Kamis, 22 Juni 2017

Transformers (The Last Knight) | 2017 Bumblebee's Death!!



Yo Transformers Lovers, gimana nih menurut kalian film ke-5 seri ini?? Yang belom nonton, monggo silakan sebelum baca post ini nonton dulu. Gue sangat merekomendasikan film ini buat akhir pekan loh. Eh akhir pekan ini lebaran Idul Fitri ya? Yaudah setelah lebaran aja hihihi.

Di awal film, bagi mereka yang baru banget nonton Transformers (dan ngga nonton film-film sebelumnya) pasti akan mikir kalau ini adalah salah satu film Colosal model 300.


Kalo di post gue sebelumnya Transformers (Age of Extinction) | 2014 gue sempet menyebutkan agak kecewa karena durasi yang over dan tidak menampilkan Sam Witwicky (Shia LaBeouf) sama sekali dan mengubah ceritanya ke alur yang baru, di film ini Sam muncul guys!!!

Di bingkai foto doang tapi..

Jadi ceritanya,

Singkat aja sih gue kali ini mau ngasih spoiler yang penting-penting aja. Karena terlalu memperhatikan film dan efek visualnya yang luar biasa keren, mata gue termanjakan dengan gambar-gambar yang bikin susah fokus ke hal lain.

1. Cade Yeager dan anaknya hidup terpisah. Anaknya sedang kuliah di luar negeri sementara Cade menjadi buronan pemerintah karena masih berpihak pada para autobots yang sudah tidak diterima oleh pemerintah.

2. Dengan perginya Optimus Prime (ke luar angkasa untuk mencari penciptanya), para autobots di bumi hidup di bawah tanah karena pemerintah merasa mereka sudah tidak membutuhkan autobots lagi.

3. Seorang kakek (Sir Edmund Burton) dari organisasi keturunan Witwiccan mempunyai robot yang sangat pintar dan kuat dan masih mempercayai para autobots dan juga legenda tentang Penyihir Merlin dan Raja Arthur.

4. Vivian Wembley adalah keturunan terakhir Merlin yang ternyata adalah Heroine dalam film kali ini.

5. Masa lalu Bumblebee terkungkap. Ternyata dia adalah salah satu tentara yang berperan dalam perang dengan manusia ratusan tahun lalu.

6. Izabella mencoba memperbaiki pita suara Bumblebee dengan spare parts yang didapat dari robot lain.

7. Optimus Prime akhirnya bertemu dengan penciptanya yaitu Quintessa.

8. Bumi ternyata unicron, musuh dari cybertron.

9. Kolonel Lennox dan tentaranya kembali ke pihak Cade dan para autobots.

10. And last, di perkelahian antara Bumblebee dan Optimus Prime itu Bumblebee TIDAK mati. Jadi setelah bertemu Quintessa, Optimus (Nemesis) Prime dicuci otaknya (bisa dilihat dari matanya yang berubah menjadi warna ungu) dan berusaha membawa cybertron ke bumi untuk direkonstruksi ulang. Tapi setelah perkelahiannya dengan Bumblebee dan para Knights Robot lain, pikirannya kembali normal.



Ohya untuk 'The Last Knight' di judul film Transformers kali ini adalah Cade Yeager. Keuntungannya apa aja sih jadi The Last Knight? Di awal film, Cade dikasih kayak semacam senjata gitu sama robot tua yang sekarat. Dan ternyata yang dikasih itu adalah cikal bakal Pedang Legendaris Excalibur yang ngga bisa dilepasin dari tubuhnya. Ternyata dengan ngasih senjata itu, si robot tadi telah memilih Cade sebagai Knight terakhir.

Gue sangat menikmati setiap detik selama menonton film ini. Walaupun menurut gue durasi film ini sedikit terlalu lama, tapi selama mata dan telinga kita dimanjakan sedemikian hebat, ngga ada masalah tuh. Bahkan gue ngga cukup sekali aja nih nonton film ini. Buat gue pribadi sih menurut gue film ini 3/5.


--D Ark R Ain Bow--

This entry was posted in

Senin, 19 Juni 2017

21. Clink and Scream ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


WARNING!
PART INI MENGANDUNG KONTEN GORE RINGAN.
KALIAN BOLEH SKIP PART INI KALAU TIDAK KUAT MEMBAYANGKANNYA.
TIDAK APA-APA, AKU TIDAK BERMAKSUD MEMBUAT KALIAN MERINDING ATAU MUNTAH.
JIKA KUAT SILAKAN BACA.
TERIMA KASIH.

----------------------------------------------------------------------------------------------



Marleen mulai menggerakkan jemarinya. Lalu kelopak matanya membuka dan menampakkan bola mata yang berwarna biru berkilau. Bola mata itu berputar pelan dalam rongganya. Kurasa kepalanya sedikit pusing. Aku tahu sensasinya saat kau diberikan racun palsied (racun lumpuh total) lalu kau diberikan penawarnya. Rasanya seperti dipaksa untuk tidur lalu saat sedang lelap-lelapnya dibangunkan dengan paksa pula.

Marleen masih berusaha mengambil kembali kesadarannya. Dia belum berkata apa-apa. Suasana di ruangan itu  menjadi sangat sunyi. Namun tiba-tiba pintu terdengar membuka disusul suara langkah kaki yang mendekat. Aku  menahan nafas seakan itu akan menimbulkan suara yang sangat gaduh dan merusak kesunyian ini.

Suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Ada sesuatu yang menyentuh pundakku. Rasanya dingin sekali.

“Bersenang-senang tanpaku?” Ucap suara seseorang yang memegang pundakku.

Keenan menengok ke arah datangnya suara. “Sawbonera.” Ucapnya.

“Sawbonera?” Gumamku penuh tanya sambil menoleh ke belakang.

“Sher, kenalkan dia kakakku.” Ucap Keenan.

Aku menjabat tangan cowok berkulit nyaris transparan itu. Kulitnya sedingin pandangan matanya. Aku memberikan senyuman ragu, takut salah melakukan sesuatu.

“Hei jangan se-kaku itu. Aku bukan es balok kok.” Ucap cowok yang dipanggil Sawbonera dengan nada yang tidak sedingin raut wajahnya. Sungguh kombinasi yang sangat sulit.

Aku memberanikan diri menatap mata kakaknya Keenan.

“Aku Sheerin. Apa namamu selalu se-keren itu?” Ucapku mencoba sesantai mungkin.

“Kau bisa panggil aku Ed disini. Tapi jangan sekalipun panggil begitu di luar rumah ini kalau kau tidak mau mengucapkan selamat tinggal pada organ tubuhmu.” Ucap Sawbonera.

“Ya itu lebih baik. Namamu membuatku lapar.” Ucapku yang sejak Keenan memanggil nama kakaknya tadi selalu terpikir Carbonara.

Ed meninggalkan belakang tubuhku dan berjalan ke arah tubuh Marleen yang kini sudah bisa merintih. “Kau yakin bisa melakukannya sendirian, Jack?” Tanyanya.

“Kupikir kau tidak ada di rumah. Lagi pula Grace yang kali ini akan menanganinya. Semacam ujian kecil.” Ucap Keenan.

“Baiklah, lakukan sebisa kalian. Aku akan memperhatikan dan membereskan sisanya.” Ucap Ed yang kini mengambil kursi dan duduk di sudut ruangan.

Selama aku berpacaran dengan Keenan, hanya Grace-lah saudara kandungnya yang kukenal. Walaupun Keenan memberitahuku bahwa dia memiliki 6 saudara kandung, aku belum pernah bertemu dengan lima yang lainnya. Dan saat ini aku bertemu salah satu kakaknya disaat kami akan melakukan pembedahan. Kira-kira orang seperti apa Ed itu?

Aku menahan semua pertanyaan dalam kepalaku dan kembali ke fokus pembedahan Marleen.

Karena tujuan utama dari pembedahan kali ini adalah untuk Grace. Aku hanya akan membantu menyusun organ dalam si gadis ke dalam kotak. Aku mengeluarkan kotak-kotak kaca dengan berbagai ukuran dari dalam sebuah koper kayu. Dalam satu koper ini nantinya akan berisi organ dalam yang akan dijual di rumah-rumah sakit (tentunya dengan transaksi rahasia) dengan harga tinggi. Untuk tulang dan daging, biasanya orang tua Keenan menjualnya ke pasar gelap khusus para kanibal, dengan harga sekitar seratus kali lipat dari harga daging sapi. Tergantung pada identitas daging tersebut. Biasanya orang-orang penting akan berharga lebih tinggi.

Grace mengambil pisau kecil dari meja lalu mendekati tubuh Marleen.

"Pastikan kau jangan langsung membunuhnya, sayang." Ucap Ed dari sudut dengan nada penuh kasih.

"Yap." Gumam Grace yang kini menaiki bangku kecil untuk melihat wajah Marleen yang lebih tinggi darinya.

Grace meneliti tiap senti kulit wajah wanita di depannya.

Kulihat Marleen mulai mendapatkan fokus pandangannya. Dan pemandangan pertama setelah tersadar dari palsied adalah wajah seorang gadis kecil yang menatapnya dengan tatapan siap memangsa.

"Siapa kamu adik kecil?" Ucap Marleen yang kesadarannya belum penuh.

"Your deadly angel." Jawab Grace dengan raut wajah datar.

Marleen mencoba menggerakkan tangannya. Namun saat itu ia menyadari bahwa tidak ada satupun bagian tubuh yang bisa digerakkannya selain bernafas, berkedip dan berbicara. Ia mulai dapat menangkap bayangan sosok Keenan dan aku dalam bola matanya.

"Hey kalian siapa? Kenapa saya ada disini? Apa yang kalian lakukan?" Marleen berkata sambil meronta-ronta. Raut wajahnya berubah panik.

Aku mendekati tubuh Marleen. "Hai Marleen, aku Sheerin. Aku dan pacarku juga adiknya akan memisahkan organ tubuhmu. Mohon kerjasamanya ya." Ucapku sesantai mungkin lalu tersenyum.

"Kau gila! Kalian semua gila! Ini pasti mimpi!" Marleen mulai berteriak.

Sementara tanpa disadari, Grace sudah mendapatkan daun telinga sebelah kanan milik Marleen. Darah mengalir segar dari lubang yang tadinya terdapat daun telinga dengan sebuah anting-anting berwarna perak yang manis.

Marleen menjerit sampai sepertinya tenggorokkannya akan keluar ke mulutnya.

"Pilihan yang unik untuk memulai, Grace." Ucap Ed dari sudut.

Grace menoleh ke arah kakaknya seraya menyunggingkan senyum polosnya yang biasa. Lalu ia menuruni bangku kecil nya dan meletakkan daun telinga Marleen di sebuah baki kaca. Kemudian kembali menghadapi Marleen.

"KALIAN GILA!!!" Marleen kembali berteriak ketika Grace berhasil melepaskan daun telinga yang satunya.

Sekarang sisi kanan dan kiri kepala Marleen menjadi aneh tanpa adanya daun telinga.

"Kak Kee, kau bisa bantu aku untuk membelah bagian perutnya? Aku sepertinya agak kesulitan." Ucap Grace.

"Tentu." Ucap Keenan seraya mengambil sebuah pisau dan mendekati tubuh Marleen.

Perlahan, Keenan menempelkan mata pisau ke kulit Marleen dan menyebabkan Marleen mengeluarkan banyak sekali darahnya. Setiap kali Keenan menggerakkan pisaunya diatas kulit Marleen, ia menjerit luar biasa sampai sepertinya gendang telingaku mau pecah.

"HENTIKAAAANN!!! BUNUH SAJA SAYA!! TOLONG!! JANGAN SIKSA LAGI-" Marleen terus meronta.

Kini Keenan telah berhasil melubangi daerah dada sampai ke pusarnya. Menampilkan organ dalam tubuh Marleen yang saling bertumpuk dan berdenyut seirama.

Grace kembali mengambil alih. Tapi lalu ia mundur kembali.

"Ada apa Grace?" Tanyaku.

"Sepertinya aku ngga yakin." Ucap Grace. "Aku takut membunuhnya. Dia sangat berbeda dengan serangga-serangga itu."

Ed dari sudut bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia mendekati Grace dan mengambil alih pisau yang dipegangnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, diiringi dengan jerit kesakitan dari mulut Marleen, Ed mengeluarkan satu per satu organ tubuhnya. Ia melakukannya sangat cepat. Sampai-sampai aku hampir berpikir dia sedang membedah ayam, bukan manusia.

Sampai terakhir ia mengeluarkan jantung Marleen dari rongga dadanya dan memasukkannya ke alat khusus dengan hati-hati. Jantung itu berhenti berdetak beberapa detik sebelum akhirnya berdenyut lagi di dalam sebuah kotak kaca.

Marleen kini sudah tidak bernyawa. Matanya terbuka dengan raut wajah menahan sakit yang sangat lucu menurutku. Kurasa sebelumnya dia tidak pernah tergores selain oleh kertas baru. Makanya reaksinya sangat bagus tadi.

Pembedahan kali ini selesai. Setelah mencongkel mata Marleen, Ed memberikan sisanya pada Keenan. Untuk menguliti dan memotong-motong bagian tubuh seperti kaki dan tangan. Aku hanya membantu membersihkan darah yang berceceran di lantai. Dan kini aku tahu satu hal mengenai Ed. Dia adalah ahli bedah dalam keluarga ini.

***


আPrevious: Propose

আNext: Guerrilla


Kamis, 15 Juni 2017

The Mummy | 2017 is it Better than the '99 Version?



Sebetulnya gue udah niat banget ngga nonton film ini karena judge awal gue film ini akan bagus hanya karena ada Tom Cruise di dalamnya. Tapi akhirnya gue pun nonton film ini juga untuk mengisi weekend karena kurang tertarik sama film yang lainnya.

Tapi setelah gue beli tiket dan mulai nonton, ternyata film nya ngga terlalu buruk juga sih. Setidaknya mematahkan penilaian pertama gue tentang film ini yang bisa dibilang negatif.

Ngga bisa dipungkiri lah ya kalo tiap orang (mungkin) selama menonton film ini akan terus membayangkan dan membandingkannya dengan film The Mummy sebelumnya di tahun 1999 (yang menurut gue legend banget). Gue pun begitu. Selama film diputar gue terus membayangkan wajah trio tokoh utama di The Mummy '99.

Intro film menurut gue terlalu panjang karena menampilkan past dan present day sekaligus. Masih tetap mengandalkan tiga orang tokoh utama, film ini menampilkan Tom Cruise sebagai Nick Morton, seorang tentara angkatan darat yang sedang mengintai wilayah musuh di Irak. Bersama dengan Jake Johnson sebagai Chris Vail mereka mengintai wilayah dari informasi yang didapatkan Nick dari secarik kertas dan peta. Singkat cerita, mereka kalah jumlah dari musuh dan Vail terpaksa memanggil bantuan udara. Area tersebut dijatuhi bom dan membuat tanah berpasir runtuh dan menampilkan sebuah makam.

Jenny Halsey (Annabelle Wallis) marah karena petanya dicuri Nick. Namun tidak bisa menyembunyikan senangnya pula karena ternyata di lokasi yang sudah ditandainya benar-benar terdapat makam mesir kuno. Akhirnya untuk menebus kesalahannya, Nick dan Vail ikut masuk ke dalam makam bersama Jenny.

Jenny belum mau pergi dari makam (yang ternyata adalah sebuah penjara) sebelum ia tahu apa dan siapa yang ada disana, bahkan setelah Vail digigit oleh laba-laba yang tiba-tiba muncul dari sela-sela gua. Akhirnya Nick menembak tali rantai yang mengelilingi penjara dan membuat sebuah peti mumi muncul dari danau yang berisi air raksa. Saat itu tiba-tiba Nick mendapatkan vision mengenai mesir jaman dulu dan seorang gadis bernama Ahmanet (Sofia Boutella). Ia telah ditandai sebagai 'orang yang terpilih'.

Saat di pesawat perjalanan, Vail menjadi aneh. Ia berusaha membuka peti mumi dengan pisaunya dan membunuh salah satu rekannya ketika mencoba menghentikannya. Terpaksa Nick menembaknya dan membunuh Vail karena ia berusaha membunuh semua orang.

Tiba-tiba mesin pesawat mati dan datang segerombolan burung gagak yang menyerang pesawat sampai jatuh. Semua orang di pesawat itu mati kecuali Jenny yang pada detik terakhir diberikan parasut oleh Nick. Namun saat akan mengidentifikasi korban, Jenny dan para dokter menemukan bahwa Nick masih hidup dan tanpa terdapat luka sedikitpun.

Di tempat terjatuhnya kapal, peti mumi yang ditemukan Nick terbuka dan saat dilihat oleh petugas, ternyata mumi tersebut bangun dan menghisap semua orang. Nick yang tidak ingat apa yang terjadi tiba-tiba saja menjadi tahu mengenai sejarah bangsa mesir dan putri mereka yang bernama Ahmanet. Ia mengajak Jenny untuk menuju ke lokasi jatuhnya kapal. Namun yang ditemukannya adalah mumi Ahmanet yang berusaha untuk membunuhnya dan menyelesaikan ritual pemanggilan setan nya yang terhenti 3.000 tahun yang lalu.

Mereka berhasil kabur dari Ahmanet karena ternyata di senjatanya tidak terdapat batu yang menjadi syarat utama ritual tersebut. Ahmanet marah dan mencoba menemukan batu tersebut untuk menyelesaikan ritual. Saat Nick dikejar oleh Ahmanet di hutan, untung saja beberapa orang datang menolong dan menangkap Ahmanet. Orang-orang tersebut adalah utusan Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe) atasan Jenny. Mereka membawa Ahmanet dan Nick ke markasnya dan ternyata berniat untuk menyelesaikan ritual tersebut.

Henry menunjukkan sisi jahatnya lalu Nick dan Jenny berniat untuk menemukan dan menghancurkan batu tersebut. Namun saat itu Ahmanet telah berhasil kabur dari tahanannya dan menuju ke lokasi batu tersebut. Ia memanggil para prajuritnya dan kembali mencari Nick. 

Ahmanet membunuh Jenny di depan Nick dan berharap Nick akan menjalani ritualnya untuk menghapuskan rasa sakit kehilangan Jenny. Namun Nick tidak mau. Ia tetap akan menghancurkan batu tersebut. Lalu Ahmanet berkata kalau dia mau bergabung dengan Dewa Set (dewa kematian mesir kuno) dia akan bisa menghidupkan kembali Jenny. Saat itu Nick bingung, namun akhirnya ia menusuk dirinya sendiri dengan senjata itu dan membangkitkan Dewa Set ke dalam dirinya. Ahmanet kegirangan. Tapi endingnya tidaklah seperti yang dia inginkan. Nick memiliki keinginan sendiri dan saat itu ia menghisap kehidupan yang ada dalam tubuh Ahmanet dan kembali menjadikannya mumi.

Setelah mengalahkan Ahmanet, Nick menghidupkan kembali Jenny dan kabur setelah mengucapkan selamat tinggal. Kini ia harus hidup sebagai monster yang bertubuh manusia.

Di epilog, Nick bersama Vail (yang telah dihidupkan kembali) kembali ke adegan di awal film. Mereka mencari petualangan baru.



Katanya ini bakal jadi trilogy ya?

Oke deh karena udah terlanjur nonton yang pertama, gue rasa gue akan nonton sekuel selanjutnya begitu tayang nanti.

Menurut gue sih film ini cukup menghibur. Tokoh-tokohnya mencoba keras untuk terlihat lucu dari dialog yang mereka sampaikan dan adegan demi adegan. Tapi menurut gue actionnya  masih kurang. Klimaks nya ngga dapet dan terkesan kayak 'ngga ada bahaya apa-apa'. Karena apa yang terjadi ngga mempengaruhi masyarakat secara langsung. Ada sih adegan Ahmanet bawa badai pasir ke jalanan kota London, tapi disitu bukannya serem malah keliatan ngga alami. Ngga ada yang teriak masa masyarakat sekitarnya. Jadi yang kena efek dari mumi itu cuma orang-orang yang berhadapan langsung sama penggalian dan penemuan penjara di Irak itu. Tapi mungkin tujuan Ahmanet bangkit kembali itu emang cuma untuk menyelesaikan ritualnya, jadi dia ngga ada tujuan untuk menguasai dunia dan yang lainnya (baik banget ya) tapi terus buat apa dong ya dia nyelesaiin ritualnya. Dulu kan tuh dia bikin ritual begitu buat jadi ratu mesir selanjutnya ya. Nah sekarang kan udah ngga ada ya kerajaannya. Menurut gue pertanyaan gue ini agak absurd, tapi gue rasa emang gue ngga bener-bener masuk ke dalam ceritanya hahaha.

But I do really appreciate this movie. Like I said before, I will watch the other next sequel (even though I still love the '99 version much better than this one). Waiting for that.

For me this is 3/5.


--D Ark R Ain Bow--
This entry was posted in

Selasa, 13 Juni 2017

In Our Bones World Tour by Against The Current | Jakarta Indonesia

Pertama kali ke Indonesia, band beranggotakan tiga orang kece-kece ini konser bersama dengan Alex Goot pada Agustus 2014 lalu (disini Sparks Project Feat Alex Goot & Against The Current)

Dan tahun ini, mereka kembali ke Jakarta dengan World Tour album pertama mereka setelah bergabung di naungan Fuel By Ramen.



Untuk info lengkap World Tour mereka, lihat disini

Chrissy Costanza, Daniel Gow, dan William Ferri akan hadir di MS Hall Jakarta pada 17 September 2017. Untuk penjualan tiketnya dibuka pada 12 Juni 2017 pukul 10.00 WIB.

Gue sebenernya mau nulis post ini sebelum tanggal penjualan tiketnya. Tapi apa daya karena gue ikutan 'ticket war' jadi detik-detik terakhir gue terus pantengin web tiket online untuk langsung beli. Tiketnya cuma dijual di Kiostix dan The Point Of Sale Gue mau beli di TPOS, sempet lemot karena kayaknya banyak juga yang buka. Tapi akhirnya gue pun dapetin online tiket presale nya di Kiostix. YEAAAYY!! Pada hari yang sama di jam 13.00 gue liat di web nya TPOS katanya sih presale pertama udah ludes. Tapi ngecek di IG nya katanya presale kedua akan segera diumumkan kapan available nya.

Setelah sukses dengan 2 EP (Infinity dan Gravity), di World Tour bertajuk 'In Our Bones' ini diambil dari album pertama mereka. 

Check di bawah ini buat lihat lagu-lagu yang ada di album In Our Bones mereka. Sekalian hafalin buat nyanyi bareng di konser mereka nanti. Hihi.
























Hayo gimana nih? Udah siap buat bertemu dengan mereka September nanti?? Sampai ketemu disana yaa!!


--D Ark R Ain Bow--

Minggu, 11 Juni 2017

#bukberIHP 2017 | Hogwartians Reunion On Harry Potter's Hijriyah Birthday


Hola Potterheads semuaa

Buat Hogwartians wilayah Jakarta, hari ini Minggu, 11 Juni 2017 komunitas tercinta kita mengadakan bukber a.ka buka puasa bersama nih.

Walaupun jadwal ngaret dari schedule awal, kami pun akhirnya berkumpul di Cafe Whatsap Tebet sekitar setengah 6 sore.



Acara dimulai dengan sambutan dan beberapa pengumuman lalu perkenalan singkat anggota yang hadir. Sebelumnya kita juga dikasih beberapa merchandise dan nametag nama sesuai dengan asrama.

Setelah buka puasa dan solat maghrib, acara dilanjutkan ke sonorus beberapa bagian cerita dari buku Harry Potter 1 yang dibacakan dalam bahasa Indonesia, bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Lalu games!!

Ada beberapa games. Pertama yaitu games switch and flick. Jadi kita dikasih tahu mantera sama Paman a.ka Kak Hadi lalu menuliskannya di udara dengan wand. Nah anggota asrama yang lain menebak mantera apa itu. Permainan ini dimenangkan oleh Gryffindor.

Games selanjutnya yaitu Petrificus Totalus. Jadi tiap asrama memilih satu orang untuk duel satu lawan satu saling menyerang dengan mantera Petrificus Totalus diiringi musik. Lalu setelah musik berhenti, orang yang terkena mantera tersebut berarti kalah. Permainan ini dimenangkan oleh Slytherin.

Games selanjutnya yaitu duel mantera. Jadi Paman menyebutkan sebuah huruf. Lalu asrama yang ditunjuk akan menyebutkan mantera dengan awalan huruf tersebut. Jika dalam 3 hitungan Paman asrama itu belum menyebutkan manteranya, maka asrama itu gugur dalam permainan. Permainan ini dimenangkan oleh Ravenclaw.

Games asrama terakhir yaitu spelling spell. Jadi Paman menyebutkan sebuah mantera ke pada suatu asrama. Lalu asrama yang ditunjuk harus spelling a.ka mengeja mantera tersebut. Kalau asrama itu salah mengeja, maka ia gagal mendapatkan poin. Dalam permainan ini Gryffindor unggul.

Secara keseluruhan poin yang didapatkan keempat asrama adalah:
Hufflepuff 130
Slytherin 140
Gryffindor 170
Ravenclaw 180

Maka pemenang house cup kali ini adalah Ravenclaw.

Kak Ayya sempat protes pada judges karena Gryffindor unggul dalam beberapa games. Tapi setelah dijelaskan, ternyata Ravenclaw unggul pada games yang mendapatkan poin lebih banyak. Maka dari itu, Gryffindor harus merelakan house cup dibawa pulang oleh Ravenclaw.

Ohya btw gue Gryffindor ya. Dan sesuai karakternya, asrama kita tadi itu paling rame. Hahaha



Setelah menentukan pemenang house cup, kami pun foto-foto. Harusnya sih ada games satu lagi. Tapi karena kak Ratri harus pulang duluan, jadi kita skip ke foto-foto dulu.

Setelah itu, games individu untuk memperebutkan doorprize yang dipersembahkan oleh Toko Kelontong Sihir.
Games nya seperti yang pernah diadakan waktu acara Harry Potter Book Night (gue ngga ikut acara ini secara langsung, cuma mantengin ig live nya IHP waktu itu). Jadi kita dikasih kuis dan harus menuliskannya di notes HP dengan spelling dan tulisan yang tidak boleh salah sedikitpun. Siapa yang menang 3 kali dalam kuis ini akan mendapatkan doorprize-nya. Dan lagi-lagi Ravenclaw sepertinya minun felix felicis hari ini. Karena anak Ravenclaw lagi yang menang. Selamat ya buat Ravenclaw.

Setelah itu, acara penutup sambutan dan kita pulang ke rumah masing-masing.

Gue baru pertama kali ikutan gathering sama komunitas Indo Harry Potter (ini Nonbar Fantastic Beasts and Where To Find Them (with Indo Harry Potter ngga termasuk gathering ya). Tapi udah berasa kenal lamaa banget sama mereka. Pokoknya suasananya hangat deh.

Ngga nyesel banget ikut acara bukber yang seru banget ini. 

Salam sihiir.

NOX

--D Ark R Ain Bow--

This entry was posted in

Rabu, 17 Mei 2017

Camping Ceria Di Bumi Perkemahan Mandalawangi Cibodas, Jawa Barat


Yoohoo!!

Setelah sekian lama berkutat pada kerja dan kuliah yang terus menerus. Akhirnya dapet juga kesempatan untuk mendinginkan otak dan refreshing.

Kali ini gue dan kawan-kawan berniat untuk tetap back to nature tanpa harus capek yang berlebih dan mengeluarkan biaya ekstra.

Untuk itu, berkemah kami pilih untuk melalui long weekend di akhir bulan April 2017 ini.

Kami berangkat dari meeting point pagi buta dan sampai di tempat kemah sekitar subuh. Setelah istirahat dan menghangatkan badan yang beku akibat perjalanan dengan sepeda motor ini, kami pun menuju ke tempat kemping lalu mendirikan tenda.

Saat matahari mulai naik ke atas kepala dan perlahan mengusir hawa dingin di kaki gunung, Nura mulai menyiapkan sarapan untuk kami bertujuh. Setelah makan selesai, kami pun masuk tenda dan bersiap tidur. Ketika banyak dari para pekemah lain memulai aktivitas paginya.

Sebelum tidur pagi, gue sempetin diri untuk melihat-lihat ke sekitar area tenda dan sekitar perkemahan yang didominasi oleh sungai itu. Kulit gue saat itu masih belum terbiasa dengan dinginnya udara di perkemahan. Tapi kaki tetep ngga mau diem di tenda dan akhirnya gue pun menangkap beberapa foto jam-jam pertama gue berkemah di Mandalawangi.


Matahari pagi mengintip di bagian perkemahan yang banyak pohon pinusnya




Sekitar jam sembilan waktu setempat, gue, Nura dan Ka Dea mulai menyiapkan masakan untuk makan siang. Makan siang hari itu menu nya adalah Nasi uduk (sisa sarapan pagi), sop iga sapi, dan sambel teri.

Selesai makan, waktunya hammocking!!






Jujur aja, dari awal merencanakan untuk berkemah, kita ngga punya jadwal yang harus diikuti. Setiap ada yang nanya nanti kita disana mau ngapain, gue dan yang lain pasti jawab 'makan, tidur, makan, tidur'. Dan yah, akhirnya setelah selesai makan hujan turun dan membuat rencana eat-sleep kami berjalan dengan mulus.

Setelah lelah tidur, kami pun mengisi waktu luang dengan bermain permainan papan di handphone Abang Ifkar. Nama game nya Ludo King. Dan kita semua jadi addictive banget sama game itu karena hujan dan memaksa kita untuk tetap berada dalam tenda. Tenda berkapasitas 4 orang mendadak disesaki oleh 7 orang pekemah. Rasanya hangat loh, tapi sempit luar biasa. Ahaha


(dari kiri) Abang Ifkar, Nura, Bang Satria, gue, Ka Dede, Ka Dea, Riza






Fun banget camping disini. Fasilitasnya lengkap, ngga perlu takut kehilangan sinyal, suasana tetep dingin ala-ala ketinggian, view di tiap meter perkemahan beda-beda dan bagus-bagus. Tapi untuk re-camp kesini kemungkinan ngga. Karena masih banyak tempat lain yang perlu dijelajahi! Hihihi.



--D Ark R Ain Bow--

Selasa, 16 Mei 2017

Ennichisai 2017 | Jakarta, Indonesia



Konnichiwa Mina-san!!

Pastinya udah pada tau dong apa itu Ennichisai??

Ennichisai atau Festival Kebudayaan Jepang yang diadakan di Jakarta tahun 2017 ini bukanlah yang pertama kali digelar. Sebelumnya, acara tahunan ini sudah sukses menjaring banyak Otaku untuk datang ke lokasi di Blok M, Jakarta Selatan sejak 2010 lalu. Tapi baru tahun ini gue bisa berkunjung dan bertemu ribuan orang otaku dari berbagai daerah.

Berhubung gue ngga punya temen sesama Otaku untuk gue ajak ke Festival ini, akhirnya gue pun nekat dateng ke Festival ini sendirian. Agak aneh sih iya. Namanya Festival kan lebih enak kalo kita ada temennya ya. Tapi seru juga kok (menghibur diri sendiri).




Tiba di lokasi, gue langsung semangat banget pengen berburu makanan dan merchandise lucu ala-ala Jepang. Tapi yang gue dapetin malah. What?? Look at those crowd!!

On Frame: Kaki Gori
Ini sih belum seberapa rame.


Salah juga sih gue datengnya pas hari terakhir acara ini berlangsung. Rasanya ya orang-orang itu semuanya pada dateng kesana dan bikin jalan Melawai jadi sesak dan padat. Ngga jarang juga stand-stand yang berjejer di kanan dan kiri jalan tertubruk dan hampir goyah karena masa yang sangat banyak. Makin malem, makin rame.



Ada banyak banget cosplayer yang menampilkan tokoh-tokoh anime yang unik-unik. Dari sesimpel Luffy, sampe cosplay robot-robot. Dan gue pengen banget foto sama cosplayer Kirito-kun. Tapi sayang ngga kesampean duh. Terus juga ada Asuna Princess juga ngga kesampean foto bareng Aaaaaa``

Tapii, gue berkesempatan buat foto sama Aphin.



Sebenernya Aphin bukan salah satu peserta cosplayer. Dia dateng di acara ini karena undangan dari Pixie untuk mendemokan tutorial make up untuk cosplay. Pertama kali gue ketemu dia itu di #MovieMagicIHP2016 | Nonbar Fantastic Beasts and Where To Find Them (with Indo Harry Potter) waktu itu dia cosplay jadi Newt Scamander yang gue pikir dia adalah seorang cowok.

Sorry banget gue ngga terlalu punya banyak cerita selama mengikuti Festival ini. Karena sebagian besar gue habisin untuk muter-muter ngga jelas dan bingung mau ngapain lagi.

Tapi gue sempet menyaksikan penampilan dari Ear Candy Jazz Factory.





Terus ada Yumi Intan juga.




Waktu lagi milih-milih kaos anime ternyata times up guys. Bukan Festival nya yang udah berakhir sih. Gue nya yang udah dijemput. Dan lagi, yang milih baju di tempat gue itu cowok semua, jadi ya ngga bisa berbuat banyak buat bersaing rebutan sama mereka.



Akhirnya gue pun pulang dengan cuma membawa sedikit banget merchand. Beneran deh ini sedikit banget. Gue nyari topi chopper ngga ada yang muat kepala gue, gue nyari bando pita ngga ada yang sesuai keinginan gue, mau permen apel udah sold out. Terpaksa cuma bisa berharap dapet lebih banyak di Ennichisai tahun depan. But after all, gue seneng bisa dateng di Ennichisai tahun ini.

Kalo kalian gimana?


Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Rabu, 10 Mei 2017

20. Propose ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die


Kebenaran adalah apa yang kau percayai. Bukan hal yang pertama kali kau ketahui.



--Diva's POV--

"...jadi kalau weekend biasanya dia jalan sama pacarnya?" Tanya Doni.

"Iya. Karena dia ngga punya siapa-siapa lagi, bisa dibilang dia bergantung sama aku dan Keenan." Jawabku.

Aku menghentikan obrolan dengan Doni. Apa sih sebenarnya yang dia mau? Kenapa dari tadi selalu bertanya soal Sheerin?

Hari ini aku jalan-jalan dengan Doni yang kini menjadi pacarku. Aku belum lama mengenalnya, mungkin sekitar enam bulan kami menjadi teman pena yang berkenalan secara online. Akhirnya setelah bertemu kami pun sepakat untuk pacaran. Sebenarnya aku agak kecewa dengan sikapnya yang berbeda dengan Doni yang aku temui di online. Di chat, dia lebih banyak bicara dan membuatku sama sekali tidak bosan. Sedangkan Doni yang kutemui tidaklah sebawel itu. Dia hanya berbicara padaku mengenai hal-hal yang penting saja. Tidak ada bercandaan seperti biasanya. Dan yang aku sedikit kesal, dia tampak begitu tertarik membicarakan Sheerin. Memangnya sepenting apa sih pembicaraan tentang Sheerin itu?

"Emm, Doni. Kamu ada kelas jam berapa besok?" Tanyaku mencoba mengalihkan obrolan.

"Jam pertama." Jawab Doni tanpa ekspresi dan perhatiannya terus ditujukan pada handphone-nya.

Aku agak kesal. Makin kesal tepatnya. Kenapa dia seakan tidak nyaman jalan sama aku? Kenapa juga dia ajak aku keluar kalau aku diabaikan seperti ini? Aku ingin pulang dan menangis rasanya.

Akhirnya kami berdua terdiam cukup lama karena aku sudah kehabisan topik pembicaraan satu arah ini.

"Hey, maaf." Ucap Doni tiba-tiba.

Aku menghentikan langkahku. Apa aku salah dengar barusan?

Doni menghentikan langkahnya juga lalu memposisikan diri di depanku.

"Maaf sikap aku yang aneh sejak kita ketemuan. Aku ngga bermaksud buat kamu merasa cemburu atau apa. Aku akan kasih tau alasannya, nanti, oke?" Ucap Doni seraya meraih tanganku dan mengajakku melanjutkan langkah kami.

Dia tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Aku pun akan merasa bersalah kalau aku tiba-tiba marah pada orang yang baru saja meminta maaf. Aku hanya terdiam dan terus berjalan mengikuti arahan dari tangan yang menggenggam tanganku dengan erat.

Kami menuju ke bioskop di salah satu mal. Dia memilihkan sebuah film yang sama sekali bukan kesukaanku. Ada banyak adegan adu senjata dan permainan cuci otak. Aku setuju untuk nonton ini karena dia yang memilihkan. Selama beberapa menit di dalam bioskop, aku berkali-kali menutup mataku. Film ini membuat memori buruk masa laluku seperti muncul lagi di depan mata.

Doni tampak tenang menonton di sampingku. Matanya tertuju pada layar. Sebenarnya aku tidak mau mengganggu, tapi aku tidak tahan lagi. Aku meraih tangannya seraya mendekati telinganya dan berbisik. "Sayang, aku keluar ya." Doni memalingkan pandangannya dari layar ke wajahku. Lalu ia bangkit dari kursinya dan menggandengku keluar dari bioskop.

"Maaf ya aku maksa kamu nonton film kayak gitu." Ucap Doni.

"Iya gapapa." Ucapku.

"Yaudah sekarang kita ke rumahku, ya?" Ucap Doni.

Saat itu aku hanya bisa mengikuti langkah kaki Doni yang kini menuntunku ke parkiran mal. Kami menaiki motor milik Doni dan menuju ke rumahnya. Ini pertama kalinya aku ke rumah seorang teman cowok. Sebenarnya aku merasa agak gugup. Keenan saja yang sudah lama aku kenal belum pernah mengajakku ke rumahnya. Dan ini Doni pacarku loh. Aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk bertemu keluarganya.

"Kamu ngga perlu khawatir, Diva. Orang tuaku lagi ngga ada di rumah kok." Ucap Doni yang lagi-lagi seakan bisa membaca pikiranku.

"Ehh, iya sayang." Ucapku gugup.

Aku harus bagaimana sekarang?

Tak lama kemudian kami tiba di depan sebuah rumah. Aku masuk ke dalam dan menuju ke sebuah ruangan di lantai dua yang sepertinya kamar Doni.

Sebelum melangkah masuk ke kamar, aku menghentikan langkahku tepat di ambang pintu.

"Ayo masuk." Ucap Doni yang sudah berada di dalam kamarnya.

Aku masih terdiam.

"Diva, tenang aja aku ngga akan ngelakuin yang aneh-aneh kok." Ucap Doni kalem.

"Maaf." Ucapku kikuk seraya melangkah masuk.

"Iya aku ngerti kamu ngga biasa deket sama cowok yang bukan keluarga kamu." Ucap Doni sambil menutup pintu di belakangku.

Kenapa pintunya harus ditutup dan dikunci sih? Aku jadi merasa ngga nyaman.

Doni mendudukkanku di tempat tidurnya. Tapi dia masih berdiri dan meraba ruang di sekitar rak bukunya yang tersusun rapi.

Dia kembali menghadapku.

"Eh sebelumnya aku harus ngasih tahu kamu dulu kenapa aku nunggu sampai kita di kamarku untuk bilang hal ini. Aku ngga mau kamu salah paham dan mikir yang negatif dan mesum ke aku." Ucap Doni yang kini pipinya bersemu merah padam. "Jadi, kalo dari dalam kamar ini ngga akan ada orang luar yang bisa denger suara di dalamnya kalo pintunya terkunci. Ada beberapa sensor di dinding yang bakal ngasih tau ke orang yang ada di dalamnya kalo ada hal-hal berupa penyadapan atau gangguan lainnya lewat monitor disini." Doni menunjuk sebuah monitor kecil di sekitar rak bukunya.

Aku menghela nafas lega. Aku tahu Doni punya alasan yang jelas dengan keanehannya.

"Oke, jadi yang mau kamu jelasin ke aku adalah?" Tanyaku yang kini mulai mendapatkan kembali diriku yang biasanya.

"Diva, maaf sebelumnya aku harus bilang yang sejujurnya sama kamu." Ucap Doni memulai kata-katanya. "Aku bukannya mau balas dendam atau apa, tapi aku bener-bener harus ngelakuin ini."

"Apa?" Ucapku bingung.

"Pertama kamu harus tahu fakta kalau aku ini temen sekelasnya sahabat kamu Sheerin." Ucap Doni.

"Tapi kan dia satu angkatan sama aku." Ucapku bingung.

"Aku ngga tau versi seperti apa yang dia ceritain ke kamu. Tapi nyatanya dia tinggal kelas gara-gara aku." Ucap Doni.

"Kamu?" Ucapku tambah bingung. "Dia ngga pernah bilang kalau dia pernah tinggal kelas."

"Dulu aku itu teman TK nya. Singkatnya aku dulu pernah bully dia sampai dia ngga punya satupun teman. Dan itu berlanjut saat masuk SD yang ternyata kami satu kelas lagi. Tapi setelah aku sleepwalking dan menghancurkan tulang kakiku, aku menghabiskan beberapa bulan homeschooling, begitu aku masuk lagi ke sekolah dia ngga ada di kelasku. Ngga ada yang terlalu memperhatikan dia karena memang dia ngga punya teman. Tapi sejak saat itu aku selalu cari tau tentang dia. Aku selalu mengharapkan dia masuk sekolah. Aku selalu ingin bertemu dia. Aku ngga tahu kenapa aku bisa sampai terobsesi sama dia, tapi aku harus bertemu dia."

Jadi Doni suka sama Sheerin? Itu menjelaskan banyak hal.

"Tolong jangan salah paham. Aku bukannya suka sama dia,--('dia selalu tahu apa yang aku pikirkan!')-- aku cuma merasa bersalah karena aku yang bikin dia ngga punya temen di sekolah. Aku selalu cari info tentang dia. Dan begitu aku dapat banyak informasi, aku mulai sadar kalau aku merasa bersalah pada orang yang salah. Karena justru dialah yang membuat aku jatuh dari jendela kamarku dan membuat kakiku patah. Dan itulah alasannya untuk memilih tinggal kelas, supaya tidak bertemu denganku dan menghapus jejaknya."

"Kenapa kamu simpulkan seperti itu?" Tanyaku yang sedikit tidak terima sahabatku difitnah seperti itu.

Doni kembali ke rak bukunya. Kali ini ia mengambil sebuah buku yang sudah agak usang.

"Aku bukan menuduh tanpa bukti." Doni meletakkan buku itu di antara kami.

"Beranjak SMP, aku mulai belajar komputer dan berhasil membobol sistem kamera pengintai milik kepolisisan yang dipasang di sekitar rumahku." Doni membolak-balik halaman pada buku itu dan sampai pada sebuah gambar rumah ini dari luar, dengan penerangan seadanya. Lampu kamar di lantai dua rumah  menyala, saat itu pula ada sesosok gadis kecil dengan kepala berwarna merah menyembul dari antara semak-semak tinggi. Aku melihat ada banyak gambar serupa dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

"Sheerin?" Gumamku.

"Ini gambar waktu aku ternyata sleepwalking dan jatuh dari lantai dua rumahku. Aku juga sempat ngga percaya. Tapi aku terus cari informasi." Doni membalik halaman buku itu lagi dan kali ini aku melihat gambar wajahku di kertas lusuh itu.

"Aku?" Tanyaku.

"Aku tahu kasus penculikan itu ngga boleh diberitakan. Tapi aku butuh informasi yang bersangkutan dengan Sheraphyna Shine. Dan dia ada disana waktu penculikan kamu." Ucap Doni.

Aku bangun dari dudukku. "Doni, apa kamu pikir Sheerin yang berusaha menculikku atau apa?" Ucapku dengan emosi berapi-api.

"Aku  ngga bilang begitu. Tapi tolong dengerin dulu sampai selesai. Aku tahu betapa menakutkannya penculikan itu. Tapi kamu harus bantu aku. Aku ngga bisa biarin orang seperti Sheerin berkeliaran bebas."

Aku kembali duduk dan berusaha menenangkan diriku. Sulit dipercaya orang yang aku kenal sejak SD itu adalah orang jahat. Tapi apakah yang dikatakan Doni benar? Atau sebenarnya yang jahat itu Doni dan dia sedang berusaha membuatku jatuh ke dalam jebakannya?

Kali ini Doni menunjukkan sebuah buku lusuh yang lainnya. Ada sederetan foto orang-orang yang tidak kukenal.

"Mereka detektif." Ucap Doni. "Yang ini kakek buyut Sheerin." Doni menunjuk salah satu pria di gambar dua pria yang sedang saling bersalaman.

"Mereka berdua ada di tim yang sama. Saat itu kasusnya adalah pembunuhan dan mutilasi yang korbannya adalah wanita dan anak-anak. Mereka berdua detektif yang hebat pada masa itu. Semua masalah bisa terselesaikan dengan baik dan cepat. Tapi di kasus mutilasi ini mereka berbeda pendapat. Pada akhirnya kasus ditutup dengan tersangkanya Ravin Shikurone. Orang ini." Doni menunjuk gambat pria yang tadi dia bilang kakek buyut Sheerin.

Aku memperhatikan buku itu baik-baik. Isinya berupa potongan-potongan berita yang digunting dari surat kabar lama yang sudah dilaminating. Judul di artikel itu ditulis besar-besar dengan warna merah 'DETEKTIF PSIKOPAT SHIKURONE TERSANGKA PEMBUNUHAN DAN MUTILASI, DIHUKUM GANTUNG'. Aku membaca isi artikel tersebut.

"Kalau emang Sheerin itu cucu dari orang ini, kenapa nama belakang mereka beda? Lagi pula disini ditulis katanya Ravin Shikurone menerima hukuman gantung di depan umum dengan seluruh keluarganya. Terus dari mana garis keturunan yang menghubungkan dia dan Sheerin?" Ucapku kebingungan.

"Sebelum aku kasih tahu semua hal lebih lanjut, aku butuh komitmen dari kamu." Ucap Doni.

"Komitmen untuk apa?" Tanyaku.

"Ka-Kamu nikah sama aku?" Ucap Doni, wajahnya memerah.

Perasaan macam apa ini? Apa kata-kata tadi itu sebuah lamaran? Atau dia tidak bermaksud seperti yang aku maksud?

"Nikah?" Tanyaku.

"Iya." Jawab Doni sungguh-sungguh.

"Tapi kenapa?" Tanyaku.

"Karena cuma pernikahan-lah ikatan paling erat yang menghubungkan dua orang. Aku mau kamu selalu jadi temanku, selalu jadi pasanganku dalam situasi apapun. Aku mau kamu selalu ada disaat apapun. Aku mau kamu selalu ada di hidup aku."

"Untuk nyari tahu informasi tentang sahabatku?" Ucapku agak tersinggung.

"Aku mau menghapus seluruh keturunan Shikurone. Tapi aku ngga bisa melakukannya sendirian. Aku butuh kamu. Dan kalau kamu ngga selalu ada di samping aku, kamu akan jadi target berikutnya."

"Coba bilang pakai kata-kata yang bisa aku mengerti, sayang."

Doni menarik nafas dalam-dalam. Ia tampak sedang berpikir keras.

"Diva, aku belum pernah pacaran selama hidupku. Aku ngga pernah merasakan perasaan aneh yang berlebihan pada seorang cewek. Tapi saat itu kamu. Aku ngga bisa apa-apa. Aku ngga bisa cuma lihat kamu dari jauh. Aku mau deket sama kamu. Tapi kalau deket sama kamu, kamu bisa ada dalam bahaya. Aku--" Doni menarik nafas dalam lagi. "Aku cinta kamu dan ngga mau kamu kenapa-kenapa. Aku takut kehilangan kamu. Aku cinta kamu makanya aku mau kamu nikah sama aku. Aku cinta kamu.."

Doni mengatakan hal itu dengan sangat jelas. Lalu setelah itu dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dari pandanganku.

"Hey sayang." Ucapku sambil menaikan wajahnya sampai setara dengan wajahku. "Terima kasih."

Doni memperlihatkan wajahnya yang merah padam dan air mata yang mengalir perlahan jatuh ke pipinya.

"Terima kasih sudah jatuh cinta sama aku. Walaupun ini bisa dibilang terlalu cepat, tapi aku akan tetap bilang kalau aku bersedia nikah sama kamu." Ucapku.

Doni memelukku beberapa detik. Lalu melepaskannya. Wajahnya masih memerah dan aku bisa lihat di pipinya masih terpeta bekas air mata. Kemudian kesunyian menyusul.

Secara spontan aku menggelakkan tawa.

"Ada yang lucu, Div?" Tanya Doni.

"Kamu." Ucapku disela tawa. "Kamu terlalu random. Tadi sikap kamu itu misterius banget. Terus bilang kalo kamu musuhan sama Sheerin. Terus cerita soal sejarah keluarga Sheerin yang ternyata kriminal. Dan akhirnya kamu ngelamar aku. Gimana aku ngga ketawa coba?"

Doni hanya memberikan seyuman yang menampilkan gigi depannya yang rapih. Lalu aku tiba-tiba saja mendaratkan sebuah ciuman ke pipinya.

Wajah Doni memerah lagi. Aku tidak percaya ternyata Doni orang yang mudah blushing juga. Mungkin dia benar-benar cinta sama aku? Aku harap begitu. Tapi aku ngga percaya sedikitpun yang dibilang Doni barusan. Aku bersedia menikah dengannya hanya karena aku mau mengumpulkan lebih banyak informasi untuk sahabatku. Tentu saja aku lebih percaya padanya daripada Doni, cowok yang baru aku kenal beberapa bulan. Sheerin belum pernah mengecewakanku sekalipun. Tidak mungkin ada satupun fitnah dari Doni yang benar. Ya, aku percaya Sheerin.

***


আPrevious: Uncovered

আNext: Clink and Scream





Senin, 08 Mei 2017

Aiko - Koi Wo Shita No Wa | Soundtrack Koe No Katachi


Berawal dari manga, akhirnya Koe No Katachi mendapatkan adaptasi film di tahun 2016 kemarin. Di Indonesia sendiri film ini ternyata ditayangkan pada Mei 2017 dengan judul English-nya yaitu A Silent Voice. Buat yang udah nonton filmnya, gimana nih komentar kalian? Berapa ember air mata buaya yang udah kalian keluarin?

Yang mau spoiler monggo mampir disini: A Silent Voice (Koe No Katachi) | 2017

Bukan cuma film dan manga nya yang bikin baper, sampe-sampe soundtrack-nya pun bikin suasana jadi melow. Gue ngga bisa temuin lagu asli dan resmi dari penyanyinya Aiko, tapi kira-kira begini lah lagu yang gue denger setelah film berakhir dan layar menampilkan credit tittle.




Dengerin lagu ini jadi mengingatkan gue sama perasaan kalo lagi dengerin Yume Sekai-nya Haruka Tomatsu yang jadi ending song anime Sword Art Online.

Yuk kita baper bareng-bareng.

Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--

Minggu, 07 Mei 2017

A Silent Voice (Koe No Katachi) | 2017



Siapa yang suka nge-bully?

Eh jangan lah ya. Inti dari film ini mengajarkan kita untuk ngga melakukan hal buruk tersebut. 

Hampir aja gue ngga kedapetan jam pertama dari penayangannya di Cibinong Platinum karena ternyata kondisi jalan yang padat. Gue menonton film ini 3 hari setelah tanggal tayangnya di Indonesia dan karena di GI tumbenan belum menjadwalkan film ini tayang disana, akhirnya memaksa gue ke Cibinong daripada harus ke Kelapa Gading yang gue belum pernah jelajahi.

Gue sampe di bioskop kira-kira 3 menit sebelum jadwal tayang jam pertama. Masih ngos-ngosan dan ngga sempet beli snack dan minuman, di dalem bioskop udah gelap dan layar udah menampilkan pembukaan film.

A Silent Voice.

Film bermula dengan adegan Ishida Shoya yang merasa sangat depresi dan menarik diri dari lingkungan sosialnya, ia mencoret kalendernya dengan hitungan lamanya dia bekerja paruh waktu. Lalu menjual semua komik dan koleksinya untuk mendapatkan uang yang diberikannya pada mamanya. Lalu berganti adegan di kelas 6 SD dimana Ishida (Seiyuu Mayu Matsuoka) terkenal populer di kalangan teman-temannya. Kemudian adegan berganti pada saat di kelas Ishida akan ada seorang murid baru.

Perkenalan murid baru kali itu berbeda dengan biasanya. Si murid baru mengabaikan guru ketika ia disuruh menyebutkan namanya dan berkenalan. Kelas menjadi sepi senyap sampai sang guru menyentuh bahu si murid baru dan dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam tasnya.

Anak baru bernama Shouko Nishimiya (Seiyuu Saori Hayami) itu membalikkan selembar demi selembar kertas pada buku catatannya yang ternyata isinya adalah kalimat-kalimat perkenalan. Di akhir perkenalannya, ia memberitahu teman-teman sekelasnya kalau dirinya tuli. Disaat yang lain terbengong-bengong karena tahu kenyataan bahwa Nishiyama tuli, Ishida menyeletuk dengan keras dan langsung dinilai tidak sopan.

Mulai saat itu awalnya banyak yang tertarik untuk berteman dengan Nishimiya, namun lama kelamaan banyak yang sulit mengerti perkataan Nishimiya dan menghindar.

Sebenarnya Nishimiya mengajak Ishida berteman. Namun Ishida yang juga tidak mengerti apa yang diucapkannya pun malah membentak Nishimiya dan ikut menjauhinya juga. Sampai akhirnya hal ini berlanjut ke tindakan bully yang dilakukan Ishida. 

Ibu Nishimiya melapor kepada pihak sekolah kalau Nishimiya sudah kehilangan 8 alat bantu dengar dan beranggapan bahwa anaknya telah menjadi korban bully, akhirnya kasus ini berujung pada guru yang langsung tahu bahwa pelakunya adalah Ishida. Ibu Ishida menemui Ibunya Nishimiya untuk meminta maaf sekaligus ganti rugi atas alat bantu dengar Nishimiya yang dihilangkan oleh Ishida. Sejak saat itu, tidak ada lagi seorang pun yang mau berteman dengan Ishida. 

Lalu adegan kembali ke masa Ishida (Seiyuu Miyu Irina) yang telah berhasil mengumpulkan uang lalu memberikannya kepada ibunya. Namun bukannya senang, ibunya malah mengancam akan membakar uang hasil kerja kerasnya karena tahu bahwa Ishida punya kalender aneh yang berakhir hanya sampai bulan April. Dari situ ibu Ishida menyimpulkan bahwa anaknya akan bunuh diri. Ia terus menyudutkan Ishida untuk berjanji tidak akan bunuh diri. Akhirnya Ishida pun berjanji walaupun akhirnya uang yang sudah berhasil dikumpulkannya tetap terbakar karena ibunya terlalu senang mendengar perkataan anaknya.

Ishida yang sudah lebih dewasa kini menjadi anak yang pemurung. Karena di sekolah barunya ada yang menyebarkan berita bahwa dirinya suka melakukan hal-hal mengerikan pada orang lain, akhirnya dia tidak memiliki teman. Ia jadi memiliki kebiasaan takut memandang wajah orang lain dan mendengar perkataan orang lain. Saking merasa bersalahnya atas kejadian di SD itu, dia pun merasa bahwa monster seperti dirinya tidak pantas bahagia dan bahkan tidak pantas untuk hidup.

Ishida SMP kini mengikuti klub bahasa isyarat. Dan saat ia merasa bahwa harapannya untuk hidup telah benar-benar hilang, tiba-tiba saja ia melihat Nishimiya lewat di hadapannya lalu mengejarnya. Saat itu ia melakukan bahasa isyarat mengajak Nishimiya berteman dengannya. Kemudian ia menyadari ternyata itulah yang dikatakan Nishimiya dulu di SD. Ishida makin merasa bersalah dan lari dari hadapan Nishimiya.

Sejak saat itu, Ishida menghindari Nishimiya karena merasa canggung.

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang dipaksa meminjamkan sepedanya kepada anak lain. Karena tidak tega melihatnya, Ishida pun merelakan sepeda miliknya dipinjam orang itu (yang ternyaata tidak dikembalikan). Ishida merasa kesal karena saat itu niatnya dia mau menemui Nishimiya. Tapi sewaktu ia di perjalanan pulang, cowok yang tadi ia tolong dari peminjam sepeda itu ternyata sedang berdiri di persimpangan jalan sambil menuntun sepeda Ishida! Lalu mulai saat itulah Ishida dengan cowok bernama Tomohiro Nagatsuka menjadi teman dekat.

Hari-hari selanjutnya dilalui dengan mudah dengan adanya Nagatsuka yang ceria disisi Ishida. Tapi tidak ketika ia ingin menemui Nishimiya yang langsung dihadang oleh orang bertubuh kecil yang mengaku pacar Nishimiya. Tapi berkat bantuan Nagatsuka, akhirnya Ishida bisa mengobrol dengan Nishimiya. Mereka mulai dekat dan tidak canggung. Ishida jujur pada Nishimiya kalau dirinya sedang mencari arti tentang pertemanan belakangan ini sebelum menemuinya kembali. Ia masih merasa bersalah atas apa yang dilakukannya di masa lalu.

Dari jauh, Nagatsuka dan orang yang mengaku pacar Nishimiya itu memperhatikan obrolan Ishida dan Nishimiya. Yang berakhir pada terceburnya Ishida dan Nishimiya ke dalam sungai karena usaha mereka untuk mengambil buku catatan milik Nishimiya yang terjatuh.

Besoknya Ishida disuruh menjemput adiknya Maria di TK. Disitulah ia bertemu dengan orang yang mengaku pacar Nishimiya. Karena keadaannya yang lemas akhirnya orang yang ternyata bernama Yuzuru (Seiyuu Aoi Yuuki) itu diajak pulang ke rumah Ishida dan menginap bersamanya (Ishida masih belum tahu kalau Yuzuru bukan laki-laki).

Di tengah malam, Yuzuru melarikan diri dari rumah Ishida. Setelah dikejar akhirnya Yuzuru mengaku bahwa dia adalah adik perempuan Nishimiya.


Film ini banyak menampilkan adegan yang menurut gue agak bertele-tele. Tapi selama film berlangsung, banyak adegan yang bikin penonton ketawa terus karena tingkah lucu dari tokoh-tokohnya terutama Nagatsuka yang kocak dan penyataan cinta Nishimiya kepada Ishida yang tidak tersampaikan dengan jelas.

Di seperempat film, emosi penonton mulai dibuat melow.

Ternyata Nishimiya juga merasa depresi dan sering kali berniat bunuh diri. Makanya Yuzuru selalu ada didekatnya dan menjaganya sampai dia tidak masuk sekolah.

Saat festival kembang api, Ishida menontonya bersama dengan ibu dan kakak beradik Nishimiya. Saat itu Nishimiya izin pulang lebih dulu. Tapi karena Yuzuru minta tolong diambilkan kameranya, Ishida pun pergi ke rumah Nishimiya dan malah menemukan Nishimiya yang sedang berdiri di pinggir balkon rumahnya.

Ishida sangat ketakutan dan berlari menuju Nishimiya yang kini melompat jatuh. Beruntung tangannya masih sempat menggapai Nishimiya. Namun sialnya, ketika mengangkat naik tubuh Nishimiya, tubuh Ishida malah berbalik jatuh dan mengakibatkan dirinya dirawat di rumah sakit beberapa hari.

Ibu Nishimiya merasa bersalah atas kejadian tersebut dan berlutut minta maaf pada ibu Ishida.

Setelah kesadarannya pulih, Ishida langsung menemui Nishimiya dan berkata bahwa dia akan membantunya untuk tetap hidup. Gue pikir disini mereka akhirnya akan jadian. Tapi ternyata engga genks. Film ini lebih ke arah persahabatan dan arti pertemanan yang sesungguhnya.

Ishida kembali ke sekolah pada saat di sekolah sedang berlangsung festival kebudayaan. Kedatangannya ke kelas langsung disambut oleh tangis haru Nagatsuka yang berkata bahwa ia tetap menjadi sahabatnya. Lalu film berakhir di adegan Ishida akhirnya berani untuk menatap wajah orang lain dan mendengarkan setiap suara yang dikatakan orang lain.



Jujur gue agak kecewa sama ending film ini yang menurut gue nanggung banget. Atau mungkin sang produser emang ngga berniat menghapus air mata penonton setelah selesai menonton. Jadi emosi kita masih sedih dan air mata belum kering eh film udah abis aja. Untuk lebih lengkapnya sih enaknya baca manganya aja. Ada sekitar 32 chapter yang dijamin bakal lebih dalem lagi menyayat hati. Tapi untuk memainkan emosi, film ini patut diacungin jempol deh.
For me this is 3.5/5

Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--