Jumat, 11 November 2016

Fantastic Beasts and Where To Find Them | First Movie November 2016

Dengan resminya Eddie Redmayne sebagai pemeran tokoh Newt Scamander di Fantastic Beasts, seluruh Potterhead dari berbagai belahan bumi kembali merasakan euforia seperti pada 8 film Harry Potter sebelumnya. Sebagai fans setia cerita fiktif Harry Potter, gue pun menyambut tahun ini dengan sangat antusias. Di 2016 ini akan ditayangkan debut film pertama Fantastic Beasts.

Film yang idenya diambil dari buku pelajaran sekolah Harry ini membuat penasaran banyak Potterhead. Dalam kesempatan ini juga Pottermore ngga mau ketinggalan untuk nambah antusias penggemar dengan merilis beberapa fitur baru.

Gue punya buku tipis ini. Dulu waktu belum ada berita bakal di-film-in, buku ini bisa dibilang 'murah' harganya. Karena emang tipis banget ngga kayak buku-buku Harry Potter yang lain. Tapi setelah pemberitaan, harga buku ini 10 kali lipat lebih mahal dari waktu gue beli dulu. Wah kereeenn..

Google juga ngga mau kalah, dan merilis google voice dengan mantera-mantera di Harry Potter seperti Silencio, Lumos dan Nox. Ada juga game Fantastic Beasts yang nanti akan dirilis berbarengan dengan jadwal rilis filmnya November 2016.

Jadi dulu waktu lima dari delapan film Harry Potter keluar gue masih duduk di bangku SD. Jadi gue belum bisa nonton di bioskop. Pas Harry Potter 6 gue kelas 2 SMP dan waktu itu nonton sama temen-temen sepulang sekolah. Pas Harry Potter 7 part 1 dan 2 gue udah SMA dan ngga sempet buat nonton di bioskop karena waktu itu sibuk sama urusan OSIS di sekolah. Saat ini gue kuliah semester 5 dan kali ini pula untuk pertama kalinya gue akan ikutan nonbar bareng komunitas pecinta Harry Potter.

Ini bukan pertama kalinya gue nonbar sama komunitas. Gue pernah nonbar sama komunitas Hunger Games dan Divergent. Tapi ini pertama kalinya sama Harry Potter. Ngebayangin ada 500 orang fanatik kayak gue dalam satu tempat berkumpul dalam satu waktu. Pasti seru banget. Jadi ngga sabar.

Buat yang belum tau film Fantastic Beasts, buruan browsing deh, jangan sampe ketinggalan info nya. Hihihi. Oya jadwalnya sih tayang di Indonesia tanggal 18 November 2016.

Nih liat dulu trailer kece Fantastic Beasts 2016.


Terus juga ada kabar bahagia buat Potterhead yang belum lengkap koleksi buku-buku Harry Potter-nya. Gramedia bakal cetak ulang buku Harry Potter!!! Oh god ini bener-bener berita yang luar biasa bikin deg deg an. Siap-siap deh zaman sihir Harry Potter menyihir seluruh anak di dunia lagi.
XD


--D Ark R Ain Bow--

Kamis, 27 Oktober 2016

Doctor Strange (2016) | Another Marvel Coming Up and Now It Is About Magic


Emang paling ngga betah kalo ada flm baru Marvel yang tayang di bioskop. Pas tau Doctor Strange udah main, gue pun bela-belain buat nonton padahal jam nya mepet banget sama jam masuk kuliah.
Awalnya gue kira film ini bakal bersetting dan berscript kolot karena baju si Doc Strange ini kuno banget. But I mustn’t judge by it’s cover. Film ini sukses membuat gue ngakak selama pemutarannya.

Jadi ceritanya,

Doctor Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) adalah seorang dokter ahli bedah yang luar biasa terkenal dan banyak mendapatkan pujian dan penghargaan. Ketika tiba-tiba mobil yang dikendarainya kecelakaan, ia terbangun dengan kedua tangannya tidak bisa digerakkan. Syaraf pada kedua tangannya sudah hancur dan mustahil baginya untuk sembuh secara medis. Sejak saat itu ia tidak lagi bisa melanjutkan profesinya sebagai dokter. Meski Christine Palmer (Rachel McAdams) pacarnya terus menyemangati hidupnya yang bukan lagi dokter, Stephen tetap tidak ingin kehidupannya berubah. Ia menjadi marah dan mengusir Christine pergi.

Setelah mencari informasi dari mantan pasien yang mengalami penyakit sama seperti dirinya, Strange pun menuju tempat bernama Kamar-Taj yang disebut  Jonathan Pangborn (Benjamin Bratt).

Di Kamar-Taj ia bertemu dengan Mordo (Chiwetel Ejiofor) dan The Ancient One (Tilda Swinton). Awalnya Strange tidak percaya pada kekuatan spiritual yang menyembuhkan Jonathan Pangborn, tapi saat The Ancient One membawanya ke dunia arwah, ia pun meminta untuk menjadi muridnya.

Kehidupan Strange mulai tertata kembali sejak tinggal di Kamar-Taj. Ia juga belajar banyak tentang sihir dan spiritual. Melalui buku yang dipinjamnya dari perpustakaan Kamar-Taj, ia pun sering bertemu dengan pustakawan bernama Wong (Benedict Wong). Tetapi apa yang dipelajarinya ternyata bukanlah semata hanya untuk menyembuhkan penyakitnya. Ada sesuatu yang besar akan datang.


Kaecilius (Mads Mikkelsen) adalah seorang mantan murid dari The Ancient One. Namun ia kini menjadi jahat setelah membaca suatu kitab dan berencana untuk mengundang Dormamu (penguasa dunia hitam tanpa waktu). Kaecilius dan para pengikutnya menghancurkan satu persatu kuil penjaga di London-New York-Hongkong agar Dormamu datang ke bumi.

Di tengah-tengah penghancuran kuil London-New York, The Ancient One mati dalam usahanya menghentikan Kaecilius.

Namun Dr. Strange yang juga sudah menguasai sihir waktu yang diketahui Kaecilius, berhasil membalikkan waktu ke saat tepat sebelum kuil terakhir di Hongkong dihancurkan dan Dormamu datang.

Saat sudah tidak ada lagi harapan untuk menang melawan Kaecilius dan para pengikutnya, Dr. Strange masuk ke dalam dunia hitam dan bertemu Dormamu. Ia melakukan perundingan.

Dormamu yang tidak memiliki rasa ampun pun membunuh Dr. Strange. Dan dia pun mati di tangan Dormamu.

Namun ternyata sebelum menemui Dormamu, Dr. Strange memasang lingkaran waktu di tangannya dan mengulang kembali waktu ke saat pertama kali ia menemui Dormamu untuk berunding. Ia terus mati dan mati lagi berulang kali. Dormamu sempat mengejeknya karena ia telah membuat Dr. Strange tersiksa berkali-kali. Namun Dr. Strange tidak keberatan ia tersiksa selama bumi tidak hancur. Ia siap terus mati dan mati selamanya, dan ia telah menjadikan Dormamu tahanannya selamanya.

Akhirnya Dormamu menyerah dan setuju untuk membuat kesepakatan. Para pengikut Dormamu dibawa pergi dari bumi dan mereka juga tidak boleh menyentuh bumi lagi.

Kaecilius dan para pengikutnya ditarik masuk ke dunia hitam Dormamu dan bumi kembali utuh. Tapi Mordo yang merasa telah dibohongi oleh The Ancient One kini pergi meninggalkan Kamar-Taj.

Jadi, penjaga Kamar-Taj kini adalah Dr. Strange dan Wong.



Di epilog, hadirlah sosok Thor (Chris Hemsworth) yang sedang konsultasi dengan Dr. Strange. Dia bilang, ia datang dari Asgard untuk mencari ayahnya.

And we’ll see nanti siapa yang bakal nongol di film siapa.

Keseluruhan film menghibur banget. Durasinya juga ngga lebih ngga kurang. Ngga terlalu bertele-tele tapi ngga kecepetan juga. Visual effect nya keren. Pemainnya oke. Jokes nya banyak. Dan akting para pemainnya jempolan banget. It’s about 9.5/10 (karena tak ada yang sempurna gitu).

Oh iya, btw gaya tangannya Dr. Strange mirip moshing-nya BABYMETAL. 
XD





--D Ark R Ain Bow--
This entry was posted in

Senin, 26 September 2016

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango | My Very First Mountaineering

Tertarik untuk main di luar emang udah dari SMP, tapi dulu itu gue belom dibolehin untuk ikut-ikutan eksplor alam bebas lewat ekskul Pramuka di sekolah. Dan pas SMK pun niatan untuk main di luar tiba-tiba terlupakan dengan banyaknya kegiatan yang gue ikutin (Basket, Paskibra, Silat, Paduan Suara dan OSIS). Akhirnya pas nemu temen kuliah yang sehobi, barulah gue bisa cao main di luar.

Pendakian pertama gue adalah Kawah Ratu Gunung Halimun Salak. Si Unyu yang Berlumpur dan Bau tapi buat yang beneran gunung, TNGGP-lah batu loncatannya. Awalnya tim mapala gue mau nya ke Pangrango, selain lebih tinggi dari Gunung Gede, view nya juga lebih menyegarkan mata (bukan berarti Gede ngga lho ya). Tapi ...

H-1 pendakian..
Setelah kelas selesai, tim mapala ngumpul untuk ngerencanain perjalanan besok nya. Kita akan naik dari jalur Cibodas. Awalnya kami setuju untuk naik bis umum, tapi berhubung tempatnya ngga terlalu jauh dari rumah kami rata-rata, dan juga kendaraan kesana agak ribet (mesti sambung menyambung angkutan), akhirnya keputusan terakhir kami kesana dengan Sepeda Motor. Yak, gokil ya abis touring langsung cus nanjak gunung setinggi lebih dari 2.000 mdpl.

Perjalanan ke TNGGP..
Beberapa dari kami memutuskan untuk berkumpul di kosan Nura pukul 21.00 WIB. Sambil persiapan akhir dan cek-cek logistik, ngga taunya kita malah otw nya jam 11an. lmao.

Setengah dari tim kami bergabung di perjalanan. Alasannya karena rumah mereka melewati jalur ke Cibodas yang akan kami ambil, jadi kalau mereka ke kosan Nura, malah jadi bolak-balik. Setelah personil lengkap, touring pun dimulai. Buat gue yang belum pernah touring sebelumnya, sumpah ini ngantuk banget. Belum lagi siang nya gue kan masih kerja. Kita jalan di hari Rabu malam. Saat itu hari Kamis sama Jumat tanggal merah.

Udah sekitar tengah malam pas rombongan kami mulai memasukin daerah Puncak Cisarua. Tiba-tiba kami terpisah menjadi beberapa grup kecil. Dan gue terpisah sangat jauh bersama temen-temen yang ngga tau jalan! Untungnya Ka Dede si kapten (yang  juga ngga tau jalan) pengen pipis, alhasil dia belok ke pom bensin. Para penumpang lainnya menampakan muka bantal dari balik kaca helm masing-masing. Sumpah ngantuknya parah. Tapi pas tau ternyata kita kelewatan, semua langsung bugar lagi. Panik lebih tepatnya.

Kami muter balik dan menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di pertigaan Cibodas. Lalu akhirnya bertemu dengan teman yang lain. Tim lengkap dan kita lanjut lagi ke pos pendakiannya..

Gue mulai semangat. Tapi tetep masih ngantuk..

Basecamp

Awalnya kita sempet mau batalin bertandang ke TNGGP karena alasan sudah full book. Tapi ada satu temen gue yang mencoba lebih keras lagi dan akhirnya dapet SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) juga deh kita. Langsung kita menuju ke basecamp yang sudah dibooking sama Ka Icha beberapa hari yang lalu. Istirahat dan makan, lalu sekitar jam 2 apa jam 3 pagi gitu, kita mulai pendakian. Ngga lupa sebelum jalan kita setim berdoa dulu di basecamp.

Pendakian

Gue berharap ngga cuma ada tangga, tapi kalo bisa lift aja (Hihihi pemikiran beginner). Jalur pendakian dimulai dengan tangga batu yang ngga tau deh ada berapa anak tangga. Tapi baru sepuluh menit jalan udah bikin napas ngos-ngosan. Keadaan yang masih gelap dan dingin bikin jalan gue agak gimana gitu. Belum lagi jarak antara anggota tim lain lumayan jauh. Jadi cahaya cuma datang dari headlamp masing-masing. Di awal pendakian ini pikiran gue masih banyak yang macem-macem. Tapi gue berusaha keras banget buat tetep Think Positive. Karena pikiran negatif bisa mempengaruhi kondisi fisik kita (gue baca teorinya di internet gitu). Jadi sebisa mungkin gue harus buang pikiran jelek dan keep walking.

Ternyata kalo ngabisin waktu dini hari di luar rumah itu berasa banget lama nya ya. Kalo jam segini cuma tiduran di kasur sambil internetan kayaknya kok tau-tau matahari udah tinggi aja. Kali ini gue kangen sama matahari loh. Tapi gue ngga mau ini cepet berakhir.

Pas nyampe ke jembatan kita kompak langsung banting carrier dan nyender! berasa nemu sofa panjang aja. Ada beberapa orang yang bahkan tidur ayam. Kita lumayan lama istirahat di jembatan karena udah pewe banget nyender nya. Hahaha.

Matahari mulai terbit dan kita masih jalan di tangga-tangga. Infinity banget ini anak tangga. Nikmatnya..

Langit udah terang. Jalur pendakian juga udah mulai rame. Anggota tim makin berpencar. Dan gue kedapetan berdua doang sama Ka Dea. Entah berapa jarak antara kita berdua dengan rombongan yang lain, yang pasti saat itu kita ngantuk berat! setelah berkali-kali duduk setelah lima langkah jalan, akhirnya pas nemu dahan pohon yang bagus gue dan Ka Dea sepakat untuk tidur sebentar. Ini adalah kesalahan yang lumayan ngeselin. Emang sih kita ngga tidur di jalur, tapi kalo tidur di jalan gini bisa bikin masuk angin. Tapi karena emang udah ngga bisa ditahan lagi, akhirnya kita pun tidur setelah gue melahap sepotong S**i R**i rasa mentega.

Kayaknya ada sekitar 20-30 menit kita tidur (lama banget ini). Dan kami kebangun kayaknya gara-gara ada suara monyet yang banyak banget gitu. Akhirnya tanpa pikir panjang kita langsung kabur dan melanjutkan perjalanan (karena takut banget tetiba digrebek monyet).

Sekitar 15 menit jalan, kita ketemu sama Ifkar (salah satu anggota tim) yang ternnyata balik lagi nyamperin kita! Gila ini anak care nya naudzubillah ya. Dia maksa mau bawain carrier salah satu dari kita. Dan karena ngga mau memperpanjang perdebatan (karna Ka Dea keukeh nolak) akhirnya gue ngasih carrier gue.

"Gila ini sakit banget carrier lu, Sapi."
"Hahaha timpang tau kanan sama kiri nya." Jawab gue nyengir-nyengir.

Sekitar sepuluh langkah kami bertiga jalan, tiba-tiba kita berpapasan sama Ka Dede! Dia ngelakuin hal yang sama kayak Ifkar. Merebut carrier Ka Dea (dibilang merebut karna dia mintanya sambil natap tajem dan serem banget). Akhirnya gue dan Ka Dea jalan lenggang. Haha parah ini.

Ngga lama jalan, kita sampe di curug air panas. Enak banget pas lewat, ada anget-anget nya gitu deh. Tapi jarak antara satu batu ke batu lain lumayan jauh dan air yang kita lewatin maupun yang jatuh di sebelah itu panas. Belum lagi di sisi lain curug ada jurang yang dalem banget. Ada tali pegangannya gitu sih, tapi karena air curug terus jatuh, jadi basah dan agak licin. Mesti hati-hati banget nih jalan lewatin curug ini. Dan ini menjadi salah satu alasan kenapa untuk pendaki yang mau ke Pangrango atau Gede itu DIWAJIBKAN menggunakan sepatu tertutup.

Setelah melewati curug, bertemu-lah kami dengan sisa rombongan yang lagi pada asik makan mie. Saat ngeliat kami Nura pun langsung masakin kami mie juga. Aduh mama yang satu ini.

Gue sebenernya udah ngerasa ada yang ga beres sama Ka Dea dari awal kita berenti untuk tidur, soalnya ngga biasa dia kayak gini (catatan, dia udah beberapa kali naik gunung). Gunung Ciremai aja berhasil dia taklukin, masa baru jalan beberapa jam aja udah drop. Dan ketauanlah pas disini kalo maag-nya kambuh. Ditambah gara-gara tidur di jalan tadi, dia jadi masuk angin juga. Untungnya Ka Icha sedia ***maag.

Di pos ini, carrier gue dan Ka Dea dirombak abis-abisan. Hihihi. Matrass yang tadinya di luar sekarang dimasukin ke dalem carrier sama Ka Dede. Dia agak protes pas liat bawaan baju gue.

"Oy ka, gue kan pake jilbab, wajar lah bawa baju nya agak rempong. Hihihi."
"Safi gila, ini berat banget tau. Kenapa lo ngga bilang kalo lo bawa seberat ini."
"Abis kan yang lain juga emang udah pada berat bawaannya ka."

Dia ngambil air minum dan logistik yang ada di carrier gue. Yang tersisa tinggal matras, sleeping bag, sama baju yang ada di carrier gue. Ka Dea pun sama. Bawaan kita dialihin ke anak cowok yang lain.

Setelah minum obat maag, Ka Dea nolak untuk makan. Tapi kalo dia ngga makan, dia bakal lebih parah karena masuk angin. Jadi gue suapin paksa biar ada makanan yang masuk ke perutnya. (roti mentega tadi yang makan cuma gue, dia nolak makan juga)

Setelah beberes kompor, nesting dan sampah, kami pun melanjutkan perjalanan. Dari pos kami berhenti tadi ke Camp Kandang Badak masih lumayan jauh. Baru sekitar setengah jam jalan, Ka Dea berenti. Gue emang ngga mau jauh-jauh dari dia, dan Ka Dede yang Sweeping pun berenti pas Ka Dea berenti. Dia muntah. Kayaknya emang ngga enak banget itu badan. Gue bisa bayangin.

Disitu carrier Ka Dea dirombak lagi. Ifkar dan Nura (mereka pacaran lho, haha) kebagian sisa bawaan yang ada di carrier Ka Dea. Dia jadi cuma bawa matras aja. Tadinya carrier nya malah mau dibawain Ka Dede, tapi Ka Dea nolak. Akhirnya bawaannya aja yang dialihin.

Skip Akhirnya kita sampe di Camp Kandang Badak. Sayangnya, camp udah penuh banget tenda orang-orang, jadi kita jalan terus naik ke atas dan pas nemuin ada lahan bidang sedikit langsung disikat buat nenda. Pas hampir selesai bikin tenda, ujan turun rintik-rintik.

Gue lupa jam berapa, tapi yang pasti hujan ngga lama berenti. Anak-anak cowok pada tidur sementara gue, Ka Dea, Nura dan Rahma nyiapin makanan. Sayang banget nasi kita agak kurang mateng waktu itu (tapi masih bisa dimakan). Kita bikin sop sayuran sama goreng ayam. Bangunin anak-anak dan liat mereka makan lahap banget bikin seneng yang masak. Hihihi. Sekitar pas matahari terbenam, kami pun tidur. Ohya, saat itu kami  malam jumatan di sana lho.

Muncak

Rencananya kita mau baberque-an jam 11, tapi karena tadi sempet ujan, jadi kayu nya basah. Batal baberque. Skip ke rencana mulai muncak sekitar jam 1. Gue yang setenda sama Ka Dea dan Ka Dede juga logistik tim, bangun sekitar setengah 1.

"De, bangun. Udah setengah 1. Ayo muncak." Ucap Ka Dea.
"Yaudah lo bangunin anak-anak lain. Nanti kalo udah pada bangun, lo bangunin gue." Jawab Ka Dede dari balik SB-nya.
"Ih yaudah lu yang bangunin, De."
"Yaudah lo bangunin yang lain dulu."

Dan obrolan itu terjadi untuk beberapa menit (gue jadi silent hearer).

"Pi, bangun." Ucap Ka Dea.
"Aku udah bangun kok, Ka."
"Kok kamu diem aja si dari tadi aku ngomong sendirian."
"Hihihi."

Ka Dea terus mencoba membangunkan sekaligus nyuruh Ka Dede bangunin yang lain. Tapi ngga berhasil. Kayaknya Ka Dede kena penyakit mager deh. Akhirnya kami pun balik tidur.

Setengah 2 Ka Dea kebangun lagi. Kali ini gara-gara ada suara srek srek dari luar tenda. Diiringi suara "ngok-ngok" Ka Dea langsung nepok-nepok Ka Dede.

"De, itu apaan?" Tanya dia dengan nada agak takut.

Gue juga denger dan selalu bangun hampir bareng sama Ka Dea. Itu babi, pikir gue. Ngga lama suaranya menjauh.

Semenit atau dua menit kemudian suara langkah kaki dan "ngok-ngok" banyak terdengar lagi. Kali ini gue dan Ka Dea bener-bener bangun (masih dalam posisi tiduran).

"Kar, ada babi ya?" Tanya Ka Dede dengan suara kenceng dan polos (atau bego)
"Ish Dede dodol, jangan keras-keras, nanti babi nya denger." Ucap Ka Dea lebih bego lagi

Kami terdiam di tenda masing-masing dengan mode pura-pura mati. Kecuali di tenda seberang, Ka Icha teriak-teriak.

"Aww babinya nendang-nendang tenda gue!"

Dan emang suara nesting yang bertubrukan terdengar cukup keras. Tenda mereka diserang babi tapi masih dengan skala kecil. Saat itu kami ngga ada yang berani keluar. Ka Icha juga tetep di dalem tendanya.

Menunggu langkah kaki para babi itu membuat kami semua terjaga. Tapi kebanyakan anggota lain bangun setelah babi nya pergi. Dalam hati gue, untung cuma babi, coba kalo banci. Iihh ngeri.

"Safi?" Nura buka tenda sebelah. Dia bangun gara-gara tenda gue nyalain lampu.
"Nura, buka tendanya jangan gede-gede, tadi kan ada babi." Ucap gue nongol dari secuil lubang dari pintu tenda yang gue buka dikiiiiit banget.

Nura langsung nutup lagi tendanya dengan gugup dan ketakutan. Hahaha padahal babinya udah pergi.

"Muncak ngga kita?" Salah satu nanya, gue lupa siapa
"Nanti aja deh, takut babinya balik lagi." Jawab yang lain, gue lupa juga siapa.
"Sapi, tadi ada babi?" Tanya Jani dari tenda sebelah dengan nada suara khas bangun tidur banget. Kayaknya dia pules berasa tidur di rumah.
"Iya nong, lu baru bangun ya?"
"Iya Pi, gue ngga denger apa-apa. Hahaha."

Gue lupa liat jam pas Ifkar keluar dari tendanya dan minta sosis ke tenda kita (Gue, Ka Dea, Ka Dede). Gila nih bocah, abis ada insiden babi malah mau barberque-an.

"Kar, nanti kalo babi nya dateng lagi gimana nyium bau sosis?" Ucap gue.
"Nggapapa Fi. Nanti kalo babinya dateng lagi gue bakar sekalian." Ifkar malah ketawa.

Akhirnnya gue memutuskan untuk ikutan goreng sosis sama Ifkar dan Riza. Gue ralat dikit, gue ikutan makan sosis nya, Ifkar sama Riza yang gorengin.

Muncak (Beneran)


Gara-gara kebangun pas Ifkar goreng sosis, gue pun agak males untuk balik tidur lagi (kayaknya enakan tidur di jalur). Setelah nemenin Riza masak mie, gue pun mulai masak spageti untuk sarapan nanti. Dan sekitar jam 8 atau 9 gitu ya, perjalanan muncak yang benerannya pun dimulai.


Setelah menutup rapat tenda dan bekel air putih, kami pun bersiap buat nanjak. Tapi ngga jadi ke puncak Pangrango karna katanya puncaknya lebih jauh dengan durasi pendakian yang lumayan lebih lama dibandingkan ke puncak Gede. Akhirnya kami sepakat untuk ke Gede aja.


Perjalanan muncak jauh lebih asyik walaupun trek lumayan bikin manjat-manjat akar pohon, setidaknya beban carrier di pundak ngga ada.

Perjalanan kami terpisah menjadi 2 kelompok. Di tengah perjalanan, kelompok gue yang terdiri dari gue, Ifkar, Ka Icha, Ka Bambang, dan Nura ketemu sama satu rombongan yang ada satu anak kecil di dalamnya. Ka Icha yang emang humble banget sama siapa aja pun menyapa dan ngobrol banyak sama anak kecil itu. Katanya dia umurnya 6 tahun. Dan hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia didampingin sama papanya dan beberapa orang dewasa lainnya. Lucu banget.

Pas sampe di puncak, ternyata Riza udah sampe duluan. Dan dia udah dapet beberapa foto di sana. Malah, dia udah beli nasi uduk! Hahaha kayaknya sarapan tadi kurang puas dia.

Menunggu sisa tim yang lain. Dan pas komplit kita pun melakukan ritual wajib FOTO-FOTO!







Karena moment yang kami setim ambil itu pas banget tanggal merah dan long weekend, ngga salah banget kalo gunung udah kayak pasar yang rame parah. Ngga apa-apa sih rame, tapi karena itu kita ngga bisa stay lama di puncak karena lalu lalang pendaki lain yang banyak banget itu. Dan kali itu kami banyak ketemu sama pendaki cilik yang umurnya kurang dari 10 tahun.

Pulang

Pas turun dari puncak, gue berpartner lagi sama Ka Dea. Dan di perjalanan gue ngeliat sesuatu yang lari cepet banget dan lurus banget. Gue kira itu tikus. Tapi kok ukurannya gede banget. Hampir aja gue bikin Ka Dea takut setengah mati pas gue kasih tau. Dan pas gue cerita di tenda ke anak-anak yang lain juga, mereka bilang itu anak babi. Haha. Babi mulu perasaan ya.

Sekitar jam 14.00 kami selesai beberes tenda dan perlengkapan lain siap buat balik ke basecamp. Setelah doa dan sebagainya, kami pun mulai turun.

Ngga beda jauh sama pas naik, pas turun kami pun mencar. Hobi banget mencar perasaan yak. Dan kali ini gue mencar tak berpartner. Gue diduluin sama Riza, ngga lama Ka Dede, ngga lama Ka Dea, ngga lama Nura, ngga lama Ifkar, dan akhirnya gue pun jalan sendirian.

Sekitar jam setengah 6 sore dan hari mulai gelap, gue pun bersiap ngeluarin headlamp. Gue berkali-kali ngambil jalan pintas dengan harapan bisa menyusul salah satu dari tim yang tadi udah duluan. Tapi sampai sekitar maghrib pun gue belum bisa menyusul salah satu temen gue. Akhirnya gue beraniin diri buat nyapa satu cowok (yang ngga gue kenal) dan ngajak jalan bareng sama dia. Ternyata dia juga kepisah dari rombongannya.

Sebenernya gue bukan orang yang melow-melow amat. Gue ngga takut gelap atau sendirian. Tapi saat itu gue lagi dateng bulan dan menurut gue lebih bijak kalo gue ngga jalan sendirian maghrib-maghrib gitu.

Gue dan cowok itu jalan beriringan. Gue lupa nanya namanya siapa. Tapi ngga lama kita jalan, si cowok nemu bagian dari rombongannya dan kita pun gabung sama mereka. Mereka lagi istirahat dan nyemil, tapi kehabisan minum. Berhubung gue bawa setengah botol dari camp (gue ga dibolehin bawa sebotol full sama Ka Dede, katanya takut keberatan) gue pun ngasih minum gue ke mereka. Karena gue udah ngantongin sebotol medium p***** s**** jadi gue ngga masalah minum gue abis.

Langit makin gelap dan kita masih duduk istirahat pas gue nengok ke belakang dan liat siluet dua orang yang kayaknya gue kenal. Gue tunggu sampe orang itu papasan sama gue dan nyenter sepatunya (kalo nyenter muka ngga sopan, apalagi kalo sampe salah orang).

"Kaka Icha." Ucap gue lemah.

Siluet cewek lalu nunduk dan mandangin muka gue.

"Eh Sapi, kamu ngapain disini?"
"Aku kepisah, Ka."

Lalu Ka Icha dan Ka Bambang pun ikutan duduk dan dengerin cerita gue. Ngga lama, mereka memutuskan untuk lanjut perjalanan, tapi cowok yang tadi dan rombongannya kayaknya masih betah deh. Mereka stay.

Baru beberapa meter jalan, rombongan cowok yang tadi manggil kita (gue, Ka Icha, Ka Bambang). Ternyata kamera Ka Bambang ketinggalan di tempat kami duduk tadi. Syukur belom jauh.

Tiba di pos pendaftaran, Ka Dede, Riza dan Ifkar udah lagi selonjoran. Kami sampe jam 19.00 mereka 18.30. Rasanya seneng banget bisa ketemu mereka akhirnya. Nura sama Ka Dea juga udah sampe. Mereka ke basecamp duluan karna Nura mau ke toilet.

Rombongan terakhir yang terdiri dari Jani, Kiki (pacarnya jani), Aweng, Ivan, Rahma, sampe di pos pendaftaran jam 20.00.

Touring Lagi

Setelah Full Team, kami pun istirahat sebentar di basecamp. Makan dan ngeteh. Terus siap-siap pulang lagi by ride of course. Kali ini gue pun ngga luput dari rasa kantuk. Ngantuk banget sumpah beneran ngga boong. Lalu Ifkar ngasih ide untuk  nyewa vila dan baru pulang besoknya. Gue sih setuju aja. Kasian juga Riza kan pasti lebih ngantuk dari gue karna dia yang ngendarain motornya. Akhirnya 3 motor sepakat untuk nyari villa. Sementara Ka Icha-Ka Bambang, Jani-Kiki, Aweng-Rahma, dan Ivan  memutuskan untuk pulang.

Gue lupa jam berapa, yang pasti udah lewat tengah malam banget pas kita akhirnya dapet villa. Setelah makan dan bersih-bersih, kami pun tidur satu persatu. Niatnya mau pulang pagi-pagi biar ngga panas dan bisa sampe rumah lebih cepet. Tapi pada akhirnya kami baru bangun dan beres-beres pulang itu jam 11.00

Cuma sarapan gorengan sama lontong lalu kita pun memacu sepeda motor masing-masing. Perjalanan kali ini baru berasa ternyata bobot badan gue bukan salah satu faktor yang bikin motor Riza jadi pendek. Berkali-kali gue lompat dari jok motor pas ada polisi tidur atau sekedar ngebut. Gilak ini carrier enteng malah bikin ngga nyaman yaps. Hahaha.

Skip-skip perjalanan yang super duper bikin gue ngantuk (lagi) akhirnya kita sampe kembali di kosan Nura. Gue langsung pulang karna udah janji akan pulang kurang dari jam 15.00. Gue dianter ke rumah sama Riza lagi. Gila juga ini anak, kayak ngga ada capek nya. 

Sampe rumah gue langsung buka semua atribut dan bongkar carrier. Nyuci pembalut yang gue gulung-gulung di plastik. Daaaan... MANDI!
Gue kangen banget sama mandi. Hahaha biasanya gue males padahal.

Kesan gue untuk pendakian pertama ini seru banget. Touring nya juga seru. Favorit gue tetep pas lagi nenda dan masak-masak. Cuma kurang di api unggun aja. Hihihi

Gunung Gede-Pangrango
SIMAKSI: RIBET BANGET
Jalur: Medium
Vegetasi: Perlu hati-hati
Air: Cukup


--D Ark R Ain Bow--

Selasa, 16 Agustus 2016

Kawah Ratu Gunung Halimun Salak. Si Unyu yang Berlumpur dan Bau

Gunung Halimun Salak yang keliatan unyu dan emang ngga terlalu tinggi ini emang ngeledek banget minta dieksplor. Gue pun memaksa temen gue (yang padahal udah berkali-kali kesini untuk nemenin temennya yang lain layaknya guide) untuk sekali lagi menjajaki jalan setapak Gunung Halimun Salak.

Sampai di pos pendaftaran kita ditanya mau kemana. Karna emang di Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini ada beberapa destinasi wisata. Dan yang paling favorit itu Curugnya yang lumayan banyak. Kami berempat memulai perjalanan setelah daftar dan berdoa di pos pendaftaran. Untuk SIMAKSI kami berempat dikenakan 10k per orang dan materai 6000 seharga 10k (?).

Mulai pendakian, jalan masih landai dan seperti berjalan di belakang rumah. Tapi ngga lama tanjakan-tanjakan pendek yang terdiri dari tanah dan kapur pun minta banget dilaluin. Setelah pertigaan Curug dan Kawah, jalan pun makin kecil dan berlumpur. Iya banget ini mah kita bakal kotor-kotoran.

Lumpur disini sebenernya ngga sepenuhnya lumpur kayak yang ada di petakan sawah, tapi terbentuk dari air-air yang menggenang tercampur dengan tanah dan batu. Tiga dari kami berkali-kali kecebur genangan air yang bikin langkah jadi berat. Dan, salah banget gue pake celana jeans. Gue kira trek nya ngga terlalu maksa gue untuk kotor dan basah, tapi apa daya, gue harus megangin celana biar ngga kedodoran. Tau kan rasanya make celana jeans basah, kita berasa jadi make celana minjem.

Sekitar tiga perempat perjalanan tiba-tiba hujan rintik-rintik mulai netes dari daun-daun pepohonan yang lebat banget di sekitar jalan setapak.

Rintikan hujan mulai berubah jadi gerimis sampai kita tiba di Kawah Mati. Dan kami pun memutuskan untuk tinggal sebentar di Kawah Mati karena kabut yang turun tebal banget (sampe ngga kelihatan jalannya sama sekali) dan ngga baik buat kesehatan juga kalo kita ada di Kawah waktu hujan turun. Jadilah gabut di Kawah Mati nungguin ujan berenti. Padahal kita neduh pun ngga.

Penampakan Kawah Mati

Untungnya ngga lama hujan mulai reda dan kabut mulai kabur. Setelah puas ngambil gambar di kawah mati, kami pun melanjutkan ke destinasi utama kami yaitu Kawah Ratu.

Kira-kira menghabiskan waktu 20 menit perjalanan dari Kawah Mati ke Kawah Ratu. Aroma dan hawa mulai berubah. Bau belerang yang khas lumayan nyengat hidung. Apalagi belerangnya baru aja diguyur hujan walaupun ngga terlalu deras.


Kata temen gue, kalo ngga kena hujan, view Kawahnya bakal putih banget. Dan iya sih waktu gue liat foto dia disini sebelumnya emang serasa dia foto di salju. Keren banget view nya. Kalo pas gue kesini malah keliatan kayak lagi foto dengan view asep pembakaran sampah. Wkwkwk.

Keliatannya pendek, tapi aslinya jarak antara tempat kita berdiri dengan asep asep itu lumayan tinggi.


Kayaknya kita cuma ngabisiin waktu setengah jam di Kawah Ratu dan akhirnya memutuskan pulang. Rasa lelah pas perjalanan kesini ngga sepenuhnya terbayarkan karna temen gue nyesel ngga bawa hamock. Kita pun istirahat duduk di batu seadanya.

Pas perjalanan pulang dari Kawah Ratu ke Pos Pendaftaran, kita banyak ketemu pendaki lain yang katanya mau daki si imut Salak. Dan tiba-tiba kita berempat jalan misah. Untungnya misahnya berdua-dua, jadi ngga terlalu khawatir banget lah. Soalnya pas kita turun kan udah sore, jalan setapak jadi gelap banget. Kita ngga ada sama sekali yang bawa senter atau headlamp. Kabut dan kesunyian mulai nemenin perjalanan turun kami. Gue pun mulai berubah menjadi cewek super bawel yang terus nyari obrolan biar suara alami hutan yang berbisik ngga terlalu jeblosin kami ke sunyinya hutan sore itu.



--D Ark R Ain Bow--

Selasa, 26 Juli 2016

Akhirnya Raku Memilih Chitoge!!

Masih dalam minggu merdeka nya #TeamChitoge. Chapter 227 serial manga Nisekoi (False Love) pun membuat para pendukung Kosaki Onodera menangis. Karena, Raku udah ketemu dan mengungkapkan perasaan sukanya ke Chitoge! Dia juga udah inget kalau sebenarnya cewek yang bikin janji untuk menikah 10 tahun lalu itu adalah Kosaki. Tapi apa daya dia udah terlanjur berpaling ke hati Chitoge.



















Source : http://mangaku.web.id/nisekoi-chapter-227-nisekoi/

Rabu, 11 Mei 2016

Delmora The Ocean's Princess: Bab 14 (Pulang)

Delmora The Ocean’s Princess







Created By:
Safitri Tsa’niyah






 Bab 14
Pulang
Lima hari setelah hari heroik bagiku dan Oliver telah berlalu. Hari ini aku akan mengantar ayahku pulang ke istananya. Sebetulnya ia tidak benar-benar membutuhkan antaran dari dua orang remaja, tapi liburanku yang hanya tersisa satu hari lagi membuatku ingin bermain-main di pantai sebelum kembali ke rutinitas sekolahku yang biasa. Sebenarnya ayahku ingin ibu ikut untuk memastikan Oliver tidak berbuat macam-macam padaku, tapi dia tidak bisa terus mengambil cuti kerja untuk menemaniku liburan. Dan setelah Oliver dan aku keluar dengan selamat dari gua, ibuku merasa lebih percaya pada Oliver. Walaupun Poseidon masih terlalu protektif terhadap Oliver.
Aku, Oliver, Poseidon dan Athena menuju ke pantai dengan naik mobil milik ayah Dylan (dia masih menjadi ikan badut) yang dikemudikan oleh Oliver. Sebenarnya Athena tidak harus ke pantai untuk pulang ke Olimpus, tapi ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Oliver. Oliver sudah bisa menerima semua fakta tentang dirinya yang dikatakan oleh Athena.
“Baiklah, kurasa aku harus kembali ke istana sekarang. Aku sudah terlalu lama berada jauh dari wilayahku.” Ucap Poseidon.
“Aku juga akan pulang ke Olimpus sekarang. Aku tidak mau membuat yang lainnya khawatir padaku. Terutama Zeus. Tapi kurasa mereka akan mengerti.” Ucap Athena.
Athena beralih kepada Oliver. “Nak, kau sudah tumbuh besar sekarang. Jaga dirimu baik-baik ya. Dan jaga juga nenekmu di rumah. Dia sangat menyayangimu. Seperti halnya orang tuamu dan juga aku. Aku selalu menjadi ibumu, Oliver. Kalau kau butuh apa pun yang bisa kubantu, mintalah. Mudah-mudahan aku akan selalu ada disana saat kau membutuhkanku.”
“Ya, Dewi Ath—emm maksudku Ibu.” Ucap Oliver.
Lalu dalam hitungan detik saja, Athena telah terbuyarkan menjadi cahaya dan hilang.
Poseidon sudah berjalan ke pantai sampai air membasahi lututnya ketika ia berteriak sambil melambai kepadaku. “Aku sayang kau Delmora!” detik berikutnya ia menghilang tergulung ombak—atau mungkin dia yang menggulung ombak.
Aku dan Oliver memandang ombak sampai buih gelombang itu menjauh dan hilang di garis khatulistiwa.
Oliver meraih tanganku dan menggenggamnya seraya mengecup lembut punggung tanganku. Aku menoleh dan tersenyum padanya. Aku baru menyadari betapa banyaknya yang telah kami lewatkan bersama.
“Aku sayang kamu.” Ucapku.
Oliver hanya tersenyum lalu tertawa.
“Kenapa? Ada yang lucu dari kata-kataku barusan?” Tanyaku sedikit jengkel.
“Ngga.” Ucap Oliver di sela-sela tawanya.
“Terus?” Tuntutku.
“Aku masih memikirkan saat pertama kamu cium aku.” Ucap Oliver.
Wajahku terasa panas dan tak diragukan lagi pastinya sangatlah merah. Aku langsung memalingkan pandanganku dari wajah Oliver ke pasir yang tiba-tiba terlihat lebih menarik.
“Senja di tepi pantai. Waktu itu kamu lagi ketakutan, begitu juga aku. Aku sempat berpikir, kalau kamu ngga lagi ketakutan, mungkin kamu ngga akan dapat keberanian untuk melakukannya.” Ucap Oliver.
Aku mulai mengangkat kembali wajahku untuk menatap Oliver. Aku ngga terima dipermalukan pacarku sendiri.
“Tapi waktu di gua, kamu juga cium aku. Walaupun saat itu aku udah jadi setengah batu.” Ucapku.
“Aku sering lihat di film, kalau si jagoan mau perang, ceweknya selalu ngasih ciuman selamat tinggal untuk menyemangati.” Oliver berkata dengan polosnya.
Aku mendengus sebal. Jadi cuma karena dia lihat adegan di film?
Aku jadi merasa agak sakit hati. Berarti dia ngga menganggap hal itu spesial? Aku berkutat dengan pikiran-pikiran yang menyebalkan tentang cowok di sampingku ini. Kenapa cowok setampan ini bisa sama sekali tidak romantis sih?
Oliver kembali menggenggam tanganku. Aku menoleh karena ia menolehkan pipiku ke arah wajahnya.
“Tapi aku mau melakukannya lagi, Delmora.” Ucap Oliver polos.
Aku masih terdiam.
“Boleh kan?” Tanya Oliver dengan nada seperti seorang anak kecil yang sedang meminta dibelikan sebatang permen lolipop oleh ibunya.
Aku mengangguk.
Saat berikutnya, jarak antara aku dan Oliver sudah tidak bisa kuhitung lagi. Dia begitu dekat sampai aku bisa melihat bintik di hidungnya yang luar biasa mancung. Di saat yang sama dengan pertama kali kami melakukanya. Senja di tepi pantai.
Dan itulah aku, Delmora Naida Arethusa. Sekarang aku sudah menerima kenyataan kalau aku ini cewek berusia tujuh belas tahun yang dalam tubuhnya mengalir darah penguasa Laut, Dewa Poseidon. Salam Trisula.



 Previous: 

Pre-Mountaineering

Actually, I love to to mountaineering since i was in the middle school. But my parents said that it was too dangerous for me to start hiking in the mountain. So I can't afford my own nerve to against them. But I'm a co-ed now. They can't keep me so that hard. I finnally can going outside. Haha!

I'm gonna share my first experience of Mountaineering



1. First thing you should do if you want to start Mountaineering is obtain permission from parents. Because you can't deny "the strength of parent's permission". You can go if they allow you.








2. Train your body to keep away from body stiff. I read that you should train your body 6-8 weeks before you go mountaineering. Especially you planning to mountaineering more than a day or two. You need to keep your body warm and avoid from exhausted. Don't ever go if your body doesn't feel well. You don't know what will happend there. Many people hipotermia because their body doesn't feel well when they're start go hiking the mountain. You can go biking, swimming, or just jogging.





3. Don't forget to bring your tools and packed it in a special bag to go up the mountain. If you use the regular bag, posibility you get easly tired and you feel tough. Because Carrier (what we call for special bag for mountaineering) mostly has any feature to simplify your travel. It has any tools to make your back doesn't really heavy to carried the bag. And also it usually bigger than the regular bag.







4. Don't go alone. For mountaineering, it is a must you go by team. Include the people who have been up the mountain with you and don't go too far from them.




5. Water Water Water. Don't let yourself exhausted or dehydration. You should bring water with you everywhere. Or at least bring the bottle to help you caerried the water you gain in the wellhead.



Let's go outside!


Senin, 09 Mei 2016

Against The Current

Ada yang belum pernah dengar nama ini??
Lagu-lagunya chic banget loh.
Band asal Amerika beranggotakan 2 cowok kece dan 1 vokalis cewek yang cute banget ini memulai karir mereka dari cover lagu di youtube.



Suara khas Chrissy Costanza yang renyah-renyah rock cute ini punya kharisma tersendiri.
Mereka udah mengunggah beberapa single dan dua album EP (Infinity dan Gravity) yang salah satu lagunya dinyanyikan Featuring Takahiro Morita dari band Jepang ONE OK ROCK.



Setelah laris dengan EP albumnya "Gravity", band ini pun dikontrak oleh sebuah label yang menaungi beberapa band keren seperti Twenty One Pilots, Paramore dan FUN, yaitu Fueled By Ramen pada 4 Maret 2015.



Ngga lama setelah masuk ke managemen FBR, Against The Current pun meluncurkan debut album pertama mereka yang bertitle "In Our Bones".
Sampai saat ini mereka sudah mengeluarkan 2 single dengan video klip:


Against The Current - Running With The Wild Things

Against The Current - Outsiders



Lalu single lain yang bermunculan pun ngga kalah asik dari sebelumnya. Gaya bermusik band ini semakin diasah dan suara cute Chrissy sangat rock manis diiringi petikan gitar Dan Gow dan pukulan drum Will Ferri.







Buat yang udah nge fans banget sama ATC ini, mereka udah pernah loh dateng ke Jakarta. Walaupun ngga dalam konsernya sendiri (Sparks Project Feat Alex Goot & Against The Current) 27 Agustus 2014 kemarin. Kalo untuk sekarang mereka belum ada jadwal tour konser ke Indonesia lagi.

-- D Ark R Ain Bow--