Rabu, 06 September 2017

Berkunjung Ke Tiang Tertinggi Di Jawa Barat | Gunung Ciremai, 2017


Halllooo pecinta ketinggian!!

Dalam postingan kali ini gue akan menceritakan pengalaman seorang newbie kayak gue mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung Ciremai. 



Gunung yang punya ketinggian puncak mencapai 3.078 mdpl ini menjadi gunung kedua yang gue daki.

Ada beberapa jalur pendakian resmi, yaitu Apuy, Linggarjati, Linggasana dan Palutungan. Katanya sih jalur Linggarjati dan Apuy adalah jalur yang paling macho karena kalau Linggarjati jalurnya panjang dan menanjak dan Apuy cenderung lebih pendek tapi tanjaknya juga ngeri. Wah, agak serem sih ya pas denger kayak gitu. Tapi Palutungan juga ngga kalah menantangnya. Durasi mendakinya juga ngga main-main guys. Kalo Linggasana itu jalur baru yang katanya juga adalah yang paling wah diantara yang paling wah.



By the way, kali ini gue tidak mendaki bersama anak-anak mapala dari temen kelas gue di kampus, tapi sama temennya kakak ipar gue yang kebanyakan cowok semua. Awalnya gue merasa aman lah ya, karena bukan hanya karena mereka bisa diandalkan, tapi juga karena mereka semua sudah sering mendaki gunung dan tidak diragukan lagi ke-senior-annya. Akhirnya gue pun join tim Ciremai mereka kali ini (Dan juga karena temen mapala gue udah pernah kesini sebelumnya, dan mereka tidak mau kesana untuk kedua kalinya, jadi ya gue harus cari teammate lain untuk kesini).

Setelah dikirimkan itinerary dari salah satu anggota tim, gue cuma baca sekilas-sekilas aja. Tapi pas mau nandain kalender untuk nentuin tanggal cuti kerja, gue tercengang. Ternyata kita akan naik lewat jalur paling macho se-Ciremai, yup Jalur Linggarjati.

Jujur aja saat itu gue bukannya takut. Tapi malah excited luar biasa.


Dan hari H pun tiba lebih cepat tanpa gue sadari...

Berangkat

Kita janjian di meeting point jam 8 malem. Tapi baru bener-bener jalan ke Majalengka jam 10 malem. Gue dan yang lainnya menitipkan motor di rumah Bang Janu di daerah TB Simatupang. Dan berangkat dengan mobil sewaan. Kayaknya sih biar besoknya ngga usah ganti mobil lagi gitu. Entahlah gue cuma ikut-ikutan doang.

Sampai di rumah Bang Ali di Majalengka sekitar jam 1 dinihari. Sampai disana kita sepakat untuk re-packing dan istirahat sebelum paginya berangkat ke basecamp.


Menuju Basecamp

Setelah solat subuh dan beres-beres, kami pun berangkat menuju ke basecamp pendakian. Pas lewatin jalan liku-liku yang mulai sempit dan hanya muat satu mobil (jadi kalau ada mobil dari arah berlawanan, kita harus berhenti dulu dan ngasih mereka lewat) mobil sewaan kami mulai menolak karena takut tidak kuat dan sebagainya. Akhirnya kami diturunkan di depan sebuah masjid dan melanjutkan perjalanan menuju basecamp dengan jalan kaki.

Sekitar 10 menit jalan kaki, kami berkali-kali ditawari sewa mobil sampai ke basecamp. Salah seorang bapak penyewa mobil angkut sayur menyebutkan kalau jarak antara basecamp dari tempat kami berjalan itu sekitar 5 KILO! belum lagi karena kami juga ternyata NYASAR. Dan bisa-bisa ditempuh dengan 2 JAM jalan kaki (itupun kalo ngga gempor di jalan). Akhirnya setelah nego sana sini, kami pun memutuskan untuk menerima tawaran si bapak dengan mobil angkut sayurnya.



Basecamp Jalur Apuy

Selama perjalanan dari tempat kami nyasar ke basecamp, gue terus bertanya-tanya serius nih kita lewat Linggarjati? Kok gue makin gak sabar ya?

Dan akhirnya mobil berbelok ke sebuah pos dan ternyata kita akan naik lewat jalur Apuy. jalur paling pendek untuk pendakian Gunung Ciremai. Gue juga saat itu belum tau soal jalur Apuy. Karena gue pikir kalo ngga lewat Linggarjati ya lewat Palutungan.

Singkat cerita, setelah sampai basecamp sang Leader Bang Bobi pun mendaftar di loket pendaftaran. Untuk tarif per orang nya adalah Rp. 43.500,- (kalo ngga salah). Sudah termasuk simaksi, sertifikat pendakian dan satu kali gratis makan di salah satu warung di basecamp. Di loket juga kita disuruh isi daftar bawaan yang akan jadi sampah dan boleh menulis tulisan-tulisan alay di kertas, tapi ngga boleh bawa alat tulis ke atas.


Denger kata 'makan gratis' kami pun langsung menuju warung dan minta makanan. Nunggu cukup lama sih sampe makanan kita ber-delapan keluar dari dapur. Menu yang diberikan adalah nasi+telor ceplok+gorengan. Tapi nikmat banget loh rasanya, karena bagi kami yang penting ada nasi kan?

Hal lucu pertama adalah, kami menyelundupkan nasi kami yang tidak habis saat sarapan tadi ke dalam keril Mba Hera dan bikin si ibu warung kebingungan kenapa bisa kita ngabisin semuanya. Hihihi.

Di gerbang pendakian menuju pos 1 ditulis sebuah banner yang katanya 'kalo ngga siap daki, mundur sekarang juga' intinya begitu.




Pos 1

Ini pertama kalinya gue mendaki bukan dengan orang yang bener-bener gue deket. Dan mereka semua umurnya pun jauh di atas gue. Canggung sih sebetulnya awalnya karena pada dasarnya gue ngga tau mereka biasanya kalo  naik gunung kayak gimana. Jadi awalnya gue merasa kayak gue ikutan open trip gitu. Tapi gue coba enjoy dan bawa santai aja, plus, mereka juga sebenernya ngga sekaku yang gue pikir.



Perjalanan dari basecamp ke Pos 1 ngga makan waktu terlalu lama. Kayaknya cuma sekitar 30 menit kita udah sampe di Pos 1.

Pos 1 berupa tanah lapang yang muat kita-kita 4 tenda ukuran 4 orang dengan sebuah pendopo yang nyaman loh buat istirahat. Tapi perjalanan baru mulai, jadi kami ngga terlalu lama istirahat di Pos 1. Karena belum terlalu capek juga sih. Walaupun gue dah minum berkali-kali.


Pos 2

Kalau pas perjalanan dari basecamp ke Pos 1 jalannya masih ada yang beraspal dan cenderung halus, perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 ngga semulus itu. Batu dan pasir khas gunung Ciremai udah mulai menyapa sepatu-sepatu kami. Trek pun makin menanjak vertikal. Dan durasi pendakian mulai jadi lama. Berkali-kali satu per satu dari kami minta break untuk narik nafas dan minum (kalo gue selama perjalanan selalu diiringi minum seteguk-seteguk)

Maklum, gue ini tekanan darahnya rendah banget. Jadi sebelum nanjak gue periksa kesehatan dulu dan saat itu tekanan darah gue lagi bener-bener rendah. Dokternya awalnya malah ngga mau ngasih izin. Tapi karena gue bilang gue ngga suka pusing (padahal mah iya) akhirnya dia pun mengizinkan. Tapi gue ngga bisa dehidrasi terlalu lama. Jadi tugas gue harus terus menjaga tubuh gue agar tetap terhidrasi dengan baik. Supaya pandangan ngga tiba-tiba kabur dan kaki tiba-tiba lemes.

Untungnya saat mau nanjak gue udah lagi latihan fisik juga buat 5K Run minggu berikutnya. Jadi untuk urusan atur nafas bukan sesuatu yang terlalu susah buat gue saat itu. Tapi tetep aja, karena saat itu gue bawa keril kapasitas 55+10 liter (dan ternyata di dalemnya ditambah logistik banyak banget) gue pun akhirnya nyerah dan minta tukeran keril sama Bang Anas yang bawa keril lebih mini dari gue.

Setelah melewati php tulisan 'Pos 2 20 menit lagi', setengah jam berikutnya kita sampe di Pos 2.


Pos 3

Setelah istirahat singkat di Pos 2, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 3. Nah disini nih gue mulai ngerasa jalurnya makin nanjak dan durasi perjalanan makin panjang. Baju gue udah basah dua-duanya (manset dan kaos).



Sampe di Pos, Bang Bobi dan yang lainnya solat zuhur (saat itu gue dan Mba Hera lagi ngga solat) setelah itu makan siang ala kadarnya. Disini istirahat kita paling lama di antara di pos yang lainnya. Karena udah pertengahan hari juga, matahari mulai panas. Tapi tiba-tiba kabut turun dan bikin gue kedinginan luar biasa. Gunung emang ngga pernah bisa ditebak ya.

Selama nunggu yang lain masih istirahat, gue lompat-lompat, bolak balik gak jelas supaya bikin badan gue tetep hangat. Karena sumpah itu dingin banget.


Pos 4

Pas memutuskan untuk lanjut perjalanan, gue adalah orang yang paling semangat. Karena kalo lanjut nanjak lagi, dinginnya sedikit berkurang. Walaupun hausnya malah bertambah.

Perjalanan ke Pos 4 kami semakin sering break. Jalur yang kita lalui pun terus menyempit sampai samping-samping jalur kita kalau ngga tebing batu kapur berpasir ya akar-akar pohon. Juga, banyak tanjakan yang kita naiknya harus pegangan tali yang disediain (ini part favorit gue, karena berasa kita lagi latihan ninja).

Singkat cerita, akhirnya kita sampai di Pos 4. Disini gue mulai capek banget sampe-sampe ada saat dimana satu tim TIDUR SEMUA! And noone can help us from sleepling in the track.


Pos 5 (Camp)

Satu-satunya alasan kenapa gue masih semangat waktu ngelanjut nanjak dari Pos 4 ke Pos 5 adalah karena gue sambil membayangkan suasana kemping dan makan mie instan di tenda. Yang lain pun sepertinya sama. Mereka udah pada pengen banget ngopi belum lagi beberapa kelompok pendaki lain kayak main kejar-kejaran sama kami, rasa kompetitif kami meningkat drastis. Tapi apa daya, ketika kami semua semangat, jalur yang di depan kami semakin terjal.

But finnally we did it! Kita sampai di Pos 5 dan langsung mencari tanah lapang untuk banting keril. Tim langsung terbagi menjadi 2 bagian dengan sendirinya. Gue sukanya dari tim ini tuh gitu. Ngga pake disuruh-suruh semuanya peka sama tugasnya masing-masing. Gue sih langsung gabung sama tim masak, karena mengharapkan adanya sedikit kehangatan dari kompor anti-badai milik Bang Bobi. Tapi ternyata ngga guys, GAK ANGET SAMA SEKALI!

Hampir Hipo

Disinilah bencana itu mulai gue rasakan. Bukan bencana alam tentu. Tapi gue merasa kedinginan gue semakin ngga wajar. Kulit gue serasa ditusuk-tusuk dan jantung gue berkali-kali kayak mau keram otot gitu rasanya. Sesak nafas dan gue ngga bisa menstabilkan irama tarikan nafas gue sendiri. Padahal yang lain biasa aja.

Gue akhirnya masuk ke tenda dan make jaket. Tenda nya belum jadi sebetulnya. Matras juga belum dipasang. Tapi gue ijin sama yang lain dan bilang kalo gue kedinginan. Akhirnya setelah selesai pasang matras dan masukin keril ke tenda, gue pun ijin tutup tenda untuk ganti baju. Sumpah ya ternyata masalahnya ada sama kaos luaran lengan pendek gue. Manset di dalemnya udah hampir kering, tapi kaosnya yang basah banget bikin badan gue jadi nyerep dingin berkali lipat. Gue langsung merasa mendingan pas ganti baju dan balurin badan pake minyak kayu putih. Ngga lupa pasang koyo di idung biar gue bisa lebih enak bernafas. Sesaat tadi itu gue merasa kalo gue ngga cepet-cepet ganti baju, gue akan beneran kena hipotermia.

Ketemu Babi Lagi

Setelah kenyang, kami pun saling mengisi tenda. Tenda pertama berkapasitas 5 orang diisi Bang Bobi, Bang Janu, Bang Anas, Bang Ali dan Bang Adit. Di tenda yang lebih kecil diisi sama gue, Mba Hera dan Bang Sam. Habis itu semua langsung sunyi dan terlelap.

Sekitar jam 8 malem (gue selalu tidur dengan pake jam tangan kalo lagi ngga di rumah, bahkan di rumah sodara gue sekalipun) gue merasa harus buang air kecil. Gue terbangun dan bersiap mencari headlamp. Tanpa sengaja ternyata Bang Sam juga bangun dari tidurnya. Gue pun pamit sama dia yang lagi ngoles-ngolesin hot n krim ke kaki untuk keluar tenda buat pipis. Udara dingin menampar gue saat itu juga. Tapi di luar bintangnya banyak banget. Sumpah gue paralyze pas liat bintangnya.

Gue mulai mencari-cari tempat yang enak buat pipis. Kebetulan saat itu ada satu kelompok yang baru lagi bikin tenda. Jadi gue harus nyari tempat yang sekiranya ngga keliatan sama mereka. Gue berjalan ke belakang tenda kelompok gue yang berupa semak-semak dan kayaknya emang tempat favorit buat buang air di pos itu. Tapi sebelum mendekat, gue kok kayak liat ada yang nyala-nyala ya dari balik semak-semak? Gue pun menyenteri bagian itu dan menemukan lebih banyak lagi sesuatu yang nyala-nyala. Ngga lama gue perhatikan, sesuatu itu gerak-gerak. Saat itu gue yakin kalau sesuatu itu berpasangan dan bergerak bersamaan.

Gue mulai mondar-mandir buat ngikutin gerakan sesuatu itu. Dan terpikirlah kalo itu adalah pasangan mata. God, mata apaan tuh?

Mungkin karena risih ngeliatin gelagat gue yang aneh, cowok-cowok yang lagi bikin tenda akhirnya menegur gue.

"Mba kenapa?" Tanya salah seorang dari mereka.

"Aku mau pipis, tapi ada babi banyak banget deh disitu." Jawab gue santai.

"Babi?" Gumam salah satu dari mereka.

Kemudian salah satu dari mereka mencoba mengusir kerumunan babi itu. Tapi ngga lama, yang terjadi malah si babi-babi ini mendekat ke camp. Mereka agak sedikit kelimpungan sambil manggil-manggil 'ranger' untuk minta tolong (padahal kayaknya useless).

Awalnya gue udah mau nyerah dan mengurunkan niat untuk pipis dan lebih baik balik tidur lagi. Tapi rasanya udah ngga tahan lagi, guys! Secara ya, udah malem aja gue masih 'ausan' (read:gampang haus) dan ngga ada setetespun keringat yang gue keluarin buat bikin cairan tubuh gue keluar. Akhirnya gue pun bangunin Bang Sam yang kayaknya udah setengah jalan tidur lagi.

"Bang, temenin aku pipis dong. Ada babi nih." ucap gue.

"Ayo deh gue juga mau sekalian." jawab dia.

Akhirnya gue pun kembali mencari tempat yang enak buat pipis. Walaupun saat itu babinya udah ngga keliatan lagi, gue tetep parno. Sampe cowok yang lagi bikin tenda nyaranin kita untuk pipis dengan ditutupin matras. Gue langsung menolak dengan alasan ribet. Akhirnya gue pun pipis di belakang tenda (dan sampe pagi itu air pipis gue masih ada XD)

Setelah yakin semua air pipis udah gue keluarin, gue dan Bang Sam balik ke tenda dan tidur lagi. Sebelum terlelap, gue sempet denger cowok-cowok yang lagi bikin tenda masih berusaha ngusir-ngusir babi yang ternyata balik lagi. Tapi bagusnya sih, babi-babi itu ngga merusak kemah siapapun.


Muncak

Sebelum tidur, Bang Bobi si kapten udah ngasih tau kalo kita bakal muncak jam 4 pagi biar dapet sunrise. Entah karena sugesti atau apa, gue yang biasanya ngga pernah bisa bangun pagi, saat itu bangun jam setengah 4 dan mendapati Mba Hera juga udah bangun. Dia manggil-manggil cowok-cowok di tenda sebelah dari dalem tenda kita, tapi ngga ada satupun orang yang menjawab. Malah, kita dibales sama suara ngorok Bang Ali yang cetar membahana.

Akhirnya kita balik tidur lagi.


Muncak (Beneran)

Matahari udah nongol sedikit dan membuat kabut sedikit tersapu dari langit Pos 5 Gunung Ciremai via Apuy saat itu. Walaupun mulut masih ngeluarin asap waktu kita ngomong dan kaki masih menggigil kalo keluar dari Sleepin Bag, gue ngga sabar untuk keluar tenda dan merasakan udara pagi pegunungan yang tinggi dan jauh dari keramaian dan kemacetan kendaraan.

Awalnya Mba Hera udah males muncak karena menurutnya kalo ngga dapet sunrise ya mau ngapain ke puncak?

Tapi akhirnya setelah sarapan dan beres-beres, jam 8 pagi kita berangkat melanjutkan pendakian menuju puncak. Oh ya sebelum berangkat juga gue dan Bang Sam sempet ceritain kalo semalem kita dikelilingi sekerumun babi-babi.

"Aku sih liat kayaknya ada 4 atau 5 babi gitu. Gede nya sih cuma segini (sambil memberi sign tangan di depan dada selebar bahu lebaran dikit)." ucap gue

"Oh itu beneran babi? Semalem iya gue denger ada suara kresek-kresek sama ngok-ngok gitu. Gue pikir suara ngorok-nya si Ali." Ucap Mba Hera yang kontan aja bikin kita ketawa.

"Wah, berarti semalem gue ngobrol sama babi dong." Balas Bang Ali yang mengundang tawa lebih banyak lagi.



Perjalanan muncak ternyata lebih terjal daripada semua jalur yang kita lewatin di pos-pos sebelumnya. Disini sekarang kemiringannya luar biasa. Sampe kepleset tuh bukan suatu hal yang jarang. Tapiiii.. pasirnya nyaman banget karena rasanya sejuk. Belum lagi pemandangan yang makin tinggi kita nanjak, makin bagus aja kelihatannya. Awannya yang putih, angin yang bersahabat, mana bisa nyerah sekarang kalo gini??

Setelah berkali-kali di php-in pendaki yang turun kalo puncak 3 menit lagi, kami pun akhirnya sampe di tanjakan terakhir menuju puncak Gunung Ciremai pada ketinggian 3.078 mdpl yaitu puncak Majakuning.



(dari kiri) Bang Anas, gue, Bang Janu, Bang Ali, Mba Hera, Bang Adit, Bang Sam, Bang Bobi



Kami ngga terlalu lama berada di puncak. Karena matahari juga udah terlalu tinggi dan akan berpotensi menggelapkan kulit, akhirnya kami pun memutuskan turun.

Perjalanan turun ke camp emang lebih fun daripada perjalanan naik puncaknya tadi. Tapi rasa capeknya semuanya terbayarkan ketika sampe di puncak. Gue yang baru kali ini ke Gunung tertinggi di Jawa Barat ini pun sangat takjub dan bersyukur bisa menyempatkan diri berkunjung kesini.


Turun

Setelah yakin sudah membersihkan kemah kami, semua perabotan tidak ada yang tertinggal dan perut sudah terisi, kami pun memulai perjalanan turun.

Perjalanan turun berdurasi hanya sekitar 3 jam dari Pos 5 ke basecamp.

Sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke rumah Bang Ali, kami menyempatkan diri makan mie di warung tempat kemarin kami sarapan. Dan karena gue pengen punya kenang-kenangan, gue pun beli satu gantungan kunci ala Gunung Ciremai di warung tersebut.

Menurut gue, Pelayanan di Gunung Ciremai udah cukup bagus loh. Masuknya ngga ribet, penjaganya ngga terlalu neko-neko. Dan gue malah seneng pas tau ngga boleh bawa alat tulis ke atas. Karena setelah liat sendiri, di jalur banyak banget tangan-tangan jahil yang nulisin nama mereka di batu, pohon, kayu tumbang. Mulai dari nama sendiri, nama geng, sekolah, sampe username instagram. Ya Tuhan, rasanya pengen gue follow terus gue tag tuh orang pake foto tulisannya di batang pohon tadi.

Oh iya, di jalur ini sumber air cuma ada di basecamp ya. Buat kalian yang mau nanjak, pastiin kalo persediaan air kalian cukup selama nanjak sampai turun (terlebih kalo punya anggota yang ausan kayak gue).


Pulang

Setelah turun dari gunung, kami ber-delapan memutuskan untuk menginap semalam lagi di rumah Bang Ali. Karena kalo mau pulang pun akan kemaleman dan capek pula.

Perjalanan pulang kita naik bis umum. Penuhnya ya minta ampun deh. Belum lagi gue sendiri seharusnya masuk kantor jam 7 pagi di hari itu. Sedangkan jam 8 pagi aja gue masih ada di tol. Akhirnya setelah gue mendapatkan kembali sinyal yang hilang selama 3 hari itu, gue langsung ngabarin atasan gue kalo gue telat masuk kantor. Dan baru pada jam 11 pagi (atau siang) gue sampe di kantor tercinta dan langsung ganti celana kerja. Temen-temen mapala kampus gue sih pada bilang gue gila karena baru balik nanjak langsung kerja kayak gitu. Tapi ya mau gimana lagi kan? Tuntutan pekerjaan. Hahaha.

Sekian dulu cerita gue kali ini tentang gimana serunya newbie kayak gue mendaki Gunung Ciremai. Semoga gue dan kita cepet main lagi ke gunung. Karena secapek apapun perjalanan selama naik gunung, kegiatan ini selalu bikin kangen!


--D Ark R Ain Bow--

Jumat, 01 September 2017

#19YearsLater Epilog Harry Potter 7 with Indo Harry Potter


Hayoo siapa yang belom baca buku Harry Potter And The Deathly Hollows?? Buku yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 2008 ini pastinya sudah menjadi koleksi pribadi yang paling disayang deh. Belum lagi karena emosi yang dibikin melow sama JK Rowling sepanjang membaca halaman demi halaman, juga karena ini adalah seri terakhir Harry Potter yang kita kenal dari kecil ini.


**Lalu tahun 2017 terbitlah Cursed Child**

Ngga jadi berakhir dong ya??

Intinya tahun ini adalah tahunnya Epilog di HP7 berlangsung. Yaitu dimana Generasi Harry dkk mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah sihir Hogwarts. Sebetulnya sih lebih ke generasinya Albus Severus (anak dari Harry-Ginny). Karena saat itu dia baru masuk tahun pertama dan sedang galau kalau misalkan dia bakal masuk asrama Slytherin keluarganya akan gimana (cerita lebih lengkapnya silakan baca sendiri bukunya).

Nah, kali ini komunitas Indo Harry Potter mengadakan event berupa foto-foto dan petrificus totalus challenge (semacam manekin challenge gitu) dalam rangka epilog 19 tahun setelah Hogwarts battle.

Acara ini diadakan di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Jadi konsepnya kayak berasa di King's Cross gitu. Ada lokomotif dan peron. Dan murid-murid berseragam Hogwarts yang siap-siap berangkat ke sekolah.



Acara ini diadakan pada tanggal 27 Agustus 2017. Sedangkan untuk posting foto dan video-nya direncanakan akan dilakukan tepat pada tanggal 1 September 2017. Dan kira-kira begini lah hasil selfie dan wefie yang kami dapatkan.
















Selain foto-foto, ada juga games puzzle. Dan kali ini Gryffindor menang!! Yeay!!



Gimana?? Seru kan?? Iya dong. Seru banget!! Pokoknya nyesel deh kalo ngga ikutan.

~nox

--D Ark R Ain Bow--


This entry was posted in

Rabu, 30 Agustus 2017

22. Guerrilla ~~ The Little You Know The Little Chance You'll Die



Aku tidak takut pada musuhku. Karena aku percaya ada yang lebih berbahaya daripadanya.


Weekend berlalu sangat cepat. Entah terkadang aku merasa waktu berputar sangat cepat, kadang sangat lambat. Mungkin karena hal-hal yang terjadi di hidupku selalu berbeda setiap harinya. Bukan hanya seorang mahasiswi yang kerjanya kuliah dan nongkrong menghabiskan uang orangtua, banyak hal seru yang biasanya aku lakukan. Dan lebih lagi karena aku tidak punya orangtua untuk kumintai uang.

Selama akhir pekan kemarin, Diva sama sekali tidak menghubungiku. Untung saja Keenan menghiburku dengan adanya Marleen. Tapi tetap saja ketika aku tiba di rumahku yang kosong, pikiranku selalu kembali pada Diva.

Banyak orang yang berpikir mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Aku pun tak mengerti perasaan jenis apa yang kurasakan untuk sahabatku itu. Kadang aku merasa terlalu memonopoli kehidupannya. Dan dia membiarkanku melakukan itu sampai Doni datang dan memisahkan kami berdua.

Aku kembali melihat ke layar ponselku. Sudah sekitar 36 pesan yang kukirim ke ponsel Diva dan 54 kali missedcall-ku terabaikan. Aku mulai kesal dengannya. Tapi aku tidak bisa begitu saja menemuinya. Bagaimana kalau ternyata disana ada Doni? Habislah aku jika tanpa persiapan apapun.

Tubuhku terasa sangat berat. Kurasa aku kurang olahraga belakangan ini. Kekuatanku terus menurun. Kalau begini terus, Mr. dan Mrs. Killian tidak akan pernah mengadopsiku sebagai tim mereka.

Aku berbaring di kamarku. Kembali ke tempat tidur yang keras dan dingin. Pikiranku sangat random kali ini. Dan aku masih harus memikirkan pernikahan Candice yang sebentar lagi. Tiga hari dari hari ini ia dan calon suaminya akan tiba di rumahku. Aku harus menyiapkan kejutan untuknya. Dan tentu saja membantu persiapan acara pernikahan mereka.

"Baiklah, aku akan mulai beres-beres rumah." Ucapku pada diriku sendiri.

***

--Doni's POV--

"Sayang, Sheerin udah banyak banget spam handphone aku loh. Aku diemin aja nih? Nanti kalo ketemu dia di kampus aku mesti ngomong apa?" Ucap Diva di perjalanan kami menuju kampus.

"Tenang aja. Hari ini dia ngga akan ngampus. Jadi nanti siang kita ke rumahnya." Jawabku.

"Masa sih? Kamu tau dari mana?" Tanya Diva.

"Intuisi?" Ucapku singkat.

Jalanan hari ini lancar sekali. Sepertinya agak aneh karena ini masih hari Senin. Tapi aku tidak terlalu memikirkan jalanan yang sepi ini. Otakku kembali sibuk mengurusi masalah Sheerin dan rahasia kecilnya. Tapi aku yakin dia tidak akan masuk kuliah. Dia habis bersenang-senang bersama pacarnya kan?

***

"Yups selesai juga. Sheerin sangat luar biasa dalam hal membersihkan masalah." Ucapku memuji diri sendiri. Kurasa aku memang  pantas mendapat pujian itu. Membersihkan sebuah rumah 3 lantai dalam waktu 2 jam bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan bagi sebagian orang. Kemungkinan besar mereka menyewa orang lain untuk membersihkan rumah mereka. Padahal kan kalau orang lain yang membersihkannya, bisa jadi rahasia dan barang-barang koleksi pribadi mereka tersentuh tangan-tangan tidak profesional.

Ting tong

"Seperti suara bel." Ucapku sambil mengipaskan sebuah majalah lama di depan wajahku.

Ting tong

"Hei itu memang suara bel rumahku. Siapa yang membunyikannya? Keenan kan tidak perlu bunyikan bel untuk masuk ke rumah. Apa orang-orang kompleks lagi? Tapi kan buah-buah dan makanan masih banyak. Atau?"

Aku segera mungkin menuju ke pintu utama rumahku. Gerbangnya memang tak pernah kukunci, tapi untuk beberapa hal seperti membersihkan rumah, aku selalu mengunci pintu utama rumahku. Untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang mengganggu saat aku menelaah kembali barang-barang penuh nostalgia milikku.

Aku mengintip lewat lubang kunci.

Sial, ini kan pintu model baru. Lubangnya bahkan tidak bisa kupakai untuk membuat kunci duplikat sederhana. Dan aku tidak pernah sempat membuat lubang intip karena sudah lama sekali rumah ini tidak kehadiran tamu.

Aku membuka pintu perlahan. Memang aku bukan tipe orang yang gampang panik dan takut. Tapi kali ini aku merasa harus sedikit waspada pada apapun yang ada di balik pintu. Wajahku panas, lalu..

Ada seseorang yang menubrukku. Dia mendekapku dalam pelukannya erat sekali. Sampai aku tidak sempat menarik nafas.

"Sayaaang, maaf aku ngga sempat hubungin kamu. Handphone-ku tertinggal di Doni dan aku mabuk semalam. Kamu kenapa ngga kuliah?" Diva memborbardirku dengan kalimat khawatirnya yang biasa. Walaupun aku merasa ada sesuatu di nada suaranya. Aku tahu dia tidak mabuk semalam, sebab kalau ya, dia tidak akan seceria ini. Dan aku tahu ponselnya tidak tertinggal di Doni, karena aku melacak gps ponselnya berada di kawasan rumahnya. Kenapa dia bohong padaku?

Lalu dia melepaskan pelukannya.

Aku mulai bisa bernafas lagi. Namun tersekat lagi ketika kulihat Diva tidak datang seorang diri. Apa yang dilakukannya disini?!

Laki-laki itu menatapku dengan tatapan santai dan tanpa emosi. Namun aku tahu betul di dalam hatinya tersimpan begitu dalam kebencian. Dan sekarang dia sudah tahu tempatku tinggal. Baiklah Sheerin, tetap tenang. Yang penting dia tidak  tahu kediaman keluarga Killians.

Aku menyunggingkan senyuman di bibirku. "Silakan masuk kalian." Ucapku mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah.

"Kalian datang tepat waktu loh. Aku baru selesai beres-beres rumah." Ucapku.

"Jadi kamu ngga masuk kuliah karena bersih-bersih rumah?" Tanya Diva.

"Begitulah, Candice akan pulang dua hari lagi. Jadi aku harus siap-siap kan?" Ucapku. "Sebentar, aku ambilkan kalian minum dulu."

"Ngga usah Sher, tadi sebelum kesini aku sama Doni mampir beli kopi dulu. Nih." Diva menyodorkan segelas es kopi padaku.

'Dia ngga sebodoh dulu rupanya.' Ucapku dalam hati. Tidak menerima makanan atau minuman dari musuh itu adalah salah satu hal baik yang harus dilakukan setiap orang.

Lalu kami bertiga duduk bersama di ruang tamu. Aku baru ingat. Mereka belum kuberitahu soal Candice yang akan menikah sebentar lagi. Atau apakah aman kalau aku mengundang mereka berdua? Tapi pasti akan janggal kalau tidak diundang kan?

"Candice mau pulang?" Tanya Diva.

"Ya. Bersama calon suaminya." Jawabku.

Raut wajah Diva berubah terkejut. Tapi tetap senang. "Candice akan menikah?" Tanyanya.

"Ya, minggu depan." Jawabku.

Kini wajah Diva menjadi bersemangat sekali. "Lihat sayang, bukan cuma kita yang akan berbahagia." Ucap Diva pada Doni.

'Berbahagia'? Pikirku dalam hati. "Maksud kamu, Va?" Tanyaku.

Diva tersenyum sambil melambaikan tangan kirinya. Menunjukkan jemarinya yang panjang dan pada salah satu jarinya kulihat sesuatu yang tidak kulihat sebelumnya. Sebuah cincin berwarna perak bermata berlian sederhana terpasang di jari manis-nya.

"Doni melamarku." Ucap Diva senang.

'Apaaa??!!!!' Ucapku dalam hati.

"Jadi kamu mengambil Diva milikku?" Ucapku pada Doni dengan emosi berapi-api.

Diva tertawa. Dia pikir aku hanya bercanda berkata demikian. "Sheerin, setiap burung pasti akan terbang pada akhirnya." Ucapnya ceria.

"Tapi kamu bukan burung, Diva. Kamu ngga bisa tinggalin aku." Ucapku. Aku tahu ini adalah reaksi yang diharapkan Doni. Tapi mengetahui Diva telah menerima lamarannya, aku menjadi sulit mengendalikan emosiku.

"Sher, kamu ngomong apa sih. Aku ngga akan tinggalin kamu. Kita kan tetap sahabat. Sampai aku dan Doni menikah, sampai kamu dan Keenan menikah, sampai kita punya anak pun kita tetap sahabat, Sher." Ucap Diva.

'Aku harus tenang.' gumamku dalam hati sambil menstabilkan detak jantungku.

Aku tersenyum pada mereka berdua. "Ahahaha maaf aku hanya kaget sekali tadi. Kalian sangat cepat mengambil langkah. Aku dan Keenan saja belum terpikirkan sampai kesana." ucapku seraya tertawa kecil.

"Keenan harus belajar dariku kalau begitu." Ucap Doni dengan senyum palsu tampak jelas di wajahnya.

Aku membalas senyum palsunya. "Ahaha, ya kamu sangat agresif ternyata." Balasku. Yang kumaksud 'agresif' di kalimatku adalah bukan berarti dia benar-benar ingin menikahi Diva, tapi dia benar-benar ingin membalas dendam padaku dengan menggunakan satu-satunya sahabat yang kupunya.

Aku kembali menoleh ke Diva. "Selamat untuk kalian berdua kalau begitu. Dan jangan lupa datang ke acara Candice ya." Ucapku.

"Tentu." Jawab Diva berseri-seri.

Kami terdiam beberapa saat untuk meminum kopi kami. Aku hampir bisa mengetahui rencana yang sedang dijalankan Doni. Tapi kenapa sampai melibatkan perasaan Diva? Harusnya urusan ini hanya antara aku dan dia kan?

Aku memutar-mutar gelas kopi dalam genggamanku. Diva sedang mengecek handphone-nya sementara Doni memperhatikan gerakkanku. Aku tahu dia sedang menimbang langkah selanjutnya yang harus ia ambil. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari luar rumah. Klakson mobil yang tidak kukenal. Siapa lagi yang bertamu ke rumahku?




আPrevious: Clink and Scream


আNext: The Brighter Dark




Kamis, 10 Agustus 2017

#GJUI23 Gelar Jepang Universitas Indonesia ke-23, 2017



Konnichiwa Mina-san!!

Gelar Jepang Universitas Indonesia kembali lagii!! Calling all of otakus and weaboos around Depok. Festival kebudayaan Jepang kali ini mengambil tema 'Japan In Harmony' dengan menggabungkan unsur kebudayaan, pendidikan dan seni.



Btw tahun ini adalah tahun pertama gue menghadiri acara GJUI. Karena keterbatasan waktu dan informasi, makanya yang sebelumnya gue selalu ketinggalan. Duh.

Ada banyak banget lomba dan workshop yang diadain untuk meramaikan acara ini. Diantaranya ada lomba cosplay, karaoke, komik, dance cover, ada juga seminar nail art, seiyuu, beauty class dan masih banyak banget yang lainnya.

Gue dateng di Day 2 GJUI di Pusat Studi Jepang UI sekitar jam setengah 5 sore. Dan itu setengah jam sebelum acara hari itu tutup. Akhirnya gue cuma muter-muter liat panitia dan penjual merchandise beberes.

Oleh-oleh dari Late Coming GJUI23 Day 2

Besoknya, gue dateng lagi ke GJUI Day 3 yang diadakan di Boulevard UI jam 3 sore (acaranya dari pagi btw). Sebenernya sih gue agak nyesel juga dateng jam segitu. Selain antriannya yang ngga nahan, ngga puas juga kalo gak ngikutin acaranya dari pagi. Tapi ya apa boleh buat ye gak. Yang penting bisa dateng dan liat Yumi perform.

Di hari ketiga, acaranya makin banyak dan seru-seru. Kebanyakan perform dari guest star sih. Jadi dibanjiri band dan penyanyi Anisong gitu.

Gue sempet menyaksikan perform dari band-band dan penyanyi di bawah ini:

Hydra~ 69-II (ViViD cover)


Henohenomoheji - Peace Sign (Kenshi Yonezu/OST Boku no Hero Academia)


YUMI ~and Tanaka band - Rising Hope ( LiSA cover )


REDSHiFT

Sebenernya gue ada disana sampe acara selesai. Tapi karena perform yang gue tunggu cuma sampe Redshift, jadi sisanya gue mulai menjauh dari area stage (karena sudah mulai haus juga sih XD).

Ini pas Enka Girls perform










Hasil berburu Day 3
Well, menurut gue panitia GJUI sudah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Acaranya bisa dibilang sukses besar. Dan antusias semua orang yang dateng di acara ini juga ngga bisa dianggap biasa. Mereka semua luar biasa. Keren deh pokoknya. Gue ngga nyesel sama sekali ikut acara ini. Dan semoga di tahun berikutnya tambah keren lagi.

Sekian.

Jaa ne~

--D Ark R Ain Bow--



Senin, 31 Juli 2017

#HappeeBirthdaeHarry With Indo Harry Potter, 2017



First of all,
Happy Birthday J.K Rowling!
Happy Birthday Harry Potter!
Happy Birthday Neville Longbottom!

Sebetulnya sih mereka bday nya tanggal 31 Juli, tapi berhubung pada tanggal tersebut jatuh pada hari Senin, maka perayaan HBH (Happy Birthday Harry) oleh komunitas kesayangan kita Indo Harry Potter dilaksanakan pada 30 Juli 2017 kemarin.


Acara ini bertempat di Warunk Upnormal Tebet. Ruang privat lantai 3 yang menurut gue konsepnya sesuai banget sama acara Harry Potter. Lighting nya temaram-temaram gitu dengan empat meja yang mewakili asrama-asrama Hogwarts yang bikin kita berasa ada di Great Hall Hogwarts beneran.

Yang spesial banget dari gathering IHP kali ini adalah dengan kedatangan dua orang tamu yang luar biasa penting dalam kelahiran buku Harry Potter versi Indonesia cetakan terbarunya. Yaitu sang Editor buku Harry Potter Dini Pandia dan sang Ilustrator cover terbaru buku Harry Potter versi Indonesia Nicholas Filbert Chandrawienata.



Yang sedikit menyebalkan, (as usual) acara ngaret cukup lama. Pertama, mulainya molor sekitar setengah jam. Kedua, tim Gryffindor lama banget nyelesaiin game puzzle (gue termasuk anak tim Gryffindor btw XD-susah banget loh puzzlenya). Dan itu bikin beberapa games harus ditiadakan.

Puzzle anak Gryffindor yang katanya 'susah' banget ini XD


Tapi kita mendengarkan Sang editor dan Sang Ilustrator bercerita gimana seru nya proses cetak ulang Buku Harry Potter yang ditujukan untuk para pembaca generasi baru ini. Gimana repotnya dapet Approval dari pihak di Inggris, dan ide-ide untuk akan nampilin apa di cover baru.

Intinya sih, konsep dari cover baru buku ini itu terdapat di Beasts-nya. Jadi yang jadi center gambarnya adalah para Beasts yang muncul di setiap bukunya. Tapi yang bikin 'repot' menurut mereka berdua adalah, beasts yang ditampilkan tidak boleh memberi kesan Spoiler. Nah loh.

Setelah itu ada Live Drawing dari Nick Filbert. Dan hasilnya bagus parah. Ngga bohong deh kalo hasil gambar langsung nya aja udah bisa dibikin buat cover buku Harry Potter yang lain XD.



Pokoknya acara HBH ini bisa dibilang sukses deh. Rasa excited dari awal acara sampe akhir dan pulang ke rumah itu masih berasa. Dan buat gue pribadi, ketemu sama editor dan ilustrator dari buku tercinta itu sesuatu yang ngga bisa dilakuin tiap hari. (walaupun jujur gue belum beli buku cetakan barunya, hehe). Tapi setelah ini gue rasanya pengen buru-buru ke Gramed dan borong semua bukunya. Eh ngga deng, miris liat isi dompet satu-satu aja belinya.

Akhirnya, pokoknya kalo acara yang bersangkutan sama dunia sihir Harry Potter buat gue menarik dan seru deh. Suasana dimana kita bebas berekspresi mengenai sesuatu yang disukai dan semua orang di ruangan itu juga suka tuh bener-bener WAAH. See ya next time!



~Nox

--D Ark R Ain Bow--
This entry was posted in

Jumat, 14 Juli 2017

What if you had a Tsundere girlfriend?


Pernah bayangin ngga sih kalo kalian punya seorang pacar yang sifatnya tsundere banget (btw pacar beneran yang gue maksud ya, bukan 2D).



Sebelumnya, apa sih Tsundere itu??


Tsundere (ツンデレ?) adalah salah satu bentuk proses pengembangan karakter Jepang yang menggambarkan perubahan sikap seseorang yang awalnya dingin dan bahkan kasar terhadap orang lain sebelum perlahan-lahan menunjukkan sisi hangat kepadanya. Kata ini berasal dari kata tsun tsun (ツンツン?) yang berarti membuang muka dengan sebal, dingin dan serba acuh.Ditambah dere dere (デレデレ?) yang berarti menjadi penuh kasih sayang atau sedang jatuh cinta.[1] Selain itu, kata ini juga dipakai untuk menggambarkan seseorang yang "biasanya menunjukkan sikap dingin, namun di depan orang yang disukainya, sikap tersebut berubah menjadi penuh kasih sayang. Sungguh terasa perbedaan sikap ini." Bagi yang pernah merasakan sikap Tsundere ini, tentu saja merasa sedih, karena kerap menjadi bingung. (wikipedia)

Gak gampang sih buat tahu seseorang itu Tsundere atau ngga. Menurut gue pribadi untuk tahu apakah pacar kalian Tsundere itu butuh pihak ketiga biar pandangannya lebih objektif. Karena sifat Tsundere cenderung bertolak belakang antara sifat yang ditunjukin ke orang yang mereka suka dengan sifat asli orang itu.


Tsundere sendiri tidak berarti selalu cewek ya. Ada juga loh cowok yang bersifat Tsundere. Justru malah kalau di dunia nyata kebanyakan yang Tsundere itu cowok. Yang cuek nya minta ampun tapi so sweet nya juga minta ampun.


Pertama banget kita kenal sama cewek Tsundere dia biasanya kasar banget sama kita. Entah dari sikap maupun omongannya. Seakan-akan dia bener-bener benci sama kita dan bahkan ngga mau kenal kita.



Tapi begitu dia nyerah di depan orang yang disukanya, sifatnya langsung berubah drastis. Walaupun masih berkata kasar atau gengsi, cewek Tsundere bakal nunjukkin dirinya kalau dia suka sama seseorang. Dan hal itu lucu banget karena biasanya sifatnya jadi awkward dan terbalik banget sama sifat dia kesehariannya. Dan hal itu akan terjadi kalau posisinya sudah sangat terdesak keadaan. Karena cewek Tsundere punya cara unik sendiri untuk mengungkapkan perasaannya.

Juga, orang yang sifatnya Tsundere biasanya sangat setia lho sama pasangannya. Jadi walaupun mereka sering kasar sama pasangannya, mereka bukan orang yang mudah berpindah hati gitu <3



Jadi, kira-kira cewek /cowok kalian termasuk orang yang sifatnya Tsundere ngga nih?


--D Ark R Ain Bow--