetap tidak mau mengaku karena memang bukan dia pelakunya. Aku masih belum bisa bicara. Tapi jemari tangan dan kakiku sudah bisa kugerakkan sedikit. Tubuhku bergetar hebat.

Aku menangis lagi. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan selain menangis saat ini. Aku tidak bisa berkata apapun. Tubuhku semakin menggigil. Di depanku polisi itu terus menyudutkan Kak Aiden dan dia berteriak sampai polisi mulai memukul wajahnya.

"Mama.. papa.." Ucapku susah payah dengan suara bergetar.

Kak Aiden menarik nafas berat. Lalu ia menoleh ke arahku. Dia terdiam tampak sedang berpikir dan menimbang. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku.

"Lisa, kau bisa ceritakan padaku apa yang terjadi padamu di rumah?" Tanyanya dengan nada biasa.

Aku masih menggigil. Namun lalu mengangguk pelan.

Aku sudah menceritakan semua hal yang sebenarnya pada polisi itu. Aku tidak memikirkan ancaman yang dikatakan Sheerin tadi. Tapi polisi tetap tidak percaya meskipun aku membuat kesaksian sambil dipasangi lie detector. Ternyata setelah dimintai kesaksian kedua, Sheerin bilang pada pihak kepolisian kalau kami bisa mengelabuhi alat pendeteksi kebohongan itu. Aku menemukan jalan buntu. Sheerin sudah mendapat satu poin dengan posisi terakhirnya di dalam lemari. Polisi akan lebih percaya padanya daripada pada kami yang tertangkap saat memegang pisau dan tali yang tersentuh langsung pada tubuh korban.

Kasus pembunuhan orang tua kami ditutup dengan aku dan Kak Aiden sebagai tersangka. Kami dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Tapi sampai saat ini Sher masih menepati janjinya. Dia tidak menyentuh Candice sama sekali. Itu membuat kami sedikit lega. Walaupun polisi tidak menindaklanjuti kasus kami dengan mencurigai Sheerin sebagai tersangka. Catatan kejahatannya tetap tersembunyi.


***




আNext: Mercy