Senin, 02 Maret 2015

Love, Rosie




Awalnya gue kira film ini ngga akan tayang di Indonesia karna gue udah liat news di IMDb sejak tahun 2014. But fortunately, akhirnya pada bulan Februari di tahun 2015 ini, film yang dibintangi Lily Colins dan Sam Claflin pun tayang.


Cerita dimulai dengan Rosie (Lily Collins) yang sedang bersiap untuk berpidato. Awalnya gue ngga tau dia pidato untuk apa atau di acara apa, tapi nanti scene ini akan dilanjutkan di ending film. Alur pun mundur sampai ke 18 tahun sebelumnya, saat Rosie sedang merayakan ulang tahun ke-18 nya.



Saat itu Rosie sedang berdansa dengan Alex (Sam Claflin), sahabatnya sejak umur 5 tahun.
Saat sedang mabuk mereka tidak sengaja kissing, dan setelahnya membuat keduanya merasa tidak enak dan setuju untuk melupakan hal tersebut. Hubungan Alex dan Rosie memang sangat dekat bagai saudara. Alex mempunyai kebiasaan bermimpi menjadi benda-benda mati.












Setelah lulus sekolah, Alex berencana pindah ke Boston dan kuliah di Harvard University. Ia pun mengajak Rosie. Tapi pada saat pesta dansa di sekolahnya, terjadilah sesuatu yang membuat rencana Rosie untuk bersama-sama kuliah Boston menjadi gagal total. Rosie yang saat itu berkencan dengan Greg (Christian Cooke) dinyatakan hamil. Tapi ia belum mau menceritakannya pada Alex karena ia merasa tidak mau mengganggu kebahagaian Alex yang saat itu sedang berpacaran dengan Bethany (Suki Waterhouse). Hingga pada saat keberangkatan Alex ke Boston pun Rosie tidak bilang apa-apa tentang kehamilannya pada Alex.


Rosie bertemu dengan Ruby (Jaime Winstone) di sebuah toko obat yang menyarankannya untuk tes kehamilan. Sejak saat itu Rosie yang ditinggal Alex, menjadi dekat dan bersahabat baik dengan Ruby.

Awalnya Rosie ingin membiarkan anaknya diadopsi oleh yayasan sosial, tapi begitu bayinya lahir, Rosie berjanji akan merawat bayinya dengan baik. Selanjutnnya kegiatan Rosie diisi dengan menggendong bayi, mengganti popok, dan menyusui Katie--anaknya.




Kedatangan Alex ke rumahnya yang tiba-tiba mengagetkan Rosie karena ia masih belum memberitahukan apapun tentang Katie langsung panik. Namun ternyata Alex sudah tahu beritanya dari Bethany yang sempat bertemu dengan Rosie di jalan saat dirinya sedang mendorong kereta bayi Katie.









Sejak Alex tahu tentang Katie, ia justru mau menjadi ayah baptis dari Katie dan setiap natal, Alex selalu mengirimi hadiah untuknya. Saat itu ia tinggal dan berpacaran dengan Sally (Tamsin Egerton), adik dari Phil (Jamie Beamish) yang ia temui di bar beberapa waktu sebelumnya.

Saat Rosie sedang berkunjung ke apartemen Alex di Boston, ia diberitahu bahwa Sally sedang hamil. Dan Rosie pulang dengan perasaan kesal luar biasa pada Alex. Hubungan mereka sempat memburuk untuk beberapa waktu.



Alex dan Rosie mulai saling bicara lagi ketika Alex hadir ke pemakaman ayah Rosie. Namun mereka tidak bisa bicara banyak karena adanya Greg.



Hingga akhirnya Alex mengirimkan surat kepada Rosie yang gawatnya ditemukan oleh Greg yang langsung menyembunyikan surat tersebut tanpa memberitahu Rosie.



Sebulan kemudian Rosie mendapati Greg selingkuh. Rosie membuang semua barang-barang Greg dan menemukan surat Alex di laci Greg yang terkunci. Ia baru tahu ternyata Alex mencintainya seperti ia mencintai Alex. Ia langsung menghubungi Alex. Tapi ternyata yang membalasnya Bethany! Saat video calll, Bethany memberitahu Rosie kalau mereka akan segera menikah. Dan Rosie diundang ke pernikahannya.


Atas saran Ruby, akhirnya Rosie, Katie (Lily Laight), Ruby dan Toby (Matthew Dillon) menuju ke Boston dengan niat untuk menggagalkan pernikahan mereka. Sialnya penerbangan mereka ditunda. Dan membuat mereka tiba di gereja pada saat kedua pengantin selesai diikrarkan. Rosie hanya bisa menahan tangis dan berpura-pura bahagia untuk Alex dan Bethany.



Menyambung ke scene pidato Rosie di opening, ternyata ia sedang berpidato di acara pernikahan Alex dan Bethany. Dan ia mengungkapkan kalau dirinya selalu mencintai Alex.



Sekembalinya Rosie dari Boston, ia merealisasikan rencananya untuk memiliki hotel sendiri. Dan pada saat pembukaan, Alex datang sebagai tamu. Lalu ia mengungkapkan bahwa dirinya juga mencintai Rosie.


--D Ark R Ain Bow--
This entry was posted in

Senin, 23 Februari 2015

Zedd -- I Want You To Know Ft. Selena Gomez

      Saat sedang dikabarkan dekat dan pacaran, pasangan Zedd dan Selena Gomez merilis lagu duet mereka yang berjudul 'I Want You To Know". Menurut gue, ngga terlalu seperti lagu-lagu Zedd sebelumnya yang lebih kuat dan strong power banget, di lagu ini Zedd terdengar lebih lembut dan melodikal banget. (alaah--). Tapi part kesukaan gue adalah di opening. Terdengar kayak di game-game. Hihihi



I want you to know that it's our time

You and me bleed the same light

I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course



I'm slippin down a chain reaction

And here I go here I go here I go go
And once again I'm yours in fractions
It takes me down pulls me down pulls me down low



Honey it's raining tonight

But storms always have an eye have an eye
Tell me you're covered tonight
Or tell me lies tell me lies lies



I want you to know that it's our time

You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me we're the same force
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course



I want you to know that it's our time

You and me bleed the same light


I'm better under your reflection

But did you know did you know did you know know?
That's anybody else that's met ya
It's all the same all the same all the same glow



Honey it's raining tonight

But storms always have an eye have an eye
Tell me you're covered tonight
Or tell me lies tell me lies lies



I want you to know that it's our time

You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me we're the same force
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course



You and me run the same course



I want you to know that it's our time

You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course

Selasa, 17 Februari 2015

Against The Current -- Talk

     

Datang membawakan lagu yang penuh emosional, Chrissy Costanza, Daniel Gow dan Will Ferri mengingatkan gue sama lagu 5SOS (dipembukaan lagu) dan suara Chrissy yang makin mantap menjadi penerus Avril Lavigne di dunia musik pop-punk.


Taylor Swift -- Style

          Setelah puas dengan kesuksesan video klip dari single 'Blank Space', Taylor kembali mengeluarkan video klip dari single terbarunya dari album 1989 berjudul 'Style'. Banyak yang bilang, inspirasi lagu ini adalah mantan pacar Taylor, Harry Styles. Karena judulnya sama dengan nama belakang sang pentolan One Direction itu. But, who knows the truth.. Tay bilang sih engga..


Midnight, you come and pick me up, no headlights
Long drive, could end in burning flames or paradise
Fade into view, oh,

It's been a while since I have even heard from you
(Heard from you)
I should just tell you to leave 'cause I
Know exactly where it leads but I
Watch it go round and round each time


You got that James Dean daydream look in your eye
And I got that red lip, classic thing that you like
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style
You've got that long hair slick back, white t-shirt
And I got that good girl faith and a tight little skirt
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style


So it goes, he can't keep his wild eyes on the road
Takes me home, lights are off he's taking off his coat (Hm yeah)
I say "I've heard that you've been out and about with some other girl"
(Some other girl)
He says "What you've heard is true but I
Can't stop thinking about you and I."
I said "I've been there too a few times"


'Cause you got that James Dean daydream look in your eye
And I got that red lip, classic thing that you like
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style
You've got that long hair slick back, white t-shirt
And I got that good girl faith and a tight little skirt (A tight little skirt)
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go (We never go) out of style, we never go out of style


Take me home
Just take me home
Yeah just take me home, oh

(Out of style) You got that James Dean daydream look in your eye
And I got that red lip, classic thing that you like
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style





Seventh Son


Sebenernya udah beberapa hari yang lalu keluar dan ngga terlalu banyak euforia film ini saat gue nonton akhir pekan lalu. Ada satu pilihan lain sebelum film ini siih. Tapi akhirnya gue nonton Seventh Son dan ngga banyak yang gue dapet di film berdurasi 120 menit ini.

Gue cukup menikmati pembukaan film. Efek visual yang dipakai disini juga keren banget.

Gue agak-agak lupa sama alur film ini, tapi intinya, ini cerita tentang penyihir jahat dan iblis yang berencana show off setelah kembalinya Ratu mereka (Mother Malkin--Julianne Moore) yang selama puluhan tahun dikurung oleh seorang Pemburu bernama Master Gregory (Jeff Bridges).

I can't tell everything in here not because I don't pay attantion. It more like I don't get it.
Sorry..


--D Ark R Ain Bow--

This entry was posted in

Delmora The Ocean's Princess: Bab 7 (Cukang Taneuh)

Delmora The Ocean’s Princess







Created By:
Safitri Tsa’niyah






 Bab 7
Cukang Taneuh

          Aku mulai hafal sensasi yang kurasakan jika matahari mulai terbenam. Seperti disiram air hangat dari rambut hingga kaki. Dan aku pun mulai merasakan seluruh darah yang mengalir di nadi-nadiku.
          Oliver sudah bangun lebih dulu dari aku. Dia sedang menyiapkan makanan ketika aku turun ke dapur.
          “Hai sayang. Kamu masak apa?” Tanyaku dari tangga.
          “Oh, halo Delmora.” Oliver sedikit kaget dengan kedatanganku. “Aku lagi masak nasi goreng nih.”
          “Wah, kelihatannya enak.” Ucapku sambil menghampiri tempat Oliver berdiri.
          Oliver mencium keningku.
          Setelah makan, kami berpindah ke ruang keluarga. Kami akan menyusun rencana dan memikirkan tempat dimana kira-kira Medusa menyembunyikan Athena.
          “Kalau Medusa memang mau membuat Zeus campur tangan, mungkin dia sembunyiin Athena di langit.” Ucapku memberikan pendapat.
          “Aku juga sempet mikir begitu. Tapi di langit mana dia bisa bawa Athena. Aku ngga inget Medusa bisa terbang atau pun punya singgahsana di langit.”
          “Atau mungkin juga dia nyembunyiinnya di dunia bawah. Karena otomatis Poseidon ngga bisa kesana kan?”
          “Kalau iya di dunia bawah, Medusa berarti mau bikin Zeus marah sama Hades, bukan Poseidon.”
          Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat. Kemudian kami berkata berbarengan.
          “Laut.”
          Lalu kami berdua diam lagi.
          “Tapi laut itu luas banget, Del.” Ucap Oliver akhirnya.
          “Hey, laut itu wilayah ayahku. Itu sama aja kayak rumah buatku.” Jawabku.
          “Tapi laut Indonesia aja luasnya udah dua per tiga lebih luas dari daratan. Mulai dari mana kita nyarinya?” Ucap Oliver. “Itu pun kalau Athena ada di laut Indonesia. Kalau di luar negeri?”
          Aku berpikir sejenak. “Pantai Ancol jam segini masih buka ngga?” Tanyaku.
          “Kamu ngga sempet mikir kalau Athena ada di Ancol kan?”
          “Ya ngga lah. Aku perlu ngomong sama ayah.”
          Lalu kami pun menuju ke pantai Ancol.
==
          Tidak banyak pengunjung yang main-main di air malam hari begini. Kebanyakan pengunjung hanya menikmati makan malam atau duduk-duduk di pasir pantai. Tapi begitu sampai di tujuan, aku langsung berjalan santai masuk ke air sampai tinggi air menyentuh lututku.
          “Ayah.” Panggilku. Lalu aku menunggu beberapa waktu. Namun ayahku tidak datang. Aku berjalan lagi sampai air sepinggang.
          “Del, kamu ngga kedinginan?” Tanya Oliver dari tepi pantai.
          Aku mengacuhkannya dan terus berjalan. Kini tubuhku telah masuk ke dalam air sepenuhnya. “Ayah, aku butuh bantuanmu.” Aku berkata. Lalu gelembung-gelembung air pun muncul dan menyeretku masuk ke laut lebih dalam. Mungkin sepuluh, lima belas, atau tiga ratus kilo meter aku sudah menjauh dari pantai Ancol. Aku tidak tahu pasti. Karena tiba-tiba saja di depanku sudah ada istana megah Ayahku.
          “Ada apa, Delmora?” Ucap Poseidon. “Apa kamu baik-baik saja?”
          “Ayah, tolong aku. Aku harus menemukan Athena. Dia ditawan Medusa.” Ucapku dengan nada panik.
          “Tenanglah, Delmora.” Ucap Poseidon. “Aku mendengar sedikit kabar tentang Medusa dan kamu. Coba ceritakan seluruhnya apa yang terjadi sebenarnya.”
          Lalu aku duduk berhadapan dengan ayahku dan mulai menceritakan semua yang terjadi dan rencana yang telah aku susun bersama Oliver. Dia sedikit tercengang ketika kuberitahu Athena mungkin ada di lautan. Karena jika pun sebenarnya Athena disembunyikan di laut, Poseidon pasti tahu keberadaannya. Aku mulai putus asa dengan rencanaku sendiri.
          “Baiklah Delmora. Anggaplah kamu memang benar dan Athena ada di lautan. Ayah akan membantumu sebisa yang ayah dapat lakukan untukmu. Tapi aku benar-benar tidak tahu ada dimana Athena sekarang ini.”
          “Baiklah ayah, aku hanya perlu doa dan restu dari ayah. Semoga aku berhasil menemukan Athena dan kembali seperti semula. Tapi apakah ayah tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghapuskan kutukan ini? Medusa kan pacar ayah.”
          Poseidon hanya menggeleng. Aku tahu, dia merasa bersalah karena sudah mengencani wanita yang kini jahat dan mengubahku menjadi patung batu. Tapi tetap saja dia tidak bisa menyangkal kesalahannya sendiri. Tapi kurasa sekarang dia sangat menyesal.
          “Baiklah ayah. Aku harus kembali ke daratan bersama Oliver. Aku akan memikirkan lagi rencana kami. Tolong beritahu ibu ya, aku tidak apa-apa. Ya selain kalau matahari terbit aku hanyalah sebuah patung batu yang tidak bisa apa-apa.” Ucapku.
          “Hati-hatilah Delmora.” Gumam ayah Poseidon. “Ingatlah, selama kamu ada di laut atau air, kekuatan dan doaku ada disana. Kau akan aman.”
          “Ya ayah, terima kasih.”
          Lalu gelembung-gelembung lain muncul dan menyeretku kencang beberapa kilo meter dari pandangan istana Poseidon. Aku lebih suka naik kereta kuda setengah ikan daripada naik gelembung yang hampir membuatku ingin muntah ini. Tapi harus kuakui, naik gelembung memang jauh lebih cepat. Tak sampai hitungan lima, aku tiba kembali di pantai Ancol.
          Oliver sudah menunggu dengan wajah cemas ketika aku keluar dari air. Ia merasa khawatir aku akan kedinginan. Tapi nyatanya, aku bahkan tidak basah sedikitpun.
          Kami kembali pulang ke rumah Oliver dan baru setelah sampai disanalah aku menceritakan kepadanya semua hal yang aku bicarakan dengan Poseidon.
          “Apa itu artinya Medusa ngga nyembunyiin Athena di laut?” Tanyaku.
          “Ngga, dia pasti ada di laut. Poseidon pernah mengira Athena mau memperluas kotanya ke laut, kan? Itu berarti dia memang pernah ada di laut walaupun cuma sebentar.”
          “Tapi dia ngga mungkin ada di laut sebentar terus langsung ke daratan dengan cepat dong ya?”
          “Kecuali daratannya ada di laut.”
          Kami berdua terdiam. Daratannya ada di laut? Itu berarti semacam tempat singgah? Di laut hanya ada daratan yang berbentuk gua.
          “Gua dalam air?” Ucapku memecah keheningan malam.
          “Aku juga berpikir begitu. Tapi memangnya ada gua dalam air di Indonesia?”
          Oliver bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang keluarga. Ia kembali beberapa saat kemudian dengan laptop dalam pelukannya.
          “Disini sih ada, semacam green canyon gitu. Tapi dia tempat wisata. Apa mungkin Medusa nyembunyiin Athena di tempat wisata?” Ucap Oliver.
          “Cukang Taneuh.” Aku membaca judul sebuah postingan blog dari laptop Oliver.
          “Daerah Ciamis, Jawa Barat.” Lanjut Oliver.
          “Kita mau coba?” Tanyaku.
          Oliver menggeser kursor mousepad-nya sampai ke akhir postingan. “Jam buka, jam delapan sampai lima sore.” Oliver menengok ke arahku. “Kita punya masalah. Kita ngga mungkin kesana siang hari, karena kamu jadi patung. Dan kita juga ngga mungkin kesana malam hari, karena tempat itu pasti sudah tutup.”
          Kami berdua terdiam cukup lama membiarkan jangkrik sekitar rumah terdengar dua kali lebih nyaring dari biasanya.
          “Aku yang akan kesana.” Ucap Oliver cukup mengagetkanku walaupun suaranya tidak terlalu keras.
          “Maksud kamu apa?” Tanyaku.
          “Aku yang akan kesana.” Ulang Oliver. “Sendirian.” Tambahnya ketika aku hendak membuka mulut dan bertanya lagi.
          “Engga, Oliver. Kita sama-sama kesana.” Ucapku.
          “Tapi gimana caranya?”
          Aku merebut laptop dari pangkuan Oliver dan membuka google’s map. “Kita masuk lewat sini.” Aku menunjuk teluk Pangandaran.
          “Kita minta bantuan ayahku.” Ucapku buru-buru sebelum Oliver berkomentar.
          “Kamu yakin?” Tanya Oliver ragu-ragu.
          “Ya. Tapi kita harus sudah di teluk sebelum matahari terbenam. Jadi kita punya banyak waktu untuk menyusuri sungainya.”









  Previous: 

Jumat, 19 Desember 2014

I love you in my way

Now you're mine.

But I don't think that I can understand you like when we're just friend.
This stupid relationship kinda wall that I can't get through.
My mind busier to thinking of you than usual.
But my heart hurts more than when we're ship on nothing.

I wanna get back when I didn't doubt at you.
But I know, it will goes different after we break up.

It's simple complicated.

I love you in my way.

Rabu, 17 Desember 2014

Delmora The Ocean's Princess: Bab 6 (Berburu Ular)

Delmora The Ocean’s Princess







Created By:
Safitri Tsa’niyah





 Bab 6
Berburu Ular
“Baiklah, Ma. Aku mau keluar cari makan. Mama istirahatlah duluan.” Ucap Oliver.
“Mama hampir lupa kamu ini manusia yang membutuhkan makanan. Pergilah, isi perut dan tenagamu. Aku akan menunggu kamu kembali bersama gadis itu.” Medusa berkata ceria.
Tak bisakah Medusa membaca pikiran? Tidak. Sebab kalau ya, dia pasti sudah murka karena tahu Oliver tahu dia bukan Athena. Tapi sampai sekarang dia masih berpura-pura menjadi Athena.
Tak sampai sepuluh detik berikutnya, Oliver sudah sampai di depan pintu dan langsung menyapaku dengan suara hampir seperti bisikan. Anehnya, aku mendengar sebuah desisan aneh di sekitarku.
“Ayo kita makan malam, Delmora. Aku tahu kamu lapar.” Ajak Oliver sambil menggandengku meninggalkan rumahnya.
Desisan itu semakin keras kudengar. Tapi dari mana?
Kami berhenti di sebuah warung makan pecel ayam. Aku memang lapar sekali. Mengingat tadi sebelum kabur aku tidak sempat makan apapun dari rumah. Dan ini sudah larut. Perutku pantas mendapatkan haknya sekarang.
“Kamu ngga makan, Oliver?” Tanyaku.
Oliver hanya memesan satu porsi untukku. Padahal pasti dia juga belum makan malam.
“Aku ngga lapar.” Jawab Oliver. “Kamu makan aja. Setelah itu kita ke rumahku lagi. Mama mau ketemu sama kamu.”
Kenapa deh Oliver ini? Kenapa dia aneh? Bukannya tadi kita udah susun rencana buat bunuh Medusa? Kenapa dia malah mau bawa aku masuk gitu aja ke Medusa? Kita berdua bisa jadi patung batu.
“Ada masalah, Oliver?” Tanyaku ragu-ragu.
“Apa maksud kamu? Aku gapapa. Hanya aja, mamaku pengen ketemu kamu.”
“Tapi apa kamu lupa sama rencana kita?”
“Ada perubahan rencana, sayang.” Oliver berkata dengan cengiran menghiasi wajahnya yang kini tampak ganjil? “Athena selalu punya rencana.”
“Baiklah.” Ucapku nurut.
Setelah aku menghabiskan makananku, kami pun berjalan kembali ke rumah Oliver. Aku merasa takut. Biasanya jika sudah berada di dekat Oliver, rasa takutku hilang. Tapi aku justru lebih ketakutan berada di dekatnya. Aku mendengar desisan itu lagi.
Oliver membuka pintu rumahnya perlahan dan memaksaku melihat isi di dalam rumah itu. Daann..
Ada dua Oliver.
Kepalaku mulai bingung. Manakah Oliver yang asli pacarku? Yang sedang terikat di bangku atau yang ada di sebelahku? Lalu Oliver yang diikat di bangku berteriak. “Delmora! Jangan lihat dia!!”
Tanpa sadar, aku bukannya menuruti perintah Oliver yang terikat di bangku itu, aku justru secara refleks mengeluarkan pedangku dan menebas udara di sebelah kananku. Tepat mengenai leher Oliver—yang tadinya leher Oliver. Karena tiba-tiba saja aku sudah menebas mati Medusa. Tapi sialnya, aku sempat melihat mata yang abu-abu kelam penuh kebencian milik mantan pacar ayahku itu. Tubuhku pun mulai kaku dan detik berikutnya aku tidak bisa merasakan lagi seluruh bagian tubuh yang kupunya.
“Delmora!” Aku mendengar Oliver memanggil namaku. Aku mendengarnya. Tapi aku ngga bisa balas bicara atau menggerakkan bola mataku untuk menatapnya.
“Delmora maafkan aku.” Ucap Oliver lagi.
Lalu kedengarannya Oliver menarik sesuatu dari lemarinya untuk menutupi mata Medusa.
“Delmora, ini semua salahku.” Oliver mulai menangis—sepertinya di kakiku.
==
Ini adalah hari ke lima aku menjadi patung batu kutukan Medusa. Aku tahu Medusa tidak akan mati selamanya. Tapi aku tahu, aku akan menjadi batu selamanya. Medusa itu iblis. Sedangkan aku kan hanya manusia biasa. Nyawaku hanya satu dalam hidup ini. Kecuali aku benar-benar sudah mati, mungkin Hades akan memperhitungkan aku untuk dilahirkan kembali dan aku akan menuju Elysium untuk direinkarnasi. Tapi jiwaku masih tetap berada pada tubuhku yang sudah membatu ini.
Aku tinggal di rumah Oliver sejak diubah oleh Medusa. Tapi kini ia telah memindahkanku ke kamarnya. Setiap hari Oliver selalu bersenandung dalam bahasa yang sedikit sulit kumengerti pada awalnya. Sampai aku baru menyadari yang ia senandungkan adalah bahasa Yunani. Kira-kira begini kedengarannya:
Pãei dynãmeis tou kakó
Epanèlthete se kanonikí
Theoí na mas voíthísei
Dióxoun aftí i katãra
Aku ngga ngerti apa arti kata-kata itu walaupun ayahku ngotot untuk mengajariku bahasa Yunani. Tapi aku berharap kata-kata itu adalah semacam mantra untuk bisa mengembalikan tubuhku. Kulihat Oliver sangat sedih semenjak aku berubah menjadi batu. Ingin rasanya aku menghapus air matanya saat dia menangis. Tapi untuk berkedip saja, saat ini aku tidak bisa. Aku sangat merindukan kamar mandi dan bayanganku di cermin.
Matahari mulai turun di cakrawala. Ya, berarti ini akan menjadi keenam kalinya aku melihat matahari terbenam dari jendela kamar Oliver. Kini matahari benar-benar telah terbenam. Lampu kamar Oliver yang belum dinyalakan membuatku kesulitan melihat.
Aku mengucek kedua mataku dengan punggung tangan seraya menguap. Rasanya pegaaal sekali.
Eits, tunggu.
Mengucek mata? Dan menguap?
Aku bisa bergerak?
Benarkah ini? Aku bisa bergerak?
Aku langsung meloncat dan berlari mengelilingi kamar Oliver seperti balita yang baru saja mendapatkan permen gratis. Aku bisa bergerak! Aku bukan batu lagi!!!
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, lampu menyala dan Oliver masuk. Aku melihat jelas senyuman terlukis lebar di wajahnya yang super tampan itu.
“Oliver.” Panggilku.
“Hai Delmora.”
Aku langsung berlari ke pelukannya. Aku sangat merindukan Oliver dan semua otot yang bisa kugerakkan. Tapi begitu dalam pelukannya, aku tidak ingin cepat-cepat beranjak.
“Aku kangen kamu.” Ucapku.
“Aku lebih kangen kamu.” Oliver membalasku sambil mengelus lembut rambut di punggungku yang kaku.
Oliver mencium keningku.
Tapi aku masih merasa ada yang aneh. Bagaimana bisa kutukan gorgon dipunahkan? Aku melepaskan pelukan Oliver dan duduk di tepi tempat tidur. Oliver mengikutiku.
“Oliver, bagaimana bisa kamu menghilangkan kutukan Medusa?” Tanyaku.
“Aku hanya berdoa pada para dewa untuk mengampunimu.” Jawab Oliver.
Aku meneliti tiap senti guratan pada wajah Oliver. Wajahnya masih sama tampannya ketika aku melihatnya terakhir kali. Tapi kini ia tampak lebih tua dan kelelahan. Aku lihat ia memang jadi jarang tidur dan lebih memilih memandangi patungku sepanjang malam. Aku merasa sangat kasihan padanya.
“Apa yang kamu ucapkan pada dewa-dewa?” Tanyaku lagi.
“Hanya satu dewa yang pernah lolos dari kutukan Medusa.” Jawab Oliver.
Aku memutar otakku. “Ibumu.” Ucapku.
“Ya. Tentu saja. Zeus selalu memaafkan kesalahan ibuku. Bahkan dia juga membebaskan Athena dari kutukan Medusa.”
“Tapi setahuku dia tidak pernah berbelas kasihan pada Poseidon.” Ucapku. “Ataupun anaknya.”
“Bukan Zeus yang membebaskanmu. Tapi Athena.”
“Tapi bagaimana bisa?”
“Athena memberimu kebebasan pada malam hari ketika kekuatan bulan telah muncul dan menyinarimu. Dan ketika fajar tiba, kutukan itu akan ada lagi.”
“Kenapa begitu?” sesuatu mengganjal lagi lubang di hatiku yang tadinya telah luruh.
“Karena aku masih belum bisa menemukan Athena. Dia bisa menghilangkan kutukan itu sepenuhnya, tapi aku hanya setengah Athena. Aku hanya bisa menghilangkannya setengah.”
Jadi begitu. Ternyata yang setiap hari disenandungkan Oliver adalah benar-benar mantra untuk membebaskanku.
“Baiklah, kalau begitu kita harus menuntaskan misi kita, Oliver. Kita harus mencari Athena.” Ucapku.
“Aku telah berusaha mencarinya kemana-mana. Tapi aku tetap belum mendapat petunjuk apa-apa.”
“Aku akan ikut mencari.”
“Apa?” Oliver tersentak kaget. “Apa kamu gila?”
“Ngga kok. Aku serius. Aku akan bantu cari Athena.”
“Tapi keadaan kamu—“
“Kita bisa cari di malam hari. Atau seengganya setelah matahari tenggelam. Aku yakin kita akan temukanibu kamu, dan aku bisa balik seperti dulu lagi.”
Oliver menatapku sejenak kemudian kembali memelukku. Aku tahu dia mengkhawatirkan keadaanku lebih dari yang aku sendiri bisa khawatirkan.
          Kami saling berpelukan untuk beberapa saat, lalu aku melepaskan pelukannya.
          “Apa ibuku sudah tahu keadaanku sekarang?” Tanyaku.
          Oliver menggeleng.
          “Baguslah kalau begitu. Aku baru akan kasih kabar kalau kita sudah benar-benar berhasil dengan misi kita.”
          “Tapi mungkin ayahmu sudah tahu.” Ucap Oliver.
          “Dia ngga akan balikan dengan Medusa.”
          “Tentu. Siapa juga yang suka cewek kasar kayak dia.”
          Kami diam sejenak.
          “Ayah. Dia dewa. Kita bisa minta bantuan padanya.” Ucapku.
          “Ide bagus. Kita minta bantuan Poseidon untuk mencari Athena, musuhnya.” Oliver berkata dengan nada yang aneh.
          “Oliver, siapa bilang ayahku dan ibumu itu musuhan? Mereka hanya tidak akur. Itu saja.”
          “Mungkin kamu benar, Delmora. Tapi cara pemikiran dewa berbeda dengan kita.”
          Aku mengangguk. Lalu perutku terdengar keroncongan.
          “Sepertinya kamu lapar.” Ucap Oliver.
          “Sangat.” Ucapku.
          “Ayo kita ke dapur dan temukan sesuatu untuk dimakan. Sepertinya masih ada beberapa bahan makanan di kulkas.” Ajak Oliver. “Kamu bisa masak kan? Waktu itu kamu berlatih dengan ibumu.”
          Aku tertawa kecil. “Sebenarnya waktu itu aku ngga berlatih masak. Tapi—“
          “Berenang atau kegiatan air lainnya bersama Poseidon.” Potong Oliver.
          “Ya.” Ucapku. “Maaf karena bohong sama kamu.”
          “Gapapa kok.” Oliver kembali melayangkan senyuman termanisnya padaku.
          “Ayo kita makan. Lima hari tanpa makan dan minum.” Aku merangkul Oliver dan mengajaknya ke dapur. Aku memang sangat merindukan makanan.
==
          Semalam aku menghabiskan waktu bersama Oliver sampai pagi menjelang. Kami sepakat untuk mulai pencarian Athena pada malam berikutnya. Oliver butuh istirahat yang cukup sebelum berangkat, dan aku pun akan istirahat selagi kembali ke bentuk patungku. Saat jam di dinding menunjukkan pukul lima, kami bersiap pergi tidur. Kembali ke kamar Oliver dan kami berbaring bersampingan—tidak ada salahnya tidur bersama sebuah patung, kan? Dan ketika matahari terbit, tubuhku mulai kaku lagi.
          “Dah Oliver.” Ucapku sebelum batu merayap ke mulutku.
          “Sampai ketemu, sayang.” Balas Oliver lalu yang terakhir kulihat, dia tertidur bersandar padaku.











 Previous: 
 Bab 5 (Kabur)