Rabu, 01 April 2015
Senin, 23 Maret 2015
Insurgent
Meluncur dari Margonda ke Kalibata emang
mustahil banget bisa dilalui selama kurang dari 20 menit (dengan keadaan yang
macet parah). Begitu pun yg terjadi sama gue kali ini. Hari ini gue ada belajar
kelompok di kosan temen gue di Jalan Margonda. Niatnya gue mau nonton Insurgent
di Margo City Mall setelah selesai, tapi gue secepat kilat merubah pikiran gue
dan gue pun milih untuk nonton di Plaza Kalibata dengan alasan biar perjalanan
pulang yang harus gue tempuh ngga terlalu jauh. Tapi sayangnya jadwal yang gue
targetin ngga tercapai. Gue telat 15 menit dan itu fatal banget buat gue.
Akhirnya gue pun ngambil jam ketiga yang mulai 2 jam lagi dari saat gue beli
tiket. Huuufff Nunggu 2 jam sendirian itu rasanya sesuatu banget loh.
Waktu di loket, gue minta kursi B6 yang ada
diantara kursi B5 Dan B4. Dan kasirnya bilang gue ngga bisa duduk disitu. Dia
bilang mereka ngga ngejual tiket ganjil. Hadehhh emang cuma gue apa yg nonton sendirian???
(nengok kanan kiri) iya juga siih, ini malem minggu. Dari anak SD sampe lansia
pun nontonnya couple an. -,-
Penantian panjang ini mengakibatkan sakit
kepala, kebelet pipis dan laper berkepanjangan. Jealous karna ngeliat orang-orang pada berduaan pun membuat gue
lama-lama jengah. Harusnya gue tunggu di kamar mandi aja. Seengganya mereka
yang pacaran ngga akan bawa pacar ke kamar mandi. Tapi orang bego mana yang
ngabisin waktu selama dua jam di kamar mandi SENDIRIAN..
Setelah muter-muter nyari colokan listrik
untuk ngecas hape yang tewas, akhirnya gue pun masuk studio (ngga jadi ngecas)
Insurgent
The
Divergent series
Penantian nya itu setahun loh, tapi di film
nya, tenggang waktu antara ending Divergent dan opening Insurgent itu cuma lima
hari. Saat itu Jeanine (Kate Winslet) menyiarkan kabar tentang pembunuhan
massal di faksi Abnegation yang dipelopori oleh kaum Divergent (non faction)
dan para pengikutnya yang berjumlah 5 orang ==> Tris / Beatrice Prior
(Shailene Woodley), Four / Tobias Eaton (Theo James), Caleb Prior (Ansel
Elgort), Peter (Miles Teller), Dan Marcus / ayah Four (Ray Stevenson).
Akhirnya Tris dan yang lainnya tinggal dan
bersembunyi di faksi Amity selagi mereka menjadi buronan Jeanine.
Selama di Amity, Tris tidak hentinya
mengalami mimpi buruk akibat rasa bersalahnya telah membunuh Will (Ben
Lloyd-Hughes)—ada di film Divergent—untuk mempertahankan hidupnya. Juga
kematian ibu dan ayahnya yang membuat Tris semakin merasa bersalah dan tidak
bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia menganggap kalau semua orang yang dekat dan
yang dicintainya akan meninggal atau terluka. Dan keadaan itu diperburuk dengan
ejekan dari Peter yang membuat darah Tris mendidih. Pertengkaran antara
keduanya pun tidak dapat dihindarkan. Akhirnya mereka terpaksa harus pergi dari
Amity karena pemimpin faksi tersebut, Johanna (Octavia Spencer) tidak ingin ada
kekerasan di faksinya. Ia mempertimbangkan mengusir mereka, namun ia memberikan
satu kesempatan lagi dan memperbolehkan mereka untuk tinggal dan menyelesaikan
misi untuk mencari faksi Dauntless lain yang tidak berpihak pada Jeanine.
Tapi semua dirusak dengan datangnya Max (Mekhi
Phifer) Dan Eric (Jay Courtney) yang membawa pasukan Dauntless yang memihak
Jeanine untuk melakukan pencarian Divergent di Amity. Marcus tewas saat mencoba
untuk bernegosiasi dengan pasukan tersebut. Tinggallah Tris, Four dan Caleb
yang berusaha kabur sementara Peter memilih untuk berkhianat dan bergabung
dengan Eric dan pasukannya.
Mereka kabur dan berhasil naik ke kereta
pengangkut hasil tani dari Amity yang menuju ke Kota. Tapi ternyata mereka
tidaklah sendiri. Ada banyak orang dari Factionless yang menaiki kereta itu. Maka
terjadilah perkelahian yang disebabkan oleh tidak adanya yang mau mengalah
ataupun berbagi. Namun akhirnya perkelahian berhenti saat Four mengaku dirinya
adalah "Tobias Eaton".
Sampai di markas Factionless, mereka
bertiga bertemu dengan pemimpin faksi, Evelyn (Naomi Watts). Tris yang masih
bertanya-tanya mengapa mereka mencari Tobias Eaton pun tercengang ketika tahu
bahwa ternyata Evelyn adalah ibu Four.
Evelyn memiliki rencana untuk menyerang
Erudite dan membunuh Jeanine untuk mendapatkan kekuasaan atas Kota, namun Four
menentang rencana tersebut karena ia terlanjur membenci ibunya yang telah
meninggalkannya saat usia 6 tahun bersama ayahnya yang kasar.
Saat Four dan Tris bersiap pergi, Caleb
membuat keputusan untuk berpisah. Dia bilang dia akan pergi ke faksi Abnegation
dan memulai hidup dengan apapun yang tersisa disana. Akhirnya Tris hanya pergi
berdua.
Di Candor, mereka disambut meriah oleh kaum
Dauntless yang tersisa, dan hati Tris tergores lebih dalam lagi ketika
Christina (Zoe Kravitz) bertanya soal Will.
Tapi tidaklah seramah dugaan saat para
petinggi Candor menyergap Tris dan Four dan akan membawa mereka ke Erudite
untuk diadili atas hukum dan perintah dari dewan konsul yang dipimpin Jeanine.
Tidak semudah itu untuk membawa mereka
berdua ke Jeanine. Saat Four meragukan kekuatan hukum Candor sebagai faksi
paling jujur, Four ingin disidang di Candor. Dan pengadilan pun dilaksanakan.
Dibawah pengaruh serum kejujuran, Four dan Tris membuat pengakuan
sejujur-jujurnya bahwa mereka tidak terlibat dengan rencana Jeanine untuk
melakukan pemberontakan di Abnegation. Mereka dinyatakan tidak bersalah dan
dilepaskan dari segala tuntutan.
Malamnya, terjadilah serangan dari pasukan
Dauntless Eric dan Max. Dengan menembaki semua kaum Candor dengan pistol tidur,
mereka memeriksa semua Divergent yang tidak terpengaruh dengan tembakan
tersebut. Dan Tris juga tertangkap. Eric tercengang ketika mengetahui bahwa
Tris 100 persen Divergent. Ia berpendapat kalau Tris adalah orang yang selama
ini dicari oleh Jeanine yang dipercaya mampu membuka kotak rahasia berisi pesan
dari pendiri sistem faksi.
Tapi saat Tris akan dibawa ke Jeanine, Four
menghentikan pasukan Eric dan dia pun membunuh Eric. Namun terlambat, Max telah
memberitahu Jeanine kalau Tris lah orang yang tepat untuk menjadi subjek nya
yang sempurna. Sejak saat itu, Tris menjadi buronan yang akan dicari sampai
ketemu. Jeanine mengancam akan ada orang yang terbunuh setiap harinya jika Tris
tidak diserahkan. Dan dia tidak main-main. Karna dia telah memasang semua orang
di markas Factionless sebuah alat yang akan meledak dan mampu mengendalikan
bahkan membunuh inang yang dihinggapinya.
Dibawah tekanan dan rasa bersalah yang
makin menjadi-jadi, Tris akhirnya menyerahkan diri ke Jeanine. Dia bersedia
menjadi subjek untuk membuka kotak pesan tersebut.
Lalu ia menjalani simulasi dari tiap faksi.
Dauntless, Candor, Abnegation dan Erudite dilewati dengan mudah olehnya, namun
simulasi Amity tidak berhasil dan malah membuat Tris kehilangan nyawanya..
Four yang kesal melihat Tris mati pun marah
besar. Tapi tiba-tiba Tris terbatuk. Peter memberitahunya soal obat bius yang
disuntikan pada Tris saat akan melakukan simulasi yang membuatnya tak sadarkan
diri beberapa saat.
Peter kembali memihak Tris dan Four. Ia
membantu mereka berdua untuk masuk ke lab dimana kotak pesan itu berada. Karena
Tris merasa harus membawa serta kotak itu jika ingin melarikan diri. Peter
mematikan seluruh pengaman menuju lab dan memungkinkan Tris dan Four masuk.
Tapi setelah di dalam, Tris merasa harus membuka kotak itu dan dia merasa tahu
bagaimana caranya. Dia harus menyelesaikan simulasi Amity.
Bayangan tentang dirinya yang kejam muncul
dalam simulasinya. Tapi sebisa mungkin ia tidak melawan. Dan akhirnya dia
berhasil membuka kotak dengan memaafkan dirinya sendiri.
Tepat saat itu, disaksikan Jeanine dan
cukup banyak orang, kotak pesan itu terbuka. Seorang wanita muncul dalam
bayangan hologram.
Wanita hologram itu berkata bahwa mereka
telah berhasil menjalani uji coba kehidupan dalam sistem pembagian faksi. Dan
dia tahu kalau suatu saat akan ada Kaum Divergent yang istimewa yang akan bisa
membuka kotak pesan itu dan mereka semua siap untuk menjalani kehidupan
sebenarnya di luar tembok tinggi. Tahu bahwa ada kehidupan manusia lain di luar
tembok dan mereka bukanlah satu-satunya manusia yang tersisa di bumi.
Jeanine yang merasa persepsinya selama ini
telah salah mengenai Divergent dan sistem faksi, memerintahkan pasukannya untuk
mengubur kotak itu dan tidak boleh ada yang tahu tentang isi pesan tersebut..
Lalu ia ingin Tris dan Four mati..
Namun tembakan menghujani pasukan Jeanine
dari para Factionless yang dipimpin Evelyn. Jeanine dan Caleb ditahan. Pesan
hologram itu disiarkan ke seluruh faksi. Dan Jeanine akhirnya dibunuh oleh
Evelyn. Seluruh warga kota beramai-ramai menuju ke arah tembok. Untuk
mengetahui apa yang ada di balik tembok selama 200 tahun ini.
--D Ark R Ain Bow--
Kamis, 19 Maret 2015
Cinderella, Spongebob, Insurgent
As long as I waited, they've finally come out.
Minggu ini adalah minggu yang sangat membuat galau. Pertama, tanggalnya jatuh di pertengahan bulan yang menandakan kalau isi dompet juga tinggal tengah-tengah. Kedua, ada tiga film bagus yang udah di tunggu-tunggu kemunculannya. Ketiga, jadwal kerja dan kuliah yang ngga bisa ditolerir.
See,, this is the complicated.
CINDERELLA
Kode M-TIX : CIND
Jenis Film : Adventure, Drama
Produser : Simon Kinberg, David Barron, Allison Shearmur
Produksi : Walt Disney Pictures
Sutradara : Kenneth Branagh
Homepage : http://disney.com/cinderella
Kisah Cinderella akan mengikuti cerita Ella (Lily James), yang terpaksa tinggal dengan ibu tiri dan kedua anaknya Anastasia (Holliday Grainger) dan Drisella (Sophie McShera) setelah sang ibu meninggal.
Penderitaan Ella bertambah saat sang ayah juga meninggal. Kehidupan yang awalnya bahagia, kini berubah saat ibu tirinya memperlakukan Ella seperti pembantu.
Kehidupan Ella tiba-tiba berubah ketika Ia bertemu dengan pangeran tampan di sebuah pesta dansa.
Minggu ini adalah minggu yang sangat membuat galau. Pertama, tanggalnya jatuh di pertengahan bulan yang menandakan kalau isi dompet juga tinggal tengah-tengah. Kedua, ada tiga film bagus yang udah di tunggu-tunggu kemunculannya. Ketiga, jadwal kerja dan kuliah yang ngga bisa ditolerir.
See,, this is the complicated.
CINDERELLA
Kode M-TIX : CIND
Jenis Film : Adventure, Drama
Produser : Simon Kinberg, David Barron, Allison Shearmur
Produksi : Walt Disney Pictures
Sutradara : Kenneth Branagh
Homepage : http://disney.com/cinderella
Kisah Cinderella akan mengikuti cerita Ella (Lily James), yang terpaksa tinggal dengan ibu tiri dan kedua anaknya Anastasia (Holliday Grainger) dan Drisella (Sophie McShera) setelah sang ibu meninggal.
Penderitaan Ella bertambah saat sang ayah juga meninggal. Kehidupan yang awalnya bahagia, kini berubah saat ibu tirinya memperlakukan Ella seperti pembantu.
Kehidupan Ella tiba-tiba berubah ketika Ia bertemu dengan pangeran tampan di sebuah pesta dansa.
THE SPONGEBOB MOVIE: SPONGE OUT OF WATER
Kode M-TIX : SPON
Jenis Film : Animation, Adventure
Produser : Mary Parent, Paul Tibbitt
Produksi : Universal Pictures
Sutradara : Paul Tibbit
Homepage : http://spongebobmovie.com
Jenis Film : Animation, Adventure
Produser : Mary Parent, Paul Tibbitt
Produksi : Universal Pictures
Sutradara : Paul Tibbit
Homepage : http://spongebobmovie.com
SpongeBob kali ini akan keluar dari Bikini Bottom dan berpetualang ke permukaan. SpongeBob dan kawan-kawan harus merebut kembali gulungan kertas resep rahasia Krabby Patty yang dicuri oleh Burger Beard (Antonio Banderas), penjahat dan juga bajak laut yang berniat menghancurkan dunia.
DIVERGENT SERIES: INSURGENT
Kode M-TIX : INSU
Jenis Film : Adventure, Sci-fi
Produser : Douglas Wick, Lucy Fisher
Produksi : Entertainment One
Sutradara : Robert Schwentke
Homepage : http://www.thedivergentseries.com
Jenis Film : Adventure, Sci-fi
Produser : Douglas Wick, Lucy Fisher
Produksi : Entertainment One
Sutradara : Robert Schwentke
Homepage : http://www.thedivergentseries.com
Insurgent akan melanjutkan petualangan Tris (Shailene Woodley) dan Four (Theo James) di Divergent. Tris mencoba mengatasi rasa bersalah karena telah membunuh Will, meskipun hal itu untuk membela diri.
The Group, terutama Tris dan Four, sulit untuk mematuhi aturan di Amity yang melarang penggunaan senjata dan mereka akhirnya harus melakukan pelarian lagi.
Tris dan Four yang kini menjadi target buruan Jeanine (Kate Winslet) berusaha melawan dengan mencari faksi baru untuk menumbangkan Jeanine.
Tidak hanya di buru, Tris juga harus berusaha melindungi orang-orang yang dicintainya.
The Group, terutama Tris dan Four, sulit untuk mematuhi aturan di Amity yang melarang penggunaan senjata dan mereka akhirnya harus melakukan pelarian lagi.
Tris dan Four yang kini menjadi target buruan Jeanine (Kate Winslet) berusaha melawan dengan mencari faksi baru untuk menumbangkan Jeanine.
Tidak hanya di buru, Tris juga harus berusaha melindungi orang-orang yang dicintainya.
Rabu, 18 Maret 2015
Delmora The Ocean's Princess: Bab 8 (Kardus Kulkas)
Delmora The Ocean’s Princess
Created By:
Safitri
Tsa’niyah
Bab 8
Kardus Kulkas
Kali ini aku merubah posisi patungku
nanti ke posisi yang tidak nyaman. Aku harus duduk sila dalam sebuah kardus
bekas kulkas. Kami akan ke Pangandaran dengan kereta.
“Tolong pelan-pelan, Mas. Isinya mudah
hancur.” Aku mendengar Oliver berkata pada petugas kereta.
“Maaf, Mas. Tapi barang harus naik ke
gerbong barang. Bukan gerbong penumpang.” Ucap lawan bicara Oliver yang
terdengar lebih tua.
“Tapi saya sudah terlanjur membeli
tiket penumpang untuk barang saya.” Kudengar Oliver lagi.
Lalu aku tidak mendengar percakapan
mereka lagi. Rasanya aku ingin berteriak karena kardusku berguncang—begitu pula
dengan aku—aku sepertinya sedang diangkat naik ke gerbong.
Tak lama kemudian aku mulai merasa
mual lagi. Naik kereta kuda setengah ikan ayah memang yang terbaik.
Setelah kira-kira 7 jam kereta melaju,
aku merasa kereta berhenti lebih lama di stasiun ini dan kukira kami sudah
sampai. Kardusku diturunkan dari gerbong.
“Kita sampai di stasiun Banjar,
sayang. Sekarang kita harus naik bis lagi menuju Teluk.” Ucap Oliver dari luar.
Aku mendengarnya dengan baik. Tapi
Oliver tahu aku tidak bisa membalas ucapannya. Jadi dia hanya menaikanku ke
troli dan—sepertinyakeluar dari stasiun. Sebelum berjalan jauh, aku mendengar
beberapa orang berbisik-bisik kepada Oliver yang berbicara pada sebuah kardus
kulkas.
Aku kembali merasakan guncangan saat
kardusku di naikan ke bis.
“Moso karton kulkas iki bakal
diselehake ing kalungguhan penumpang?” Ucap kondektur bus yang artinya: ‘Masa kardus kulkas ini mau diletakkan di
bangku penumpang?’
“Saya takut isinya rusak, Mas.” Ucap
Oliver sopan.
Selama beberapa menit berdebat dan
memohonkepada semua awak bus, akhirnya Oliver berhasil mendudukkanku di
sampingnya. Aku memang tidak bernafas selama menjadi patung, tapi rasanya
Oliver tidak ingin menganggapku sebagai barang sekalipun aku dimasukkannya ke
dalam kardus. Atau dia tidak ingin menemukan beberapa jariku patah.
Kira-kira empat puluh lima menit
melanjutkan perjalanan dengan bus, akhirnya bus pun tiba di teluk Pangandaran.
Aku merasakan Oliver membawaku ke pantai. Karena aku bisa mendengar debur ombak
di kejauhan.
“Ini masih jam setengah empat, sayang.
Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu kau berubah.” Ucap Oliver.
Aku sangat tidak sabar menunggu
matahari terbenam. Aku ingin cepat bebas dari kutukan ini dan menyelamatkan
Athena. Tapi keadaan justru malah bertambah buruk.
“Permisi Mas.” Ucap seseorang dengan
suara berat dan logat jawa yang kental.
“Kenapa ya, Pak?” Tanya Oliver.
“Apa yang sedang Mas lakukan disini?”
Tanya Bapak itu.
“Saya sedang menunggu matahari
terbenam.” Jawab Oliver.
“Dengan sebuah kulkas pintu dua?”
Tanya bapak itu dengan nada mencibir.
“Itu bukan urusan bapak.” Oliver mulai
marah.
“Tapi saya petugas keamanan disini.
Dan tugas sayalah untuk memeriksa kalau-kalau ada benda mencurigakan yang masuk
ke pantai ini.” Bapak itu lebih galak.
“Tapi ini bukan benda mencurigakan.”
Bantah Oliver.
“Seorang pemuda Jakarta duduk sendirian
di tepi pantai teluk Pangandaran bersama kulkas dua pintu menunggu matahari
terbenam?” Ucap bapak Petugas pantai itu dengan nada yang mengancam.
Aku tahu Oliver sudah tidak punya
perlawanan lagi. Aku mendengar petugas itu berbicara dengan seseorang lewat
walkie talkie nya. Dan tak lama kemudian beberapa orang datang ke tempat kami.
Aku mulai merasa terguncang seperti sedang dinaikan ke sesuatu.
“Bapak mau apa?!” Tanya Oliver dengan
panik.
“Kami harus membawa ini ke pos. Mas
juga harus ikut. Kalau ternyata dalam kardus ini berisi barang yang berbahaya,
apalagi melanggar undang-undang, kita bisa lanjut ke kepolisian.” Ucap bapak
Petugas.
Oliver tidak bicara apa-apa lagi dan
kami pun berjalan menjauhi tepi pantai.
Sore menyingsing. Tapi matahari belum
juga terbenam. Tak lama, kami pun tiba di pos jaga pantai teluk Pangandaran.
Aku mendengar sebuah pisau cutter
menggoreskan matanya ke permukaan kardusku. Aaahhhh tidak.
Lampu pos menerangiku lebih dari yang
kuinginkan. Sekarang kardusku benar-benar sudah terbuka dan kini aku bisa
melihat sebagian pemandangan tegang di pos jaga itu. Oliver tampak pucat
ketakutan.
“Patung?” Para petugas pos
kebingungan.
“Untuk apa kamu berada di tepi pantai
bersama dengan sebuah patung gadis?” Tanya salah seorang petugas berbadan gemuk
kepada Oliver. Oliver tidak menjawabnya. Untuk seorang Athena pun, hal ini akan
sulit dijawab. Mengingat tidak ada pameran patung di tepi pantai, atau kios
cenderamata candi yang identik dengan patung batu.
PLAKK. Bapak Petugas gendut tadi
menampar pipi Oliver.
“Sudah, kalau memang anak ini tidak
mau jujur, kita hancurkan saja patung ini. Siapa tahu di dalamnya dia
menyembunyikan ganja atau obat terlarang lainnya.” Usul salah satu petugas.
“Jangan, Pak!!” Teriak Oliver dengan
air mata membanjiri wajahnya yang sangat pucat.
“Kenapa memangnya? Jangan-jangan kamu
memang menyembunyikan sesuatu di dalam patung ini?”
“Dia—dia pacar saya, Pak.” Jawab
Oliver putus asa.
“Jangan membodohi kami, anak muda!
Mana ada orang yang pacaran sama patung! Kamu ini sakit jiwa ya?!”
“Jangan!!!” Oliver teriak lagi dan tangisnya
makin keras.
Salah seorang petugas sudah memegang
parang dan siap menghancurkanku menjadi berkeping-keping. Tapi aku juga ngga
mau mati sekarang dan disini. Ada misi yang masih harus kuselesaikan.
Mata pisau parang hanya berjarak dua
senti dari pinggangku. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa mengelak. Aku
hanya bisa pasrah. Athena, maafkan aku karena aku belum bisa menemukanmu.
Poseidon, maafkan aku ya yah, aku belum bisa membuktikan kalian telah diadu
domba. Oliver, aku sayang kamu. Maaf aku lebih dulu meninggalkan kamu.
BLASSSHH...
Aku merasakan sensasi disiram air
hangat dari rambut hingga kaki. Tiba-tiba saja aku sudah mengelak dari tajamnya
parang. Aku menunduk ke bawah dan jatuh telengkup di kaki Oliver.
“Hah?” Semua orang di pos kaget dengan
gerakanku yang super mendadak ini. Dan jujur, aku sendiri pun kaget.
“Syukurlah Delmora.” Ucap Oliver sambil
menyembunyikan wajah tangisnya dariku.
“Ba—bagaimana bisa?” Ucap petugas
gendut yang tadi menampar Oliver.
“Maaf mengagetkan, Pak. Tapi kami
buru-buru.” Ucapku sambil menjambrat lengan Oliver dan kabur dari tempat itu.
Aku tidak berhenti, bahkan tidak menoleh hingga kami benar-benar berada jauh
dari pos itu. Langit sudah mulai gelap dan aku bersyukur karenanya.
Di tepi pantai kami berhenti berlari.
Oliver langsung menjejalkan tubuhku dalam pelukannya. Aku merasakan aliran
darahnya tidak teratur dan tubuhnya gemetar hebat.
“Tenanglah, Oliver. Aku ngga apa-apa.”
Ucapku menenangkan.
“Aku takut kamu di—“
Sebelum menyeselaikan kalimatnya, aku
sudah menutup mulut Oliver dengan bibirku. Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Tapi aku sering melihat ibu melakukannya pada ayah, jadi apa salahnya aku
lakukan hal ini pada Oliver? Tapi detik berikutnya aku menjauh.
Aku dan Oliver saling menatap dalam
diam. Aku masih tidak percaya apa yang kulakukan tadi, sedangkan Oliver masih
panik atas ‘nyaris’ terbunuhnya aku tadi. Walaupun ia sempat tersenyum sesaat
setelah kujauhkan wajahku dari wajahnya.
“Aku sayang kamu, Delmora.” Ucap
Oliver, nadanya masih bergetar.
Aku tersenyum. “Ayo kita jemput ibu
kamu.” Ajakku.
Oliver mengangguk.
Aku memasukan kaki ke dalam air dan
menimbang. Sebaiknya aku naik gelembung atau kereta kuda setengah ikan saja?
Dan saat itu kusadari petugas jaga pantai yang tadi masih mengejar kami. Aku
harus berpikir dengan cepat. Baiklah, kereta akan lebih aman mengingat kami
bahkan belum tahu tempat yang kami tuju. Gelembung hanya akan menyesatkan kami.
“Delmora?” Tegur Oliver.
Aku memasukan wajahku ke air. “Ayah,
aku butuh kereta.” Ucapku.
Petugas itu semakin dekat. Jarak
antara kami hanya tinggal lima belas meter. Mereka berteriak memanggil-manggil
kami.
“Ayo Oliver, kita harus berenang
sedikit.” Ajakku sambil menarik lengan Oliver dan memasukannya ke air.
Previous:
Senin, 02 Maret 2015
Love, Rosie
Awalnya gue kira film ini ngga akan tayang di Indonesia karna gue udah liat news di IMDb sejak tahun 2014. But fortunately, akhirnya pada bulan Februari di tahun 2015 ini, film yang dibintangi Lily Colins dan Sam Claflin pun tayang.
Cerita dimulai dengan Rosie (Lily Collins) yang sedang bersiap untuk berpidato. Awalnya gue ngga tau dia pidato untuk apa atau di acara apa, tapi nanti scene ini akan dilanjutkan di ending film. Alur pun mundur sampai ke 18 tahun sebelumnya, saat Rosie sedang merayakan ulang tahun ke-18 nya.
Saat itu Rosie sedang berdansa dengan Alex (Sam Claflin), sahabatnya sejak umur 5 tahun.
Saat sedang mabuk mereka tidak sengaja kissing, dan setelahnya membuat keduanya merasa tidak enak dan setuju untuk melupakan hal tersebut. Hubungan Alex dan Rosie memang sangat dekat bagai saudara. Alex mempunyai kebiasaan bermimpi menjadi benda-benda mati.
Setelah lulus sekolah, Alex berencana pindah ke Boston dan kuliah di Harvard University. Ia pun mengajak Rosie. Tapi pada saat pesta dansa di sekolahnya, terjadilah sesuatu yang membuat rencana Rosie untuk bersama-sama kuliah Boston menjadi gagal total. Rosie yang saat itu berkencan dengan Greg (Christian Cooke) dinyatakan hamil. Tapi ia belum mau menceritakannya pada Alex karena ia merasa tidak mau mengganggu kebahagaian Alex yang saat itu sedang berpacaran dengan Bethany (Suki Waterhouse). Hingga pada saat keberangkatan Alex ke Boston pun Rosie tidak bilang apa-apa tentang kehamilannya pada Alex.
Rosie bertemu dengan Ruby (Jaime Winstone) di sebuah toko obat yang menyarankannya untuk tes kehamilan. Sejak saat itu Rosie yang ditinggal Alex, menjadi dekat dan bersahabat baik dengan Ruby.
Awalnya Rosie ingin membiarkan anaknya diadopsi oleh yayasan sosial, tapi begitu bayinya lahir, Rosie berjanji akan merawat bayinya dengan baik. Selanjutnnya kegiatan Rosie diisi dengan menggendong bayi, mengganti popok, dan menyusui Katie--anaknya.

Kedatangan Alex ke rumahnya yang tiba-tiba mengagetkan Rosie karena ia masih belum memberitahukan apapun tentang Katie langsung panik. Namun ternyata Alex sudah tahu beritanya dari Bethany yang sempat bertemu dengan Rosie di jalan saat dirinya sedang mendorong kereta bayi Katie.
Sejak Alex tahu tentang Katie, ia justru mau menjadi ayah baptis dari Katie dan setiap natal, Alex selalu mengirimi hadiah untuknya. Saat itu ia tinggal dan berpacaran dengan Sally (Tamsin Egerton), adik dari Phil (Jamie Beamish) yang ia temui di bar beberapa waktu sebelumnya.
Saat Rosie sedang berkunjung ke apartemen Alex di Boston, ia diberitahu bahwa Sally sedang hamil. Dan Rosie pulang dengan perasaan kesal luar biasa pada Alex. Hubungan mereka sempat memburuk untuk beberapa waktu.
Alex dan Rosie mulai saling bicara lagi ketika Alex hadir ke pemakaman ayah Rosie. Namun mereka tidak bisa bicara banyak karena adanya Greg.
Hingga akhirnya Alex mengirimkan surat kepada Rosie yang gawatnya ditemukan oleh Greg yang langsung menyembunyikan surat tersebut tanpa memberitahu Rosie.
Sebulan kemudian Rosie mendapati Greg selingkuh. Rosie membuang semua barang-barang Greg dan menemukan surat Alex di laci Greg yang terkunci. Ia baru tahu ternyata Alex mencintainya seperti ia mencintai Alex. Ia langsung menghubungi Alex. Tapi ternyata yang membalasnya Bethany! Saat video calll, Bethany memberitahu Rosie kalau mereka akan segera menikah. Dan Rosie diundang ke pernikahannya.
Atas saran Ruby, akhirnya Rosie, Katie (Lily Laight), Ruby dan Toby (Matthew Dillon) menuju ke Boston dengan niat untuk menggagalkan pernikahan mereka. Sialnya penerbangan mereka ditunda. Dan membuat mereka tiba di gereja pada saat kedua pengantin selesai diikrarkan. Rosie hanya bisa menahan tangis dan berpura-pura bahagia untuk Alex dan Bethany.
Menyambung ke scene pidato Rosie di opening, ternyata ia sedang berpidato di acara pernikahan Alex dan Bethany. Dan ia mengungkapkan kalau dirinya selalu mencintai Alex.
Sekembalinya Rosie dari Boston, ia merealisasikan rencananya untuk memiliki hotel sendiri. Dan pada saat pembukaan, Alex datang sebagai tamu. Lalu ia mengungkapkan bahwa dirinya juga mencintai Rosie.
--D Ark R Ain Bow--
Senin, 23 Februari 2015
Zedd -- I Want You To Know Ft. Selena Gomez
Saat sedang dikabarkan dekat dan pacaran, pasangan Zedd dan Selena Gomez merilis lagu duet mereka yang berjudul 'I Want You To Know". Menurut gue, ngga terlalu seperti lagu-lagu Zedd sebelumnya yang lebih kuat dan strong power banget, di lagu ini Zedd terdengar lebih lembut dan melodikal banget. (alaah--). Tapi part kesukaan gue adalah di opening. Terdengar kayak di game-game. Hihihi
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course
I'm slippin down a chain reaction
And here I go here I go here I go go
And once again I'm yours in fractions
It takes me down pulls me down pulls me down low
Honey it's raining tonight
But storms always have an eye have an eye
Tell me you're covered tonight
Or tell me lies tell me lies lies
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me we're the same force
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I'm better under your reflection
But did you know did you know did you know know?
That's anybody else that's met ya
It's all the same all the same all the same glow
Honey it's raining tonight
But storms always have an eye have an eye
Tell me you're covered tonight
Or tell me lies tell me lies lies
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me we're the same force
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course
You and me run the same course
I want you to know that it's our time
You and me bleed the same light
I want you to know that I'm all yours
You and me run the same course
Selasa, 17 Februari 2015
Against The Current -- Talk
Datang membawakan lagu yang penuh emosional, Chrissy Costanza, Daniel Gow dan Will Ferri mengingatkan gue sama lagu 5SOS (dipembukaan lagu) dan suara Chrissy yang makin mantap menjadi penerus Avril Lavigne di dunia musik pop-punk.
Taylor Swift -- Style
Setelah puas dengan kesuksesan video klip dari single 'Blank Space', Taylor kembali mengeluarkan video klip dari single terbarunya dari album 1989 berjudul 'Style'. Banyak yang bilang, inspirasi lagu ini adalah mantan pacar Taylor, Harry Styles. Karena judulnya sama dengan nama belakang sang pentolan One Direction itu. But, who knows the truth.. Tay bilang sih engga..
Midnight, you come and pick me up, no headlights
Long drive, could end in burning flames or paradise
Fade into view, oh,
It's been a while since I have even heard from you
(Heard from you)
I should just tell you to leave 'cause I
Know exactly where it leads but I
Watch it go round and round each time
You got that James Dean daydream look in your eye
And I got that red lip, classic thing that you like
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style
You've got that long hair slick back, white t-shirt
And I got that good girl faith and a tight little skirt
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style
So it goes, he can't keep his wild eyes on the road
Takes me home, lights are off he's taking off his coat (Hm yeah)
I say "I've heard that you've been out and about with some other girl"
(Some other girl)
He says "What you've heard is true but I
Can't stop thinking about you and I."
I said "I've been there too a few times"
'Cause you got that James Dean daydream look in your eye
And I got that red lip, classic thing that you like
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style
You've got that long hair slick back, white t-shirt
And I got that good girl faith and a tight little skirt (A tight little skirt)
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go (We never go) out of style, we never go out of style
Take me home
Just take me home
Yeah just take me home, oh
(Out of style) You got that James Dean daydream look in your eye
And I got that red lip, classic thing that you like
And when we go crashing down, we come back every time
'Cause we never go out of style, we never go out of style
Seventh Son
Sebenernya udah beberapa hari yang lalu keluar dan ngga terlalu banyak euforia film ini saat gue nonton akhir pekan lalu. Ada satu pilihan lain sebelum film ini siih. Tapi akhirnya gue nonton Seventh Son dan ngga banyak yang gue dapet di film berdurasi 120 menit ini.
Gue cukup menikmati pembukaan film. Efek visual yang dipakai disini juga keren banget.
Gue agak-agak lupa sama alur film ini, tapi intinya, ini cerita tentang penyihir jahat dan iblis yang berencana show off setelah kembalinya Ratu mereka (Mother Malkin--Julianne Moore) yang selama puluhan tahun dikurung oleh seorang Pemburu bernama Master Gregory (Jeff Bridges).
I can't tell everything in here not because I don't pay attantion. It more like I don't get it.
Sorry..
--D Ark R Ain Bow--
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)





.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)



