Senin, 24 November 2014

Interstellar


Awalnya sih penasaran mau ngeliat aksi lain Mackenzie Foy di film ini, tanpa niat banget nonton. Tapi tiba-tiba temen-temen gue pada ngajakin nonton meskipun harus cabut kelas. Ya sudah lah, ikut ajah. Karena cuma film ini yang tayang di jam lapan, kami berenam pun setuju untuk nonton film ini daripada harus kemaleman pulang.

Jujur gue takut banget sama kegelapan luar angkasa, dan film ini 90% menampilkan angkasa luar yang super gelap dan sunyi. Tapi gue bertahan sampe akhir dan berusaha mengerti alur cerita film ini.

Cerita bermula dengan narasi seorang anak bernama Murph (Mackenzie Foy) yang menceritakan keadaan ayahnya yang berpindah profesi dari pilot luar angkasa NASA menjadi petani. Di bumi, keadaan sudah parah dengan seringnya terjadi badai debu dan tinggal jagung lah tanaman yang bisa ditanam.

Murph menceritakan pada ayahnya ada hantu di kamarnya yang selalu secara berkala menjatuhkan buku-buku dari raknya membentuk sandi morse. Tapi Cooper (Matthew McConaughey) berusaha menjelaskan alasan kejadian itu dari sudut pandang fisika, tapi Murph percaya kalau hantu itu sedang ingin berkomunikasi dengannya. Lalu saat badai debu datang dan mengotori kamar Murph, ada sebuah pesan koordinat dalam bentuk angka biner yang mengarahkan mereka ke instalasi NASA rahasia yang dipimpin oleh Profesor Brand (Michael Caine).

Prof. Brand mengungkapkan bahwa lubang cacing ternyata diciptakan oleh suatu kecerdasan alien, menawarkan kesempatan bagi kelangsungan hidup manusia di planet baru. Selama ini ternyata NASA masih terus melanjutkan misi Lazarus yang melakukan penjelajahan luar angkasa untuk mencari planet baru untuk dihuni manusia selain bumi demi menyelamatkan kelangsungan hidup manusia. Ada tiga planet yang dinamai sesuai dengan nama astronot yang pertama menjejakkan kakinya yaitu Miller, Edmunds, dan Mann. Cooper yang tadinya diberhentikan dari profesinya sebagai pilot NASA, kini direkrut kembali untuk melanjutkan misi Lazarus.

Ada dua rencana dalam misi Lazarus ini. Rencana A adalah, setelah para pencari planet menemukan planet yang bisa dihuni, Brand akan membawa umat manusia ke planet tersebut dengan menggunakan stasiun luar angkasa melalui gravitasi. Lalu rencana B adalah, para pencari planet membawa embrio yang kemudian akan dibuahi untuk memulai kehidupan manusia yang baru tanpa mengikutsertakan manusia yang ada di bumi pada masa itu.

Dalam menjalankan misinya, Cooper bergabung dengan ahli biologi Amelia Brand
(Anne Hathaway), fisikawan Romily (David Gyasi); ahli geografi (Wes Bentley); dan dua robot artifisial cerdas, TARS (disuarakan oleh Bill Irwin) dan CASE (disuarakan oleh Josh Stewart).

Gravitasi membawa mereka memasuki lubang cacing dan ke planet Miller. Planet ini begitu dekat dengan Gargantua sehingga perbedaan waktunya sangat signifikan. Setiap satu jam di permukaan adalah tujuh tahun di bumi. Cooper,
Amelia, Doyle dan CASE turun ke planet, yang terbukti tidak ramah karena seluruh permukaannya benar-benar tertutup oleh laut dangkal dengan gelombang ombak yang amat besar. Saat Amelia sedang mengumpulkan data di planet Miller, sebuah gelombang pasang besar membunuh Doyle dan menunda keberangkatan pesawat mereka. Ketika mereka kembali ke stasiun penerbangan, 23 tahun telah berlalu.

Di Bumi, Murphy dewasa (Jessica Chastain) sekarang telah menjadi ilmuan NASA yang berusaha memecahkan masalah fisika Prof. Brand mengenai peluncuran stasiun luar angkasanya. Di ranjang kematiannya, Prof Brand akhirnya mengakui bahwa ia sudah memecahkan masalahnya bertahun-tahun lalu, dan mengungkapkan bahwa proyek ini tidak mungkin berhasil tanpa adanya data tambahan dari singularitas lubang hitam. Ia menyadari kalau rencana A tidak akan berhasil. Itulah sebabnya ia membuat rencana B.

Bahan bakar yang mereka miliki tinggal sedikit dan hanya cukup untuk mengunjungi satu planet lagi sebelum kembali ke bumi. Amelia percaya bahwa planet Edmund memiliki data yang lebih menjanjikan, tapi Cooper dan Romily mendukung planet Mann. Cooper menuduh Amelia memilih planet Edmund karena ia menyimpan rasa pada Edmund. Akhirnya mereka menuju planet Mann. Mereka merasa ada yang salah dengan planet itu karena permukaannya tertutup salju yang dingin dan tidak ramah. Dr. Mann (Matt Damon) akhirnya mengungkapkan bahwa ia memalsukan data tentang kelangsungan planetnya sehingga mereka akan menyelamatkannya, dan ia tahu bahwa rencana B-lah tujuan sebenarnya misi mereka selama ini.

Mann berusaha membunuh Cooper. Sementara Romily meninggal ketika ia secara tidak sengaja memicu bom yang ada pada data yang dimiliki Dr. Mann. Mann melarikan diri ke stasiun dan berniat untuk melanjutkan rencana B ke planet Edmund.

Amelia menyelamatkan Cooper dengan pesawat lain dan mereka tiba tepat waktu di stasiun ketika menyaksikan Mann melakukan kesalahan pada saat ia mencoba mendaratkan pesawatnya di stasiun. Mann pun mati.

Dengan sedikit bahan bakar yang tersisa, Cooper dan Amelia berencana untuk membawa stasiun memutar melewati Gargantua untuk menuju ke planet Edmund. Cooper dan TARS terlepas masuk ke lubang hitam, berharap mereka bisa mengumpulkan data tentang singularitas. Amelia terlepas dari mereka saat stasiun perlahan-lahan melepaskan muatan untuk menghemat bahan bakar. TARS dan Cooper muncul dalam dimensi Tesseract dimana waktu muncul sebagai dimensi ruang dan portal di belakang rak buku milik Murph. Disana Cooper bisa melihat masa lalu dan masa depan kamar Murph. Ia melihat beberapa gambar Murph kecil dan menyadari bahwa selama ini ia adalah hantu di belakang rak buku anaknya tersebut.

Menggunakan gelombang gravitasi, ia mentransmisikan data singularitas dari TARS ke Murphy dewasa melalui kode morse dan angka-angka biner yang memungkinkan dirinya untuk menyelesaikan persamaan Prof Brand dan mengevakuasi Bumi.

Bertahun-tahun kemudian, Cooper terbangun di kapal stasiun luar angkasa NASA dan bertemu dengan Murph yang kini sudah tua dan sedang menjelang ajalnya. Murph meyakinkan Cooper untuk mencari Amelia yang telah mulai mengerjakan rencana B di planet Edmund.


Film ini bikin gue mumet. Hahaha. The reason, pertama, gue takut gelap luar angkasa dan kehampaannya, kedua, banyak rumus dan itung-itungan fisika yang jadi inti pembicaraan di film ini yang ngga gue ngerti sama sekali, ketiga, banyak juga itung-itungan itu yang masih diragukan kebenarannya. Well, tapi secara keseluruhan film ini bagus sih, walaupun buat gue, mungkin ilmu gue belom nyampe buat ngerti keseluruhan film ini dan memaksa gue untuk buka google biar lebih ngerti apa itu siungularitas, relativitas, biner, kode morse, dll.

--D Ark R Ain Bow--

This entry was posted in

Jumat, 21 November 2014

Mockingjay Part 1


Aaaahhh pokoknya ngga nyesel deh nonton film ini. Emang ada beberapa yang ngga sesuai sama novelnya, tapi alur ceritanya ngga dirubah sama sekali. Puas deh sama film ini. Walaupun buat yang ngga suka-suka banget THG dan ngga pernah baca novelnya, film ini kebanyakan nampilin ‘cerita’. Tokoh-tokohnya lebih banyak dialog.

Oke, here we go..

Adegan pertama dibuka dengan sedang frustasinya Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dalam sebuah ruangan gelap. Ia mencoba mengingat siapa dirinya dan hal-hal yang telah terjadi menimpanya.

Kini Katniss tinggal di Distrik 13 bersama dengan 915 orang dari distrik 12 yang selamat. Distrik 12 telah dibumihanguskan oleh Capitol sesaat setelah Katniss menembakkan panahnya merusak permainan Hunger Games ke 75 (di film Catching Fire). Beruntungnya Prim Everdeen (Willow Shields) dan ibunya (Paula Malcomson) bisa diselamatkan oleh Gale Hawthorn (Liam Hemsworth).

Katniss bertemu dengan Presiden Distrik 13, Alma Coin (Julianne Moore) yang memintanya untuk menjadi Mockingjay—juru bicara dan lambang pemberontakan—untuk menyatukan setiap distrik demi melawan Capitol. Untuk beberapa waktu Katniss memikirkan peran itu. Disamping pikirannya yang masih memikirkan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang kini tinggal di Capitol sebagai tawanan. Ia tidak tahu apakah Peeta masih hidup atau sudah mati.

Lalu Capitol menanyangkan siaran yang menghadirkan Peeta sebagai bintang tamu. Hal itu membuat Katniss tambah parah karena orang-orang di Distrik 13 menganggap kemunculan Peeta sebagai pengkhianatan. Karena Peeta mengajak para Pemberontak untuk gencatan senjata.

Akhirnya Katniss setuju untuk menjadi Mockingjay mereka dengan syarat Presiden Coin harus memberikan kekebalan hukum terhadap para pemenang Peeta, Johanna Mason (Jena Malone), dan pacar Finnick (Sam Claflin)—Annie Cresta (Stef Dawson), serta membiarkan Prim memelihara kucingnya Buttercup.

Setelah menyetujui perannya, mereka pun mulai membuat video propaganda (propo) yang akan dibroadcast ke distrik-distrik. Awalnya mereka membuat video itu di sebuah studio, tapi hasil yang mereka dapatkan tidaklah sesuai. Akhirnya atas saran Haymitch Abernathy (Woody Harrelson), mereka pun melepas Katniss dan tim proponya Gale, Cressida (Natalie Dormer), Messalla (Evan Ross), Pollux (Eden Henson), dan Castor (Wes Chatham) langsung ke medan perang di distrik 8.

Setelah propo tersiar, banyak warga distrik yang terbakar dan mulai pemberontakan. Hingga akhirnya Capitol melancarkan serangan ke Distrik 13. Dengan mengirim bunga mawar putih ke Distrik 13, Katniss tahu bahwa Presiden Snow (Donald Sutherland) bersiap membunuh Peeta. Ia tidak bisa lagi melanjutkan perannya sebagai Mockingjay. Tapi saat itu Presiden Coin punya rencana lain untuk mengeluarkan Peeta dan para pemenang lainnya dari Capitol. Mereka menyiarkan propo live untuk mengacaukan sinyal di Capitol yang sedang mati listriknya karena pemberontakan di Distrik 5. Mereka berhasil masuk ke wilayah Capitol dan juga berhasil keluar sama mudahnya.

Peeta, Johanna, dan Annie berhasil dibawa ke Distrik 13. Namun ada yang berbeda dari mereka. Terutama Peeta. Karena ketika melihat Katniss, Peeta langsung menyambar dan mencekik Katniss.

Film berakhir dengan adegan Katniss yang sedang melihat Peeta di ruang rawatnya sedang kejang-kejang. Pikiran Peeta telah dibajak oleh Capitol dengan merusak memorinya. Ia juga disengatkan Tracker Jecker, lebah yang membuat pikirannya kacau.


Well, durasinya agak lama emang, tapi akting pemeran-pemerannya disini keren banget, apalagi aktingnya Josh yang dapet banget meranin Peeta Mellark. Dan gue liat J-Law agak kurus loh disini. Hihi Whatever. Tapi film ini emang bagus dan recomended banget deh.


If We Burn, You Burn With Us!

This entry was posted in

Jumat, 14 November 2014

Delmora The Ocean's Princess : Bab 5 (Kabur)

Delmora The Ocean’s Princess







Created By:
Safitri Tsa’niyah






 Bab 5
Kabur
Oliver membiarkanku hidup sehari lagi. Setelah pertemuan kami di dermaga kemarin, aku diperbolehkan kembali ke pulau bersama ibu. Aku mulai muak berada di pulau. Bagiku ini bukanlah liburan terindah. Akhirnya aku memaksa ibu untuk berkemas dan pulang.
Awalnya ayahku melarang. Dia bilang aku akan terancam bila jauh-jauh dari pantai. Tapi aku tidak mau mendengarkannya. Aku benar-benar muak.
Sambil menangis, ibu memberikan ciuman terakhirnya pada dewa laut itu. Ayahku tidak bisa mencegah kami pergi. Dan kini nasib Poseidon dan Athena ada di tanganku dan Oliver. Aku ngga tau, mungkin Oliver sedang menungguku menjauh dari laut dan mulai membinasakanku. Athena perencana yang baik. Dia ngga mungkin salah perhitungan.
==
“Kamu ngga apa-apa, sayang?” Ibu berkata dari balik pintu kamarku.
Tiga hari lalu sejak pulang dari pulau, aku tidak mau keluar kamar. Aku tidak ingin melakukan apa-apa kecuali bertemu dengan Oliver. Walaupun aku tidak tahu bagian tubuh mana yang tersisa dariku setelah aku menemuinya. Ibuku sengaja mengunci pintu kamarku. Tapi dia tak sepenuhnya ingin menghukum. Ia sangat khawatir dengan keadaanku. Walaupun tetap, ia tidak mau membukakan pintu kamarku.
Aku mulai merasakan apa yang dibilang Oliver. Kesepian. Dan saat ibuku sedang pergi keluar untuk belanja, aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur. Langsung saja kupecahkan kaca jendela kamar dan melompat ke kolam renang. Air menarikku begitu saja, sehingga benturan yang harusnya keras dan menyakitkan, terasa seperti melompat ke dalam jelly raksasa.
Aku berlari sepanjang jalan rumahku dan langsung melanjutkan naik bis menuju rumah Oliver. Orang-orang di bis memandangi aku dengan tatapan aneh. Semua mata tertuju ke tas punggung yang kugendong. Dari dalamnya tampak gagang pedang bertatahkan batu safir yang mengilap terkena cahaya matahari. Sebagian menatap ketakutan, sisanya mungkin tidak tahu apa itu.
==
Tiba di depan rumah Oliver, aku merasa ada yang benar-benar aneh. Apa yang terjadi padanya? Aku mulai ketakutan. Lalu tiba-tiba aku mendengar teriakan seseorang dari dalam rumah. Oliver. Tanpa berpikir lama, aku membuka gerbang dan menempelkan telinga di daun pintu lekat-lekat. Oliver sedang dihukum.
“Maafkan aku, Ma.” Oliver merintih-rintih.
“Membawa gadis itu kesini saja kamu tidak bisa! Bagaimana bisa aku membanggakan kamu sebagai anakku?” Maki seorang wanita.
“Aku berusaha. Tapi rumah itu dilindungi.” Oliver mencoba membela diri.
“Aku tidak minta alasanmu! Kau tahu kan, apa resiko kalau kamu tidak berhasil membawa anak Poseidon padaku?” Jerit wanita itu lagi.
“Akan kubawakan dia. Tapi kau jangan pergi.” Oliver memohon.
Aku merasa benar-benar aneh sekarang. Setahu yang kubaca di google, Athena adalah wanita yang baik danbijaksana. Tapi kenapa dari nada suaranya dia tampak keji dan bengis? Sesuatu di belakang kepalaku berteriak untuk masuk dan mencari tahu. Tapi akal sehatku berkata, kalau aku masuk sekarang, aku akan mati sia-sia. Aku menempelkan lebih lekat lagi daun telinga ke daun pintu. Tapi tiba-tiba kesunyian menyelimuti ruangan dalam rumah itu.
Aku menjauh dari pintu secepat yang kubisa. Tapi ternyata seseorang telah berhasil menangkapku sebelum aku berhasil mencari tempat persembunyian.
“Apa yang kamu lakukan disini, Delmora?” Ucap Oliver sambil memegangi lenganku dengan genggaman yang kuat.
Aku memandang wajah Oliver dengan tatapan ketakutan. Mungkin dia akan langsung membawaku pada ibunya. Tapi ia malah menarikku keluar rumah dan menjauhi rumahnya. Wajahnya juga memancarkan ketakutan yang luar biasa.
Kira-kira seratus meter dari gerbang rumahnya, ada sebuah taman kecil. Oliver membawaku kesana dan menghadapiku. Tiba-tiba saja dia memelukku dengan panik dan sangat erat. Aku membalas pelukannya walaupun aku masih bingung apa yang sebenarnya terjadi.
“Oliver, apa yang terjadi?” Aku memberanikan diri bertanya dari dalam pelukannya.
“Aku sayang kamu, Delmora.” Jawab Oliver dengan suara gemetar.
“Aku tau, Oliver. Tapi ada apa antara kamu dan ibumu?” Tanyaku lagi.
Oliver melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Matanya sayu seakan tidak tidur puluhan jam.
“Kamu kenapa?” Tanyaku lagi.
“Aku ngga tau bisa menyelesaikan tugasku dengan baik atau engga.” Jawabnya lirih.
“Kalau kamu emang benar-benar harus bunuh aku, aku akan mati untuk kamu.” Ucapku akhirnya.
Oliver tersentak kaget. Aku ngga tau apa yang ada dipikirannya, tapi kayaknya dia ngga setuju sama apa yang tadi kuucapkan.
“Kamu ngga ngerti, Delmora. Aku juga ngga mau kamu mati. Ditanganku.” Ucapnya.
“Tapi ibu kamu bilang—“
“Dia bukan ibuku.” Ucap Oliver. “Tapi dia tau dimana ibuku.”
“Apa maksud kamu?”
“Begini Delmora, ada satu orang yang berencana mengadu domba orang tua dewa kita. Karena dia tau, Athena akan dibela Zeus dan Poseidon akan hancur. Dia sangat ingin membalas dendam pada Poseidon karna sudah meninggalkannya begitu aja.”
“Maksud kamu, Athena ngga benar-benar mau meluaskan wilayahnya ke lautan?”
“Ngga, Delmora. Orang itu udah lama membenci Athena sejak dia diubah jadi monster. Dan dia mau mempergunakan Athena untuk balas dendamnya yang lain ke Poseidon. Dia menahan Athena di suatu tempat. Dia pura-pura jadi mamaku biar aku mau bawa kamu kepadanya.”
“Tapi kamu lebih pinter dari dugaannya.”
“Ya, aku langsung tau kalau dia bukan Athena. Kamu bisa tebak siapa dia?”
Aku berpikir. Dia adalah orang yang diubah menjadi monster oleh Athena, ditinggalkan oleh Poseidon, dia pasti orang yang ngga asing dalam cerita Dewa Poseidon maupun Dewi Athena.
“Ngga mungkin Medusa, kan?” Ucapku setelah beberapa menit berpikir.
“Kenyataannya begitu, Del.” Jawab Oliver sedih.
Sekarang aku benar-benar bingung. Medusa itu dulunya pacar ayahku. Cewek yang dikencaninya di kuil Parthenon. Lalu Athena murka dan mengubah Medusa menjadi gorgon. Yang aku takutkan adalah tatapan mata Medusa katanya bisa mengubah siapa pun menjadi batu. Tapi bagaimana cara pacarku bisa selamat tinggal bersama orang seperti itu?
“Baik, menurut sumber yang pernah kubaca, Medusa pernah dibunuh, kan? Ayo kita bunuh dia lagi.” Ucapku sok berani.
“Aku juga sedang merencanakan hal itu. Tapi kita harus mengatur strateginya dengan tepat. Kita pasti akan mati sebelum mencapai lehernya.”
“Ya, kamu benar. Jadi, apa rencananya?”
“Tenang saja, Athena selalu punya rencana.”
Lalu Oliver memberitahuku rencana yang selama ini sudah dipikirkannya matang-matang. Cukup mengerikan, tapi itu brilian.
Kami akan menipu Medusa dengan mempura-purakan aku sudah mati. Lalu setelah Oliver membawaku ke hadapannya, aku akan menebas kepalanya secara tiba-tiba.
==
“Dari mana saja kamu?” Tanya Medusa begitu Oliver membuka pintu rumah. Dari nadanya, tampaknya suasana hati Medusa tidak membaik.
“Cuma jalan-jalan aja.” Jawab Oliver tenang.
“Kau masih bisa jalan-jalan. Sementara aku disini menunggumu membawa gadis itu!” Medusa berteriak.
“Tenanglah, Ma.” Oliver merajuk.
“Kau tahu Athena tidak bisa ditipu! Aku tahu kamu pasti habis bersama gadis itu kan!” Medusa berteriak makin keras dan mungkin hampir membuat gendang telingaku berlubang. Aku masih bersembunyi di luar rumah.
“Kita ngga akan bisa bawa Delmora kesini dengan cara kekerasan, Ma. Biarkan aku bawa dia dengan caraku.”
Aku heran mendengar nada suara Oliver yang begitu tenang. Karena aku tau hatinya saat ini tidaklah setenang suaranya itu.
“Kamu terlalu mengulur waktu, Oliver!” Maki Medusa. “Atau jangan-jangan kamu benar-benar jatuh cinta pada putri Poseidon itu!”
DEG. Kini hatiku tersentak seperti baru saja dijatuhkan dari ketinggian seribu meter. Ngga mungkin kan Oliver pacaran sama aku selama ini cuma karena itu? Dia benar-benar sayang sama aku, kan?
“Hahaha. Mama, mana mungkin aku jatuh cinta sama anak Poseidon. Dari dulu Athena selalu ngga akur kan dengannya?” Oliver berkata dengan nada keji yang ngga pernah aku dengar. Apa benar Oliver ngga sayang sama aku? Aku mulai bimbang. Mana yang harus aku percaya?
“Untunglah kamu masih mengingat darah kebencian Athena pada Poseidon mengalir di darahmu.” Ucap Medusa kini mulai tenang. “Baiklah sayang, mama akan memberikan kamu kesempatan untuk membawa gadis itu kesini dengan caramu.”
“Terima Kasih, Mama.”
Lalu kesunyian menyusul beberapa menit kemudian.



Previous:
Bab 4 (Masalah Dengan Air?)
Next:
Bab 6 (Berburu Ular)

Blank Space -- Taylor Swift

After succesed on her first single of her new album "1989" she launched the next single tittled "Blank Space". Have you ever heard this song? Check this out.


Taylor Swift "Blank Space" lyrics

[Verse 1]
Nice to meet you
Where you been?
I could show you incredible things
Magic, madness, heaven, sin
Saw you there and I thought oh my god
Look at that face, you look like my next mistake
Love's a game, wanna play
New money, suit and tie
I can read you like a magazine
Ain't it funny rumors fly
And I know you heard about me
So hey, let's be friends
I'm dying to see how this one ends
Grab your passport and my hand
I could make the bad guys good for a weekend

[Pre-Chorus]
So it's gonna be forever
Or it's gonna go down in flames
You can tell me when it's over
If the high was worth the pain
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
Cause you know I love the players
And you love the game

[Chorus]
Cause we're young and we're reckless
We'll take this way too far
It'll leave you breathless
Or with a nasty scar
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
But I got a blank space baby
And I'll write your name


[Verse 2]
Cherry lips
Crystal skies
I could show you incredible things
Stolen kisses, pretty lies
You're the king baby I'm your queen
Find out what you want
Be that girl for a month
But the worst is yet to come
Oh no
Screaming, crying, perfect storms
I could make all the tables turn
Rose garden filled with thorns
Keep you second guessing like oh my god
Who is she? I get drunk on jealousy
But you'll come back each time you leave
Cause darling I'm a nightmare dressed like a daydream

[Pre-Chorus]
So it's gonna be forever
Or it's gonna go down in flames
You can tell me when it's over
If the high was worth the pain
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
Cause you know I love the players
And you love the game

[Chorus]
Cause we're young and we're reckless
We'll take this way too far and leave you breathless
Or with a nasty scar
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
But I got a blank space baby
And I'll write your name

[Bridge]
Boys only want love if it's torture
Don't say I didn't say I didn't warn you
Boys only want love if it's torture
Don't say I didn't say I didn't warn you

[Pre-Chorus]
So it's gonna be forever
Or it's gonna go down in flames
You can tell me when it's over
If the high was worth the pain
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
Cause you know I love the players
And you love the game

[Chorus]
Cause we're young and we're reckless
We'll take this way too far 
and leave you breathless
Or with a nasty scar
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
But I got a blank space baby
And I'll write your name

Senin, 20 Oktober 2014

Delmora The Ocean's Princess: Bab 4 (Masalah Dengan Air?)

Delmora The Ocean’s Princess







Created By:
Safitri Tsa’niyah






 Bab 4
Masalah dengan Air?
Setelah obrolan serius antara Ayah dan anak itu, aku pun menerima pelajaran keduaku. Dan kali ini Ayahku sendiri yang melatihku. Karena hanya dia yang mampu mengendalikan air dan gelombang. Awalnya aku merasa kesulitan dan selalu menelan banyak air. Tapi setelahnya, aku bahkan bisa berselancar tanpa papan selancar dengan mengendalikan ombak.
Aku tidak tahu apa manfaatnya mengendalikan gelombang untuk melawan seseorang di daratan. Tapi yang pasti, ayah menyuruhku untuk bisa dalam hal ini.
==
“Hai Delmora. Harimu menyenangkan?” Tanya Oliver lewat telepon.
“Yah, lumayan. Hari ini aku belajar surfing di pantai.” Jawabku.
“Waw, pasti sangat menyenangkan sekali ya.” Suara Oliver tampak aneh. Walaupun kalimat yang diucapkannya bersemangat, nada suaranya sama sekali tidak bersemangat.
“Harimu menyenangkan, sayang?” Tanyaku berusaha tidak merasa aneh.
“Tidak juga. Tadi siang aku bertemu serombongan laba-laba entah dari mana.”
“Laba-laba? Serombongan? Kau bercanda. Laba-laba tidak pernah berombongan.”
“Itulah yang membuatku bertanya-tanya.”
“Aneh.” Gumamku.
Aku membatin. Apakah ayahku ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi pada Oliver. Atau itu ulah Dewa lain yang juga membenci Athena dan keturunannya. Tapi apakah Oliver tahu kalau dia anak Dewa? Bagaimana kalau kasusnya sama sepertiku yang tidak tahu kalau Poseidon adalah ayahku? Atau mungkinkah Oliver juga sudah diberitahu lebih awal?
“Del?” Tegur Oliver padaku karena lagi-lagi mendiamkan telepon terlalu lama tanpa berkata apa-apa.
“Ya?” Aku tersentak kaget.
“Kau baik-baik saja?”
“Aku hanya khawatir memikirkanmu.”
“Tenang saja. Aku tidak apa-apa.”
“Baiklah. Miss you.”
“Miss you.”
Kami mengakhiri obrolan kami.
Oliver benar-benar membuatku khawatir. Kalau benar aku harus melawan anak Dewi Athena, aku harus melawan Oliver kalau begitu?—kalau dia benar anak Dewi Athena. Dan kalau benar Athena adalah dewa paling kuat, bagaimana mungkin aku menang melawannya? Aku bahkan tidak tahu untuk apa aku melawan anak Dewi Athena. Aku tidak tahu persoalan apa lagi yang bisa menyulut permasalahan antara ayahku dengan—kemungkinan—ibu Oliver. Tapi aku dan Oliver kan saling menyayangi.
==
Hari ini aku akan berlatih pelajaran ketigaku. Kami berlatih di tepi pantai. Karena untuk yang satu ini aku membutuhkan tunggangan. Hari ini aku akan berlatih menunggang kuda.
Awalnya kukira menunggangi kuda adalah sesuatu yang menyeramkan dan sulit. Tapi pengecualian, berhubung aku anak Poseidon—seingat yang kubaca di google dia pencipta kuda—tidak sulit untuk mengendalikannya. Kuda-kuda itu bisa mengerti bahasa yang kuucapkan. Begitu pula dengan aku yang mengerti apa yang dikatakan kuda-kuda itu. Yang sulit adalah, meyakinkan mereka tentang waktu yang pas. Bisa saja ketika mereka kusuruh berlari, mereka malah makan atau buang air.
“Hei, ini bukan waktunya untuk cemilan.” Tegurku saat kuda berwarna cokelat yang kunaiki tiba-tiba saja berhenti dan mulai mengunyah rumput laut yang  nyangkut di bawah kakinya.
“Mengertilah putri, aku jarang makan rumput disini. Semua hanya pasir dan pasir sejauh mata memandang.” Ucap kuda cokelat itu.
“Baiklah.” Aku berkata lelah lalu turun dari punggungnya.
Aku menyusuri tepi pantai dengan berjalan kaki kembali menuju ke tempat ayahku yang sekarang sedang menemani ibu minum air buah kelapa.
“Kau meninggalkan kudamu, Delmora.” Ucap Ayahku.
“Dia lapar. Dia sedang makan rumput laut disana. Sepertinya lupa seharusnya dia makan rumput darat.” Jawabku.
“Sulit sekali menumbuhkan rumput hijau di pasir, sayang.”
Ibu memberikan sebuah kelapa padaku.
==
Berada di pulau selama satu minggu mulai membuatku rindu suasana kota yang padat dan ramai. Akhirnya aku pun minta izin pada ibu dan ayah untuk menghabiskan waktu berjalan-jalan di mall bersama Oliver. Awalnya ayah tidak mengizinkan dan khawatir. Tapi aku meyakinkannya dengan membawa seekor laba-laba dalam toples untuk berjaga-jaga.
Tapi ayahku masih tetap khawatir juga. Akhirnya ia mengajakku minum teh—walaupun dia sendiri tidak minum—dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Athena.
“Kau sudah siap untuk mengetahui kebenarannya, Delmora.” Ucapnya memulai obrolan.
“Baiklah. Ceritakan.” Ucapku.
“Jadi begini, kau tahu kota Athena?”
“Ya, kota itu cukup terkenal. Ada apa?”
“Dia mau melebarkan wilayahnya.”
“Apa urusannya dengan ayah?”
“Dia ingin melebarkannya ke lautan. Kerajaan ayah.”
“Ayolah yah. Lautan kan memang lebih besar daripada daratan. Apa yang kurang kalau dia hanya mengambil sedikit?” Ucapku gampang. “Lagipula, Kota Athena kan ngga punya wilayah yang langsung menghadap ke laut. Bagaimana ayah tahu kalau Athena mau berbuat begitu?”
“Bisa-bisa seratus tahun lagi, hanya segitiga bermuda yang tersisa untuk ayah.” Poseidon mendengus. “Athena itu sangat cerdik. Dia pasti selalu menemukan caranya. Kalau dia tidak mau melebarkan wilayahnya, untuk apa dia berada di laut? Wilayahku?”
“Tapi apa masalahnya?”
“Itu masalahnya, Delmora. Kami para Dewa telah dibagikan wilayah untuk masing-masing. Dan bagaimana tidak menjadi masalah kalau ada yang mau merebut wilayah yang sudah dibagikan?”
“Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan untuk ayah? Kau tidak mungkin menyuruhku membunuh Oliver, kan?”
“Kau sangat pintar Delmora. Kau bawa dia padaku. Hidup atau mati. Aku akan mengancam Athena dengan putranya.”
“Tapi bagaimana kalau ternyata Oliver bukanlah anak Athena?”
“Kau akan tau sebentar lagi. Sekarang pergilah. Oliver-mu pasti sudah menunggu dengan cemas di dermaga.” Ayahku mengelus rambutku. “Dan, jangan kecewakan aku.” Tambahnya.
Aku menaiki ship dan berlayar menuju ke kota. Aku memerintahkan air untuk bergerak lebih cepat. Aku tak ingin membuat Oliver merasa curiga. Bagaimanapun, aku tetap tidak ingin membunuh pacarku.
Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan pada ayah kalau Oliver bukanlah anak Athena? Dengan menghadiahinya seekor laba-laba? Bagaimana kalau benar Oliver anak Athena? Dia bisa mati di tangan laba-laba itu? Dan aku masih harus memastikannya mati dan membawanya pada ayahku.
“Hai Delmora.” Sapa Oliver yang hari ini tampak ceria seperti biasa dan terlihat lebih tampan dari biasanya.
“Hai.” Balasku berusaha sesantai mungkin.
“Siap pergi dari pulau?” Tanyanya dengan cengiran lebar.
Mataku menerawang jauh di atas kepalanya. Aku masih tidak percaya yang terjadi padaku. Pertahankan Oliver atau biarkan para Dewa berperang?
“Delmora?” Panggil Oliver lagi ketika melihatku bengong.
“Ya, tentu sayang.” Ucapku terkejut.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Delmora? Apa ada masalah? Apa kau sakit?” Wajah Oliver langsung berubah khawatir.
Demi para Dewa, Oliver sangat khawatir padaku. Pacarnya yang akan segera menghabisi hidupnya. Bagaimana mungkin aku sanggup?
Akhirnya Oliver membawaku duduk di tepi dermaga. Aku masih tidak berkata apa-apa.
“Kau tidak apa-apa Delmora?” Tanya Oliver sambil meneliti tiap senti wajahku.
Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.
“Ada yang bilang, kau anak Dewa.” Ucapku tanpa sepenuhnya aku sadari.
“Dewa? Kau bercanda, Delmora.” Ucap Oliver. Susah mengetahui apa yang tersiratkan di wajahnya. Ia tampak riang tapi ada sesuatu yang memperlihatkan sisi ‘buruk’-nya.
“Ya, aku bodoh benar.” Ucapku merasa bersalah. Kali ini ayahku salah. Oliver hanyalah pemuda biasa. Hatiku mulai merasa sedikit lega.
“Dari mana kau tau?” Tanya Oliver yang langsung membuat dadaku terasa sakit. Aku hampir lupa bagaimana caranya bernafas dengan udara.
“Apa maksudmu, kau benar-benar anak Dewa?” Tanyaku tergagap.
“Dewi...”
“Athena.” Aku melengkapi.
“Dan aku harus membunuhmu.” Oliver berkata tanpa melihatku.
“Kau?” aku ternganga.
“Ya. Ibuku Athena memintaku untuk membunuh anak Poseidon sebelum dia siap membunuhku. Sayangnya waktu kita main di pantai, ayahmu datang dan aku tidak mungkin bisa membunuhmu disana. Dia akan punya alasan dan bukti untuk membalas dendam membunuhku saat itu juga.” Jelas Oliver tampak tenang.
Aku mencoba mencerna tiap kata yang diucapkan Oliver barusan. Dan pada akhirnya kita memang akan harus saling membunuh kah?
“Apa yang terjadi?” Tanyaku masih tidak percaya.
“Kau tau persis apa yang terjadi, Delmora. Kau juga disuruh melakukannya oleh Poseidon.”
“Oliver.” Gumamku. Bingung harus berkata apa. “Kita tidak perlu saling membunuh. Kamu tau, aku sayang sama kamu. Aku ngga bisa ngebiarin hal itu terjadi. Biarkan saja para Dewa nanti yang akan berperang. Aku ngga peduli, Oliver. Aku sayang kamu.” Aku berkata sambil bercucuran air mata. Aku benar-benar tidak mau membunuh orang yang kusayang.
“Ini takdir kita, Delmora.” Ucap Oliver kukuh.
“Ini kesalahan orang tua Dewa kita. Aku tidak mau ikut andil dalam masalah ini.” Aku masih menangis.
“Kalau begitu sebentar lagi Athena yang akan menang.”
“Apa kamu serius akan membunuhku?”
“Aku melakukan yang diperintahkan ibu padaku.”
“Itu berarti kau bodoh!” Aku berteriak dan berdiri. Gelombang mendadak saja bergulung aneh ke arahku.
“Kau yang bodoh, Delmora. Kau akan membiarkan aku dan ibuku menang tanpa perlawanan.” Ucap Oliver sambil melirik gelombang buatanku.
“Kau dan ibumu yang bodoh itu pantas mendapatkan kemenangan yang tidak mulia!”
“Jangan menghina ibuku!”
“Aku tidak menghina ibumu. Tapi kamu akan tampak bodoh kalau menuruti perintah ibumu yang bahkan tidak pernah merawatmu. Dia menelantarkanmu begitu saja, Oliver!” Aku membentak-bentak tanpa kendali. Aku sangat menyesal mengatakan hal-hal itu. Karena ternyata bukannya sadar, Oliver malah tambah marah padaku.
“Kamu tidak mengerti bagaimana rasanya hidup sendirian, Delmora!” Ucap Oliver marah. “Kamu selalu merasakan kehangatan dan kasih sayang dari kedua orangtuamu! Masa kecilmu sempurna. Tanpa cacat sedikitpun. Kamu ngga tau rasanya sendirian!”
“Tapi kamu ngga pernah sendirian, Oliver.” Ucapku lemah.
“Kamu bisa bayangin kan rasanya dari bukan apa-apa menjadi sesuatu yang berharga?”
Sesuatu yang berharga? Apa yang dijanjikan Athena pada Oliver? Athena tidak mungkin bertindak licik. Dia Dewi paling bijaksana yang pernah dilahirkan di Olimpus. Pasti ada sesuatu yang salah.
Aku dan Oliver sama-sama terdiam. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya, tapi dalam pikiranku, aku merasa agak takut. Apakah Oliver serius dengan ucapannya? Kalau ya, aku bisa mati kapan saja. Rencana jalan-jalan di mall pun sudah terlupakan begitu saja.



Previous:
Bab 3 (Lawan Tersayang)
Next:
Bab 5 (Kabur)

Senin, 13 Oktober 2014

The Giver

Menceritakan tentang sebuah dunia distopia  yang disebut Komunitas. Dunia sempurna tanpa perasaan sakit, dunia tanpa peperangan, dunia tanpa cinta.. ada sesuatu yang telah diambil oleh pemerintah komunitas yaitu memori masa lalu. Mereka hidup dengan segala sesuatu yang telah dirancang dengan sesuai oleh pemerintah. Seperti apa yang mereka bicarakan, kosakata yang mereka pakai sehari-hari, dan waktu sehari-hari mereka juga. Mereka diawasi 24 jam.

Komunitas itu berada pada sebuah lokasi yang selama bertahun-tahun, setiap orang menjalani kehidupan di komunitas tersebut. Masa kanak-kanak mereka ditandai dengan pemberian sepeda,  lalu setelah usia mereka beranjak 18, mereka akan diberikan tugas-tugas yang berbeda sesuai dengan keahlian masing-masing yang telah diamati sejak lahir.


Seorang cowok bernama Jonas (Brenton Thwaits) menemukan ada yang aneh pada dirinya di hari kelulusan. Setelah semua anak berusia 18 tahun mendapatkan tugasnya masing-masing, ia dikabarkan memiliki tugas sebagai Receiver of Memories (Penerima Memori masa lalu). Tugasnya adalah mengetahui memori manusia di masa lalu yang ternyata telah dihapus dari ingatan manusia komunitas. setiap hari Jonas diberikan ingatan-ingatan masa lalu oleh The Giver (Jeff Bridges). Ia mulai bisa melihat warna, dan perasaan-perasaan lain seperti canda, tawa, cinta, musik, tarian. Jonas mulai melewatkan suntikan paginya yang biasanya wajib ia lakukan.

Harusnya, sesuai peraturan Jonas tidak boleh membicarakan memori yang dimilikinya kepada orang lain. Tapi Jonas melanggarnya dan memberitahu Fiona (Odeya Rush) segala yang ia ketahui.
Di sisi lain, keluarga Jonas kedatangan seorang bayi bernama Gale/Gabriel (Alexander Jillings/James Jillings/Jordan Nicholas Smal/Saige Fernandes) yang diketahui Jonas adalah The Receiver selanjutnya karena memiliki tanda yang sama pada pergelangan tangannya. Sehingga saat tangan mereka bersentuhan, Gale bisa melihat memori yang diketahui Jonas.

Saat Jonas diberikan memori tentang peperangan yang penuh dengan pembunuhan dan baku hantam, ia merasa sangat stress dan ingin berhenti dari tugasnya sebagai Penerima Memori. Lalu The Giver pun memberikan sebuah memori sepuluh tahun sebelumnya tentang seorang gadis yang juga seorang Penerima Memori bernama Rosemary (Taylor Swift) yang akhirnya dilepaskan.

Tahu bahwa Jonas melanggar peraturan komunitas, Chief Elder (Meryl Streep) mengambil tindakan untuk menghentikan perbuatan Jonas yang sedang berusaha mengembalikan ingatan masa lalu kepada semua warga komunitas. ia menyuruh Asher (Cameron Monaghan) yang seorang pilot untuk menemukan dan menghilangkan Jonas. Tapi Asher adalah teman baik Jonas. Lalu ia justru melepaskan Jonas karena berpikir Jonas akan melakukan tindakan yang benar.

Jonas dan Gale menyusuri dunia bawah (yang bukan termasuk wilayah komunitas) dengan perjuangan yang luar biasa. Melawan segala cuaca dari gurun sampai salju. Sementara di komunitas, Fiona dan The Giver sedang dalam proses “dilepaskan” yang artinya disuntik mati karena telah membantu dan berkomplot dengan Jonas.


Pada klimaks nya, Jonas tiba di sebuah bukit salju dengan sebuah kereta seluncur di depannya, persis seperti memori pertama yang ia dapatkan dari The Giver. Lalu ia menaiki kereta itu dan meluncur menuju sebuah rumah yang juga terdapat dalam memori pertamanya. Jonas meluncur melewati garis batas komunitas dan dengan otomatis membuat pengamanan akan memori warga komunitas lain hilang. Seluruh warga bisa melihat warna, dan Fiona dan The Giver pun selamat.

--D Ark R Ain Bow--
This entry was posted in

Rabu, 01 Oktober 2014

Suprihatin Nur Afifah, Farewell Bestie..

Hari itu gue dapat kabar yang nyesekin hati banget. Setelah kurang dari dua tahun lalu pindah dari Jakarta ke Kalimantan, gue gak pernah denger kabarnya gimana. Dia nutupin pernikahan yang walaupun udah lama gue tau rencananya. Gue tau gue bukan seorang temen yang selalu baik sama dia. Gue juga sering adu argumen dan beda pendapat sama dia. Sering sakit hati, ngambek dan marah. Tapi kalo tau dia akan begini, gue gak akan ngebiarin ego gue yang menang dalam persahabatan yang gue rasa singkat ini. Gue gak mau percaya, gue gak mau hal itu bener-bener terjadi sama dia, tapi gue yakin dia udah ada di tempat yang lebih baik. Gue yakin dia akan ngerasa bahagia. Gue gak mau bikin dia gak tenang kalo disini gue dan temen-temen yang lain ngga ngikhlasin kepergian dia. Semuanya udah terjadi. Dan gue gak boleh terus-terusan sedih. Seperti apa yang dia lakuin di hadapan kami semua. Bertingkah seakan semua ngga ada apa-apa. Sekarang gue tau apa arti obat-obat yang rutin dia minum di kelas jam makan siang, sekarang gue tau kenapa dia harus nikah begitu dia lulus sekolah, sekarang gue tau kenapa dia punya banyak mantan pacar selama remajanya, walaupun awalnya gue nilai dia cewek murahan, tapi ternyata mungkin dia gak mau nyia-nyiain kesempatan hidupnya. Gue gak tau harus mulai dari mana kalo mau nulisin kenangan yang melibatkan dia di dalamnya, yang pasti, entah itu kenangan indah atau engga, kenangan manis atau pahit, gue akan selalu bisa mengingat dia.

Selamat Jalan Sahabat Gue dalam tawa dan amarah...

SUPRIHATIN NUR AFIFAH

14 Agustus 1995 - 29 September 2014

Rumah Kak Fajar

Candi Borobudur
Endi, Afifah, Kak Wati, Vivi, Erna, Gue, Septi

Rumah Kak Fajar

Ragunan with Hittakara

Parangtritis, Part of Visit Industri 2012
Gue, Vivi, Afifah

Taman Mini
Dari Kiri Afifah, Septi, Endi, Gue

Taman Mini sama Anak-anak sekelas XII AK2

Yang ini gue gak tau kapan, tapi dia sama Indah

Seminar Pertama Kita Di Hotel Karwika
Dari Kiri Novita, Afifah, Endi
It's hard to believe that you have gone, Fi...
We might not a lovely bestfriend, but our compete in lifes will be lies forever.
With Hittakara and classmates
--D Ark R Ain Bow--